
Orang tua sering dibuat bingung dan bertanya-tanya kapan mulai mengajarkan pendidikan seksual kepada anak.
Kita harus mengetahui prinsip mengapa orang tua harus terlibat dalam mendidik anak-anak. Contoh yang sangat jelas ialah imam Eli dan Samuel. Kedua hamba Tuhan ini sama-sama mempunyai anak yang membuat masalah. Namun Tuhan mempermasalahkan imam Eli karena dia tidak mendidik dengan benar saat anak-anaknya melakukan hal yang salah bahkan tidak mengingatkan dan menegurnya.
Mengapa orang tua yang baik, anaknya tidak selalu baik atau orang tua jahat, anaknya dapat menjadi baik? Alangkah baiknya jika orang tua yang baik mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai yang baik walau kita tidak tahu akhirnya anak itu menjadi seperti apa nantinya. Bayangkan, anak yang diajari kekudusan saja masih dapat bermasalah apalagi tidak diajari. Yang penting orang tua mengajarkan berulang-ulang (Ul. 6:7) karena tanpa pengetahuan liarlah umat (Ams. 29:18). Tanpa pengetahuan, anak-anak akan mencari info lain padahal orang tua adalah role model dan anak adalah ahli fotokopi. Misal: kalau orang tua tidak memberi informasi dengan tepat, anak akan mulai mencari info dari teman atau dari Google. Bahkan antaranak muda, mereka membahas bagaimana cara mencium pacar. Bayangkan kalau orang tua tidak mengetahui siapa teman anaknya dan terlalu percaya mereka sudah remaja dan dapat mandiri!
Perlu disadari remaja adalah masa badai, orang tua jangan melepaskan pengawasan namun bukan mengontrol sepenuhnya. Masa badai di mana mereka lagi mempertanyakan semua nilai yang sudah diajarkan orang tua. Jadi amat sangat penting peran orang tua untuk menolong, mengajarkan, jangan lemparkan semua ke sekolah walaupun sekolah adalah salah satu institusi yang membantu keluarga menanamkan nilai tentang kekudusan.
Ketahuilah pengajar utama mengenai hal seksual adalah orang tua. Apa batasan atau boundary yang dapat menolong orang tua dalam mengajarkan sex education kepada anak? Ketika ayah memandikan anak perempuannya yang berumur ± 2 tahun, si ayah menjelaskan bahwa si anak adalah perempuan sementara si ayah adalah laki-laki. Si ayah menanamkan nilai batasan antara perempuan dan laki-laki. Ada bagian yang tidak boleh disentuh. Dari awal sudah terus ditanamkan dengan harapan menjadi benteng pertahanan ketika dia tumbuh besar. Orang tua tidak langsung berbicara hal-hal tinggi tentang kekudusan yang belum tentu dimengerti oleh anak. Ketika memberi batasan, otomatis memberi pagar untuk menjaga kekudusan. Orang tua harus mengajarkan batasan sejak dini dan jangan menganggapnya tabu.
Juga memberitahu anak untuk tidak gampang dipeluk orang lain apalagi yang belum dikenal, harus ada jarak. Si ayah sendiri berusaha menetapkan adanya batasan karena kekudusan tidak untuk dipermainkan dan ayah berperan besar dalam hal ini. Kenyataannya, wanita mengalami kehamilan tidak diinginkan karena mereka kehilangan atau tidak berfungsinya figur ayah. Itu sebabnya ayah jangan melempar tanggung jawab mengajarkan pendidikan seksual kepada ibu dan ibu melemparkannya ke sekolah. Ayah dan ibu harus menetapkan atasan/boundary berkaitan dengan kekudusan.
Sering terjadi anak remaja bukan mencari pacar tetapi mereka sebenarnya membutuhkan figur ayah cuma salah mencarinya.
Perbedaan antara cowok dan cewek harus lebih ditegaskan. Bahayanya kalau tidak diberi batasan, mereka menganggap semua orang itu manis dan baik padahal yang kelihatan baik dan manis belum tentu benar. Si ibu sudah mulai mengajarkan menstruasi kepada anak perempuannya yang berada di kelas 4 atau 5 SD agar mereka tidak kaget dan mengerti apa yang terjadi kalau menstruasi. Sangat berbahaya kalau dia tidak mengerti sama sekali tentang menstruasi yang berakibat hamil jika melakukan hubungan seks. Jadi orang tua terutama ayah mulai mengajarkan batasan ± 1½ tahun dan dilakukan terus menerus. Misal: ayah mengatakan perbedaan antara cowok dan cewek saat memandikannya.
Penjelasan makin ditingkatkan dengan bertambahnya usia tentang apa itu ejakulasi dan kelas 1 SMP mulai digaungkan apa itu hubungan suami-istri dan ini hanya boleh dilakukan dalam hubungan nikah. Diingatkan bahwa pernikahan itu penting, apa yang dilakukan di luar pernikahan awalnya manis tetapi berakhir dengan kepahitan akibat perbuatan dosa yang dilakukan.
Orang tua tidak perlu takut salah dalam pembelajaran mendidik anak tentang batasan-batasan agar masa depan anak tidak salah langkah.
