• SUNGGUH BESAR KAU ALLAHKU

Sebaris lirik himne terkenal dan mendunia, “Sungguh Besar Kau Allahku” (How Great Thou Art), yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa membawa kita kepada keagungan penciptaan alam semesta dan isinya. Secara langsung atau tidak, inspirasi lagu ini dapat diduga berkenaan dengan Kitab Kejadian pasal 1 – 3.

Kebenaran yang dapat kita renungkan berkaitan keagungan penciptaan Allah di Kejadian 1 – 3, dan refleksi diri yang perlu bagi kita, mungkin tidak dapat seluruhnya tertuang di tulisan ini, maka kiranya memberi keleluasaan Roh Allah untuk mencerahkan pembaca secara pribadi saat membaca pasal 1 – 3 ini.

Pasal-pasal ini memulai “Kisah Allah dan Kita” – kisah romantis Allah dan kita. Ketiga pasal ini menyatakan apa tujuan Allah “melahirkan” (menciptakan) alam semesta dan  apa  tujuan  Allah  “melahirkan” (menjadikan dan menciptakan) kita. Inilah sejarah manusia zaman purbakala juga sejarah kita yang hidup di masa kini.

Kejadian 1 ayat 1 menegaskan hanya ada satu Allah, Dia adalah asal semuanya (causa prima), mencipta langit dan bumi dari yang tidak ada (ex-nihilo), maka pengetahuan se-modern apa pun tidak mungkin meneliti asal-usul Allah karena dari Dia segala sesuatu berasal, termasuk manusia (Kej.1:26-27; bnd. Kis.17:26-29). Ayat-ayat ini menyatakan bahwa setiap keahlian manusia tidak mampu memahami keilahian Allah.

Ayat 2 menyiratkan bahwa fokus Allah adalah pada bumi dengan samudera raya.

Kemudian Ia menyatakan peran Roh Allah yang sehakikat dengan Allah diutus keluar dari Allah untuk memelihara bumi dan samudera raya agar ciptaan awal yang belum berbentuk ini siap dibentuk dan kekosongan yang ada diisi dengan ciptaan-ciptaan selanjutnya (bnd. Mzm.104:30; Yes.32:14-15). Jadi tidak Alkitabiah jika ada teori menyatakan bahwa di suatu galaksi lain terdapat “bumi” yang juga diciptakan Allah dan mungkin ada kehidupan di sana seperti di bumi kita.

Ayat 3 dan ayat-ayat berikutnya menyatakan peran Firman Allah yang seperti Roh Allah juga keluar dari Allah untuk menjadikan dan mencipta bersama Roh Allah, menurut ide Allah. Terang Allah mengisi kegelapan mengatur siklus petang dan pagi, sejak hari pertama dan hari-hari selanjutnya hingga hari ini.

Terang yang dijadikan mendahului benda-benda penerang tersebut menyiratkan bahwa kehidupan di bumi, termasuk manusia, tidak bergantung kepada benda-benda penerang (ay.14-19) tetapi kepada Allah, kepada Firman-Nya dan Roh-Nya (bnd. Ul.8:3; Ayb. 34:13-15).

Maka tiada hari tanpa mengucap syukur kiranya menjadi moto karena terang Allah memungkinkan kita beraktivitas, memelihara kita dan hasil kerja kita, seperti terang itu memelihara tunas-tunas tumbuhan dan pohon-pohon (ay.11-12), sebelum Allah menjadikan benda-benda penerang (ay. 14-19). Siklus petang dan pagi menolong kita untuk tahu batasan waktu dalam beraktivitas dan beristirahat. Giatlah beraktivitas, jangan bermalas-malasan, dan beristirahatlah pada waktunya, tidak memaksakan diri beraktivitas sebab berkat datangnya hanya dari Allah kepada yang mengasihi-Nya (bnd. Mzm.127:2).

Ayat 6-10 menyiratkan kemahakuasaan Allah dalam mengatasi gravitasi, Ia memisahkan air yang di atas dengan yang di bumi. Dalam kemahakuasaan-Nya Ia akan menurunkan air yang di atas ke bumi dalam kehendak-Nya. Demikian pula dalam kemahakuasaan-Nya, Ia mengatur batas-batas antara laut dan daratan. Semua menyiratkan kedaulatan Allah atas ciptaan-Nya. Manusia yang tidak mahakuasa, tidak mampu “menahan” hujan maupun membatasi” air hujan membanjiri suatu wilayah maka manusia harus menyadari keterbatasan kemampuannya untuk tidak meninggikan diri di hadapan Allah.

Hari kelima (ay. 20-23) berbagai jenis burung, binatang laut, dan binatang air diciptakan Allah. Jika kita berada di kebun binatang melihat aneka warna burung, ikan, menyiratkan bahwa Allah memiliki pikiran rumit yang tidak terjangkau namun tidak acak atau tidak kebetulan sebab semuanya diciptakan dalam keteraturan dan terencana, dan dengan terkagum kita menggumam, “Sungguh Besar Kau Allahku”.

