• Playing Victim Dalam Pelayanan
  • 2026-09-04
  • Wiemach Puri Diansari

Apa itu Playing Victim

Menurut Stephen Karpman dalam konsep Segitiga Drama Karpman (Karpman Drama Triangle) playing victim adalah tindakan seseorang yang mengambil peran sebagai “The Victim” (korban) dalam sebuah interaksi sosial yang tidak sehat. Seorang "korban" dalam konteks ini sebenarnya bukan benar-benar tidak berdaya melainkan merasa atau pura-pura tidak berdaya untuk memanipulasi keadaan. Tujuannya ialah menghindari tanggung jawab, menarik simpati, atau memanipulasi orang lain agar menjadi penolong (the rescuer) atau kambing hitam (the persecutor). 

Sigmund Freud dan Anna Freud (putrinya), playing victim dikategorikan sebagai bentuk Defense Mechanism (Mekanisme Pertahanan Ego), khususnya proyeksi (Projection) dan regresi (Regression). Ketika ego seseorang tidak mampu menghadapi rasa bersalah (guilt), mentalnya akan memproyeksikan (melemparkan) kesalahan tersebut kepada orang lain. Dengan menjadi "korban", ego mereka merasa aman dari kecemasan moral karena mereka menggeser status dari "pelaku kejahatan" menjadi "pihak yang dirugikan". 

Dalam psikologi modern, Dr. Rahav Gabay (2020) dengan konsep Tendency for Interpersonal Victimhood (TIV), playing victim bukan sekadar perilaku sesaat melainkan pola kepribadian yang kaku dan bertahan lama. Seseorang dengan TIV tinggi memiliki cara pandang yang terdistorsi di mana mereka selalu menginterpretasikan tindakan netral bahkan tindakan baik orang lain sebagai sebuah serangan atau penghinaan terhadap diri mereka.

Jadi dapat disimpulkan playing victim adalah pola perilaku di mana seseorang selalu memosisikan dirinya sebagai korban dari tindakan orang lain atau keadaan guna menghindari tanggung jawab atas tindakannya sendiri, mencari simpati, atau memanipulasi orang lain.

Playing Victim Dalam Konteks Kekristenan

Dalam konteks Kristen, perilaku sering kali "dibungkus" dengan bahasa-bahasa rohani (spiritual bypassing) seperti merasa diri paling menderita demi iman atau menyamakan konsekuensi dari kesalahan sendiri sebagai "penganiayaan karena kebenaran". Kekristenan sangat menekankan akuntabilitas dan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah. Setiap orang memikul tanggung jawabnya sendiri: "Sebab setiap orang akan memikul tanggung jawabnya sendiri." (Gal. 6:5) Tuhan tidak melihat kita sebagai korban yang tidak berdaya atas keadaan melainkan sebagai agen moral yang bertanggung jawab atas pilihan kita.

Sebelum melihat kesalahan orang lain alangkah baiknya kita mengoreksi diri sendiri sesuai yang Yesus ajarkan, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Mat. 7:3) Yesus menggunakan kontras yang ekstrem (selumbar vs. balok) untuk menunjukkan betapa konyol dan munafiknya seseorang yang sibuk mencari-cari kesalahan kecil orang lain padahal ia sendiri hidup dalam pelanggaran yang lebih parah. Kita sangat cepat melihat kekurangan orang lain namun sering kali menutup mata, menyangkal, atau memaklumi dosa kita sendiri sehingga kita cenderung untuk membenarkan diri sendiri. Jika pola karakter ini kita pupuk sedemikian rupa dalam pelayanan dan berkomunitas di gereja, ini dapat mengarah kepada karakter playing victim, cenderung untuk menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan dan menyalahkan keadaan. Untuk itu dibutuhkan pertobatan dan introspeksi diri terlebih dahulu sebelum mengoreksi orang lain. Kita harus memastikan diri kita telah berdamai dengan Tuhan dan membersihkan hidup kita dari kesalahan yang lebih besar.

Ketika sadar bahwa kita sendiri memiliki "balok" dalam mata kita, kita akan lebih lembut, sabar, dan penuh kasih saat berhadapan dengan orang lain yang melakukan kesalahan. Kita tidak lagi menegur dengan semangat menghakimi melainkan dengan semangat ingin memulihkan sesama (“keluarkanlah balok itu dari matamu maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu").

Distorsi Teologis Yang Sering Terjadi
Orang yang melakukan playing victim dalam lingkungan gereja sering kali menyalahgunakan beberapa konsep teologis yaitu distorsi konsep penderitaan Kristen. Alkitab memang mengatakan bahwa orang percaya akan menderita (2 Tim. 3:12) namun ada perbedaan besar antara menderita karena kebenaran Kristus dengan menderita akibat konsekuensi dosa atau kecerobohan sendiri (1 Ptr. 4:15). 

Selanjutnya, menyalahgunakan "kasih dan pengampunan", maksudnya bahwa pelaku sering menuntut orang lain untuk selalu mengampuni dan melupakan kesalahannya tanpa ia sendiri mau menjalani proses pertobatan atau menanggung konsekuensi. Jika orang lain menetapkan batasan (boundaries), mereka akan menuduh orang tersebut "tidak mengasihi" atau "menghakimi".

