• DARI VIA DOLOROSA KE GOLGOTA

Via Dolorosa…
Sebuah nama jalan kecil di kota suci yang banyak dikunjungi para peziarah kota suci. Menurut literatur, jalan itu kecil dan berliku-liku dimulai dari pengadilan Pilatus yang menyerahkan Yesus kepada massa untuk disalibkan. Sebuah jalan yang ditempuh Yesus menuju tempat terakhir dari kehidupan-Nya sebagai manusia di bumi ini untuk menjalani penyaliban sebagai misi terakhir untuk penebusan dan penyelamatan umat manusia yang dikasihi-Nya.

Jalan “Via Dolorosa” berarti “jalan kesengsaraan” atau “jalan penderitaan” karena di jalan itulah Yesus mengalami sengsara paling hebat sebelum kematian-Nya: seluruh tubuh-Nya dihancurkan dari kepala yang berdarah karena duri, punggung didera, dirantai, diludahi, diolok, dihina, ditinju, diadili, difitnah, dipermalukan, disiksa hingga tangan dan kaki dipaku di salib dan tusukan tombak pada lambung-Nya. Beberapa orang mengistilahkan jalan tersebut sebagai “jalan ketaatan” karena menggambarkan ketaatan penuh dari Yesus kepada Bapa yang mengutus-Nya seberapa berat pun kesengsaraan yang harus dilewati-Nya. Sementara itu bagi penjahat yang disalibkan bersama Yesus, jalan tersebut adalah “jalan menuju Firdaus” karena jalan itu mempertemukannya dengan Yesus yang kemudian membawanya ke Taman Firdaus – jalan keselamatannya.

Walau tidak tertulis dalam Alkitab, nama jalan itu sangat dikenal oleh para peziarah Kota Suci dan memiliki arti tersendiri bagi mereka yang pernah mengunjungi Yerusalem. Sebuah pengalaman yang memberi perasaan khusus bagi mereka yang pernah berjalan di atas jalan-jalan yang pernah dijalani Sang Mesias menuju Golgota – bukit Tengkorak di mana Dia disalibkan bagi kita. Menurut litratur, jalan yang berjarak ± 600-700m terkesan kasar, berbatu dan berduri dan mereka menganyam dari semak duri yang ditemukan di jalan itu untuk dijadikan mahkota-Nya.

Dapat dibayangkan situasi di jalanan itu, Yesus berjalan terseok-seok karena tubuh yang lelah, kurang tidur, lemah penuh luka dan dukacita yang mendalam. Ia memikul salib-Nya yang berat. Di belakang-Nya, massa mengikuti-Nya menuju Golgota. Ia terjatuh beberapa kali di jalan itu dan ketika Ia tak lagi mempunyai kekuatan, seseorang kemudian dipaksa untuk memikul salib-Nya.

Tubuh-Nya bersimbah darah, kulit punggung-Nya berbilur dan mengelupas karena deraan berkali-kali yang menimpa-Nya. Duri-duri tajam telah pula melukai kepala-Nya dan darah pun mengalir darinya. Penyiksaan atas diri-Nya digambarkan Yesaya dalam kitabnya bahwa muka-Nya tampak begitu buruk bukan seperti manusia lagi… Tidak tampan untuk dipandang, tak seorang pun ingin memandang-Nya karena tampak begitu mengerikan. Yesaya kemudian melanjutkan Ia penuh sengsara dan sangat dihina tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggung-Nya dan sengsara kita yang dipikul-Nya. Ia ditikam dan diremukkan karena pemberontakan serta kejahatan kita. Dia dianiaya tetapi membiarkan diri-Nya ditindas. Ia tidak membuka mulut-Nya untuk membela diri ataupun mengeluh.

Suara massa yang mengikuti iring-iringan masih bergemuruh sejak dari rumah Pilatus, “Salibkan Dia… Salibkan Dia…! Muka-muka beringas penuh kebencian dan kemarahan kepada Dia yang mencintai mereka. Betapa ironisnya! Tentu kita dapat bertanya, “Di mana mereka yang pernah disembuhkan dari penyakitnya? Di mana 5.000 orang yang telah dikenyangkan saat mereka lapar? Di mana pula mereka yang mengagumi perkataan-perkataan-Nya yang indah, menghibur dan menguatkan… apakah mereka masih berada di pihak Guru mereka, atau berbalik karena hasutan dan fitnahan keji orang-orang Farisi dan imam-imam kepala yang menghendaki kematian-Nya? Memang ada di antara mereka yang tercatat masih mengasihi Guru mereka dan menangisi-Nya tetapi mereka ketakutan dan bersembunyi dari massa yang beringas. Itulah keadaan manusia yang ada di dunia ini. Dari orang-orang yang sangat dekat dengan Yesus, satu dari mereka telah mengkhianati dan menjual-Nya, yang lain menyangkal mengenal-Nya, yang lain lagi lari bersembunyi karena takut terkena imbas menjadi salah satu murid dari Seorang yang terpidana mati yang dianggap orang sesat dan menyesatkan banyak orang karena mengaku diri-Nya setara dengan Allah.

