• DI BAWAH BAYANGAN SALIB
  • FME
di-bawah-bayangan-salib

Malam itu sunyi, tetapi hati Yonatan tidak. Dia duduk sendirian di bangku kayu paling belakang gereja sementara lampu-lampu altar mulai diredupkan. Di depan, salib besar berdiri tegak diam namun terasa menekan. Setiap tahun dia melihat salib itu. Setiap Paskah dia mendengar kisah yang sama. Namun malam ini berbeda. Malam ini, dia tidak lagi datang sebagai penonton.

Yonatan adalah orang yang dihormati. Seorang pemimpin komunitas dikenal berintegritas, pandai berbicara tentang iman dan moral. Dia sering mengingatkan orang lain tentang hidup benar, tentang etika, tentang takut akan Tuhan. Namun hanya Yonatan dan Allah yang tahu bahwa ada satu pelanggaran yang telah lama dia sembunyikan – bukan kesalahan kecil, bukan pula ketidaksengajaan.

Dia pernah mengambil keputusan yang salah, sadar sepenuhnya bahwa itu melanggar kebenaran. Dan ketika dia melakukannya, dia berjanji pada dirinya sendiri “Tidak akan ada yang tahu. Aku akan mengaturnya dengan rapi”.

Dan memang, tidak ada yang tahu. Setidaknya, tidak ada manusia yang tahu. Namun sejak hari itu, hidup Yonatan tidak pernah benar-benar tenang. Dia masih berdoa tetapi doanya terasa kosong. Dia masih melayani tetapi hatinya terpecah. Dia masih berbicara tentang kebenaran tetapi setiap kata seperti pisau yang diam-diam mengarah ke dirinya sendiri.

Dia teringat kata-kata Mazmur yang pernah dibacanya namun kini terasa menghantam “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu oleh karena aku mengeluh sepanjang hari.”

Diam – itulah yang dia pilih. Diam dan menunggu waktu mengubur segalanya. Namun pelanggaran tidak pernah dapat dikubur cuma hanya bisa disembunyikan. Justru dari situlah mulai terjadi pembusukan.

Malam Paskah itu, pendeta mulai membacakan kisah sengsara Kristus. Tentang Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Tentang Yesus yang tidak berdosa tetapi memilih jalan salib. Tentang cambukan, ejekan, dan paku yang menembus tangan-Nya.

Yonatan mendengarkan tetapi bukan dengan telinga seperti biasanya. Setiap kalimat seolah-olah diarahkan langsung kepadanya. “Ia ditikam oleh karena pemberontakan kita.” Pemberontakan bukan sekadar kesalahan bukan pula sekadar kelemahan.

Yonatan sadar, pelanggarannya bukan kecelakaan moral karena dia membuat keputusan dengan sadar untuk melawan kebenaran yang diketahuinya. Dan selama ini dia mencoba menutupinya dengan pelayanan, reputasi, dan aktivitas rohani. Namun salib di depannya tidak dapat dibungkam.

Tiba-tiba dia mengerti sesuatu yang selama ini terlewatkan: Yesus tidak disalibkan karena manusia tidak tahu yang benar. Ia disalibkan karena manusia tahu yang benar tetapi tetap memilih yang salah. Di situlah etika Kristen menjadi begitu nyata serta begitu menuntut. Allah tidak sekadar memberikan hukum dari kejauhan. Ia masuk ke dalam realitas manusia, menanggung akibat dari pelanggaran yang manusia pilih dengan sadar.

Ketika lampu gereja makin redup, Yonatan menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia berhenti membela diri di hadapan Allah. Tidak ada pembenaran. Tidak ada alasan. Tidak ada kalimat “tetapi”. Hanya satu pengakuan, “Tuhan, aku bersalah.”

Dan pengakuan itu terasa seperti runtuhnya tembok yang selama ini dia bangun dengan susah payah. Dia mengerti kini mengapa Mazmur 32 berkata, “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan.”

Pengakuan bukan kelemahan. Pengakuan adalah keberanian moral. Namun Paskah tidak berhenti di Jumat Agung. Ketika ibadah berakhir, gereja tenggelam dalam keheningan. Salib masih berdiri, tetapi kini Yonatan memandangnya dengan cara berbeda. Salib itu tidak lagi sekadar simbol penderitaan tetapi bukti bahwa Allah memandang pelanggaran manusia dengan sangat serius namun juga dengan belas kasihan yang tak terukur.

Malam itu Yonatan pulang tanpa banyak bicara tetapi di dalam dirinya, sebuah keputusan telah dibuat. Pertobatan tidak bisa berhenti pada air mata namun harus berlanjut pada perubahan hidup. Dia tahu konsekuensinya akan berat yakni reputasinya bisa runtuh. Dia tahu dia harus mengakui pelanggarannya, memperbaiki yang dapat diperbaiki dan menerima yang tidak dapat dihindari. Namun untuk pertama kalinya dia tidak lagi takut karena Paskah tidak hanya berbicara tentang kematian tetapi kebangkitan.

Dua hari kemudian, pagi Paskah tiba. Gereja kembali terang. Lilin-lilin dinyalakan dan salib yang sama kini berdiri berdampingan dengan kabar yang mengguncang sejarah: “Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit.” Yonatan berdiri di antara jemaat, mendengarkan berita kebangkitan dengan mata berkaca-kaca. Kini dia mengerti maknanya secara eksistensial: kebangkitan bukan sekadar kemenangan atas maut tetapi jaminan bahwa pelanggaran tidak harus menjadi akhir hidup manusia. Kristus bangkit bukan untuk membenarkan pelanggaran melainkan untuk memberi kuasa hidup baru bagi mereka yang bertobat.

Dalam kebangkitan, Allah berkata kepada manusia, “Kegagalanmu tidak lebih besar dari kasih-Ku. Dosamu tidak lebih kuat dari hidup-Ku. Kejujuranmu akan selalu menemukan belas kasihan.”

Hari-hari berikutnya tidak mudah bagi Yonatan. Dia harus berjalan di jalan yang sempit dan menyakitkan. Namun anehnya, di tengah konsekuensi itu, dia merasakan damai yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Mazmur 32 kini bukan lagi teori tetapi menjadi kesaksian hidup. “Engkaulah tempat persembunyianku; terhadap kesesakan Engkau melindungi aku.”

Yonatan belajar satu kebenaran yang tidak pernah ia lupakan: pelanggaran memang tidak terelakkan dalam hidup manusia tetapi Allah telah menyediakan jalan – bukan jalan melarikan diri melainkan jalan pengakuan, pertobatan, dan kebangkitan.

Kini setiap kali memandang salib, dia tidak lagi melihat hukuman semata tetapi kasih yang mahal. Kasih yang dibayar dengan darah. Kasih yang memanggil manusia untuk hidup benar bukan karena takut dihukum tetapi karena telah dikasihi.

*******