• KUNCI DOA
  • W.N.

Doa adalah masalah yang sangat penting dalam kehidupan rohani seorang Kristen. Setiap orang Kristen sejati menyadari betapa pentingnya berdoa dan mereka mengeluarkan banyak waktu untuknya. Sayang, walau sudah banyak berdoa, tetap saja tidak berhasil dengan baik seolah-olah doanya tidak tembus, tidak menemui jalan keluar. Mengapa? Karena mereka belum menemukan kunci doa.

Sebelum seseorang mengerjakan satu pekerjaan atau menyelesaikan suatu masalah, dia terlebih dahulu harus tahu cara penanganannya. Misal: kita membawa sebuah meja dan mau melewati pintu; jika kita tahu caranya kita akan dengan mudah melewatinya. Sebaliknya, kalau kita tidak mengetahui caranya, kita akan mengalami kesulitan bahkan mungkin menabrak ini dan itu tanpa berhasil melewati pintu itu. Orang yang berhasil menemukan cara menangani pekerjaan dapat bekerja dengan baik tetapi mereka yang belum menemukan caranya akan mengalami banyak kesulitan bahkan kegagalan.

Demikian pula dengan doa. Matius 7:7 menuliskan prinsip berkaitan dengan doa, “Carilah maka kamu akan mendapat!” Mencari membutuhkan waktu. Barangsiapa mencari sesuatu dengan setengah hati dan seenaknya tentu tidak akan mendapatkannya. Mencari berarti harus mengeluarkan waktu. Orang yang sembarangan dan tidak sabaran akan sulit mendapatkan apa yang dicarinya. Mencari sesuatu perlu kesabaran, ketelitian dan ketekunan untuk mendapatkan barang yang dicarinya. Jika Allah belum/tidak menjawab doa-doa kita, kita harus latihan bersabar, bertekun dan teliti mencari kunci doanya.

Allah menjawab doa-doa orang saleh pada zaman dahulu karena mereka mengetahui kunci doanya. Hari ini banyak orang Kristen yang tulus berdoa berjam-jam dengan doa yang panjang-panjang namun mereka tidak menerima jawaban dari Allah. Memang doa memerlukan kata-kata tetapi perkataan kita jangan bertele-tele tetapi langsung menuju sasaran yang menjamah dan menggerakkan hati Allah sehingga tidak ada pilihan lain bagi-Nya kecuali menjawab doa kita. Kata-kata yang langsung menuju sasaran adalah kunci doa.

Marilah kita melihat beberapa contoh dalam Alkitab agar dapat belajar menemukan kunci berdoa.

Doa Abraham untuk Sodom (Kej. 18:16-33)

Setelah Allah memberitahu Abraham bahwa Ia akan menghukum Sodom dan Gomora oleh karena kejahatan mereka, Abraham “masih tetap berdiri di hadapan Allah” (ay. 22) berdoa syafaat bagi Sodom. Abraham tidak asal membuka mulut meminta belas kasihan Allah agar Sodom dan Gomora tidak dibinasakan. Abraham memegang teguh fakta bahwa Allah adalah Allah yang adil (ay. 25). Inilah kunci doanya. Dengan sangat rendah hati dan sungguh-sungguh, dia mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepada Allah. Akhirnya dia berkata, “Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata lagi sekali ini. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” (ay. 32) Inilah permohonan Abraham yang terakhir. Setelah itu Alkitab menuliskan, “Lalu pergilah Tuhan setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.” (ay. 33)

Abraham tidak berusaha menahan Allah dan tidak melanjutkan doanya tetapi kembali ke tempat tinggalnya. Ada orang berpendapat seharusnya Abraham melanjutkan permohonannya kepada Allah agar tidak berhenti pada jumlah 10 orang. Abraham adalah orang yang mengenal Allah, dia tahu kunci berdoa. Dia telah mendengar firman Allah, “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya......” (ay. 20-21) Jika dalam satu kota, jumlah orang yang benar tidak mencapai 10 orang kota macam apakah itu? Allah tidak dapat menutup mata terhadap dosa, Ia harus menghakimi dosa oleh sebab keadilan-Nya (Ibr. 1:9). Kebinasaan Sodom dan Gomora adalah akibat dari dosa-dosa mereka dan ini adalah ekspresi keadilan Allah.

Ketika Allah menunggang-balikkan kedua kota itu, Ia tetap berlaku adil terhadap orang benar dan menyelamatkan Lot yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tidak mengenal hukum dan hanya mengikuti hawa nafsu (2 Ptr. 2:7).

Doa Abraham mengenai sasaran dan mendapatkan jawaban dari Allah yang adil.

• Pertanyaan Yosua mengenai Ai (Yos. 7)

Orang-orang Israel yang menyerang kota Ai melarikan diri sebab orang-orang Ai menewaskan ± 36 orang dari mereka. Orang Israel dikejar dan dipukul kalah di lereng membuat mereka tawar hati (Yos. 7:4b-5).

