Shalom,
Sangatlah wajar bila pemilik rumah rajin membersihkan rumahnya agar tampak bersih nan rapi. Berbeda ketika datang berkunjung ke rumah teman sebagai tamu, tentu dia tidak serta merta mengambil sapu untuk membersihkan kotoran yang berceceran di lantai karena rumah itu bukan miliknya. Demikian pula kita bertanggung jawab menjaga kebersihan/kekudusan hidup yang kita miliki.
Rasul Paulus memberikan mandat kepada jemaat Korintus untuk menjaga kekudusan di dalam jemaat itu sendiri dan tidak perlu ikut campur mengurus kekudusan jemaat luar/lain seperti jemaat di Efesus, di Kolose dst.
Perlu diketahui jemaat atau gereja (ekklesia) artinya kerumunan orang yang dipanggil keluar bukan sekadar untuk bersenang-senang tetapi menjadi jemaat yang spesifik yakni dikuduskan (bhs. Yun. hagiazo = set apart for = dipisahkan) bagi Allah. Oleh sebab itu jemaat mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kekudusan seperti bangsa Israel ketika tiba di Gunung Sinai, Tuhan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang kudus, umat kepunyaan-Nya sendiri (Kel. 19:5-6). Itu sebabnya mereka harus menjaga kekudusan karena akan berhadapan dengan Allah sendiri dan ancamannya ialah hukuman mati. Jelas, kekudusan tidak dapat dipermainkan tetapi harus dijaga di dalam jemaat.
Rasul Paulus memerintahkan jemaat untuk menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat bukan berarti dia lepas tangan lalu melempar tanggung jawab kepada jemaat untuk melakukannya tetapi sesungguhnya ini menyangkut satu kesatuan terlepas dia hadir atau tidak (ay. 3) terhadap jemaat yang memelihara dosa tetapi tetap bersikap sombong (ay. 2). Terbukti terjadi pembiaran terhadap dosa yang dilakukan oleh jemaat yang kaya akan karunia dan pengetahuan sehingga mereka bertoleransi dengan pendosa tanpa menegur. Ini bukan tanda kasih tetapi pembiaran akan dosa sebab seharusnya mereka sedih dan malu karena dosa sudah mencemarkan kekudusan jemaat. Mereka tidak memberlakukan disiplin gereja dan menganggap dosa hanyalah sesuatu yang biasa. Mereka menormalisasi (menganggap normal) praktik perselingkuhan bahkan percabulan. Padahal imam Eli pernah ditegur Tuhan karena tidak bertindak tegas terhadap dosa yang terang-terangan dilakukan oleh anak-anaknya (1 Sam. 3:13).
Menjadi masalah besar bila tidak ada pendisiplinan di dalam gereja berupa nasihat dan teguran agar bertobat karena menganggap Yesus sudah mati menebus dosa masa lalu, dosa sekarang dan dosa yang akan datang sehingga seseorang berperilaku sembrono tanpa memerhatikan standar Alkitab. Waspada terhadap aliran kekristenan hypergrace yang mengajarkan bahwa jemaat tidak perlu merasa bersalah ketika berbuat dosa karena dosa sudah ditanggung oleh Yesus di atas kayu Salib.
Perhatikan, jemaat mempunyai tanggung jawab secara keseluruhan untuk menjaga kekudusan. Caranya? Dengan menghakimi bahkan kalau perlu mengusir/menyingkirkan pendosa tersebut.
Pertanyaan: bolehkah kita menghakimi? Bukankah Alkitab mengatakan agar kita tidak menghakimi? Apa kata Paulus tentang “menghakimi” (1 Kor. 4:5)? “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.”
Apakah ini menunjukkan Paulus plin-plan tidak konsisten dengan ucapannya sendiri? Ternyata waktu itu jemaat menilai/menghakimi para rasul, pemimpin gereja, karena favoritisme menurut penampilan dan kefasihan lidah yang tidak ada sangkut pautnya dengan dosa sementara dalam pasal 5 percabulan sebagai kasus dosa yang nyata malah dibiarkan. Dosa kenajisan tidak boleh dibiarkan terus menerus karena ini bukan sekadar kekilafan atau kelemahan tetapi kesengajaan memelihara dosa percabulan. Konsekuensi dari dosa sengaja ialah tidak ada lagi kurban penghapus dosa (Ibr. 10:26).
Berbicara mengenai penghakiman terhadap dosa zina yang terang-terangan dilakukan sepertinya Yesus tidak menghakimi. Benarkah? Ahli Taurat dan orang Farisi seolah-olah mau “menjaga kekudusan” dengan menghakimi perempuan yang berbuat zina di tengah-tengah masyarakat Yahudi mendasarkan penghakiman pada hukum Taurat (Yoh. 8:1-5). Menurut hukum Taurat, pezina (baik yang laki maupun perempuan) harus dibunuh mati (Ul. 22:22). Juga diingatkan seorang laki-laki tidak boleh mengambil istri ayahnya (ay. 30). Baik orang Korintus maupun perempuan zina melakukan dosa sama, dihakimi menurut hukum Taurat tetapi hukumannya “tampak’ beda. Orang Korintus harus diusir dari jemaat sementara Yesus terkesan membebaskan tidak menghukum. Mengapa? Karena ahli Taurat dan orang Farisi jelas melakukannya dengan motivasi jahat ingin menjebak Yesus. Mereka mempunyai keahlian mengondisikan dan mengatur skenario agar momennya pas sesuai yang diinginkannya saat membawa perempuan berdosa itu ke tengah-tengah ibadah dalam Bait Allah. Mereka juga melakukan penghakiman dengan kemunafikan – merasa diri lebih benar kemudian mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap seperti ini dikecam habis oleh Yesus (Mat. 23). Ironis, mereka menuntut orang lain melakukan hukum Taurat padahal mereka sendiri tidak. Itu sebabnya Yesus mengatakan barangsiapa tidak berdosa biarlah dia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan zina itu dengan maksud mau menegur kemunafikan mereka. Mereka menjadi malu sendiri dan meninggalkan perempuan itu.
Kalau begitu bagaimana kita menjaga kekudusan di tengah jemaat? Ada 3 T yakni:
- Tegas terhadap dosa.
Paulus sangat tegas menegur pendosa bahkan mengancam akan diserahkan kepada Iblis agar jiwanya selamat (ay. 5). Dia juga menegur jemaat yang mentoleransi dan melakukan pembiaran terhadap dosa.
Introspeksi: gereja kita terkenal dengan pengajaran Kabar Mempelai, masihkah kita berpegang teguh pada Firman penyucian yang sangat tegas bersikap terhadap dosa kenajisan? Apakah (gereja) kita kompromi terhadap gerakan LGBT bahkan menikahkan pasangan sejenis di dalam gereja?
Benarkah Yesus tidak tegas terhadap dosa dengan melepas perempuan berzina tanpa dihukum? Yesus tidak pernah toleransi terhadap dosa, Ia memperingatkan perempuan itu untuk tidak berbuat dosa lagi. Ia juga menegur ahli Taurat dan orang Farisi apakah mereka sendiri tidak berdosa. Marilah kita menjaga kekudusan di tengah jemaat dan tidak kompromi terhadap dosa. Kita jaga ketegasan terhadap kekudusan dan jangan lengah atau sungkan menegur karena teman baik. Jangan terjadi pembiaran terhadap dosa yang terang-terangan hidup berdampingan dengan kita!
- Tepat dalam menghakimi.
Paulus memulai dari dirinya sendiri kemudian meminta jemaat menghakimi orang di dalam jemaat yang tidak beres pola hidupnya. Ini bentuk tanggung jawab seorang rasul yang memiliki otoritas kerasulan terhadap jemaat. Dan tanggung jawab ini diterapkan dengan tepat bukan seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang menjalankannya dengan kemunafikan – ada motivasi mencari-cari dosa. Ini tidak tepat karena merasa diri sendiri lebih benar daripada pendosa.
Pembelajaran: menghakimi seseorang harus dengan kesadaran bahwa diri sendiri pun hidup karena kasih karunia Allah. Oleh sebab itu jangan “lupa daratan” akan masa lalu kita, kita pun dibebaskan oleh kasih karunia Tuhan maka kita menjalankan penghakiman harus dengan kesadaran semacam itu. Tuhan mengetahui apakah kita mempunyai motivasi tersembunyi atau tidak dalam hati seperti kemunafikan dan niat jahat ahli Taurat dan orang Farisi yang suka menyalahkan orang lain. Sesungguhnya Yesus berhak menghukum tetapi Dia menghakimi dengan kerendahan hati.
