• MEMILIKI PIKIRAN KRISTUS
  • Lemah Putro
  • 2026-03-29
  • Pdm. Eko Wahyudiono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
memiliki-pikiran-kristus

Shalom,

Kalimat “Memiliki pikiran Kristus” tampak sederhana dan datar tidak mengandung nuansa dramatis yang mengesankan tetapi sesungguhnya bermakna sangat dalam. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa dapat memiliki pikiran Kristus seperti ditulis oleh Rasul Paulus, “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus. (1 Kor. 2:16)

Di era 1978, pemerintah mengadakan penataran P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila) dimulai dari SD naik ke jenjang lebih tinggi – SMP – SMA – perguruan tinggi dengan tujuan menyeragamkan pemikiran untuk mengukuhkan nilai ideologi bangsa dari generasi ke generasi berikutnya. Dalam usaha membentuk karakter bangsa yang nasionalis berwawasan kebangsaan yang kuat perlu ditanamkan nilai ideologi yang kukuh di mana pikiran diindoktrinasi agar mempunyai pemikiran yang seragam dari nilai-nilai luhur pendiri bangsa sebelumnya. Demikian pula dengan anak-anak Tuhan, untuk memiliki pikiran Kristus maka pola hidup kita harus mempunyai cara berpikir (dengan rela) dibentuk oleh Kristus, diterangi oleh Roh Kudus dan diarahkan/dipimpin sepenuhnya kepada kehendak Allah. 

Ciri-ciri orang yang dapat memiliki pikiran Kristus menurut 1 Korintus 2:14-16 ialah:

  • Tipe manusia rohani.

Ada dua golongan yang dapat/tidak dapat memiliki pikiran Kristus, yakni:

-     Manusia duniawi (bhs. Yun. psuchikos = natural = alami) yang dikuasai oleh natur manusiawi (ay. 14). Cara berpikir manusia semacam ini berdasarkan akal dan tidak menerima Roh Allah. Mereka sulit menerima/percaya bahwa Roh Allah dapat berdiam di dalam kehidupan manusia. Tentu tidak salah kita berpikir menggunakan logika manusia sebab Tuhan menciptakan manusia dan memberikan otak sebagai alat ukur di kepala untuk berpikir dalam menjalani kehidupan namun juga untuk mengenal siapa Penciptanya. Sayang, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, otaknya cenderung untuk berbuat dosa dan menjauhi hal-hal yang rohani. Sudah seharusnya otak manusia berpikir logis dan dipergunakan pada tempatnya untuk membuat mobil, pesawat, komputer bahkan kecerdasan buatan seperti “AI”, “ChatGPT” dst. Namun kalau pikiran dan akal manusia melulu hanya dipakai untuk perkara duniawi, dia tidak akan mampu mengenal hal-hal rohani karena “beda server”. Misal: bilangan asli/cacah: 1 + 1 + 1 = 3; bilangan biner: 1 + 1 + 1 = 1; sama-sama satu disiplin ilmu dengan kalimat sama, hasilnya dapat berbeda dan sulit dipahami. Bagaimana dapat memahami hal rohani seperti Allah Bapa-Allah Anak-Allah Roh Kudus adalah satu bukan tiga? Juga bagaimana mungkin (Yesus) yang benar dihukum sementara (manusia) yang salah malah diampuni dan dibebaskan? Ini bedanya antara yang rohani dan jasmani; orang di luar Tuhan tidak dapat memahaminya. Namun bagi yang percaya di dalam Tuhan, kita dapat memahaminya oleh karena kasih karunia-Nya yang membuat kita mengerti rencana dan pikiran Allah.

-     Manusia rohani (bhs. Yun. pneumatikos = relating to spirit = bersifat rohani) yang masih hidup dalam tubuh jasmani tetapi ada Roh Allah yang memimpin (ay. 15). Kehidupan orang percaya dipimpin oleh Roh Allah sehingga dapat memahami dan mengerti seluruh rencana Allah. 

Frasa “manusia rohani menilai segala sesuatu” mengandung pengertian bahwa orang yang dipimpin oleh Roh mempunyai kepekaan untuk mengerti dan puncaknya “memiliki pikiran Kristus” (ay. 16). Sungguh tidak ada orang yang mampu mengerti pikiran Kristus tanpa tuntunan Roh Allah! Justru melalui tuntunan Roh Kudus, orang-orang percaya memiliki pemikiran, wawasan, rencana dan tindakan Allah.

