Pernahkah kita merasa tidak cocok dengan teman segereja karena merasa tidak sama seperti mereka? Si A sangat mendalami teologi, si B orangnya extrovert sekali, si C sangat aktif di pelayanan serasa baterainya tidak pernah habis atau si D yang mempunyai segudang talenta? Namun pernahkah kita berpikir apa jadinya kalau semua orang dalam satu gereja memiliki karunia yang sama? Apakah makin solid? Tahukah Tuhan tidak suka jemaat kloningan? Ia menyukai adanya keanekaragaman.
Percaya atau tidak, kondisi serupa sudah terjadi di zaman dahulu tepatnya di Korintus, kota perdagangan dan pelabuhan yang ramai karena menghubungkan daratan Yunani dengan laut Mediterania. Dapat dibayangkan masyarakatnya pasti beraneka ragam suku, ras dan budaya. Kondisi semacam ini membuat mereka menjadi masyarakat hedon dan berkompetitif tinggi termasuk dalam gereja. Tak jarang perpecahan timbul karena mereka iri akan karunia dan posisi satu sama lain. Di jemaat Korintus terjadi perselisihan – ada pengikut Paulus, Apolos, Kefas, Kristus, ada yang merasa karunianya lebih hebat atau rohaninya lebih tinggi karena dapat berbahasa Roh dsb. Oleh karena itu Paulus datang untuk memberikan pengertian yang benar kepada mereka. Demikian pula dengan kita saat ini. Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda satu dengan yang lain? Mengapa tidak dibuat sama semua supaya lebih mudah bersatu?
Apa alasan Tuhan membuat kita berbeda satu sama lain?
- Berbeda untuk bersama (1 Kor. 12:12-13).
Jemaat Korintus memiliki latar belakang aneka ragam, ada orang Yahudi, Yunani, budak, orang merdeka, pedagang dll. Kemudian Rasul Paulus mengambil ilustrasi tentang tubuh manusia yang terdiri dari banyak anggota.
Bukankah kondisi kita juga mirip? Ada yang masih sekolah, sudah bekerja, masih lajang, sudah berpasangan, ada yang ekstrovert ada pula yang introvert dst. Dengan segala latar belakang dan karakter yang berbeda satu sama lain, kita semua disatukan dalam Kristus melalui “dibaptis menjadi satu tubuh dan minum dari satu Roh” (ay. 13).
Istilah “minum dari satu Roh” memiliki makna Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Apa dampaknya bila Roh tinggal di dalam kita? Ada aliran air hidup yang keluar dari hati menghasilkan buah yang dapat dirasakan oleh orang-orang sekitar (Yoh. 7:37-39). Perhatikan, Tuhan dapat memakai siapa pun tanpa memedulikan status sosial, ekonomi, dan pendidikan. Contoh: Naaman mengenal Allah Israel dari anak perempuan Israel yang menjadi pelayan istri Naaman.
Sementara “dibaptis menjadi satu tubuh” bersifat universal di mana seluruh anak Tuhan yang percaya kepada-Nya dibaptis menjadi satu Tubuh Kristus.
Jadi, kita tidak perlu menjadi orang lain untuk dapat diterima dan dipakai Tuhan. Ia dapat memakai kita dengan segala kelebihan maupun kelemahan kita. Oleh sebab itu jangan merasa asing di mana pun kita digembalakan karena selalu ada tempat bagi kita asal kita mau bersama.
- Berbeda untuk melayani (ay. 14-20).
Satu tubuh terdiri dari banyak anggota antara lain: mata yang berfungsi untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah sebagai perasa untuk mengecap, hidung untuk mencium dst.
Setelah menyadari kita bersama memiliki tempat di gereja dalam kesatuan Tubuh Kristus, pastikan kita harus berfungsi yang lebih dikenal dengan melayani. Mengapa kita harus melakukan suatu kegiatan? Untuk saling melengkapi sebab antaranggota Tubuh Kristus, masing-masing memiliki tugas beda (Rm. 12:4-5). Ada yang berperan seperti “mulut” menjadi pembicara dan pemimpin pujian yang dituntut lebih banyak berbicara; ada “telinga” yang bertugas sebagai penerjemah yang dituntut lebih banyak mendengar; ada “otak” yang banyak berpikir karena bertugas sebagai creative ministry; ada tim acara sebagai “tangan dan kaki” yang mengeksekusi acara ibadah dst. Dapat dibayangkan kalau semua menjadi “mulut”, hasilnya ialah: talk only, no action! Juga kalau semua menjadi “otak” hasilnya semua program yang disusun hanya sebagai wacana tidak ada realisasinya. Atau semua bergerak menjadi “tangan dan kaki” tanpa berpikir sehingga tidak ada yang mengarahkan, hasilnya seperti berlari cepat tetapi tidak terkontrol tanpa arah tujuan jelas. Contoh: dua orang sahabat yang mengidap dwarfisme (penyakit kerdil) sama-sama cacat – satu buta dan satunya lumpuh – tetapi mereka saling support satu sama lain. Mereka tinggal bersama dan sehari-hari bekerja bareng – seorang menjadi kaki untuk berjalan dan yang lain menjadi mata untuk mengarahkan. Mereka menyadari ketergantungan untuk melengkapi satu sama lain dalam mencapai satu tujuan yang sama. Akhirnya si lumpuh meninggal terlebih dahulu dan seminggu kemudian si buta turut menyusul dalam kesedihan yang mendalam.
Jelas kita tidak perlu bersaing untuk membuktikan siapa yang paling menonjol atau paling berpengaruh tetapi utamakan dapat saling melengkapi satu sama lain. Gunakan kelebihan yang Tuhan karuniakan untuk dapat melayani sesama tanpa meniru orang lain.
- Berbeda untuk bertumbuh (ay. 25-27).
Dengan karunia masing-masing untuk saling melengkapi, kita harus tumbuh bersama seperti tumbuh kembang seorang bayi menjadi dewasa yang mana sel-sel organ di dalamnya tidak stagnan tetapi terus berkembang. Demikian pula dalam Tubuh Kristus, kalau ada bagian tubuh menderita kesakitan, bagian lain juga turut merasakan. Sebaliknya, ikut bersukacita melihat orang bersukacita (Rm. 12:15). Namun kenyataannya, tidak mudah ikut bersukacita melihat orang lain lebih diberkati daripada kita.
Sungguh kita tidak dapat tumbuh sendiri tetapi sedang mengalami pertumbuhan bersama. Ada kalanya kita harus menunggu teman kita yang masih bergumul, ada kalanya pula kita harus mengejar mereka yang sudah jauh di depan namun pastikan selalu ada pertumbuhan bersama-sama. Kita belajar mengalah dan tidak mendahulukan ego kita menghadapi perbedaan fungsi, karakter dan latar belakang untuk saling menopang dengan satu tujuan yang sama yaitu menjadi mempelai Kristus.