Apa yang menjadi porsi dan tanggung jawab ayah/ibu dalam mengajarkan pendidikan seksual kepada anak? Secara keseluruhan ayah yang menetapkan seluruh nilai bagi keluarga, ibu lebih berperan mengajari anak perempuan tentang menstruasi sementara ayah menerangkan body part kepadanya. Anak terkadang bukan butuh banyak omongan tetapi teladan/model, misal: keharmonisan ayah-ibu menimbulkan rasa aman juga kesetiaan ayah kepada istrinya menjadi teladan bagi anak.
Selain menjadi teladan, para orang tua harus bertanggung jawab mengajarkan batasan/ boundaries kepada anak ulang berulang.
Dalam budaya Israel, peran seorang ayah sangatlah penting dalam memberikan identitas kepada anaknya. Dibutuhkan kesepakatan antara suami-istri kapan dan apa yang diajarkan kepada anak. Misal: ketika memandikan anak perempuan si ibu menjelaskan, “Ayah tidak memandikan kamu sebab ayah adalah boy sedangkan kamu a girl.”
Bagaimana Alkitab mengajarkan tentang menjaga hati dan pikiran anak-anak kita dari pengaruh negatif di dalam menghadapi godaan seksual khususnya di era digital di mana fitur-fitur seksual dapat diakses dengan mudah?
Prinsipnya, kalau gelas kita penuh maka tidak akan mudah diisi oleh yang lain. Maksudnya, kalau dari kecil orang tua sudah menanamkan nilai-nilai kekudusan dan anak merasa aman dan happy maka “nilai” lain tidak akan mudah masuk ke dalamnya. Si anak terbiasa bertanya tanpa rasa takut dan bercerita kepada orang tua karena relasi orang tua-anak dekat. Misal: anak diberitahu ciuman di bibir hanya boleh dilakukan oleh suami-istri dalam hubungan nikah; anak perempuan diajari rasa malu kalau berpakaian minim atau keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk dll. Orang tua harus terus belajar bagaimana menyampaikan pesan kreatif kepada anak.
Ibarat orang yang kenyang menginjak-injak madu tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit pun terasa manis (Ams. 27:7), maksudnya orang yang sudah kenyang tidak akan jajan sembarangan; beda dengan anak yang lapar, apa saja akan dimakan. Anak harus diisi Firman Tuhan dan ditanami nilai-nilai kekudusan sejak dini; untuk ini orang tua harus menyediakan waktu bagi anak.
Orang tua juga harus belajar teknologi dan tahu kapan memberikan handphone kepada anak. Faktanya, anak sekarang terlalu banyak screen time karena orang tua sibuk dengan pekerjaan atau hobi. Akibatnya, anak tidak mempunyai kreativitas untuk berpikir mau melakukan apa tanpa HP bahkan adiksi/kecanduan main HP.
Zaman sekarang anak cepat terpapar dengan screen time dan membuatnya tidak fokus karena terbiasa melihat hal-hal bersifat singkat nan instan sehingga pikirannya terpola menginginkan segala sesuatu secara cepat tanpa menghargai suatu proses bahkan menghindarinya. Bukankah Firman Tuhan mengingatkan siapa tidak mau bekerja janganlah dia makan (2 Tes. 3:10) berarti harus berproses untuk dapat makan? Buktinya saat makan bersama di resto, ayah, ibu, anak-anak main HP sendiri-sendiri, apakah ini dapat disebut family time?
Perhatikan, kalau sudah berkeluarga, “me time” sudah sedikit sekali karena tujuan nikah bukan untuk bisa “me time”. Orang tua harus membatasi penggunaan HP dan belajar mengenali pertemanan anak-anaknya juga adakan waktu untuk jalan, nonton atau main bersama anak. Mainan terbaik dan termenarik di rumah atau di suatu tempat ialah bersama orang tua bukan play station, handphone atau mainan bagus nan mahal bagi anak.
Jadi, godaan seksual akan menjadi godaan kalau dalam diri anak tidak dipenuhi oleh Firman, nilai, kasih, waktu berkualitas dan relasi intim dengan orang tua. Memang tidak dapat disangkal dosa mempunyai daya tarik kalau tidak menarik tidak mungkin ada kejatuhan tetapi ketika kita “kenyang” persentase untuk “jajan” turun banyak.
Jujur, orang tua merasa tidak nyaman saat memulai pembicaraan mengenai pendidikan seksual kepada anak apalagi kita masih menganut budaya timur yang sering dianggap tabu. Namun kalau orang tua tahu betapa pentingnya anak diberi pengetahuan tentang seksual, mereka akan berusaha meminta hikmat dari Tuhan (Yak. 1:5) dan pertolongan Roh Kudus untuk dapat memberikan penjelasan kepada anak. Tuhan akan memberikan kreativitas cara mendekati dan mengajak anak bermain dll. Tentu orang tua yang kaku, gaptek, introvert tidak perlu takut salah dan anak akan dapat menangkap hati papa-mamanya waktu mengajarkannya yakni bertujuan untuk menjaga dia.
Pastikan anak kita adalah orang paling penting dalam hidup kita yang pantas diperjuangkan terutama tentang kekudusan karena hari-hari ini kita diserbu dengan gerakan LGBT yang mencoba menghancurkan pandangan tentang keberadaan gender. Orang tua diberi kepercayaan untuk mendidik dan membesarkan anak-anak untuk hidup dalam kekudusan dan terhindar dari musuh sedang mencoba menghancurkan mereka dengan segala cara oleh sebab Tuhan mengasihi mereka.
******