Hari keenam adalah hari ketika manusia dijadikan dan diciptakan dari material yang ada, debu tanah (Kej. 2:4b-7), sama dengan binatang-binatang darat (Kej.2:19). Tepatnya ayat 19 adalah, “Lalu TUHAN Allah yang telah membentuk dari tanah segala binatang hutan, dan segala burung di udara, membawa semuanya kepada manusia, dst...” Manusia dijadikan setelah berbagai jenis binatang darat dijadikan Allah (Kej. 1:24-28) oleh karena itu manusia mendapat otoritas Allah untuk menamai segala jenis binatang.

Dalam kedaulatan Allah, ada manusia yang mampu menjinakkan binatang-binatang, namun ironis, kebanyakan dari kita tidak mampu menjinakkan lidah kita (Yak.3:7-8), berarti pula tidak mampu menjinakkan emosi dan nafsu kita, kecuali kita meminta hikmat Allah melalui firman yang kita dengar dalam ibadah rutin dan Alkitab yang kita baca secara rutin setiap hari (Yak.3:17-18).

Hikmat dapat diberikan Allah karena selain manusia dijadikan dari debu tanah, Allah menciptakan pengertian melalui nafas hidup yang Ia hembuskan ke dalam manusia (bnd. Ayb.32:8), sementara binatang tidak memiikinya (Mzm.49:21; 2Petr.2:12; Yud.1:10). Tanpa mengenal Allah dan memiliki rasa takut akan Allah, manusia cenderung hidup tanpa pengertian dari Allah, tanpa hikmat Allah (Ams.9:10).

Dari tumbuhan hingga binatang yang diciptakan, semua memiliki gender jantan atau betina untuk berkembang biak. Itu sebabnya Allah menjadikan wanita menjadi penolong sepadan bagi pria, kedua manusia dengan jenis gender berbeda ini disatukan Allah dalam kasih untuk tidak diceraikan sebab tulang dari tulang yang sama dan daging dari daging yang sama (Kej.2:21-25), untuk beranak cucu (Kej.1:28a).

Manusia pria dan wanita di taman di Eden senantiasa bergaul dengan Allah, mereka peka akan kehadiran Allah yang mengasihi (bnd. Kej.2:15; 3:8-9). Itulah tujuan Allah menjadikan dan menciptakan manusia, untuk menjadi objek, sasaran, kasih-Nya, sebab Allah adalah kasih (1Yoh.4:8) dan idealnya manusia, kita, merespons dengan mengenal Allah, percaya dan mengasihi-Nya.

Tragedi terjadi, manusia dengan pengertiannya tidak menaati perintah Allah. Akal sehatnya, rasa takut akan Allah, dimatikan dan lebih menaati nalurinya seperti hewan yang hanya melihat dan mengecap (Kej.3: 6), sehingga manusia lebih memilih satu buah yang dilarang dibandingkan segala buah yang ada di taman di Eden.

Suatu ironi, karena manusia tidak mengerti kesalahannya untuk menyesali, tetapi menggunakan lidahnya menyalahkan pasangan nikahnya. Namun bersyukur karena kasih-Nya, Allah langsung membuat jalan keluar, “kabar baik yang awal” (protoevangelium), “keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala ular” (Kej.3:15).

Perseteruan kita bukan dengan sesama keturunan perempuan tetapi dengan Iblis, pemerintahan roh-roh jahat di udara (Ef.6:12) dan hawa nafsu kita (Kol.3:5). Maka kendalikan lidah kita untuk tidak cenderung menyalahkan, menghakimi sesama, dan berlatihlah menggunakan pengertian yang Allah ciptakan di dalam kita untuk mengoreksi diri sendiri.

“Sungguh besar Kau Allahku”, karena belas kasihan-Nya besar kepada manusia, dalam statusnya yang “mati rohani” karena dosa (bnd. Ef.2:1), Allah memberi kesempatan hidup, dan ketelanjangan dosa, aib dosa, ditutup-Nya dengan pakaian kulit binatang (Kej.3:21), “model” bagi kurban Kristus dalam menutup dosa bagi manusia yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya.

Protoevangelium digenapi oleh kelahiran keturunan perempuan dalam keajaiban Allah tanpa persetubuhan dengan pria (bnd. Mat.1:18; Luk.2:31-35). Penjagaan kerub-kerub di pintu Timur Eden (Kej.3:22-24) diakhiri, ketika di atas salib Yesus mengampuni penjahat yang percaya dan berkata, “. . sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”.

Karena pengampunan Allah ini, kita pun memuliakan Dia, “Sungguh Besar Kau Allah-ku”.