Dengan memiliki pikiran Allah, kita berusaha mengenal Dia lebih dalam melalui doa untuk berkomunikasi dengan-Nya, menerima jawaban dari-Nya melalui Firman yang disampaikan atau pembacaan pribadi yang memberikan sukacita. Untuk memiliki pikiran Kristus, kita harus mempunyai cukup waktu dalam membangun relasi dekat dengan Tuhan yang dibangun setiap hari secara konsisten bukan dilakukan sambil lalu. 

Karena hanya manusia rohani yang mampu memiliki pikiran Kristus, kita perlu memberitahu mereka yang berpikiran duniawi sebab mereka juga berhak mendapat kesempatan untuk memahaminya. Kita tidak boleh mencari-cari alasan supaya tidak bersaksi kepada mereka. Kalau kita yang sudah memiliki pikiran Kristus sulit mengajak mereka masuk ke dalam gereja maka gereja harus keluar bersaksi kepada mereka melalui pekerjaan/profesi kita. Pekerjaan kita adalah ladang pelayanan di mana kita mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Di sanalah kita menyaksikan kehendak Allah, kerinduan dan pikiran Allah atas keselamatan manusia. Kita menjangkau mereka melalui pekerjaan kita dengan menyisipkan nilai-nilai iman dan pengajaran; alhasil, mereka akan melihat orang-orang rohani memang berbeda.

Kesaksian Pembicara: di dalam pekerjaan, Beliau mudah dikenali sebagai seorang rohaniawan. Satu hari Beliau bertemu dengan seseorang yang berbadan kekar, muka preman, watak keras juga bicaranya keras. Dia berkata, “Pak Wahyu, tolong doakan saya. Saya ingin berubah!” Dalam hati Beliau merasa orang tersebut aneh karena biasanya orang minta didoakan karena sakit, pekerjaan atau ada masalah. Beliau tidak begitu menanggapinya karena merasa tidak nyaman mendoakan terang-terangan di antara banyak orang yang beragama lain hingga suatu saat Beliau terpojokkan tidak dapat mengelak ketika orang itu mengatakan, “Pak Wahyu kalau tidak mau mendoakan saya, pak Wahyu lebih baik berhenti menjadi pendeta!” Mendengar perkataan ini jiwa rohani Beliau terusik dan di hadapan banyak orang yang beragama lain Beliau berdoa dengan “terpaksa”. Kenyataannya, dia mulai ada sedikit keubahan dan ini adalah karena kemurahan Tuhan semata. Jangan berdalih karena orang itu masih duniawi kemudian kita tidak mau menyaksikan kemurahan Tuhan. Ada saatnya Tuhan izinkan kita bersaksi mempraktikkan iman dalam situasi kepepet. 

  • Hidup menaruh pikiran (bhs. Yun. proneo = to direct one’s mind to a thing) dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp. 2:5-6). 

Kata “menaruh” berarti menyerahkan dengan sukarela (bukan terpaksa) mau dibentuk supaya selaras dengan pikiran dan perasaan Kristus. Pikiran kita diserahkan untuk dibarui supaya memiliki cara berpikir yang sama seperti Kristus – mengadopsi pikiran Kristus menjadi pikiran kita.

1 Korintus 2:16 juga menyebutkan, “kami memiliki pikiran (bhs. Yun. nous = the mind) Kristus. Kata “pikiran” memakai kata berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kata “nous” merujuk pada cara berpikir, akal budi, kapasitas kita berpikir secara rohani. Sedangkan “proneo” adalah kemampuan untuk memahami cara bersikap lebih ke arah gaya hidup. Jadi, “nous”  membuat seseorang mampu memahami kebenaran sementara “proneo”  menghidupi apa yang sudah dipahami (nous). Ilustrasi: kita mengerti (nous) “melayani dengan setia dan rendah hati” itu baik dan benar. Kalau sudah mengerti itu baik, kita menghidupi pelayanan tersebut (proneo) dan mempraktikkannya dengan penuh kesadaran. Untuk dapat melayani dengan setia dan rendah hati perlu arahan dari Firman pengajaran. 

