• DOSA VS ANUGERAH ALLAH
  • Kisah Allah dan Kita
  • Redaksi

Pendahuluan

Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia memasuki babak kehidupan baru. Akibat dosa dalam diri manusia terlihat jelas dalam diri anak mereka, Kain, yang membunuh (menghilangkan nyawa) saudaranya sendiri, Habel. Kain melakukan jenis perbuatan dosa luar biasa sadis dan mengerikan apalagi ia membunuh adiknya sendiri. Kain membunuh bukan karena ia memiliki pergaulan buruk dari teman-temannya sebab pada waktu itu belum ada manusia lainnya. Kain tidak membunuh akibat hasutan orang lain ataupun lingkungan sekitarnya tetapi karena pengaruh dan akibat dosa yang ada di dalam diri manusia.

Dosa Adalah Sesuatu Yang Serius

Kejadian 6:5 mencatat bahwa “kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan (melakukan) kejahatan”. Ayat ini merupakan hasil pemeriksaan keadaan manusia pascakejatuhan. Allah seakan memiliki rekam medis yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap pasien yang menderita penyakit komplikasi dan kerusakan menyeluruh di dalam setiap manusia di bumi. Allah memeriksa dengan intensif dan menemukan sebuah kesimpulan bahwa “manusia memiliki pikiran yang cenderung melakukan bukan yang benar di mata-Nya melainkan justru semata-mata yang jahat”. Kata Ibrani yetster (ֵיֶצר) memiliki arti imajinasi, pikiran, tujuan, konsepsi. Kata ini berasal dari kata Ibrani yatstar ( (ָיַצר) yaitu membentuk dan membuat. Arti kata ini juga merujuk kepada “tujuan”. Tujuan dari sesuatu yang keluar dari dalam diri manusia – pikiran dan hati – sudah berubah menjauh, melenceng serta menyimpang dari rencana Allah. Ini yang Allah lihat di dalam diri manusia sebagai akibat terus-menerus dipapar dan dijangkiti oleh dosa. Apabila niat (hati) sudah korup maka tinggal persoalan waktu saja akan terlihat dalam perbuatan atau tindakan dan hal ini sudah terjadi.

Kejadian 6:6 adalah reaksi Allah yang tidak boleh dianggap sepele. Allah tidak pernah menanggapi perbuatan dosa dengan cara yang biasa. Alkitab mencatat “maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hati-Nya”. Allah itu kudus sehingga “setitik” dosa sangatlah bertentangan dengan diri-Nya. Dia mengekspresikan dan memberitahu ciptaan-Nya yang segambar dan serupa dengan-Nya sebuah pesan yang amat dalam sebagai bentuk kesedihan dan duka luar biasa akan tingkat kerusakan yang terjadi dalam diri mereka. Allah menyatakan kesedihan-Nya yang mendalam betapa mereka telah melenceng jauh dari apa yang Tuhan inginkan. Tidak ada dosa yang begitu memilukan dan mendukakan Allah selain dosa kejahatan di mata Allah tetapi tidak di mata manusia. Apa yang dianggap kudus oleh Tuhan seharusnya juga kudus bagi manusia.

Allah adalah Allah Pemberi kesempatan kedua (God Is a God of second chance)
Nuh didapati sebagai seorang yang benar dan tidak bercela dari antara manusia dan hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:8-9). Dengan kata lain, sisanya hidup tidak benar alias jahat dan bercela di mata Allah. Rasul Petrus menyebut Nuh sebagai “pemberita kebenaran” (2 Ptr. 2:5). Ini berarti bahwa selagi membangun bahtera yang Allah perintahkan, Nuh juga memberitakan pertobatan untuk kembali kepada Allah. Anda dapat membayangkan Allah memberikan waktu 100 tahun luntuk manusia bertobat dari dosa-dosa mereka sekaligus kesempatan untuk menerima kasih karunia Allah melalui pemberitaan Nuh (Kej. 6:3).

Seandainya Allah membiarkan manusia pada zaman Nuh hidup hingga sekarang ini, akan menjadi seperti apa dunia yang kita tempati sekarang? Nyatanya kondisi keberdosaan manusia saat itu sudah mencapai titik kulminasi (puncak). Sebenarnya manusia seusai air bah tidak menghentikan pengaruh dan akibat kejatuhan dosa di dalam hidup mereka. Tentu kita tidak boleh melihat dosa sebagai sesuatu yang biasa karena Allah itu kudus dan setiap perbuatan dosa adalah serangan langsung terhadap kekudusan Allah sekaligus permusuhan aktif terhadap Allah sendiri.

