• CEPAT MENDENGAR TETAPI LAMBAT BERBICARA (1)
  • Toetik Koesbardiati

beberapa bulan lalu Sekolah Minggu mempersembahkan pujian tentang “berani tampil beda“. Aku menyimak dan tertegun dengan berkat Tuhan yang kuterima melalui persembahan Sekolah Minggu ini. Tidak lupa aku berterima kasih kepada guru-guru Sekolah Minggu yang sudah mengajari anak-anak untuk berani tampil beda. Aku merefleksi diri apakah aku sudah berani tampil beda dengan mereka yang di luar Tuhan? Aku menelaah beberapa bacaan dan menemukan hal-hal di kehidupan sehari-hari yang menunjukkan “tampil beda”.

“Cepat mendengar tetapi lambat berbicara”. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial sehingga karakteristiknya memang bersosial dengan “nimbrung“ untuk saling bercerita. Perkembangan teknologi saat ini mendukung orang berpendapat, bercerita, berkomentar, saling menyapa dan banyak lagi jenis komunikasi yang dilewatkan melalui teknologi digital entah FB, IG, TikTok dll. Topik pembicaraan juga beragam yang kadang mengundang umpatan, kata-kata kasar, hujatan berawal dari rasa benci dan ini terus berulang karena dipicu saling membalas. Berapa banyak dalam obrolan di FB orang berdebat saling menyalahkan tentang kepercayaan? Kadangkala ucapan kebencian terobral di sini gara-gara beda pendapat.

Masa-masa ini kita memasuki industri 4.0 yang mana teknologi sangat maju pesat dan orang merasa bebas berpendapat dan bebas berekspresi. Mereka mungkin kurang berani berpendapat secara langsung di hadapan orang dan merasa mendapat jalan untuk berkomentar di media sosial. Apakah kita tahu dan menyadari bahwa semua tulisan kita di media sosial dapat dilacak jejaknya (jejak digital) sekalipun sudah bertahun-tahun lalu? Apakah kita tahu bahwa cara berkomunikasi dalam medsos ada undang-undang yang mengaturnya? Memforward informasi dari satu WA ke WA orang lain dapat melanggar undang-undang. Apakah kita tahu bahwa semua tulisan kita di media sosial dapat berujung pada ranah hukum? Hati-hati dan tidak sembarangan berkomentar (apalagi di medsos) adalah cara bijak menanggapi era kebebasan berbicara. Oleh karena itu untuk menjadi beda, haruslah berlatih mengendalikan diri dalam berkata-kata juga mengendalikan diri untuk tidak cepat marah tetapi sabar dan menahan diri untuk tidak segera berkomentar semena-mena. Lingkungan gereja adalah lingkungan pertama kita untuk mendisiplinkan diri juga mendisiplinkan lidah kita karena ada Firman Tuhan yang mengajar kita.

Cepat mendengar dan lebih banyak mendengar adalah bentuk kepedulian kita kepada orang lain, terlebih lagi ketika seseorang memercayai kita untuk mendengarkan persoalannya tanpa segera menghakimi (cepat berbicara). Mendengar adalah cara berkomunikasi yang baik; menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Mendengarkan sama dengan memberi perhatian, ruang dan mencoba memahami lawan bicara. Bagi orang yang sedang dalam masalah, didengarkan saja sudah memberikan kelegaan; jika diperlukan baru berbicara dengan lemah lembut sesuai Firman Tuhan.

Perhatikan, Yakobus 1:19–20 menyatakan, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”

Oleh karena itu lidah (tangan sebagai perpanjangan lidah kita dalam menulis komentar dan kata-kata di medsos) harus kita kendalikan. Lidah (atau kata-kata) adalah luapan dari hati dan pikiran kita. Jadi bagaimana? Menahan diri, mendisplinkan diri, mendisiplinkan lidah adalah langkah baik sesuai Firman Tuhan.

Seucap kata dapat menimbulkan perselisihan dan perselisihan adalah perpecahan. Ingat, lidah adalah bagian tubuh yang kecil namun dapat memberi kebijaksanaan yang luar biasa. Sebaliknya, lidah dapat seperti api yang mampu membakar seluruh hutan (Yak. 3:5-6).