Mengapa hal ini dapat terjadi padahal bangsa Israel baru saja mengalami kemenangan besar atas Yerikho? Yosua bersujud di hadapan Allah memohon kepada-Nya mengapa bangsa Israel diserahkan ke musuh untuk dibinasakan. Yosua khawatir akan Nama Allah yang dipermalukan, karena itu Ia bertanya, “Apa yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?” (ay. 9) Inilah kunci doanya. Dia menjunjung tinggi Nama Allah. Jawab Allah kepadanya, “Orang Israel telah berbuat dosa....sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya...Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.” (ay. 11-12)

Allah memerhatikan Nama-Nya sendiri dan tidak dapat bertoleransi terhadap adanya dosa di tengah-tengah umat-Nya. Setelah Yosua mengetahui dengan jelas penyebabnya, dia menemukan bahwa dosa ketamakan Akhan menjadi penyebabnya. Setelah masalah itu dibereskan, barulah kegagalan mereka berubah menjadi kemenangan. Perhatikan, bertoleransi terhadap dosa dan menyembunyikan dosa hanya akan membuat Nama Tuhan dipermalukan dan ini memberi peluang kepada Iblis untuk menyerang umat Allah.

Doa Yesus (Mat. 26:36-46)

Di Taman Getsemani Yesus sangat sedih seperti mau mati rasanya. Dalam situasi demikian ini Ia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39). Dia bukan takut mati juga bukan tidak mempunyai keinginan sendiri melainkan tidak ingin berjalan menurut jalan-Nya sendiri. Dia ingin berjalan menurut jalan yang ditunjukkan Allah bagi-Nya. Hingga tiga kali Ia berdoa mengucapkan doa yang sama. Dia sangat jelas terhadap kehendak Allah. Yesus di bumi sebagai manusia menjamah kunci doa dengan mengenyampingkan kehendak-Nya sendiri dan mencari kehendak Allah.

Doa perempuan Siro-Fenisia (Mat. 15:22-28; Mrk. 7:24-30).

Dalam kesedihannya seorang perempuan Kanaan berseru kepada Tuhan, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Yesus sama sekali tidak menjawabnya (ay. 23). Malah murid-murid-Nya meminta-Nya supaya perempuan itu pergi tidak mengikuti mereka. Kemudian Yesus menjawab bahwa Ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Jawaban ini justru membuka mata perempuan itu bagaimana cara menghampiri Yesus dengan benar. Anak Daud hanya berkaitan dengan umat Israel bukan bangsa-bangsa lain. Maka datanglah perempuan itu menyembah-Nya sambil berkata, “Tuhan, tolonglah aku.” Perempuan ini memanggilnya “Tuhan” bukan lagi “Anak Daud”. Yesus merespons, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Jawaban ini terdengar dingin dan melukai hati seolah-olah Yesus menolak perempuan ini. Sebenarnya Tuhan mau menunjukkan kepadanya supaya mengetahui kedudukan dirinya dan apa itu kasih karunia. Perempuan ini tercelik, dia melihat posisinya juga kasih karunia Tuhan. Dia menemukan kunci doa dan segera dia berkata, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan rempah-rempah yang jatuh dari meja tuannya.” Jawabannya dipuji Yesus, kata-Nya, “Hai ibu, besar imanmu.” Doanya terjawab karena ia menggunakan kuncinya.

Tidak jarang kita bergumul dalam doa namun doa-doa kita bagaikan batu yang tenggelam ke dasar laut tidak memperoleh jawaban Allah. Sayangnya, kita juga tidak berusaha mencari penyebabnya. Marilah kita belajar menemukan kuncinya karena dengan cara demikian ini kita dapat beroleh jawaban Tuhan.

Ingat: sewaktu berdoa, jangan terpengaruh dan diatur oleh pikiran, emosi dan keadaan sekitar. Perhatikan suara yang ada di dalam batin kita, ketika suara tersebut mengajak kita berdoa, tanggapi segera dan berdoalah. Keadaan sekitar hanyalah sarana yang mendorong kita masuk ke hadirat Allah bukan malah menjadi tuan yang menghalangi doa-doa kita. Pikiran kita hanya berfungsi untuk menjelaskan apa yang ada di dalam batin dan mengutarakan doa dalam perkataan.

Doa yang sesuai dengan kehendak Allah adalah doa yang bersimpati kepada kehendak Allah; bukan doa yang memaksakan Allah bersimpati kepada emosi manusia. Jika emosi kita belum ditanggulangi, kita tidak akan dapat berdoa; kalaupun berdoa, doa kita tidak akan tembus. Orang yang dipengaruhi oleh emosinya akan berdoa berdasarkan harapan-harapannya yang subjektif; dia tidak mudah menerima pimpinan di dalam batinnya. Kita harus menjamah kunci doa. Kalau doa-doa kita tidak efektif, bertanyalah kepada Tuhan, mohon Dia memberi terang agar kita menemukan penyebabnya. Jika kita berdoa menggunakan kuncinya, kita akan memperoleh jawaban dari Tuhan.

*******