• Menghadapi Ketidakadilan
  • 1 Korintus 6:7-8
  • Johor
  • 2026-08-09
  • Pdt. Budy Avianto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
menghadapi-ketidakadilan

Shalom, 

Ketika masih remaja, Pembicara pernah mengalami ketidakadilan dalam bentuk fitnahan. Waktu itu rumah Beliau di Banyuwangi bersebelahan dengan gereja dan masih satu halaman. Ibadah umum diadakan di pagi hari sementara ibadah Sekolah Minggu di sore hari. Biasanya kalau orang tua pergi ke gereja, anak-anaknya dibawa juga. Ada seorang ibu, teman baik ibu Pembicara, rajin beribadah sendirian sambil membawa anaknya (X) yang sangat nakal. Ibu Beliau selalu berpesan agar tidak terlalu dekat dengan X karena takut “ketularan” nakal. Suatu hari, Beliau diajak oleh X bersepeda ke Ketapang yang berjarak 8-9 km dari Banyuwangi. Beliau tidak minta izin ke orang tua karena pasti tidak diizinkan apalagi pergi bersama X. Setibanya di Ketapang, X mengajak Beliau terjun di daerah kapal bersandar. Beliau menolak tetapi X langsung terjun. Karena lama menunggu X masih berenang, Beliau pulang dahulu karena takut ibadah selesai dan orang tua akan mencarinya. Sore harinya X tidak ibadah Sekolah Minggu.

Seusai ibadah Sekolah Minggu, rumah Beliau didatangi banyak polisi dan Beliau melihat ibunya menangis dan pingsan sementara ayah Beliau menjelaskan ibu X melaporkan kalau Beliau mengajak anaknya ke Ketapang lalu mendorong masuk ke air padahal X tidak dapat berenang. X berteriak minta tolong tetapi ditinggal pulang oleh Beliau. Kemudian polisi membawa Beliau bersama suster ke tempat kejadian perkara karena tuduhan serius tentang pembunuhan. Banyak orang menonton karena baru selesai kebaktian dan Beliau merasa dipermalukan naik mobil polisi ke Ketapang. Tiba di Ketapang, polisi menyusuri sepanjang pantai dengan kapal patroli polisi sambil terus memanggil X tetapi tidak ditemukan “mayatnya” hingga menyeberang ke Gilimanuk. Akhirnya mereka balik ke Banyuwangi dan tiba di rumah pukul 05:00 pagi dari pkl. 19:00 malam sebelumnya. Betapa kagetnya ketika mendengar X bersekolah di pagi itu. Ternyata dia tidak pulang ke rumah setelah berenang tetapi ke rumah temannya. Seluruh rumah sudah terlanjur malu apalagi ayah Beliau penatua gereja dan berita ini sudah menyebar cepat ke gereja lain. Polisi memberitahu orang tua Beliau untuk melaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Namun gembala gereja menenangkan orang tua Beliau supaya tidak melaporkan ibu X karena dia juga jemaat gereja. Puluhan tahun kemudian Beliau bertemu X di pesta pernikahan. X sudah menjadi penatua gereja dan semua anaknya aktif dalam pelayanan.

Firman Tuhan mengingatkan agar tidak mencari keadilan di dunia ini karena sesungguhnya tidak ada keadilan di dunia ini. Kalau ke tempat pengadilan, kita akan mengetahui bahwa sumber ketidakadilan ada di sana. Buktinya, ditemukannya 74 kg emas dan Rp. 476 miliar di rumah Febrie Adriansyah, mantan jampidsus. 

Kita tahu kota Korintus merupakan kota pelabuhan tempat orang berbisnis dan orang asing dari pelbagai suku bangsa, budaya dan agama tinggal sehingga banyak terjadi pemberhalaan tetapi Tuhan menggerakkan Rasul Paulus untuk mendirikan jemaat Korintus dengan dasar kurban Kristus. Sayang, jemaat Korintus masih terdapat banyak masalah – perpecahan, blok-blokan, percabulan, kesombongan, ketidakadilan. Mereka belum sepenuhnya mengalami pembaruan hidup.

Introspeksi: sudahkah pola pikir kita mengalami pembaruan sehingga dapat membedakan mana yang dikehendaki Allah seperti tertulis dalam Roma 12:1-2? Tujuan ibadah kita kepada Allah ialah kita mengalami keubahan hidup, tidak lagi sama dengan dunia. Untuk itu kita tidak boleh mempertahankan kehidupan lama tetapi hidup dalam kekudusan oleh sebab rela ditegur oleh Firman penyucian. 

Apa saja bentuk kehidupan lama yang harus dibuang? Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dsb. Barangsiapa melakukan hal-hal demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 5:19–21). Sebaliknya, Tuhan merindukan kita mengalami pembaruanan hidup dengan memiliki buah Roh berkarakteristik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahan, penguasaan diri (ay. 22-23).

