
Bicara mengenai peta jalan, kita langsung teringat akan google maps untuk melihat tempat dan lokasi yang tidak begitu familiar bagi kita. Jelas, peta sangat membantu kita memberitahu info yang kita inginkan.
Jujur kita sering meringankan peta karena gampang diakses padahal di abad pertengahan peta sangatlah mahal dan berharga karena tidak mudah membuatnya, perlu eksplorasi dan keakuratan dalam menggambar peta karena teknologi masih sederhana waktu itu. Sungguh, peta sangat bermanfaat dan bernilai tetapi kita cenderung meringankannya.
Apa peta jalan orang Kristen? Firman Tuhan/ Kitab Suci (2 Tim. 3:15-17). Buktinya?
• Alkitab adalah hikmat
Dia memberi kita hikmat masuk dalam keselamatan yang didapat di dalam iman kepada Kristus Yesus. Namun kita sering memperlakukan Alkitab sebagai peta menuju sukses dan masa depan yang gilang-gemilang. Memang Tuhan ingin umat-Nya berbahagia tetapi di atas semua kebahagiaan Ia ingin kita selamat.
Perlu diperhatikan, kita harus peka saat membaca Alkitab atau mendengarkan Firman yang disampaikan. Apakah Firman dipergunakan sebagai peta menuju keselamatan atau tujuan lain seperti sukses finansial? Firman Tuhan menegaskan kita diberi hikmat yang menuntun kita kepada keselamatan bukan menjadi pemimpin yang baik atau pengusaha sukses dll. Jadi Kitab Suci adalah peta menuju keselamatan.
Kitab Suci tidak memberi jalan, kiat atau langkah tetapi hikmat dalam menuntun kita berjalan menuju Yesus Kristus dan pengenalan kita diarahkan kepada Dia yang menyelamatkan. Kita harus berhikmat untuk dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik. Firman Tuhan mampu mengubah pola pikir kita sehingga dapat berpikir di dalam kerangka pikir Alkitab.
Hikmat berbeda dengan kiat atau langkah-langkah untuk meraih keselamatan. Misal: Alkitab yang ditulis 3.000 tahun lalu tidak akan ada relevansinya dengan kita sekarang sebab beda zaman jika Alkitab mengajarkan step by step bagaimana menuju pada keselamatan. Sementara itu hikmat tidak mengenal waktu sebagaimana Allah yang kekal mengatasi waktu. Kebenaran di dalam Alkitab tidak terbatas oleh waktu. Contoh: hikmat yang dibaca oleh Timotius 2.000 tahun lalu sama dengan hikmat yang kita baca sekarang. Seandainya Alkitab memberikan step by step bagi Timotius untuk sampai pada Kristus maka arahan step by step zamannya Timotius tidak akan berlaku sekarang. Jadi kita harus mengubah pandangan kita tentang Alkitab. Kalau kita menganggap Alkitab adalah buku kuno maka dia tidak relevan lagi tetapi kalau kita melihatnya sebagai peta yang mengajarkan hikmat maka Alkitab berlaku sepanjang masa.
• Akitab adalah peta yang akurat
Alkitab adalah peta yang akurat sebab seluruh Kitab Suci diilhamkan (= dinapaskan) Allah untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran.
Walau penulis memilih kata-kata berdasarkan latar belakang dan kebiasaan mereka, Roh Kudus di dalam kedaulatan-Nya menjaga penulis untuk tidak melakukan kesalahan dan apa pun yang dia tulis ditetapkan oleh Allah sebagai Firman. Allah menafaskan Firman yang ditulis oleh penulis-penulis dengan warna, gaya bahasa dan pengetahuan mereka.
Bagaimana kita yakin bahwa Alkitab benar-benar dari Allah? Kita harus lebih dahulu mengetahui apa bedanya Allah dengan manusia? Perbedaan paling signifikan yang tidak dapat ditiru oleh manusia mana pun ialah Allah itu mengatasi waktu, Ia tidak dapat dikendalikan atau dibatasi oleh waktu. Ia adalah awal dan akhir. Manusia siapa mampu eksis dari awal hingga akhir? Buktinya kita tidak bertemu Adam yang sudah mati. Jadi, kalau Allah sendiri yang menulis sesuatu, pastilah tulisan tersebut di luar batas waktu. Bagaimana dengan Alkitab, apakah di luar batas waktu? Bukankah nubuat-nubuat di masa lalu menjadi kenyataan sekarang dan Ia hendak memberitahukan hal-hal baru sebelum muncul (Yes. 42:9). Jadi ciri dan keistimewaan Allah ialah pemenuhan nubuatan nubuatan yang telah ditetapkan (ratusan tahun) sebelumnya (Yes. 46:9-11). Allah mempertegas bahwa Ia adalah Allah dan tidak ada yang lain seperti Dia (Yes. 46:9). Ia memberitahukan dari awal mula hal-hal yang terakhir, rencana-Nya akan terwujud, nubuat dan kehendak-Nya akan terlaksana; Ia mempunyai kuasa untuk melaksanakan apa yang dinubuatkan (ay. 10). Bahkan Ia mampu memanggil tenaga asing dari negeri jauh untuk melaksanakan keputusan-Nya (ay. 11). Sungguh ajaib, nubuat yang ditulis di zaman Musa dipenuhi di zaman Yesus padahal penulisnya sudah lama mati! Demikian pula nubuat tentang hamba yang menderita (Yes. 53) digenapi 700 tahun kemudian di zaman Yesus. Siapa mampu melakukan hal semacam ini kalau bukan Allah? Alasannya jelas sekarang Alkitab yang ditulis dalam rentang waktu 1.500 tahun oleh 40 penulis dari bermacam latar belakang dapat menuliskan nubuat dan penyelesaiannya. Kini kita tidak perlu meragukan lagi bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang akurat. Sudahkah kita memegang “peta jalan” yang akurat ini?