Bagaimana praktik menghakimi dengan sikap benar nan tepat di dalam jemaat? Diangkatnya para penatua dan penilik jemaat untuk mengatur rumah Allah/pemerintahan dalam gereja (Tit. 1:5-9). Paulus sangat tertib di bidang administrasi dan organisasi sehingga kalau jemaat diminta untuk menghakimi, mereka harus ada kesepahaman terlebih dahulu bahwa tidak boleh terjadi pembiaran terhadap pendosa tetapi pelaksanaannya harus tertib untuk menghindari kekacauan yang menghancurkan jemaat. Pelaksanaannya dilakukan melalui kebijakan para pimpinan yang sudah Tuhan tetapkan. Jadi bukan semua jemaat ramai-ramai menghakimi orang yang kelihatan berdosa, ini akan menimbulkan kekacauan. Harus ada tata kelola gereja yang jelas dan yang paling penting jemaat harus sehati dan sepikir bahwa dosa harus dihakimi tetapi prosedurnya jelas yakni ditegur empat mata lebih dahulu (tidak dipermalukan di depan umum); kalau tetap tidak mau mendengarkan, pandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah (Mat. 18:15-20).
Aplikasi: kita tidak boleh saling menghakimi sebab dalam menghakimi ada tata kelola dan prosedur yang dilakukan melalui kebijakan dari pimpinan gereja. Sampaikan saja kepada gembala, penatua maka mereka akan menjalankan dengan prosedur yang bijaksana dan tepat seperti yang Yesus perintahkan.
- Tujuannya untuk menyelamatkan.
Rasul Paulus menghakimi bukan untuk menghancurkan sekalipun kalimatnya terdengar kejam yaitu “diserahkan kepada Iblis” tetapi tujuannya supaya rohnya diselamatkan.
Bagaimana cara “mengusir” jemaat (intern) yang melakukan kejahatan di antara jemaat lainnya? “usirlah” orang tersebut berarti dia keluar dari jemaat untuk diserahkan kepada Allah yang akan menghakimi orang di luar jemaat (1Kor.5:13). Allah yang penuh kuasa sanggup menyelamatkan dia. Pemimpin-pemimpin gereja memang menjalankan disiplin gerejawi tetapi hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Tuhan, Hakim adil, yang berkuasa/berdaulat menyelamatkan atau menghukum.
Apa alasan Yesus mengatakan, “Aku pun tidak menghukum kamu..”? Karena Ia menyediakan diri-Nya untuk menerima hukuman dosa yang dilakukan oleh perempuan itu. Dengan kata lain, hukuman tersebut diambil alih oleh Yesus. Ia juga telah memikul dosa kita di kayu salib.
Jadi, kalau Firman Allah datang dengan keras dan tegas, ini bukan untuk menghancurkan tetapi untuk menyelamatkan. Fokusnya bukan pada hukumannya tetapi tujuan keselamatan dari Allah sebab Ia menghajar orang yang dikasih-Nya (Ibr. 12:6). Perhatikan, bentuk dari kasih tidak sekadar berbentuk ucapan dan tindakan yang lembut tetapi juga berupa teguran dan hajaran untuk menghasilkan keselamatan. Jangan tujuan menghakimi karena sentimen pribadi, kejengkelan atau kebencian tetapi dalam konteks kasih Allah!
Aplikasi: hendaknya kita tidak mempertahankan dosa yang disembunyikan dengan rapi tetapi akui di hadapan Tuhan tanpa perlu menunggu untuk diserahkan kepada Iblis. Bertobatlah karena Tuhan tidak dapat ditipu agar kita beroleh keselamatan dari-Nya.
Marilah kita menjaga kekudusan di tengah jemaat dengan bersikap: Tegas terhadap dosa, tidak kompromi maupun toleransi; Tepat menghakimi dengan prosedur yang bijak oleh pimpinan-pimpinan gereja yang telah ditetapkan Tuhan dan Tujuan teguran tersebut untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Dengan demikian pola hidup kudus kita akan menjadi kesaksian hidup bagi jiwa-jiwa yang terhilang agar mereka mengenal Tuhan dan juga beroleh keselamatan di dalam Dia. Amin.