Sebagian dari massa menolak-Nya! Perjalanan atas Via Dolorosa menuju Golgota mengingatkan kita kembali pada perumpa- maan yang pernah diceritakan Yesus: seorang penabur menaburkan benih, sebagian jatuh di tepi jalan. Kadang hati kita bagaikan tepi jalan yang tidak mempunyai lahan untuk menampung benih (Sang Firman) yang jatuh ke dalam hati kita. Seperti via Dolorosa, hati sering berliku-liku dan berbelit-belit penuh tipu muslihat dan kemunafikan. Kita pun sering tidak menghiraukan Firman dan membiarkan Firman itu dimakan burung (iblis) hingga habis. Akibatnya Firman yang sebenarnya dapat menyelamatkan jiwa dan kita butuhkan tidak sempat tersimpan dan hilang tanpa bekas. Kita melupakannya dan kehilangan Firman hidup beserta berita keselamatan itu… Ia telah melewati semua kegagalan kita dengan meneteskan darah-Nya di atasnya…

Semak duri dan rumput duri merupakan kutukan bagi manusia yang berdosa (Kej. 3:18) telah pula dikenakan di kepala-Nya. Ketika duri mengenai kepala-Nya, darah dari kepala-Nya mambasahi duri itu dan kutukan pada manusia ditanggung-Nya. Bukankah kekhawatiran dan tipu daya dunia ini sering memenuhi pikiran kita dan ingin merebut kita dari genggaman Kristus? Ketika kita memandang Yesus yang tersalib sedang mengenakan mahkota duri, bukankah Ia seolah-olah mengatakan, “Jangan khawatir lagi anak-Ku, semua kutukan telah Kutanggung… Duri-duri kutukan telah melukai kepala-Ku agar tak lagi melukaimu.”

Batu-batu yang merupakan penindasan dan penganiayaan sering pula membuat Firman “mati” dalam hidup kita. Golgota, tempat Dia disalibkan adalah bukit berbatu bernama “Bukit Tengkorak”… Ketika Dia tiba di sana, semua penindasan dan aniaya telah ditanggung-Nya. Darah-Nya paling banyak tertumpah di tempat itu – dari dua tangan, dua kaki dan lambung-Nya. Kita juga melihat aniaya terberat yang sebenarnya harus kita alami telah ditanggung-Nya di sana.

Di tempat panganiayaan yang terberat itu Ia menyelesaikan misi-Nya dengan penuh kemenangan! Dalam beberapa saat di ambang kematian, Ia masih memakai kesempatan terakhir yang dimiliki-Nya untuk keselamatan orang-orang yang dikasihi-Nya.

  • Di awal “via Dolorosa-Nya”, Ia yang tidak berdosa dihukum mati menggantikan Barabas, penjahat besar penuh dosa, yang sebenarnya layak untuk dihukum.
  • Ia masih memohonkan ampun bagi mereka yang menganiaya-Nya.
  • Ia menyelamatkan seorang penjahat yang sudah diambang siksaan api neraka.
  • Membereskan masalah rumah tangga dan masa depan ibu dan murid yang dikasihi-Nya.
  • Di akhir perjalanan-Nya, Ia membiarkan tubuh-Nya terobek bersama dengan robeknya tirai Bait Suci – jalan ke surga terbuka bahkan kini semua bangsa dapat memasukinya.

Jika Anda merasa hidup atau hati Anda hanyalah sebuah jalanan yang telah mengabaikan Dia dan Firman-Nya, atau seperti tanah berduri atau berbatu yang terimpit penindasan, kekhawatiran hingga tidak menghasilkan apa-apa serta tidak mempunyai akses jalan ke Surga, datanglah kepada-Nya karena Dia telah melalui semuanya dan mau mengubah hati Anda menjadi tanah yang subur untuk menerima Firman hidup hingga hidup Anda dapat berbuah lebat bagi-Nya.