“Tetapi sekarang juga, demikianlah firman Tuhan, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengadu.” (Yoel 2: 12)
Ketika warga kota yang berada di zona konflik perang mendengar suara sirine menggema di sudut-sudut kota, ini menjadi penanda bagi semua warga kota untuk menyelamatkan diri ke bunker atau tempat persembunyian yang aman. Mereka tahu dan sadar bahwa sewaktu-waktu akan ada serangan rudal ke kota mereka. Dalam kondisi seperti itu mereka pasti akan segera melarikan diri dan bersembunyi mencari tempat yang sekiranya aman. Mereka tidak berlambat-lambat apalagi menunda-nunda untuk melarikan diri. Mereka sadar adanya risiko besar kalau tidak segera melarikan diri ke tempat yang aman yakni bisa kehilangan nyawa atau paling sedikit mengalami cedera luka.
Tuhan melalui nabi Yoel memperingatkan umat Tuhan untuk segera bertobat dan kembali kepada-Nya. Tuhan mau umat-Nya merespons panggilan pertobatan ini tidak dengan berlambat-lambat. Bagi Tuhan, sekarang adalah waktu yang tepat untuk umat-Nya kembali dan berbalik kepada-Nya.
Waktu untuk bertobat
Frasa “Tetapi sekarang juga” menyadarkan umat-Nya bahwa waktu untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan adalah sekarang bukan kemarin atau besok alias tidak ditunda-tunda. Frasa ini mendorong pendengar memerhatikan pesan Allah dengan sungguh-sungguh untuk bangun dari tidur rohani.
Tuhan memakai istilah “sekarang “ atau “hari ini” untuk menyadarkan umat-Nya agar kembali kepada-Nya (2 Kor. 6:2; Ibr. 3:7-8). Hari ini – bukan kemarin atau besok – adalah hari penyelamatan. Firman Tuhan datang untuk menyadarkan kita agar berbalik kepada-Nya.
Seiring dengan pesatnya perkembangan digital, manusia memasuki era disrupsi digital dan salah satu ciri utamanya adalah semakin mudahnya manusia mengakses informasi baik yang konstruktif (berguna dan membangun) maupun yang destruktif (merusak dan merugikan). Manusia semakin terlena menghabiskan waktu untuk “scrolling” perangkat media sosialnya dan kebiasaan ini dapat menumbuhkan sifat menunda-nunda. Seseorang suka menunda-nunda sesuatu karena merasa belum saatnya dikerjakan atau tidak ada mood atau tidak begitu penting baginya. Namun hal ini berbeda jika berkaitan dengan pertumbuhan rohani. Orang yang menunda-nunda untuk berbalik kepada Tuhan bisa saja karena dia lebih nyaman dengan keberdosaannya atau berpikir pertobatan masih dapat dilakukan di kemudian hari. Panggilan pertobatan bagi seseorang akan menjadi efektif bila Roh Kudus turut bekerja memberikan kesadaran baginya. Firman Tuhan mengingatkan kalau kita mendengar suara-Nya hari ini, jangan keraskan hati (Ibr. 3:7-8) tetapi segera meresponsnya. Kesadaran untuk bertobat datang dari Roh Kudus dalam diri seseorang. Kita akan rugi sendiri kalau bersikeras menunda untuk bertobat. Ingat kisah penyelamatan Lot sekeluarga yang keluar dari Sodom Gomora. Penyelamatan mereka oleh Tuhan tidak dikerjakan berlambat-lambatan. Selagi masih ada napas dikandung badan, masih ada kesempatan terbuka merespons panggilan Tuhan untuk bertobat.
Pertobatan yang sejati
Tuhan melalui nabi Yoel telah memperingatkan para tua-tua dan segenap penduduk akan adanya bencana belalang yang merusak dan membinasakan sebagai hukuman oleh sebab dosa pelanggaran mereka kepada Tuhan (Yoel 1:5). Mereka disebut sebagai “pemabuk”. Seorang pemabuk dikuasai/di bawah pengaruh alkohol dan minuman keras sehingga perbuatannya dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Pengertian rohani, “pemabuk” adalah orang yang tidak peka akan suara kebenaran Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus karena mereka dikuasai oleh hawa nafsu yang merusak. Mereka tidak tertarik akan pertumbuhan rohani dan relasi dengan Tuhan. Tuhan menghendaki umat-Nya berbalik dengan segenap hati (Yl 2:12). Istilah “berbalik” memiliki pengertian seseorang yang tadinya berjalan ke arah yang sesat berbalik arah ke jalan benar yang dikehendaki Tuhan. Dan inilah yang dinamakan pertobatan sejati. Pertobatan bukan berhenti pada menangis minta ampun tetapi hati yang mau berbalik arah kepada Tuhan dan diperdamaikan dengan-Nya. Pertobatan sejati berbicara soal perubahan sikap hati yang tadinya menjalani hidup berdosa berbalik arah meninggalkan dosa untuk mengikuti jalan Tuhan. Istilah “dengan segenap hati” dipahami sebagai kesungguhan untuk bertobat. Pertobatan tidak berlaku satu dua hari tetapi selama hidup terus dilakukan dan bukan untuk dilihat orang.
Yoel 2:12 menyebutkan tindakan seseorang berpuasa, menangis dan mengaduh ketika berbalik kepada Tuhan sebagai ungkapan kesadaran akan keberdosaannya dan memohon belas kasihan Tuhan untuk memulihkan keadaannya. Berpuasa di sini tidak berhenti pada tidak makan dan tidak minum tetapi bentuk merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menyadari Ia adalah kebutuhan utama dalam hidupnya. Tanpa anugerah Tuhan maka sia-sialah hidup ini. Menangis juga bukan menangisi nasib diri sendiri tetapi menangis karena sadar perbuatan dan pikirannya menyakiti hati Tuhan. Tangisan yang terdengar ialah bentuk kesadaran diri yang rapuh di luar Tuhan. Tangisan ini juga menandakan kerinduan untuk dipulihkan Tuhan. Istilah “mengaduh” lebih kepada meratap, suatu perkabungan publik atau perorangan yang diungkapkan melalui ratapan dan tangisan menyayat hati terkait dengan pertobatan kepada Tuhan.
Berkat di balik pertobatan
Disebutkan pula Allah itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya (Yl. 2:13). Di sini Tuhan menampilkan pribadi-Nya sebagai Allah yang mau menolong umat-Nya, siap sedia mengaruniakan pengampunan serta pemulihan bagi mereka yang datang kepada-Nya dengan jujur dan rendah hati. Seruan panggilan pertobatan oleh nabi Yoel menyadarkan mereka untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas bertemu Tuhan yang siap sedia memberikan pengampunan dan pemulihan. Ketika datang menghampiri Tuhan yang mahamulia, mahabenar dan mahakudus, mereka menghampiri dengan iman percaya bahwa Ia ada dan mendengar seruan mereka serta menerima segala penyesalan mereka.
Berkat pertama yang diterima seseorang petobat ialah dia menyadari bahwa Tuhan itu sangat dekat dan peduli serta sedia menanggung keberdosaannya yang diakui dengan jujur. Sama seperti seorang yang mengalami kesulitan hidup, dia membutuhkan teman yang peduli padanya. Dia akan terhibur jika teman itu mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Tuhan lebih dari sekadar mendengar dan peduli tetapi Ia juga turun tangan memulihkan keadaan manusia yang mau mengakui pelanggarannya. Allah yang setia tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada umat-Nya. Allah yang menemui Musa di atas gunung Sinai adalah Allah yang sama yang berbicara di zaman nabi Yoel. Ia penyayang, pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia-Nya (Kel. 34:6). Ia mengasihi orang berdosa yang mau mengakui dosanya tetapi membenci dosa. Orang yang menolak bertobat pasti akan menerima hukuman Allah pada saatnya. Orang yang bertobat akan mengalami Tuhan dengan segala keberadaan-Nya, mengalami kasih anugerah-Nya serta kasih setia-Nya. Berkat terbesar yang dimiliki oleh manusia bukanlah harta melimpah atau reputasi dan pencapaian duniawi tetapi mengalami kehadiran Allah yang memulihkan dan relasi yang intim dengan Allah yang hidup.
Karya Kristus dan Pertobatan Manusia
Pertobatan seseorang tidak dapat dipisahkan dengan karya Kristus – kematian dan kebangkitan-Nya – yang memungkinkan jalan keselamatan yang disediakan Allah bagi manusia berdosa. Ada banyak nabi, rasul, pendiri agama tetapi untuk Juru Selamat hanya satu itulah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Juru Selamat sejati sebab hanya Dia, melalui Dia dan di dalam Dialah manusia beroleh keselamatan, pengampunan dosa, hidup baru dan hidup kekal. Hanya melalui Yesus Kristus kita dapat menemui Allah Bapa (Yoh. 14:6; 1 Ptr. 3:18). Ketika seseorang disadarkan Roh Kudus akan dosanya, dia akan menyadari kebutuhan akan pengampunan dosa kemudian datang mengakui dosa di hadapan Tuhan maka darah Yesus Kristus akan menyucikan segala dosa yang diakuinya (1 Yoh 1:9) dan Roh Kudus memampukan dia untuk hidup dalam kebenaran menjadi serupa dengan Kristus. Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus (Kol. 1:19), artinya segala identitas dan karakter Allah yang disebut dalam Yoel 2:13 ada dalam diri Yesus Kristus. Jadi, ketika seseorang bertobat dan hidup baru dalam Kristus, dia akan mengalami berkat kehadiran Allah yang pengasih, penyayang, berbelas kasih dan panjang setia-Nya.
Kesimpulan
Tuhan masih memberikan kesempatan terbuka kepada semua orang untuk dapat berelasi dengan-Nya. Penghalang terbesar relasi manusia dengan Allah adalah dosa pelanggaran manusia. Relasi yang rusak karena dosa hanya dapat dipulihkan oleh karya Kristus yang mati dan bangkit. Oleh sebab itu jangan menunda-nunda merespons panggilan Injil untuk bertobat dan mengakui dosa. Dan ini dapat terjadi jika Roh Kudus berkarya dalam diri orang tersebut. Setelah diampuni segala dosanya, segeralah mulai menapaki perjalanan hidup baru bersama Kristus. Respons akan panggilan bertobat dan berbalik kepada Allah adalah sekarang bukan nanti. Sekaranglah waktunya untuk memulai perjalanan hidup baru di dalam Kristus.
*******