PENDAHULUAN
Di era modern saat ini, ilmu psikologi memiliki peran penting dalam kehidupan manusia sebab ilmu ini mempelajari manusia itu sendiri. Ilmu ini juga digunakan dalam lingkup gereja terutama dalam konteks Pastoral. Lingkup bidang psikologi ini begitu luas di antaranya tentang pikologi klinis, psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, psikoterapi, dll. Kali ini artikel lebih fokus membahas tentang psikologi kepribadian, salah satu topiknya ialah tentang NPD.
APA ITU NPD?
NPD (Narcissistic Personality Disorder) adalah kondisi psikologis ditandai dengan pola perilaku yang mencerminkan rasa berlebihan akan kebesaran diri, kebutuhan akan kekaguman yang mendalam dan kurangnya empati terhadap orang lain. Sebutan bagi orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik ialah narsisis. Narsistik ditandai rasa cinta pada diri sendiri yang terlalu berlebihan. Gangguan kepribadian narsistik cenderung menjadi egois dan kurang memiliki empati pada orang lain berakibat masalah dalam berinteraksi sosial dengan orang di sekitarnya. Kepribadian narsistik termasuk dalam kategori gangguan mental.
Apa ciri-ciri seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik (NPD)?
- Merasa diri sendiri adalah yang terhebat dibanding orang lain. Membesar-besarkan prestasi dan bakat dengan harapan diakui sebagai pribadi yang unggul padahal tidak sesuai dengan potensi dan prestasi yang dimiliki.
- Disibukkan dengan fantasi kesuksesan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta sejati.
- Menganggap diri sendiri adalah unik dan memiliki keistimewaan sehingga dapat dimengerti hanya oleh orang-orang tertentu seperti pikolog, psikater dll.
- Memiliki kebutuhan ekspresif untuk dikagumi.
- Merasa dirinya pantas mendapatkan perlakuan khusus.
- Menggunakan hubungan interpersonal untuk mencapai tujuan pribadi.
- Kurangnya empati, mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain.
- Sering iri hati kepada orang lain atau menganggap orang lain iri padanya.
Mengapa kepribadian narsistik ini sering dialami oleh para remaja?
FAKTOR PENYEBAB NPD PADA REMAJA
Melihat definisi dari gangguan kepribadian narsistik di atas, orang-orang yang mengalami gangguan narsistik dapat diamati melalui perilaku mereka yang sering berfoto selfie di media sosial. Media teknologi yang disukai oleh para generasi muda saat ini ialah mengakses aplikasi Tiktok, Facebook, Instagram dll. Mereka berlomba menampilkan foto atau video yang menjadi ajang hiburan bahkan menyalahgunakan layanan ini bukan untuk pendidikan tetapi untuk memamerkan diri sendiri atau narsisme. Tidak sedikit remaja menunjukkan eksistensinya kepada publik melalui media sosial sebagai salah satu cara untuk mengaktualisasikan dirinya. Remaja yang menggunakan media sosial sebagai setting aktualisasi diri ini cederung egois. Tujuan para remaja mengekspos dirinya di media sosial ialah supaya orang lain melihat untuk mendapat pengakuan akan keberadaan mereka.
Faktor yang menyebabkan seseorang mengalami NPD masih belum diketahui secara spesifik namun beberapa ahli psikolog memberikan analisisnya dengan mengasumsikan NPD mungkin berhubungan dengan (1) lingkungan – hubungan anak dengan orang tua dipenuhi pujian atau kritik yang berlebihan dan tidak selaras dengan pengalaman anak tersebut, (2) genetik – mengacu pada karakteristik bawaan dari orang tua (3) neurobiologi – hubungan antara otak, perilaku dan cara pikir. American Psychological Association menyebutkan beberapa penyebab NPD yaitu: genetik, trauma masa kecil, lingkungan, verbal abuse (kekerasan melalui perkataan), dan reaktivitas tinggi (sensitif terhadap stimuli).
Perlu dikethui, NPD dapat diderita oleh siapa pun tanpa melihat latar belakang, kepercayaan agama, gelar pendidikan dst. Bahkan orang Kristen pun yang mengaku percaya kepada Yesus, beribadah dengan rajin, menyakini Roh Kudus ada dalam dirinya dapat menderita gangguan kepribadian narsistik.
TOKOH ALKITAB YANG MENDERITA NPD
Dalam Alkitab banyak tokoh penting dipakai Tuhan untuk menyebarkan berita kebenaran Firman Tuhan. Salah satu tokoh Alkitab yang dapat diasumsikan mengalami gangguan kepribadian narsistik yaitu Simson.
Mengapa Simson dapat dikategorikan mengalami gangguan kepribadian narsistik (NPD)? Kitab Hakim-Hakim 13 – 16 memaparkan: Simson dari Zora, keturunan orang Dan (Hak. 13: 2). Dia anak yang terlahir sebagai nazir Allah dan di tangannya, Israel diselamatkan dari bangsa Filistin (Hak. 13:3-4). Simson sebagai hakim bagi bangsa Israel dinilai paling bermasalah didasarkan pada sifatnya yang impulsif, egosentris, bertindak sewenang-wenang serta destruktif. Simson berkepribadian narsistik dan individualis dengan cara suka memamerkan kekuatan yang merupakan kelebihannya. Simson seakan tidak memahami kelebihan yang diberikan Allah atas dirinya untuk menggunakan kekuatan itu bagi bangsanya. Dia terjebak pada keangkuhan lalu mengabaikan posisinya sebagai hamba Allah.
Narsisme yang dimiliki oleh Simson dapat dimaknai sebagai orang yang arogan, percaya diri serta egois. Selain itu dia cenderung merasa lebih unggul daripada orang lain, merendahkan sesama, membutuhkan kekaguman berlebihan dari orang lain, berperilaku dan bersikap sombong. Predikat Simson sebagai pemimpin narsistik terlihat saat ia sering mempertontonkan kelebihan dirinya dengan tujuan orang Filistin akan takjub dan mengakui kehebatan, kekaguman dalam menebar teror ketakutan.
Sikap narsistik Simson sebagai pemimpin orang Israel menariknya ke lubang kejatuhan yang merusak dirinya sendiri. Diakhir hidupnya, Simson ditangkap oleh orang Filistin, kedua tangannya dibelenggu dengan rantai tembaga dan matanya dicungkil. Pekerjaan Simson di penjara ialah menggiling (Hak. 15:21). Kekuatan Simson yang suka dipamerkan dan dibanggakannya berakhir dengan dia direndahkan, dihina, dan dipermalukan oleh orang Filistin.
CARA MENGATASI NPD
Cara untuk mengatasi orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik yaitu:
- Dengan terapi wicara, ini membantu pasien membangun komunikasi yang baik dengan orang lain dan memberi pemahaman kepada pasien mengenai dampak perilaku narsistik.
- Dengan terapi perilaku kognitif, ini membantu merubah perilaku pasien yang merusak agar menjadi lebih realistis.
- Dengan pemberian obat-obatan, seperti antidepresan, antimania, dan antipsikotik.
Untuk mencegah atau meminimalisasi risiko munculnya narsistik maka perlu upaya yang harus dilakukan, antara lain:
- Mempelajari pola asuh anak remaja yang benar dengan berkonsultasi kepada terapis atau menjalani kelas parenting.
- Melakukan terapi keluarga untuk mengatasi tekanan atau konflik emosional yang dialami dan mengetahui cara komunikasi yang sehat.
- Segera menjalani pengobatan apabila mengalami gangguan mental terutama bila muncul saat masa kanak-kanak atau masa remaja.
- Arahkan remaja atau generasi muda untuk memiliki pertumbuhan rohani yang sehat dengan beribadah kepada Tuhan dan mengambil pelayanan serta aktif bergereja.
Perlu diingat, gangguan mental bukanlah suatu aib yang harus disembunyikan dan diabaikan tetapi harus ditangani dengan baik dan benar.