46 tahun yang lalu ketika aku masuk ke dalam keluarga suamiku, seluruh keluarga suami belum percaya Tuhan Yesus. Tak pernah kubayangkan apa yang dapat aku lakukan sebagai anggota keluarga baru, sebagai menantu dan ipar di dalam keluarga besar yang masih penyembah berhala.
Suamiku anak ke-10 dari 11 bersaudara dan merupakan satu-satunya anak yang percaya Yesus. Ketika menikah, kami sepakat untuk tetap setia memegang teguh iman kami kepada Tuhan Yesus. Telah sepuluh kali mama mertua menikahkan anak-anaknya dengan upacara sembahyangan. Ketika menikah, kami sepakat tidak memakai upacara sembahyangan tetapi menikah di gereja secara Kristen. Untungnya mama memperbolehkannya walau aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati pikirannya.
Malamnya ada anggota keluarga bermimpi melihat peti mati di rumah mereka. Hal ini membuat mereka berasumsi bahwa itu adalah pertanda yang tidak baik tetapi hari berganti hari, minggu berganti minggu bahkan dari bulan ke bulan berikutnya berlalu dan semuanya baik-baik saja. Keluarga kami yang awalnya kecil dan lemah diberkati Tuhan luar biasa bahkan melebihi saudara-saudara yang lain. Sungguh ini mukjizat dan kemurahan Tuhan semata!
Sering mimpi buruk itu aku pakai untuk menyaksikan bahwa Yesus itu luar biasa dan mempunyai kuasa di bumi maupun di Surga. Siapa yang percaya kepada-Nya akan mendapat hidup kekal. Dengan sangat hati-hati aku menginjili mereka. Kami berdua sepakat mendoakan keluarga kami dan memercayai janji Firman Tuhan tertulis dalam Kisah Para Rasul 11:4 yang mengatakan bila satu orang bertobat, seluruh keluarga dapat diselamatkan. Perkataan ini diucapkan oleh malaikat Tuhan kepada Kornelius, seorang perwira pasukan bangsa kafir yang saleh dan mencari Tuhan dalam suatu penglihatan agar dia menjemput seorang bernama Petrus yang akan menyampaikan berita keselamatan bagi dia dan seluruh keluarganya. Janji Tuhan yang mengatakan orang yang menyambut Firman Tuhan dapat mendatangkan keselamatan bagi dia dan seluruh isi rumahnya.
Sebagai anggota keluarga yang termasuk paling muda, kami tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi keluarga yang jumlahnya begitu banyak. Kami hanya berdoa serta percaya akan janji Firman Tuhan dan mulai bersaksi tentang Tuhan agar keluarga kami juga mendapatkan keselamatan itu.
Mukjizat pertama terjadi ketika kakak laki-laki kami yang ketiga dilawat Tuhan. Dia sangat kuat dalam keyakinannya bahkan mempunyai kamar khusus untuk berdoa kepada berhalanya. Demikian khusuknya dia pada kepercayaannya, hingga dinding kamar itu kuning karena asap hio. Sungguh pertobatannya tidak termasuk perhitungan kami!
Kakak ini lagi menghadiri KKR yang diadakan di daerah Kertajaya di Surabaya dan dijamah oleh Firman Tuhan kemudian maju saat altar call. Dia menerima Tuhan sebagai Juru Selamat dan bersedia dibaptis. Kuasa Tuhan telah menjamah hatinya! Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan!
Besoknya kakak mendatangi Mama dan mengatakan bahwa dia sekarang menjadi orang Kristen dan semua berhalanya diturunkan. Bukankah ini semua karena Tuhan menyayangi jiwa-jiwa?
Mukjizat kedua: saudara perempuan yang usianya jauh lebih tua dariku dilawat Tuhan dengan cara beda. Ia seorang yang baik hati, pandai dan kaya. Karena perbedaan usia yang banyak, aku segan berbicara banyak dengannya. Suaminya menderita tumor otak stadium lanjut dan semua dokter, baik di dalam maupun luar negeri sudah angkat tangan. Tubuhnya kurus kering dan lemah. Anak-anaknya telah percaya kepada Tuhan dan bercerita tentang Tuhan Yesus padanya. Akhirnya dia menyerahkan diri kepada Tuhan dan mau dibaptis. Istrinya sangat ketakutan karena keadaan tubuhnya yang lemah, khawatir makin sakit jika masuk kolam tetapi mukjizat Tuhan dinyatakan. Ketika keluar dari kolam baptisan, dia tidak kedinginan atau masuk angin malah menjadi segar, sehat dan sembuh dari sakitnya! Dia kemudian mengenal Yesus secara pribadi, belajar berdoa dengan benar dan mempelajari Alkitab lebih mendalam. Bahkan kini dia membuka rumahnya untuk persekutuan doa.
