• KENAIKAN YESUS KE SURGA
  • Perpisahan yang Mengubah Cara Hidup Orang Percaya
  • Stephen Pandir Manurung

Hari Kenaikan Yesus Kristus sering kali hanya dipahami sebagai peristiwa penutup pelayanan Yesus di bumi. Banyak orang Kristen memperingatinya setiap tahun tetapi tidak sedikit yang sebenarnya belum sungguh memahami makna mendalam di balik peristiwa itu. Padahal kenaikan Yesus ke Surga bukan sekadar “Yesus pulang ke Surga” melainkan sebuah momen besar yang mengubah arah kehidupan para murid dan gereja mula-mula untuk selamanya.

Peristiwa itu dicatat dalam Kisah Para Rasul 1:8-11. Sebelum Yesus terangkat ke Surga, Ia memberikan pesan terakhir yang sangat penting kepada murid-murid-Nya, “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:8)

Lalu Alkitab mencatat bahwa sesudah berkata demikian Yesus terangkat ke Surga disaksikan oleh para murid. Mereka berdiri menatap langit dengan penuh kebingungan sampai malaikat berkata bahwa Yesus suatu hari akan datang kembali dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang, kenaikan Yesus mungkin tampak seperti sebuah perpisahan yang menyedihkan. Namun bagi Surga, itu adalah awal dari lahirnya gereja yang penuh kuasa. Kenaikan Yesus bukan akhir cerita tetapi awal dari sebuah mandat besar bagi setiap orang percaya.

Ketika Yesus Pergi, Murid-Murid Justru Menjadi Kuat
Jika kita memerhatikan keadaan murid-murid sebelum Yesus naik ke Surga, sebenarnya mereka bukan kelompok orang yang hebat. Mereka sering takut, bingung, bahkan gagal memahami maksud Tuhan. Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali. Murid-murid lain sempat melarikan diri ketika Yesus ditangkap. Setelah penyaliban, mereka berkumpul di ruangan tertutup karena takut kepada orang Yahudi. Secara mental, mereka bukan orang-orang pemberani.

Namun anehnya, sesudah Yesus naik ke Surga dan Roh Kudus dicurahkan, semua berubah drastis. Petrus yang dahulu penakut berubah menjadi pengkhotbah yang berani. Dalam satu khotbah saja, tiga ribu orang bertobat. Murid-murid yang tadinya bersembunyi mulai memberitakan Injil ke berbagai wilayah dengan keberanian yang luar biasa.

Apa yang sebenarnya berubah? Bukan pendidikan mereka, bukan status sosial mereka. Bahkan masalah hidup mereka juga tidak langsung hilang. Mereka tetap mengalami aniaya, tekanan, dan kesulitan ekonomi tetapi ada satu hal yang berubah besar: hati dan mental mereka dipenuhi kuasa Roh Kudus.

Di sinilah makna penting kenaikan Yesus. Yesus tidak meninggalkan murid-murid tanpa pertolongan. Justru melalui kenaikan-Nya, Ia membuka jalan bagi pencurahan Roh Kudus yang memberikan kekuatan baru bagi orang percaya.

Kuasa Tuhan Tidak Diberikan Sembarangan
Yesus berkata, “kamu akan menerima kuasa.” Menariknya, kata “menerima” dalam bahasa Yunani memakai kata lambano, yang berarti menerima dengan kesadaran, kesiapan, dan kerelaan hati. Artinya, kuasa Tuhan bukan sesuatu yang bekerja otomatis dalam hidup semua orang Kristen. Ada hati yang harus dipersiapkan. Ada kehidupan yang mau dibentuk Tuhan.

Hari-hari ini banyak orang ingin mengalami mukjizat, ingin dipakai Tuhan, ingin hidup penuh kuasa, tetapi tidak mau hidup dalam ketaatan. Padahal sebelum Roh Kudus dicurahkan, Yesus terlebih dahulu memerintahkan murid-murid-Nya untuk tetap tinggal di Yerusalem menantikan janji Bapa. Secara manusia, mungkin perintah itu terasa tidak masuk akal. Mengapa harus tinggal di Yerusalem? Bukankah Roh Kudus bisa turun di mana saja? Bukankah kuasa Tuhan berlaku di mana saja?

Masalahnya bukan soal Tuhan mampu atau tidak mampu. Masalahnya adalah soal ketaatan. Tuhan sering kali bekerja melalui proses ketaatan yang sederhana. Banyak orang gagal mengalami kedalaman rohani bukan karena Tuhan tidak mau memberkati tetapi karena mereka lebih suka mengikuti pertimbangan sendiri daripada mengikuti kehendak Tuhan.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin hasil instan. Mau dipakai Tuhan tetapi malas berdoa; mau hidup penuh kuasa tetapi tidak suka proses; mau diberkati tetapi tidak mau hidup benar. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus dicurahkan kepada orang-orang yang tekun menanti Tuhan dengan sehati. Kuasa Tuhan tidak turun di tengah hati yang sombong dan penuh ambisi pribadi. Kuasa Tuhan bekerja melalui hati yang lapar akan Tuhan.

