• SERUAN DARI KAYU SALIB
  • Tujuh Perkataan Yesus di Golgota
  • Vida Simon

Sejak Adam memilih mengikuti keinginannya sendiri dan mengabaikan Firman Allah, dosa menyeruak masuk dalam dunia merusak apa yang baik dan memisahkan manusia dengan Penciptanya. Manusia terus menolak Allah, makin jauh dari Dia, dan kehilangan kemuliaan yang dahulu dimilikinya. Pintu Taman Eden telah tertutup, tidak ada jalan kembali bagi manusia. Bagaimanapun juga Allah tidak membiarkan manusia terhilang. Ia telah menyiapkan jalan pendamaian, seorang Penebus yang akan menanggung dosa manusia dan membawa mereka kembali kepada-Nya.

Di puncak rencana penyelamatan itu berdirilah sebuah salib di Golgota. Di sana Yesus Kristus, manusia sejati dan Allah sejati, menanggung sengsara demi menebus dunia dari kematian kekal. Para nabi telah menubuatkan Mesias yang menderita, memikul kesalahan manusia. Di tengah kesakitan yang tak terbayangkan terlontarlah tujuh kalimat dari mulut Yesus. Perkataan-perkataan ini bukan sekadar kata-kata terakhir seorang yang sedang sekarat. Di dalamnya tersimpan penggenapan janji Allah, pengampunan bagi orang berdosa, dan terbukanya kembali jalan manusia untuk pulang kepada Bapa.

1. “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
(Luk. 23:34)

Tubuh Yesus terhentak keras saat salib ditegakkan. Tangan dan kaki-Nya terpaku, tubuh-Nya tergantung di antara langit dan bumi dikelilingi ejekan para pemimpin agama, tentara Romawi, dan orang banyak. Dalam keadaan yang sangat menyakitkan secara fisik dan mental, kata-kata pertama yang keluar dari mulut-Nya bukanlah kutukan melainkan doa “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Ia tidak membela diri atau menuntut keadilan bagi diri-Nya tetapi memohonkan pengampunan bagi mereka yang menyalibkan-Nya.

Doa ini mengingatkan kita pada nubuat tentang Mesias yang menderita (Yes. 53:12) yang mengatakan bahwa Ia “berdoa untuk pemberontak-pemberontak.” Bahkan dalam penderitaan, Yesus menjalankan peran-Nya sebagai pengantara bagi manusia berdosa. Allah menunjukkan melalui kalimat ini bahwa tujuan salib adalah pengampunan. Dosa manusia begitu besar tetapi kasih Allah lebih besar daripada dosa itu.

Bagi kita, kalimat ini adalah undangan untuk menerima pengampunan Allah sekaligus teladan untuk mengampuni sesama. Kita dipanggil untuk melepaskan kepahitan dan dendam dalam hidup kita. Salib mengajarkan bahwa kasih mampu mengalahkan kebencian. Sesungguhnya mengampuni adalah bagian dari hidup yang telah diampuni. 

2. “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk. 23:43)

Di kedua sisi Yesus tergantung dua penjahat. Salah satu dari mereka mengejek-Nya, tetapi yang lain mengakui kesalahannya dan memohon, “Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.” Menanggapi permohonan sederhana itu, Yesus memberikan janji luar biasa, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia melainkan anugerah Allah bagi mereka yang percaya. Penjahat itu tidak memiliki kesempatan memperbaiki hidupnya atau melakukan perbuatan baik untuk menebus kesalahannya. Ia hanya datang dengan iman kepada Yesus. Dalam sekejap, pintu Firdaus yang tertutup sejak manusia jatuh dalam dosa menjadi terbuka kembali baginya.

Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni saat seseorang datang kepada Kristus dengan pertobatan. Jangan menunda untuk datang kepada Tuhan. Seperti penjahat itu, kita dipanggil untuk berseru kepada-Nya dengan iman. Sampai detik ini pun pintu keselamatan masih terbuka bagi siapa saja yang percaya kepada Raja itu.

3. “Ibu, inilah anakmu… Inilah ibumu.” (Yoh. 19:26–27)

Di tengah hiruk ejekan, pandangan Yesus jatuh kepada dua sosok di dekat kaki salib. Di sana berdiri ibu-Nya menyaksikan Anak yang pernah digendongnya tergantung dalam penderitaan. Di sampingnya berdiri murid yang dikasihi-Nya. Dengan suara yang lemah namun penuh kelembutan, Yesus berkata kepada Maria, “Ibu, inilah anakmu,” lalu kepada murid itu Ia berkata, “Inilah ibumu.” Dalam satu kalimat sederhana, dari tengah penderitaan yang tak terlukiskan, Yesus memercayakan ibu-Nya kepada Yohanes.

Tubuh-Nya terluka, napas-Nya terengah, tetapi kasih-Nya tetap waspada dan memperhatikan. Tidak pernah Yesus menutup hati-Nya terhadap kebutuhan manusia di sekeliling-Nya. Ia tidak melupakan tanggung jawab-Nya sebagai seorang anak. Di bawah bayang-bayang kematian, Ia tetap memikirkan masa depan ibu-Nya. Salib yang menjadi tempat penderitaan paling kelam justru menjadi tempat di mana kasih Yesus bersinar dengan sangat terang.

