Akhirnya aku berhasil memenuhi undangan seorang sahabat untuk menghadiri sebuah ibadah yang dikhususkan bagi mereka yang berusia di atas 55 tahun.
Ada sebagian orang mengatakan, “Oh… baru umur 55 tahun – masih muda dan masih produktif” tetapi ada juga yang mengeluh, “Ah..aku sudah 55 tahun – sudah waktunya istirahat, tidak kuat ini, tidak bisa itu.” Anda termasuk kubu yang mana? Karena cara pandang tiap orang akan selalu disesuaikan dengan kondisi diri masing-masing; jadi tidak perlu ada yang pro dan kontra dalam hal ini.
Ketika aku memasuki ruangan ibadah, mataku langsung berkeliling memandang para jemaat yang hadir. Benar… dari postur tubuh, cara duduk, warna rambut, mereka memang sudah termasuk the elderly. Ada warna rambut full putih keperakan, ada yang dua warna – hitam dengan semburan putih di sana sini, bahkan ada yang tiga warna – putih terang bagian atas, sedikit kecoklatan turun ke bawah dan makin ke bawah berwarna hitam.
Khusus para Oma/Ama/Granny, cara menyisir rambutnya juga ada banyak macam style – ada yang rapi seolah-olah baru keluar dari salon, ada yang tampak buru-buru menyisir mungkin tadi habis memasak langsung berangkat, ada yang memang bergaya kasual tetapi garis-garis wajah tua tidak dapat disembunyikan.
Ternyata ibadah yang berlangsung dua jam diisi dengan program yang menurutku cukup menyenangkan buat para lansia. Ada olah raga (ringan), game (ringan) juga ada ucapan “happy birthday” bagi yang berulang tahun di bulan berjalan yang mana ini membuat mereka merasa sangat dihargai dan diperhatikan di usia yang bukan muda lagi. Tak ketinggalan tentu siraman rohani yang disampaikan secara ringan dan sederhana tetapi cukup mengena buat kaum seusia mereka.
Melihat betapa mereka begitu bahagia, bergoyang mengikuti gerak olahraga yang dicontohkan, bernyanyi dan menari gembira walau ada suara yang agak sedikit out of tone maklum suara orang tua bahkan ada yang dengan semangatnya berlari-lari ke depan untuk menjawab kuis yang disampaikan, mereka begitu bebas dan lepas berekspresi, pikiran ini langsung melayang-layang… merenung.
Sebenarnya yang dibutuhkan oleh the elderly sangatlah sederhana, yakni:
- Komunitas.
Anak-anak mereka sudah dewasa dan mempunyai kehidupan sendiri-sendiri bahkan mungkin sudah menikah dan tidak tinggal serumah lagi dengan mereka. Aktivitas pekerjaan juga mungkin sudah tidak sepadat sebelumnya bahkan ada yang sudah pensiun.
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain untuk berkomunikasi dan berbagi cerita. Ini tentu hanya dapat diperoleh ketika dia memiliki komunitas atau teman-teman sebaya.
Komunitas bagi lansia dapat meningkatkan kesejahteraan fisik, mental, dan kehidupan sosial mereka. Merasa ada dukungan, rasa memiliki, dan kesempatan untuk berinteraksi dapat mengurangi kesepian dan rasa tidak dibutuhkan.
- Keluar dari rutinitas.
Bagi mereka yang lebih banyak diam di rumah maka kegiatan ibadah, bertemu dengan teman lama, berolah raga ringan bersama dll., akan mengurangi rasa jemu menunggu jam berganti hari dan hari berganti minggu. Paling tidak ada yang ditunggu untuk membangkitkan semangat – “Besok aku akan begini, akan begitu” – ada kegiatan yang diagendakan di luar kegiatan rutin di rumah. - Pengakuan.
Orang lansia tetap membutuhkan pengakuan siapa pun dan umur berapa pun, mereka akan senang kalau dihargai dan diakui keberadaannya tertutama oleh keluarga dan teman-teman terdekat. Hal ini akan sangat membantu untuk menjaga kesehatan mental, fisik dan emosional mereka. Ingat makin bertambahnya umur seseorang (lansia), mereka akan makin sensitif dan mudah tersinggung dan cenderung “kekanak-kanakan”. - Aktivitas.
Aktivitas fisik sangat penting bagi lansia seperti: jalan kaki, berkebun, senam, termasuk kegiatan yang melatih otak, misal: membaca, mengisi teka-teki, dan masih banyak lagi sesuai dengan hobi masing-masing. - Tak ketinggalan lansia juga perlu menjaga pola makan yang seimbang dari nutrisi sampai suplemen atau vitamin serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Akhirnya para sahabat pembaca, semua kembali dan tergantung pada kita, bagaimana kita mau memanfaatkan waktu yang masih Tuhan berikan ini sebaik-baiknya supaya kita tidak duduk diam menunggu “waktu” kita dipanggil oleh-Nya. Apa pun yang kita lakukan, kiranya Nama Tuhan saja yang dipermuliakan.