• Alkitab adalah peta yang menuntut keubahan hidup
Jauh beda dengan Google maps berupa benda mati yang tidak menuntut apa-apa, Alkitab adalah Firman Allah yang hidup. Dia aktif/bergerak mempunyai kemauan yaitu perubahan hidup dari kita.
Bagaimana “peta hidup” ini mampu mengubah hidup kita? Seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran.
Jelas Firman Allah mengajar kita dari tidak tahu menjadi mengerti. Jujur, kita tidak mampu memahami Allah yang mahabesar dengan otak kita yang terbatas. Itu sebabnya Ia mengajar agar kita mempunyai pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan kita harus berkembang dari tahun ke tahun. Kita telah beroleh keselamatan tetapi pengenalan kita akan Allah harus lebih mendalam. Jangan sudah lama menjadi orang Kristen tetapi masih mengonsumsi “susu” alias tidak dewasa rohani yang mana pengetahuannya tidak bertambah! Oleh sebab itu kita harus menyediakan waktu untuk bergaul dengan Firman dan tekun membaca Alkitab setiap hari.
Firman Tuhan juga menyatakan kesalahan agar kita memiliki sudut pandang yang baru sebabterkadang kita melakukan suatu kesalahan tanpa menyadarinya atau kita menganggap benar dan sering melakukannya padahal salah. Fungsi Firman Tuhan lainnya ialah memperbaiki kelakuan. Dengan pengetahuan baru, sudut pandang baru maka perilaku juga harus baru. Perilaku adalah pewujudan dari Firman yang sudah kita pegang. Dengan kata lain, kita tidak hanya menjadi pendengar Firman tetapi juga pelaku Firman (Yak. 2:17). Orang yang mendengar Firman tetapi tidak melakukannya, dia seumpama orang yang memandang muka sebenarnya di depan cermin kemudian segera lupa bagaimana rupanya (Yak. 1:23) yang mungkin jerawatan, bedaknya tidak rata, rambutnya awut-awutan dll. Itu sebabnya harus ada perubahan perilaku bila Firman Tuhan mengingatkan adanya ketidakberesan.
Selain itu Firman Tuhan juga mendidik orang dalam kebenaran. Firman Tuhan mendidik untuk mendewasakan orang dalam kebenaran. Orang dewasa rohani pasti memiliki pikiran dan perilaku beda daripada anak-anak. Kedewasaan rohani memerlukan kedisiplinan tinggi.
Untuk apa kita memiliki pengetahuan baru, sudut pandang baru, perilaku baru dan dewasa rohani? Kita diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim. 3:17). Kenyataannya, tidak gampang untuk berbuat baik apalagi kalau sudah terjun dalam dunia pekerjaan. Kita melakukan sesuatu dengan maksud baik tetapi sering kali perbuatan baik kita malah membuat orang marah dan kecewa. Ilustrasi: perbuatan anak dengan maksud mau menunjukkan kepintarannya dalam menggambar malah membuat ayah ibu marah karena mencoret-coret tembok.
Ternyata semakin dewasa seseorang, semakin dia diperlengkapi untuk melakukan suatu kebaikan. Untuk berbuat baik dibutuhkan kedewasaan. Dengan berpengetahuan baru, sudut pandang baru, perilaku baru, kita jauh dari kesalahan karena kita terdidik dan kelakuan kita diperbaiki.
Jelas sekarang Alkitab adalah hikmat, “peta jalan” yang akurat, dinapaskan oleh Allah sendiri. “Peta” ini tidak pasif tetapi menuntut perubahan hidup kita. Bila kita memiliki pengetahuan yang bertambah, sudut pandang baru, perilaku baru dan dewasa rohani maka kita dapat melakukan kebaikan yang berkenan di mata Allah. Juga Alkitab bukan peta sekadar untuk dibuka dan dibolak-balik tetapi untuk dijalani/dilakukan. Kiranya kita selalu terhubung dengan Firman Allah sebagai Pribadi Allah sendiri.
*******