Kata-kata ini juga membuka makna yang lebih luas. Di kaki salib itu terbentuk sebuah keluarga baru berdasarkan iman kepada Kristus. Maria menerima Yohanes sebagai anak dan Yohanes menerima Maria sebagai ibu. Dengan demikian, di tengah penderitaan salib, lahirlah gambaran keluarga rohani: mereka yang percaya kepada Kristus dipersatukan dalam satu kasih yang sama.

Karena itu, salib tidak hanya memulihkan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menenun kembali relasi manusia dengan sesamanya. Iman kepada Kristus memanggil kita masuk ke dalam sebuah keluarga yang saling menjaga, saling memelihara, dan saling mengasihi. Keluarga Allah di dunia.

4. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  (Mat. 27:46; Mrk. 15:34)

Dari bibir Sang Anak yang tergantung di kayu salib tiba-tiba terdengar sebuah seruan yang mengguncang kesunyian Golgota, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Suara itu menembus langit yang mulai gelap dan hati setiap orang yang mendengarnya. Inilah salah satu kalimat paling menggugah dari seluruh kisah penyaliban. Dalam seruan itu kita merasakan kedalaman penderitaan Kristus – bukan hanya luka pada tubuh-Nya tetapi beban dosa dunia yang ditanggung-Nya, kegelapan penghakiman yang seharusnya menjadi bagian manusia berdosa.

Namun seruan ini bukanlah jeritan keputusasaan tanpa makna. Kata-kata itu adalah kutipan langsung dari Mazmur 22:2, sebuah mazmur yang sejak lama menggambarkan penderitaan orang benar yang dikelilingi ejekan, ditolak, dan dipermalukan, namun pada akhirnya dipulihkan oleh Allah. Dengan menyerukan ayat ini dari salib, Yesus menunjukkan bahwa penderitaan-Nya bukan kebetulan. Apa yang terjadi di Golgota adalah penggenapan Kitab Suci, bagian dari rencana penebusan yang telah dinyatakan jauh sebelumnya.

Di salib itulah Kristus berdiri di tempat kita. Ia menanggung kegelapan penghakiman yang seharusnya menjadi bagian manusia berdosa. Apa yang seharusnya menimpa kita kini jatuh ke atas diri-Nya. Karena itu hati orang percaya hanya dapat dipenuhi oleh rasa syukur yang dalam: hukuman yang seharusnya kita tanggung telah dipikul oleh Sang Juru Selamat. Salib berdiri sebagai pernyataan kasih Allah yang paling agung bagi dunia: kasih yang rela turun ke dalam kegelapan supaya manusia dapat berjalan kembali dalam terang-Nya.

5. “Aku haus.” (Yoh. 19:28)

Berjam-jam lamanya Yesus tergantung di kayu salib. Luka-luka yang terbuka, darah yang terus mengalir, dan tubuh yang semakin lemah perlahan menguras setiap kekuatan yang tersisa. Di tengah penderitaan itu, dari bibir-Nya keluar sebuah kalimat yang sangat sederhana: “Aku haus.” Hanya dua kata namun di dalamnya kita merasakan kenyataan penderitaan fisik yang begitu dalam. Tubuh-Nya benar-benar mengalami kelelahan manusiawi: tenggorokan kering, napas berat, dan dahaga yang membakar. Namun kalimat yang tampak sederhana ini bukanlah kebetulan. Perkataan itu menggenapi nubuat Mazmur 69:21 yang menubuatkan Mesias dalam penderitaan-Nya akan diberi minum anggur asam. Para prajurit mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mengulurkannya kepada Yesus. Sekali lagi, di tengah penderitaan yang paling manusiawi, rencana Allah digenapi dengan sempurna. Tidak ada satu bagian pun dari kisah salib yang terjadi di luar maksud-Nya.

Kalimat “Aku haus” juga mengingatkan kita akan misteri inkarnasi yang begitu dalam. Anak Allah yang kekal benar-benar menjadi manusia. Ia tidak hanya tampak seperti manusia tetapi benar-benar merasakan apa yang dirasakan manusia: lapar, lelah, sakit, dan haus. Di salib, Ia tidak menyelamatkan manusia dari jauh; Ia masuk sepenuhnya ke dalam penderitaan manusia. Karena itu kita tidak datang kepada Juru Selamat yang jauh dan tidak mengerti pergumulan kita. Kita datang kepada Dia yang pernah merasakan kelemahan tubuh dan beratnya penderitaan hidup. Ketika kita berseru dalam kesakitan, kelelahan, atau keputusasaan, kita berseru kepada Dia yang memahami semuanya dari pengalaman-Nya sendiri. Salib menunjukkan bahwa Sang Penebus bukan hanya berkuasa menyelamatkan tetapi juga mengerti setiap luka manusia.