Apa itu Firman pengajaran? Firman yang mengajar, mendidik dari tidak tahu/mengerti menjadi tahu/mengerti (nous) sekaligus mengarahkan dari tidak mau menjadi mau melakukannya (proneo) – dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa mengerjakannya. Kalau cuma sekadar mengerti tetapi tidak menghidupi pengertian tersebut hasilnya nol/nihil. Contoh: kita mengerti mencuri, berdusta, berzina itu dosa tetapi banyak orang tetap melakukannya karena pengertiannya hanya menyentuh nous tetapi proneo-nya tidak diarahkan dan diubahkan ibarat hanya pandai di teori tetapi gagap di lapangan untuk praktiknya. Jadi kita tidak boleh berhenti hanya mengerti Firman (nous) tetapi harus menghidupi Firman tersebut (proneo) menjadi pengalaman hidup. Mengenal Tuhan itu penting tetapi melakukan perintah-Nya yang kita ketahui dengan pikiran kita itu sangat menentukan. 

  • Memiliki sikap rendah hati dan taat (Flp. 2:6-8). 

Kristus mengosongkan diri, menanggalkan hak-hak istimewa-Nya dan merendahkan diri untuk menjangkau manusia berdosa. Sikap merendahkan diri merupakan salah satu tindakan penyangkalan diri terhadap keakuan/ego kita. Dengan rela merendahkan diri, kita mampu memahami kebenaran. Sebaliknya, selama seseorang masih mengedepankan ego dan keakuannya serta membiarkannya bertakhta di dalam hatinya sebagai raja, orang tersebut tidak akan mungkin memiliki pikiran Kristus.  

Aplikasi: untuk mengalami keubahan dan pembaruan pikiran tidak mungkin terjadi secara instan tetapi melalui proses dari waktu ke waktu seumur hidup. Sama seperti hidup berumah tangga, suami/istri tidak dapat mengenal pikiran pasangannya hanya dalam waktu tiga bulan setelah bulan madu. Setiap hari dan seumur hidup masing-masing belajar saling memahami satu sama lain. Untuk menjadi serupa dengan Kristus yang rendah hati juga perlu waktu tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

Selain merendahkan diri-Nya, Yesus taat sampai mati. Ia tidak mencari kesenangan atau hidup bagi diri-Nya sendiri melainkan menyerahkan kehendak-Nya demi manusia berdosa. Kalau kerendahan hati adalah bentuk penyangkalan diri terhadap keinginan; ketaatan adalah penyangkalan terhadap kehendak. Contoh: di Taman Getsemani, Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu daripada-Ku tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39) 

Dalam ketaatan, Yesus mengajarkan bahwa ketaatan adalah harga mati atau taatnya sampai mati. Memang taat itu bagus tetapi ketaatan akan teruji sampai di akhir hidup kita. Ketaatan tidak dapat dipisahkan dengan kesetiaan. Ketaatan dan kesetiaan akan terbukti dan teruji sampai di ujung jalan hidup kita. Hari ini kita setia itu penting tetapi kita taat dan setia sampai akhir hidup kita ini yang menentukan. Jelas, ketaatan itu harga mati artinya ikut Tuhan itu final tidak dapat berubah, ditawar apalagi murtad. Sekali Yesus tetaplah Yesus! Taat dan setia kepada seluruh perintah-Nya itu final. Ketika kita taat kepada satu perintah-Nya, kita jalankan perintah itu tanpa mengabaikan perintah yang lain karena merupakan satu kesatuan.  

Aplikasi: marilah kita belajar taat dan setia kepada Tuhan walau seizin Dia kita menderita dalam ketaatan. Perhatikan, penderitaan karena ketaatan bagi orang percaya bukanlah malapetaka atau musibah tetapi sarana untuk membentuk karakter kita agar pikiran kita menjadi serupa dengan-Nya. 

Kini kita mengerti bahwa hanya manusia rohani yang didiami Roh Allah mampu mengerti pikiran, perasaan dan kehendak Allah. Untuk itu kita harus tetap rendah hati, setia dan taat menuruti perintah Firman-Nya hingga ajal menjemput kita. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: