• ANAK MUDA DAN MENTAL HEALTH
  • Samuel Dimas Suryonono

Seiring berjalannya waktu, kita sering melihat banyaknya kasus dampak kesehatan mental pada anak remaja. Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa kasus kesehatan mental remaja makin marak terjadi? Mengapa banyak terjadi di era sekarang? Mengapa banyak kasus yang makin mengerikan terdokumentasikan di media? Bagaimana kita sebaiknya orang Kristen menghadapi fenomena ini?

Generasi Z (kelahiran 1994-2012) mengalami banyak sekali isu tentang kesehatan mental dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini bukan karena Gen Z (sebutan akrabnya) termasuk generasi yang lemah tetapi karena kompleksitas tantangan sosiologis, teknologi, ekonomi, dan faktor lingkungan.

Musuh nomor satu: idealisme dalam sosial media

Sebagai digital natives, generasi zaman sekarang erat dengan keberadaan sosial media. Generasi sebelumnya lahir di era non-sosial media dan baru menggunakan sosial media di usia dewasa (18+). Sebaliknya, generasi zaman sekarang sudah menggunakan sosial media sejak dini. Paparan awal tentang sosial media tentu membuat munculnya isu-isu tertentu yang berpengaruh terhadap perkembangan otak. Isu yang paling besar adalah tentang idealisme.

Dalam perspektif psikologi, usia remaja adalah usia di mana manusia mulai membanding-bandingkan sehingga banyak sekali orang tua berkonflik dengan anak remajanya karena anak remaja tersebut sudah berani membandingkan orang tua yang ia miliki dengan orang tua temannya. Usia remaja memang umum dikenal sebagai ‘usia pemberontakan’ karena remaja sedang mencari kondisi ideal dalam memikirkan sesuatu.

Sosial media memperparah idealisme tersebut. Sosial media adalah kurasi kehidupan setiap orang sehingga mereka memposting hal-hal yang ideal dan terbaik. Kurasi tersebut rentan membuat remaja membanding-bandingkan. “Kok hidup dia lebih ideal daripada aku ya?”  “Kok dia asyik ya kesana kemari?” “Kok aku tidak seberuntung dia ya?”

Musuh nomor dua: informasi berlebih
Ketersediaan akses sosial media, berita terkini, dan beberapa hal lain dapat membuat remaja cemas. Rasa cemas ini muncul karena fase diri yang over stimulated, belum selesai memproses suatu hal baru, malah dihujani dengan banyak informasi lain. Informasi-informasi inilah yang memperkuat tuntutan yang tidak realistis tadi.

Dalam beberapa kasus, informasi berlebih dapat membuat anak remaja ‘dewasa sebelum waktunya’, dan dapat memunculkan kecemasan berlebih. Kecemasan berlebih ini membuat anak remaja merasa tidak berdaya karena ia tahu banyak hal yang tidak dapat dikontrol.

Untuk manusia dewasa, kita sudah dapat melihat realitas sosial di balik media sosial dan informasi. Namun berbeda dengan remaja, mereka dibombardir dengan perasaan bahwa mereka kurang beruntung, kurang ideal. Terlebih lagi dengan ratusan bahkan ribuan standar yang ada pada aspek berbeda: standar kecantikan, standar kesuksesan, standar tubuh ideal, standar pendidikan, dll.

Pandangan ideal ini membombardir mereka memunculkan tuntutan yang tidak realistis dan tidak mudah dicapai. Akibatnya? Kecemasan berlebih, kekhawatiran, dan tidak sedikit yang berevolusi menjadi penyakit mental serius.

Bagaimana orang Kristen harus bersikap
Sebagai orang tua, kita harus memahami bahwa anak muda zaman sekarang sangat terbuka terhadap kesehatan mental karena informasi yang terbuka dengan luas di masyarakat. Jika anak remaja kita membuka kondisi dirinya, dengarkan mereka lalu konsultasikan ke profesional.

Penting untuk merespons dengan bijak karena anak sedang dalam kondisi yang rentan. Ingatkan mereka untuk jangan khawatir (Flp. 4:6). Hati-hati dalam menekankan “jangan khawatir” sebab dapat terkesan orang tua meminta anak untuk melupakan masalah. Hal tersebut dapat membuat anak merasa masalahnya tidak dihargai dan dapat membangkitkan perasaan amarah/dendam kepada orang tua yang menganggap masalah anaknya remeh.

Sebagai anak remaja, penting untuk mengetahui bahwa apa yang dialami oleh dirinya adalah bentuk dari rancangan TUHAN (Yer. 29:11). Namun, walaupun hal tersebut adalah rancangan Tuhan, bukan berarti dia tidak boleh mempertanyakan. Carilah tahu apa maksud Tuhan memberikan tantangan tersebut dalam hidupnya.

Tanyakan kepada orang tua dan kakak rohani, baca Alkitab karena Tuhan merancang segalanya. Kita perlu berkomunikasi dan menanyakan kepada Tuhan. Sekiranya hidup kita kurang ideal, mengapa Tuhan membiarkan kita merasakan itu? Ketika kita membaca Alkitab dan berdoa, aktivitas tersebut akan mendekatkan kita pada pemahaman bahwa rencana TUHAN jauh melebihi pikiran kita (Yes. 55:9).

Ketika Anda berhadapan dengan masalah, jangan mudah panik. Ini saatnya Anda menunjukkan betapa kuatnya diri Anda. Jadikan setiap tantangan sebagai peluang.