Rasanya tidak akan pernah kehabisan bahan kalau berbicara masalah hubungan antara mertua perempuan dengan menantu perempuan. Pembicaraan dapat berkembang ke mana-mana. Sayangnya, sering kali yang ditampilkan ke permukaan justru suasana negatifnya. Mereka diibaratkan seperti air dan minyak yang sulit sekali menyatu tanpa memedulikan perasaan pribadi yang berstatus anak laki-laki dan suami yang menjadi pihak paling terjepit di antara dua orang wanita yang sebetulnya sama-sama dicintai dan dihargai.
Ketidaksepahaman antara mertua-menantu umumnya terjadi karena rasa sayang sang ibu terhadap anak laki-lakinya dan dia menuntut menantu perempuannya dapat menjadi istri yang ‘sebaik’ dia, sesuai standar yang dia pikirkan – baik. Si Ibu takut kalau menantunya tidak dapat merawat dan memerhatikan anak laki-lakinya seperti yang dia harapkan.
Dapat pula terjadi dari pihak menantu yang menganggap mertua adalah sosok wanita tua yang selalu merepotkan dan mau tahu urusan rumah tangganya. Campur tangan mertua membuat sang menantu merasa tidak dapat menjadi dirinya sendiri dalam menjalankan fungsinya sebagai istri dan ibu. Soal selera masakan, merawat anak, apalagi kalau anak sedang sakit sampai masalah pembantu. Hal-hal tersebut dapat menjadi pemicu konflik dan benturan yang berkepanjangan di antara mereka berdua. Meskipun demikian, ternyata masih banyak juga mertua yang sangat sayang kepada menantunya begitu pula menantu terhadap mertuanya. Dan tidak sedikit mertua yang justru lebih dekat dengan menantunya ketimbang dengan anaknya sendiri. Mereka bagaikan dua orang sahabat yang saling membutuhkan dan mengisi.
Sebenarnya hanya dibutuhkan keterbukaan dan penerimaan dari dua belah pihak namun ingat ketika tampak mustahil bagi Anda untuk mengubah orang lain mengapa Anda tidak mencoba mengubah diri Anda sendiri?
Rasanya akan lebih mudah bagi kita berurusan dengan diri sendiri daripada menuntut orang lain untuk berubah dan mengikuti kemauan kita, yakni:
- “Tak kenal maka tak sayang”. Mengapa tidak belajar untuk menganggap mertua/menantu sebagai seorang sahabat/ibu/anak sendiri? Bagaimanapun juga dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Kita mencari tahu apa hobi dan kesukaannya agar dapat melakukan kegiatan bersama, meluangkan waktu dalam kebersamaan akan membuat tali batin makin kuat sehingga dapat saling mengerti dan menerima kekurangan maupun kelebihan masing-masing. Sangat dibutuhkan kerendahan hati dan kesabaran tinggi untuk membangun sikap toleransi seperti ini.
- Sikap arif dari anak laki/ suami akan sangat membantu untuk memulai sebuah keterbukaan dalam hubungan menantu-mertua. Orang tua harus cepat tanggap dan bijaksana menghargai anak dan menantunya dan mampu membedakan hal-hal mana yang merupakan “area” suami istri dalam mengambil keputusan tanpa campur tangan orang tua.
- Perbedaan usia dan latar belakang dapat menjadi penyebab ketidaksepahaman cara pandang dan berpikir tetapi dengan saling berusaha menghormati maka masing-masing pihak akan merasa lebih nyaman sekaligus mempererat hubungan. Tentu didasari rasa hormat yang tulus dan ini akan lebih mudah jika dimulai dari pihak yang lebih muda, yaitu sang menantu. Bagaimanapun juga ini adalah kewajiban anak untuk menghormati dan menyayangi orang tua untuk menunjukkan kepedulian dan cinta kepada ibu mertua.
- Tidak jarang ada mertua membuat menantu “capek hati” karena sikap dan kata-katanya tetapi tidak sedikit pula menantu yang kurang meng”orang”kan mertua dan memperlakukannya sebagai rival/saingan yang harus dikalahkan. Perlu diingat apa pun keadaannya, mertua atau menantu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Penerimaan apa adanya akan membuat kita ikhlas meredam emosi yang mungkin gampang tersulut.
Sekarang semua kembali pada diri sendiri, baik menantu maupun mertua masing-masing bertanggung jawab menyelesaikan setiap persoalan yang timbul. Jangan menunggu orang lain untuk lebih dahulu berubah dengan mencari pembenaran diri. Jika kondisinya sangat menyesakkan dada, boleh curhat kepada suami/anak tetapi jangan sampai hal ini membuat posisi suami/anak makin terjepit dan akhirnya memperparah suasana.
Bila menantu dan mertua dapat bersahabat, mereka akan menjadi dua pribadi yang saling bekerja sama menopang orang yang sama-sama mereka cintai – suami dan anak terkasih. Bukankah wanita memang dicipta sebagai penolong, penopang dan tiang doa apa pun posisi, kedudukan dan jabatannya.
Ketika doa dipanjatkan oleh dua orang yang sehati dalam suasana damai dan sukacita, dapat dibayangkan kemurahan Tuhan yang bakal turun dalam hidup seorang pria yang menjadi suami dan anak dari menantu yang bersahabat dengan sang mertua.
“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku.” (Fil. 1:4)