Kenaikan Yesus Mengingatkan Bahwa Dunia Ini Bukan Tujuan Akhir
Ketika Yesus terangkat ke Surga, ada pesan penting yang Ia sedang tanamkan kepada murid-murid-Nya: hidup manusia tidak berhenti di dunia ini.

Hari-hari ini manusia begitu sibuk mengejar banyak hal. Jabatan, uang, popularitas, kenyamanan hidup, dan pengakuan sosial sering menjadi pusat perhatian manusia modern. Ironisnya, banyak orang Kristen pun mulai hidup seolah-olah bumi adalah rumah selamanya.

Kenaikan Yesus mengingatkan bahwa Surga itu nyata. Yesus naik ke Surga bukan hanya untuk menunjukkan kemuliaan-Nya tetapi juga untuk mengingatkan bahwa orang percaya memiliki pengharapan kekal. Dunia ini sementara, semua yang ada di bumi suatu hari akan berlalu. Itu sebabnya orang Kristen seharusnya memiliki cara hidup yang berbeda. Kita bekerja, membangun keluarga, melayani, dan menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh tetapi hati kita tidak boleh melekat sepenuhnya kepada dunia.

Kenaikan Yesus mengajarkan bahwa hidup orang percaya harus selalu memiliki orientasi Surga. Orang yang memiliki orientasi Surga biasanya lebih kuat menghadapi tekanan hidup. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa penderitaan di dunia tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang. Sebaliknya, orang yang hanya berfokus pada dunia akan mudah hancur ketika kehilangan sesuatu.

Gereja Dipanggil Menjadi Saksi Bukan Penonton
Sebelum naik ke Surga, Yesus memberikan tugas yang sangat jelas: “kamu akan menjadi saksi-Ku.” Artinya, setiap orang percaya dipanggil untuk menghadirkan Kristus melalui hidupnya. Sayangnya, banyak orang Kristen hari ini lebih suka menjadi penonton rohani. Datang ibadah, mendengar Firman, lalu pulang tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal gereja mula-mula bertumbuh bukan karena gedung megah atau fasilitas lengkap. Gereja mula-mula bertumbuh karena orang-orang biasa berani menceritakan Yesus kepada dunia. Mereka memberitakan Injil di rumah, di pasar, di tempat kerja, bahkan di tengah ancaman. Hari ini dunia tidak hanya membutuhkan orang Kristen yang pandai berbicara tentang Tuhan. Dunia membutuhkan orang percaya yang hidupnya mencerminkan kasih Kristus.

Menjadi saksi tidak selalu berarti berkhotbah di mimbar. Kadang menjadi saksi berarti tetap jujur ketika orang lain curang, tetap mengasihi ketika disakiti, tetap setia ketika keadaan sulit. Dunia sedang memerhatikan kehidupan orang percaya. Oleh karena itu kenaikan Yesus bukan hanya sebuah peringatan sejarah gereja tetapi juga panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup membawa dampak.

Yesus Akan Datang Kembali
Bagian terakhir dari Kisah Para Rasul 1 mencatat perkataan malaikat kepada murid- murid, “Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Ini adalah pengharapan besar orang percaya. Yesus naik ke Surga tetapi Ia tidak meninggalkan umat-Nya selamanya. Akan tiba waktunya Ia datang kembali; karena itu kehidupan orang percaya seharusnya dipenuhi kesiapan rohani. Kita tidak tahu kapan hari itu tiba tetapi Tuhan memanggil gereja untuk tetap setia. Kenaikan Yesus mengingatkan bahwa sejarah dunia bergerak menuju penggenapan rencana Allah. Dunia bukan berjalan tanpa arah dan Tuhan tetap memegang kendali.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, orang percaya memiliki pengharapan yang kukuh: Yesus hidup, Yesus memerintah, dan Yesus akan datang kembali.

Penutup
Kenaikan Yesus ke Surga bukan sekadar cerita tentang Yesus terangkat ke langit. Peristiwa itu adalah deklarasi bahwa karya keselamatan terus berjalan melalui kehidupan orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus.

Kenaikan Yesus mengajarkan bahwa kuasa Tuhan tersedia bagi orang yang taat dan lapar akan Tuhan. Kenaikan Yesus juga mengingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang dunia tetapi tentang Kerajaan surga yang kekal.

Dan yang terpenting, kenaikan Yesus menjadi pengingat bahwa gereja dipanggil bukan untuk hidup dalam ketakutan melainkan hidup sebagai saksi Kristus di tengah dunia.

Kiranya melalui peringatan kenaikan Yesus, iman kita kembali dibangunkan. Bukan hanya untuk kagum kepada peristiwa-Nya tetapi untuk mengalami kuasa dan tujuan hidup yang Ia sediakan bagi setiap orang percaya.