Dalam sejarah manusia, pencarian kebahagiaan selalu difokuskan dan dibingkai sebagai pencarian personal yang berfokus pada didapatkannya materi yang berlimpah. Namun terdapat suatu gagasan yang menarik dalam bidang Psikologi bahwa kebahagiaan yang lebih besar dan lebih bertahan lama datang dari apa yang kita berikan kepada orang lain. Gagasan tersebut adalah altruistic happiness atau selfless happiness. Dan sebagai orang Kristen, kita melihat bukti nyata penerapan tertinggi tersebut di Kalvari.
Altruistic happiness atau selfless happiness adalah suatu gagasan yang spektakuler dalam proses mengejar “kebahagiaan”. Budaya kita memberi penekanan kesuksesan sebagai sebuah pendapat “pribadi”. Namun gagasan ini menekankan bahwa kita berbahagia jika kita juga sukses membuat orang lain bahagia. Hal ini dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri, Juru Selamat kita. Dia mengurbankan diri-Nya di kayu salib untuk kita semua. Hal ini adalah fakta yang sudah kita ketahui namun ada tiga pertanyaan yang perlu kita renungkan untuk menekankan fakta bahwa pengurbanan Yesus adalah sesuatu yang luar biasa.
Mengapa Yesus rela mati untuk kita di Kalvari?
Hal ini jelas menguntungkan bagi kita. Kita mendapatkan penebusan, penyelamatan, dan janji kebangkitan. Namun apa untungnya bagi Yesus?
Jika melihat untung dan ruginya, sama sekali tidak ada untungnya bagi Tuhan. Kita adalah hasil ciptaan Tuhan namun sering menyakiti hati-Nya. Jika dilihat dari sudut pandang Tuhan, keberadaan kita sangat merugikan dan tidak menguntungkan-Nya sama sekali.
Lebih masuk akal bagi Tuhan untuk menyingkirkan kita dan memulai ulang dari awal, menciptakan manusia 2.0. Tetapi tidak. Ia memilih untuk rela mati di Kalvari seperti cerita yang sudah kita kenal. Mengapa? Hal tersebut tidak masuk akal untuk kita tetapi jawabannya jelas, karena Tuhan cinta kita. Karena begitu besarnya kasih-Nya kepada manusia sehingga Tuhan berbahagia dengan cara mengurbankan diri-Nya untuk kita di kayu Salib.
Pengurbanan adalah salah satu bentuk dari altruistic/selfless happiness. Suatu kebahagiaan yang didapatkan dari mengurbankan bagian diri untuk membuat orang lain bahagia. Salah satu bentuk pengurbanan juga adalah pengurbanan orang tua kepada anaknya. Semua diberikan tanpa mengharapkan kembali. Demikian pula bentuk pengurbanan seseorang kepada pasangannya.
Mengapa kebahagiaan jenis ini bertahan lebih lama
Yang membedakan altruistic/selfless happiness dari bentuk kebahagiaan lain adalah jangka waktunya. Kebahagiaan yang cepat dan instan(hedonic well-being) sering kali muncul dengan repetisi yang menguat seiring berjalannya waktu. Misal: kita berbahagia ketika mendapatkan uang satu juta. Namun seiring berjalannya waktu, satu juta tidak lagi cukup. Kita berharap dua juta. Kalau sudah mendapatkannya, kita akan berharap lebih dan lebih. Di lain cerita, semisal kita bahagia karena memiliki kendaraan baru, dengan berjalannya waktu kebahagiaan tersebut akan sirna dan kita akan menginginkan kendaraan lain yang lebih baru. Kebahagiaan inilah yang ditawarkan oleh dunia.
Sebagai bentuk kontra dari dunia, pengurbanan Yesus adalah bentuk kebahagiaan berbeda dan bukan hedonistik. Dalam istilah psikologi, altruistic/selfless happiness juga jatuh sebagai salah satu bentuk dari eudaimonic well-being – jenis kebahagiaan yang dalam dan mendasar dari manusia. Kebahagiaan yang muncul dengan perlahan, bertahan lama, dan semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Sebagai gambaran dari eudaimonic well-being, saya adalah seorang psikolog dan pernah membawakan suatu materi di sebuah sekolah. Singkat cerita, ada murid SMP menanyakan banyak hal kepada saya. Saya tidak mendapatkan apa-apa selain kata terima kasih. Dalam pandangan hedonistic well-being, saya dirugikan. “Apa yang saya dapatkan?” Seharusnya saya tidak perlu membantu anak itu jika ia tidak memberi saya uang. Namun pandangan ini ditolak mentah-mentah oleh teladan kasih Kristus yang bersifat altruistic/selfless tadi. Kebahagiaan saya tidak diukur dari seberapa besar uang yang diberikan oleh orang lain. Namun dari seberapa besar manfaat yang saya berikan ke anak SMP tersebut. Jadi ini bukan tentang uang tetapi tentang makna.
Kebahagiaan ini dapat bertahan lama karena altruistic/selfless happiness berakar pada kebutuhan manusia untuk mencari makna, tujuan, dan tujuan sosial. Ketika kita membantu orang lain, hal ini memunculkan kepuasan yang mendalam karena kita sudah berjalan dan hidup berdasarkan nilai-nilai tertinggi yang kita miliki. Nilai mendalam seorang Kristen dan hal ini dapat membuat kita terus dan tetap bahagia walaupun kondisi sedang kurang nyaman bagi kita.
Lalu apakah orang Kristen harus selalu berkurban
Jawabannya iya. Konsep pelayanan kita adalah bagian dari pengurbanan. Seberapa banyak waktu yang kita ‘kurbankan’ untuk orang lain, untuk ibadah, untuk Tuhan. Seberapa banyak materi yang kita ‘kurbankan’ untuk pelayanan di gereja, di kantor, dan di tempat lain. Seberapa banyak tenaga yang kita ‘kurbankan’ untuk orang yang ada di sekitar kita bahkan sekadar untuk mendengarkan masalahnya.
Ketika kita berfokus pada kapasitas kita untuk melayani Tuhan, ini akan memperkuat pandangan kita tentang proses-proses ‘kebahagiaan’ itu tadi. Kelelahan kita, pengurbanan kita, menjadi saluran berkat untuk orang lain di masa-masa kesulitan yang ia hadapi.
Secara tidak langsung, beberapa jenis pelayanan seperti membina kaum muda-remaja, melayani para lansia, ataupun tindakan menanyakan kabar sesama jemaat tampak kecil namun bernilai besar. Suatu tindakan yang mungkin akan “merepotkan” kita (karena harus memberikan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk orang lain). Namun, orang yang menerima dapat merasakan kasih Tuhan di setiap perilaku kita. Oleh karena altruistic/selfless happiness yang dicontohkan Yesus memungkinkan kita untuk tidak berfokus pada kebahagiaan diri sendiri tetapi berkelanjutan pada persekutuan di dalam gereja.
Intinya, jangan lupa melayani! Sama seperti Yesus telah melayani kita di kayu salib.