Mengenal resiliensi dan garam
Dalam psikologi, terdapat istilah resiliensi (resiliency). Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kata yang terdekat adalah ketangguhan. Sederhananya, resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali, pulih, melewati kesulitan dan kembali seperti semula. Kata kuncinya adalah kembali seperti semula layaknya tidak terjadi apa-apa.
Definisi ini tidak sepenuhnya salah namun tidaklah lengkap. Jika merujuk pada Alkitab, ketangguhan sejati tidak terbatas pada kemampuan untuk bertahan pada kesulitan saja tetapi juga ajakan untuk mempertahankan esensi seperti garam. Resiliensi Alkitabiah mengajak seseorang untuk tidak mengubah esensi walaupun dunia di sekitar kita memberikan tekanan yang luar biasa untuk mengubah kita.
Ketika kita tetap menjadi garam dan tidak tawar, itulah resiliensi.
Garam yang disebut dalam Matius 5:13 merujuk pada garam laut yang memang sering digunakan di zaman Yesus. Garam laut tersebut menanggung panas, kelembapan, tekanan, dan bersentuhan dengan banyak zat di laut namun esensinya tetap sama, yaitu garam. Dia tidak berubah menjadi zat lain walau berada di tengah laut yang luas. Inilah resiliensi.
Dalam lingkup para psikolog, ketangguhan ini digambarkan sebagai proses dinamis dan tidak tetap.
Resiliensi adalah sesuatu yang terjadi di setiap waktu tetapi ada proses yang memperkuat dari waktu ke waktu. Dalam penerapannya, melalui ibadah, pelayanan, dan komunitas G-To dapat memunculkan daya tahan yang kuat menghadapi arus dunia yang kencang.
Apa yang dimaksudkan Yesus tentang garam
Dalam konteks khotbah Yesus, di masa itu garam bukanlah zat biasa dan tidak sekadar menambah rasa pada sebuah makanan. Pada abad 1 di daerah Mediterania (Laut Tengah), garam digunakan untuk mengawetkan daging dan makanan. Pada masa itu belum ada kulkas ataupun es batu.
Singkatnya, garam adalah zat yang sangat bermanfaat untuk menjaga bahan makanan dari bakteri. Garam mengawetkan daging dan memurnikan luka. Dalam konteks Perjanjian Lama, setiap persembahan harus dibubuhi garam (Im. 2:13). Lebih jauh lagi, TUHAN bahkan menyebut persembahan kusus yang dipersembahkan orang Israel beserta keturunannya sebagai perjanjian garam (Bil. 18:19). Singkatnya, garam sangat bermakna besar secara fisik maupun spiritual.
Namun sayang garam juga dapat terkontaminasi. Saat itu garam sering bercampur dengan mineral lain yang didapat di daerah Laut Mati.
Jika disimpan dengan tidak benar (misal: terkena air hujan), dia akan kehilangan cita rasanya. Esensi garam (NaCl) akan larut dan yang tersisa hanyalah residu mineral yang tidak berasa dan tidak berguna.
Tampilannya masih seperti garam juga rasanya seperti garam tetapi kekuatannya telah hilang sepenuhnya. Ini yang dimaksud dengan garam yang ‘tawar’.
Yesus mengatakan, "Garam memang baik tetapi jika garam menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?" (Luk. 14:34) Yesus menggambarkan sesuatu yang nyata – kerugian nyata di mana seluruh musim pengawetan, seluruh usaha dan potensi besar dari garam hilang sia-sia. Jika dimaknai secara tidak langsung, zat perjanjian telah hilang menjadi tidak berarti. Implikasinya jelas: seseorang yang kehilangan esensi rohaninya akan seperti garam yang rusak – terlihat ada tetapi tidak berguna.
Menjaga garam kita di zaman now
Kita hidup di era dengan tekanan luar biasa dan tekanan terbesar datang dari proses adaptasi diri. Terkadang adaptasi ini berlebihan sampai-sampai banyak yang meninggalkan Tuhan demi jabatan, kekayaan, ataupun popularitas. Hal ini dipengaruhi oleh media sosial dan pergeseran budaya. Dua hal ini menciptakan laju kehidupan modern yang sering kali dapat mengikis komunitas Kristen. Sama seperti kotoran yang dari waktu ke waktu dapat mengikis rasa garam dari orang yang paling tulus sekalipun.
Coba kita tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah aku sudah menjadi garam dunia?” Dengan mudah kita mengamini dan mengimani hal tersebut. Namun bila dipertanyakan lagi, “Apakah aku tetap berusaha menjadi garam dunia?” Pertanyaan ini tidak hanya menekankan iman kita namun apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi pengikut Kristus yang memiliki resiliensi diri.
Dimulai dari hal tersebut, terdapat setidaknya beberapa cara untuk memiliki resiliensi yang baik seperti cara ‘menjaga’ garam, yakni:
• Melatih pikiran dan emosi.
Seperti garam yang harus tetap kering dan murni, kita juga harus menjaga apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Ketika ada yang menyalah-nyalahkan kita, jangan terburu-buru tersakiti, menghakimi dan mengecam tetapi coba miliki pemikiran yang sehat “Jangan-jangan, memang aku yang salah?” Coba miliki emosi yang sehat: “Oke, rasa kecewa ini adalah bentuk proses yang Tuhan izinkan.” Jangan terburu-buru merespons emosi dan pikiran yang ‘membenarkan’ diri.
• Melatih diri untuk tetap beribadah dan berjemaat.
Garam dalam wadah yang tertutup rapat akan lebih lama menjadi garam. Memahami esensi kita sebagai orang Kristen akan membuat kita kuat. Hal ini sangat terkait dengan tujuan hidup dan dapat bertindak sebagai jangkar yang kuat. Jangkar ini membuat kita tidak mudah tergoyahkan. Dalam konteks kehidupan gereja, Firman Tuhan menjadi jangkar kehidupan kita.
• Aktif dalam pelayanan, komsel, atau di masyarakat.
Garam yang tidak pernah digunakan tidak akan bertahan selamanya. Dengan melayani, kita akan memiliki koneksi yang kuat dengan keluarga, teman, serta komunitas. Hal ini dapat membuat kita jauh lebih resilien dan lebih mampu beradaptasi terhadap arus dunia. Jika anda sedang lemah? Marilah meminta pertolongan dan meminta doa. Jika anda sedang kuat? Marilah memberikan pertolongan dan teruslah mendoakan. Jangan lengah!
Pada akhirnya, dunia membutuhkan garam. Orang-orang yang kehadirannya membuat perbedaan – yang mengawetkan kebaikan di tempat-tempat yang membusuk, yang membawa rasa kasih karunia yang tajam dan khas ke dalam lingkungan yang pahit nan hambar. Itulah panggilan kita. Itulah resiliensi kita.
*******
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."
Matius 5:13
*******