6. “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30)

Dengan tubuh hampir kehabisan tenaga, Yesus mengangkat suara-Nya sekali lagi. Dari bibir-Nya keluar seruan yang singkat namun menggema melampaui bukit Golgota, “Sudah selesai (bhs. Yun. tetelestai). Tugas telah diselesaikan dengan tuntas. Hutang telah dibayar lunas. Seruan ini bukanlah keluhan terakhir dari seorang yang kalah oleh kematian. Ini adalah deklarasi kemenangan dari Sang Penebus yang telah menuntaskan misi-Nya.

Dengan satu kalimat itu, seluruh rangkaian janji Allah yang disampaikan selama berabad-abad mencapai puncaknya. Nubuat para nabi, bayangan kurban dalam hukum Taurat, doa-doa para pemazmur yang merindukan pembebasan digenapkan di kayu salib. Tidak ada lagi yang harus ditambahkan/dilengkapi. Karya penebusan yang dirancang Allah sejak semula kini telah mencapai kesempurnaannya.

Seruan “Sudah selesai” menjadi kepastian bagi setiap orang percaya. Keselamatan manusia tidak bergantung pada usaha manusia yang rapuh dan lemah tetapi berdiri di atas karya Kristus yang sempurna dan tuntas. Apa yang tidak pernah dapat dicapai manusia melalui ketaatan atau pengorbanannya sendiri telah dikerjakan oleh Kristus sekali untuk selamanya. Oleh sebab itu orang percaya tidak perlu hidup dalam kegelisahan seolah-olah harus terus membayar harga keselamatannya. Kita hidup dalam iman kepada karya Kristus yang “sudah selesai.” Dari salib itu mengalir sebuah undangan bagi dunia: datanglah kepada Sang Juru Selamat, terimalah anugerah-Nya, dan hiduplah sebagai orang yang telah ditebus oleh karya yang sempurna itu.

7. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk. 23:46)

Senja mulai mendekat dan napas-Nya semakin berat. Yesus mengucapkan kata-kata terakhir dari kayu salib. Dengan suara penuh ketenangan dan penyerahan, Ia berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Setelah segala penderitaan dilalui dan karya penebusan diselesaikan, Sang Anak menyerahkan hidup-Nya ke dalam tangan Bapa. Nyawa-Nya tidak direnggut paksa oleh maut tetapi Ia serahkan dengan rela dan taat.

Perkataan ini menggemakan doa kuno dari Mazmur 31:6, sebuah doa kepercayaan kepada Allah di tengah penderitaan. Dengan mengucapkan kata-kata itu, Yesus sekali lagi menunjukkan bahwa hingga detik-detik terakhir, hidup-Nya adalah penggenapan Kitab Suci. Ia tidak mati sebagai kurban yang tak berdaya di tangan manusia melainkan sebagai Anak yang taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Di tengah kegelapan Golgota, ketaatan-Nya bersinar tak terpadamkan.

Ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya, tirai Bait Suci terbelah dari atas sampai ke bawah. Jalan yang selama berabad-abad tertutup kini terbuka. Penghalang antara Allah yang kudus dan manusia berdosa telah dirobek. Melalui kematian Kristus, manusia kini memiliki jalan untuk datang kembali ke hadirat Allah.

Perkataan terakhir dari salib ini juga menjadi panggilan bagi setiap orang percaya. Sebagaimana Yesus memercayakan diri-Nya sepenuh dalam tangan Bapa; demikian pula kita dipanggil untuk menyerahkan hidup kita ke dalam tangan yang sama itu. 

Penutup

Sejak semula salib bukanlah kecelakaan sejarah. Ia bukan akhir tragis dari seorang guru yang ditolak oleh zamannya. Salib adalah puncak dari kasih Allah yang telah ditetapkan bahkan sebelum manusia pertama menarik napasnya. Di atas kayu yang kasar itu, setiap perkataan Yesus mengalir seperti benang-benang menenun satu kisah penebusan: pengampunan bagi para pendosa, harapan bagi para petobat, kasih yang tetap memelihara, penderitaan yang menanggung kutuk atas manusia, seruan kemenangan bahwa semuanya telah selesai. Apa yang bagi dunia tampak sebagai kehancuran dan kegagalan ternyata adalah kejayaan hikmat dan kasih Allah bagi dunia.

Lalu senja turun perlahan di Yerusalem. Tubuh Yesus diturunkan dari salib, luka-luka-Nya dibalut dengan kain lenan yang bersih. Dengan langkah sunyi dan hati yang bergetar, mereka membawa Dia ke dalam sebuah kubur yang baru di taman. Batu besar digulingkan menutup pintu kubur itu dan dunia tenggelam dalam keheningan malam yang panjang. Sang Juru Selamat yang tadi berseru dari salib kini berbaring diam.

Walau batu menutup kubur, hati orang percaya tahu diamnya kubur bukanlah akhir dari cerita. Allah yang merancang salib sejak semula sedang menyiapkan fajar baru yang belum pernah dilihat oleh dunia. Fajar yang menggemakan kemenangan mutlak saat kebangkitan-Nya.

*******