Tokoh Alkitab Berkarakter Playing Victim

Sikap playing victim bukanlah hal baru, ini adalah salah satu dampak langsung dari kejatuhan manusia ke dalam dosa di Taman Eden (Kej. 3) di mana saat itu Adam menyalahkan Hawa dan Tuhan. Setelah memakan buah terlarang, Adam berusaha menghindar dari tanggung jawab dengan menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan. Ketika ditegur karena makan buah terlarang, Adam berkata, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku ini, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku..." (Kej. 3:12). Adam memosisikan diri sebagai korban dari Hawa dan keputusan Tuhan. Mengapa ini termasuk playing victim? Adam berupaya cuci tangan dari kesalahannya sendiri dengan menunjuk Hawa sebagai penyebab utama sekaligus menyindir Tuhan karena "memberikan" Hawa kepadanya. Kemudian playing victim berambah kepada Hawa dengan menyalahkan ular. Hawa menyusul dengan berkata, "Ular itu yang memperdayakan aku..." (ay. 13). Dari awal sejarah manusia, dosa cenderung membuat seseorang melempar tanggung jawab (blame-shifting) dan menolak mengakui kesalahan pribadi.

Tokoh lain dalam Alkitab yaitu Raja Saul (1 Sam. 15) yang berulang kali gagal menaati perintah Allah namun ketika ditegur oleh Nabi Samuel, ia selalu mencari alasan untuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain. Ketika dia diperintahkan memusnahkan bangsa Amalek, justru membiarkan ternak terbaik tetap hidup dengan alasan rakyat yang memaksanya mengambil ternak itu untuk dipersembahkan kepada Tuhan (1 Sam. 15:15, 21). Mengapa ini playing victim? Sebagai raja, ia memiliki otoritas penuh namun ia melemparkan tanggung jawab kepada rakyatnya sendiri agar dirinya tidak dianggap bersalah.

Solusi Pastoral

Bagi komunitas Kristen, menghadapi fenomena playing victim (berperan sebagai korban) dalam komunitas pelayanan memerlukan keseimbangan yang sangat halus antara kasih yang menggembalakan dan ketegasan yang berprinsip. Jika dibiarkan, perilaku ini dapat merusak budaya organisasi, menciptakan perpecahan, dan menghambat pertumbuhan rohani pelaku itu sendiri. Berikut adalah pendekatan solusi pastoral yang dapat diterapkan di gereja masing-masing, antara lain:

  • Membangun "ruang aman" untuk kejujuran (Radical Honesty)
    Seorang pelaku playing victim sering merasa tidak didengar atau tidak dihargai sehingga mereka menggunakan "posisi korban" sebagai alat untuk mendapatkan perhatian atau validasi. Pendekatan yang dilakukan yaitu  berikan ruang untuk mendengarkan keluhan mereka sepenuhnya (mendengarkan secara aktif). Namun jangan langsung menyetujui narasi mereka.
    Langkah Pastoral: Validasi perasaan mereka tanpa memvalidasi distorsi fakta yang mereka sampaikan. Contoh: "Saya mengerti kamu merasa tersakiti oleh situasi ini; mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi dari berbagai sudut pandang."·      
  • Mengajak untuk mengambil tanggung jawab (empowerment)
    Inti dari playing victim adalah hilangnya rasa tanggung jawab atas peran diri sendiri dalam suatu konflik. Langkah pastoral yang diambil ialah mengalihkan fokus mereka dari eksternal (menyalahkan orang lain) ke internal (tanggung jawab pribadi/self-accountability).      
  • Batasan yang sehat (healthy boundaries)
    Pelayanan bukan berarti membiarkan diri dimanipulasi oleh drama atau keluhan terus-menerus. Komunikasi yang tegas, apabila seseorang terus-menerus mengeluh tanpa keinginan untuk berubah, buat batasan. Jangan menjadi "penyelamat" (rescuer) yang selalu menuruti keinginan mereka karena rasa kasihan. Hal ini justru memperkuat (reinforce) perilaku playing victim tersebut. 
  • Konfrontasi berdasarkan kasih (Mat. 18:15).
    Yesus mengajarkan prinsip konfrontasi yang jelas. Jika perilaku ini merusak pelayanan, kita harus berani menegur dengan kasih. Memberikan umpan balik spesifik yaitu jangan menggunakan generalisasi tetapi gunakan contoh nyata perilaku mereka yang destruktif. Tegaskan bahwa teguran ini diberikan bukan untuk menghukum tetapi mengasihi mereka agar mereka bertumbuh menjadi pelayan yang lebih dewasa secara rohani.
  • Penggembalaan berbasis Firman.
    Gunakan ayat-ayat Alkitab untuk meluruskan pola pikir (mindset) mereka dengan cara mengajarkan tentang kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia. Ingatkan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri (Luk. 9:23) bukan malah menimpakan beban kepada orang lain. Kemudian ajarkan tentang pertobatan bahwa playing victim adalah musuh dari pertobatan. Seseorang tidak dapat bertobat jika ia merasa dirinya sempurna dan pihak lain yang salah. Bantu mereka menyadari bahwa pertumbuhan rohani dimulai dari pengakuan dosa pribadi bukan pengakuan kesalahan orang lain.·     
  • Fokus pada visi pelayanan bukan pada kepribadian.
    Dalam dinamika tim, jangan biarkan fokus pembicaraan terjebak pada "siapa yang merasa tersakiti".Re-orientasi yaitu arahkan kembali tim pada misi utama pelayanan. "Kita ada di sini bukan untuk memastikan perasaan kita selalu dijaga tetapi untuk melayani Tuhan dan jemaat. Mari kita fokus pada target pelayanan kita bersama."

******