Allah selalu bereaksi serius terhadap dosa; demikian pula seharusnya reaksi orang percaya. Nuh mengetahui beratnya konsekuensi kejahatan manusia saat itu namun dia juga tahu bahwa Allah memberikan kesempatan demi kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Sebenarnya Allah tidak hanya memberi kesempatan kedua akan tetapi ketiga, keempat, kelima dst. oleh sebab kasih karunia-Nya kepada manusia. Hanya karena perbuatan dosa zaman dulu berbeda dengan perbuatan dosa zaman sekarang ini tidak membuat Allah lunak terhadap segala macam perbuatan dosa. Baik dosa zaman dulu maupun dosa zaman sekarang, reaksi dan sikap Allah tetaplah sama.

REFLEKSI BAGI IMAN KRISTEN

  1. Hidup menurut standar Tuhan.
    Sebagai orang Kristen yang mengenal dan mendapatkan kasih karunia Allah, kita perlu menyadari setiap konsekuensi dari tindakan dalam hidup ini. Berbuat sebebas dan semaunya bukanlah ciri orang yang menerima anugerah Allah. Nuh terus-menerus memberitakan pertobatan dan kasih karunia Allah kepada orang-orang pada zamannya. Nuh menunjukkan sebuah gaya hidup yang berbeda kepada orang-orang sekitarnya dan menghadirkan cara hidup yang Allah inginkan di tengah-tengah kerusakan dan kejahatan manusia. Standar siapakah yang kita ikuti dalam hidup ini? Apakah standar nasional? Atau standar internasional? Allah memberitakan Firman-Nya kepada kita supaya kita hidup sesuai dengan standar-Nya bukan ukuran manusia mana pun. Hidup seturut kehendak Tuhan adalah cara untuk menyenangkan Tuhan dan mencapai standar-Nya.
  2. Manusia tidak mampu menyelesaikan dosa, Allah yang mampu.
    Allah terus menanti mulai dari bulan pertama di tahun pertama ketika Ia menyuruh Nuh memberitakan pertobatan serta hukuman yang segera Ia jatuhkan atas seluruh bumi. Allah menyatakan perasaan pilu atas perubahan yang terjadi di dalam pikiran dan hati manusia yang sudah rusak. Di saat yang bersamaan Allah rindu agar mereka kembali kepada-Nya dengan menerima ajakan tentang berita pertobatan. Allah memberikan kesempatan manusia untuk dipulihkan, ditolong dan direstorasi bukan dengan cara manusia melainkan cara-Nya. Dari kisah Nuh dan air bah di zamannya, kita belajar bahwa “tidak ada manusia siapa pun dapat menyelesaikan dosa dan akibat-akibatnya” kecuali Yesus, Anak Domba Allah, yang mampu menghapus seluruh dosa manusia (Yoh. 1:29). Allah berkuasa menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat. 1:21). Apabila Anda sedang bergumul dengan dosa tertentu, Anda akan gagal dan kandas jika Anda memulainya tanpa anugerah Allah. Tuhan tidak pernah menghendaki manusia unggul melawan dosa tanpa kasih karunia-Nya
  3. Sebuah kesempatan untuk kembali kepada Allah
    Sisi lain dari satu abad lebih yang Allah berikan kepada manusia pada zaman Nuh ialah bahwa setiap kali Nuh memberitakan kebenaran untuk kembali kepada Allah, ternyata tidak satu pun dari banyak orang itu berbalik kepada Allah. Ada ratusan khotbah dan ribuan ajakan yang Nuh sampaikan kepada orang-orang pada masa itu tetapi mereka tidak peduli atau sadar untuk berbalik kepada Allah.

Allah yang sama juga memberikan kesempatan kepada setiap kita, orang percaya, yang mungkin jatuh ke dalam dosa atau berbuat dosa di mata-Nya. Allah ingin kita segera menyadari dan berbalik kepada kebenaran-Nya. Tidak ada titik di mana manusia akan puas dengan dosa kemudian dengan sendirinya dia sadar lalu berbalik kepada Allah.

Peristiwa air bah sudah cukup menjadi bukti nyata bahwa dosa hanya akan menjerumuskan kita kepada dosa berikutnya, kejatuhan selanjutnya, kerusakan lainnya dan kejahatan seterusnya apabila kita tidak bertobat dan berbalik kepada-Nya. Kasih karunia Allah akan membawa kita kepada kasih karunia-Nya yang makin dalam dan kuat.

Buanglah segala sampah kehidupan di masa lalu yang mengganjal hidup kita, lihatlah di depan terpampang kehidupan baru oleh karena besarnya kasih karunia Tuhan yang disediakan bagi kita.