Mukjizat ketiga: pertobatan Mama
Mama mertuaku tipe wanita kuno, tidak terpelajar tetapi beliau bijak dan saleh. Ketika aku bersaksi tentang Yesus kepadanya, jawabnya, “Kan anak-anak dan cucu-cucu sudah percaya Tuhan dan punya rumah di Surga ...mama bisa ikut mereka …..” Aku kemudian menjelaskan bahwa di Surga tidak bisa nunut. Masing-masing harus punya rumah sendiri-sendiri. Jadi masing-masing harus percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi. Oleh anugrah Tuhan Mama mau dibaptis.
Beberapa tahun setelah itu, aku baru saja pulang dari Aussie untuk wisuda anakku yang terkecil ketika aku mendapati Mama sedang sakit. Aku ke rumahnya, memandikan dan mencuci rambutnya sambil terus berpesan kepadanya, “Kalau Mama dijemput oleh siapa pun jangan mau ya kecuali Tuhan Yesus sendiri yang datang dan menggandeng Mama karena Mama sudah menjadi anak-Nya.” Beliau merespons dengan mengangguk-anggukkan kepala. Lusa paginya Mama dipanggil Tuhan. Aku sangat lega Mama telah menerima Tuhan dan Tuhan meneguhkan bahwa Mama telah berada bersama-Nya saat kami membeli peti mati baginya. Kami memilih peti dengan design netral – ukiran bunga-bunga – mengingat masih ada beberapa saudara yang belum percaya Tuhan. Kami sudah membayar peti tersebut namun keanehan terjadi. Peti bergambar bunga tidak ada walau pemilik perusahaan peti sangat yakin masih ada menurut catatan stock barang. Sebagai gantinya, kami mendapatkan peti mati bergambar Yesus bersama murid-murid-Nya di Perjamuan Malam terakhir. Mungkin Anda menganggap hal ini sepele tetapi bagi kami, kejadian ini sungguh sangat berarti. Aku teringat ayat di 1 Korintus 2:9 yang menuliskan, "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Mukjizat ke 4: saudara perempuan di Hongkong bertobat
Saudara perempuan yang satu ini bersikeras akan mengadakan upacara sembahyangan bila Mama dipanggil Tuhan. Ketika dia mengutarakan hal ini, aku mengatakan bahwa sebenarnya hal itu tidak perlu karena Mama sudah bertobat dan menjadi orang Kristen. Juga kami tidak dapat memfasilitasi apa-apa untuk upacara sembahyangan tetapi dia berkeras hati untuk melakukannya dan mengatakan akan membawa semua peralatan sembahyangan dari Hong Kong. Kami tidak mau berdebat lalu menyerahkan kepadanya apa yang menjadi keinginannya sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua sesuai kepercayaannya.
Ketika Mama dipanggil Tuhan, kami menelpon kakak perempuan ini. Hari itu ketika dia turun dari bus, kakinya patah hingga tidak dapat datang. Ternyata Tuhan sendiri yang menghentikan upacara sembahyangan itu! Sungguh ajaib pembelaan Tuhan.
Mukjizat selanjutnya: kakak perempuan yang biasa diberi undangan Natal
Pada suatu hari Natal, kakak mengatakan akan ikut kami. Dalam kebingungan aku bertanya, “Mau ikut kemana, Ci?” Dia menjawab mau ikut ke gereja untuk merayakan Natal. Aku lupa kalau pernah mengirim undangan Natal kepadanya.
Hatiku melonjak kegirangan saat mendengarnya! Aku bersyukur Tuhan menjawab doa kami satu persatu. Di gereja dia menerima Tuhan sebagai Juru Selamat dan mendaftar untuk dibaptiskan.
Namun ada halangan lain terjadi. Setibanya di rumah, kakinya tersangkut hingga dia jatuh, tulang pinggulnya bermasalah sehingga harus dioperasi ganti tulang. Aku terkejut dan marah, ini pasti ada kuasa gelap yang ingin menghentikan baptisan kakakku. Aku mengajak beberapa hamba Tuhan mendoakannya. Sungguh kuasa Tuhan melebihi kuasa apa pun yang ada di dunia ini. Satu minggu pasca operasi dia sudah dapat berjalan lagi. Ketika kontrol ke dokter, dokter pun terheran-heran bahwa penyembuhan dan pemulihannya berlangsung sangat cepat sehingga kakak dapat dibaptis tepat waktu seperti yang direncanakan.
Mukjizat demi mukjizat terus mengikuti. Kini semua keluarga suami menjadi pengikut Kristus. Kemenakan-kemenakan dan anak cucu juga percaya kepada Tuhan Yesus serta melayani-Nya. Bahkan seorang dari keluarga kami menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Tuhan memberkati segala keperluan kami juga pekerjaan kami. Semua itu bukan karena kepandaian kami berbicara atau kemampuan kami memengaruhi mereka tetapi karena Tuhan mengetahui kerinduan kami. Ia menyertai dan ikut bekerja sama dalam menyelamatkan jiwa saudara-saudara kami!
Pengalaman besar ini membuatku senantiasa bersyukur akan perbuatan Tuhan yang ajaib dalam keluarga besar suamiku. Kerinduanku ialah selalu menyaksikan perbuatan Tuhan yang begitu besar dan ajaib seperti dinyanyikan pemazmur, “Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!” (Mzm. 105:1-2)
*******