Kalau begitu bagaimana kita menghadapi ketidakadilan?

  • Rela menderita ketidakadilan (ay. 7b). 

Ketika difitnah atau dituduh tanpa alasan jelas, kita berhak melaporkan ke pihak berwajib atas pencemaran nama baik dan dapat dikenakan pelanggaran UU ITE. Namun Firman Tuhan menasihati agar jemaat/umat-Nya rela menderita ketidakadilan. Dengan kata lain tidak saling membalas (kejahatan dengan kejahatan) tetapi kita diajar untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya (Mat. 5:44). Jujur, tidaklah mudah untuk merelakan diri menderita ketidakadilan. Namun Yesus telah memberikan teladan sempurna bagaimana Ia difitnah dan dituduh tanpa alasan jelas (Luk. 23:20-24) hingga rela mati untuk menyelamatkan kita; semua ini dilakukan oleh sebab kasih-Nya kepada kita (Yoh. 3:16). Ia tidak pandang bulu dalam mengasihi manusia, Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik (Mat. 5:45). 

Aplikasi: kita didorong untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya kita. Tuhan ingin kita, orang beriman, tampil beda dari mereka yang tidak mengenal-Nya. Sesungguhnya penderitaan kita tidak sebanding dengan penderitaan Yesus yang telah mencucurkan darah demi kita (Ibr. 12:4).

  • Rela menderita dirugikan (ay. 7c).

Harus diakui sangat sulit menderita dirugikan ketika mengalami ketidakadilan. Namun Yesus sangat dirugikan dan bersikap tutup mulut saat menghadapi cibiran dari orang-orang yang lewat, orang jahat disalib di sebelah Yesus, imam-imam kepala, orang-orang Farisi dll. 

Tuhan menginginkan kita tidak memiliki sikap suka membalas kejahatan dengan kejahatan (1 Ptr. 3:8-12) karena ini merupakan sikap kehidupan lama. Ia juga mengajarkan bahwa seorang hamba tidak boleh bertengkar (2 Tim. 2:24-26). Mengapa? Siapakah kita dahulu? Bukankah kita hamba dosa, hamba ketidakbenaran dan hamba ketidakadilan yang menunggu waktu untuk dihukum? Namun kini kita diselamatkan dan menjadi hamba kebenaran. 

Lebih lanjut, Tuhan menegaskan bahwa pembalasan adalah haknya Allah (Rm. 12:17-19) walau kita mempunyai kedudukan, uang, kuasa untuk membalas. Jangan meniru sikap jemaat Korintus yang sombong/angkuh, tidak mau direndahkan kemudian membalas lawannya. 

  • Tidak menjadi penyebab ketidakadilan (ay. 8).

Kalau sebelumnya kita dizalimi, kini kita diingatkan supaya tidak menjadi penyebab ketidakadilan. Tuhan itu maha adil, Ia melihat dari dua sisi supaya seimbang seperti simbol timbangan dalam dunia pengadilan. Maksud keadilan di sini ialah kita tidak terus menerus menarget orang lain tetapi juga mengoreksi diri sendiri bahkan keluarga dan rumah tangga kita untuk tidak menjadi penyebab ketidakadilan. Coba periksa: sudahkah istri tunduk (tidak membuat masalah) kepada suami (Kol. 3:18)? Sudahkah suami mengasihi istri dan tidak berlaku kasar kepadanya (ay. 19)? Sudahkah anak-anak menaati orang tua dalam segala hal (ay. 20)? 

Ayah diminta untuk tidak menyakiti hati anak supaya tidak tawar hatinya (ay. 21).  Hamba menaati tuannya yang di dunia ini dalam segala hal dengan tulus hati karena takut akan Tuhan (ay. 22). Tuan/majikan harus berlaku adil dan jujur terhadap hambanya sebab dia mempunyai tuan di Surga (Kol. 4:1). 

Aplikasi: hendaknya kita tidak mencari keuntungan diri sendiri hingga mengorbankan dan merugikan hak orang lain. Misal: kalau perusahaan untung, gaji karyawan dapat dinaikkan atau dapat memberikan bonus akhir tahun. Jangan berlagak rugi terus untuk memperkaya diri sendiri; ini namanya tidak adil! 

Kini kita mengetahui bagaimana harus bersikap terhadap ketidakadilan. Sebagai orang beriman, kita harus menaati Firman Tuhan. Ketika menghadapi ketidakadilan, kita harus rela menderita dan tidak gampang membalas walau diperlakukan tidak adil sebab pembalasan adalah hak Tuhan. Namun jangan pula kita menjadi penyebab ketidakadilan (1 Kor. 6:9) sebab Tuhan kita itu mahaadil. Hendaknya kita menjadi hamba kebenaran yang taat melakukan Firman-Nya dan sudah dijanjikan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga karena kita adalah milik-Nya. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: