Shalom,
Perlu diketahui Tuhan sangat peduli akan kekudusan hidup gereja/jemaat-Nya. Untuk itu Firman Tuhan mengingatkan agar kita meninggalkan segala sesuatu yang cemar nan cabul untuk hidup kudus dengan menjaga pergaulan yang sehat di tengah-tengah dunia yang gelap dan bengkok ini.
Apa alasan Tuhan meminta kita menjaga pergaulan yang sehat?
- Karena ini adalah kehendak Tuhan (ay. 9).
Surat Rasul Paulus yang diilhamkan Allah bernadakan peringatan (2 Tim. 3:16) sudah dikanonisasi menjadi Firman Allah yang berotoritas Ilahi. Dengan demikian ‘jangan bergaul (not to mix up together = tidak bercampur) dengan orang-orang cabul adalah kehendak Tuhan yang perlu kita ingat dan lakukan.
“Bergaul” bicara tentang hubungan/relasi yang dilakukan dengan sengaja dan sadar. Di zaman Paulus, orang yang bergaul dengan si A ditunjukkan dengan makan bersama. Di zaman sekarang lebih sering disebut “ngopi bareng” untuk menunjukkan relasi cukup dekat.
Percabulan merupakan hal lumrah bagi penduduk Korintus karena Korintus terkenal dengan kota amoral bahkan dalam ritual keagamaan mereka ada pelacur-pelacur bakti. Oleh sebab itu Tuhan memperingatkan jemaat Korintus untuk memerhatikan pergaulan yang sehat sebab mereka sudah dipanggil menjadi orang-orang kudus (1 Kor. 1:1). Mereka diminta untuk berhenti bergaul dengan orang-orang cabul – mereka yang tidak menghormati kekudusan nikah dan memandang pemuasan seks sebagai hal utama yang perlu dikejar dalam hidup.
Aplikasi: kita adalah jemaat yang dikuduskan oleh darah Anak Domba Allah yang kudus. Kita harus menjaga kekudusan dari ragi percabulan supaya tidak mengkhamiri seluruh jemaat untuk ikut terjerumus dalam dosa percabulan. Kita juga harus berhenti bergaul dengan mereka yang melakukan praktik menjijikkan itu. Sikap dan tindakan Yusuf menjadi contoh saat digoda oleh istri Potifar; Yusuf lari menjauh dari perempuan itu. Jujur, kita tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri, kita perlu kekuatan Roh Kudus sebab kita dikuduskan dan dipisahkan dari bangsa-bangsa lain untuk menjadi milik Tuhan (Im. 20:26).
Bagaimana kita mempraktikkan kekudusan dalam keseharian hidup? Kita tidak menyerahkan anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman tetapi menyerahkannya kepada Allah untuk dipakai menjadi senjata kebenaran (Rm. 6:12-13). Ilustrasi: ketika sepeda motor yang kita rawat dan sayangi mau dipinjam/dipakai teman untuk melakukan kejahatan, kita tentu dengan tegas menolak menyerahkan kendaraan kita kepadanya.
- Untuk menjadi garam dan terang dunia (ay. 10)
Menjaga pergaulan yang sehat bukan berarti kita harus keluar dari dunia ini tetapi menjadi garam dan terang dunia di dalamnya – di rumah dan lingkungan kita. Ilustrasi: ikan yang hidup di laut (asin) tidak terpengaruh oleh asinnya air laut; demikian pula kita (yang sudah dikuduskan) hidup di dunia kotor ini tidak berperilaku seperti kelakuan orang dunia. Karena tidak mungkin kita mengisolasi diri dan pilih-pilih ketika pergi ke pasar atau ke Mall yang cuma berisi orang Kristen tetapi perilaku kita harus menjadi saksi bahwa kita adalah orang Kristen yang tampil beda dari sepak terjang mereka yang tidak mengenal Tuhan. Bukankah Tuhan memerintahkan kita untuk keluar menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8)? Sikap, perkataan, tindakan dan perilaku kita yang sudah diubahkan Firman menggerakkan mereka yang belum/tidak mengenal Tuhan untuk mencari tahu mengapa kita dapat berubah dan hal itu dapat menjadi jembatan di mana Injil dapat diberitakan.
- Untuk menunjukkan ketegasan menolak orang Kristen palsu (ay. 11).
“....yang menyebut dirinya saudara” berarti orang ini menempatkan diri atau mengaku orang Kristen tetapi pola hidupnya tetap berkanjang pada kecemaran dan dosa alias tidak mau berubah walau sudah mendengarkan teguran Firman Tuhan.
Firman Tuhan dengan tegas memperingatkan kita bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor. 15:33). Kita tidak boleh menoleransi perbuatan buruknya karena pasti akan mengontaminasi sedikitnya pemikiran kita dengan memperingan konsep dosa. Kita harus berhenti bergaul dengan orang semacam ini karena dalam praktik hidupnya dia mengusung ketidaktaatan melawan kekudusan Allah secara sadar dan terus menerus. Dia membiarkan dirinya dikuasai oleh roh percabulan yang menjadi raja di hatinya sehingga semua nafsu dan energi diarahkan untuk memenuhi hasrat seksualnya bahkan berani menabrak hukum perkawinan yang kudus.
Selain tidak boleh bergaul dengan orang cabul tetapi mengaku Kristen, kita juga dilarang bergaul dengan mereka yang juga mengaku Kristen tetapi terus menerus mempertahankan sifat berdosa di antaranya:
-
- Orang kikir: pelit, dikuasai nafsu yang tidak terkendali untuk mendapatkan lebih banyak lagi, tidak pernah puas dengan apa yang ada kalau perlu merampas milik orang lain.
- Penyembah berhala: orang ini terus menerus mengabdikan diri untuk memenuhi keinginan diri sendiri atau uang atau hobi dll. yang diberhalakan dan menyingkirkan Tuhan.
- Pemfitnah: orang ini melukai dengan kata-kata bersifat menghina. Sifat pemfitnah ini bukan kekhilafan sesaat tetapi sudah menjadi watak yang menetap dan terus menerus dilakukan.
- Pemabuk: orang ini dengan sadar membiarkan dirinya dikuasai/dikendalikan oleh alkohol. Ini pun bukan khilaf sesaat tetapi memang dilakukan terus menerus.
- Penipu: penipu yang rakus, pemerah, penjarah bukan dalam skala kecil, menunjukkan hati pemangsa yang tega melanggar kebenaran, keadilan dan belas kasihan demi memuaskan nafsu egoismenya.
Ketegasan kita untuk tidak bergaul dengan mereka memberi signal kuat bahwa dosa bukanlah sesuatu yang dapat diremehkan atau dipermainkan. Dosa sekecil apa pun tetap serius di mata Tuhan dan harus dibereskan sebab kekudusan hidup menjadi prioritas untuk menyaksikan bahwa Tuhan nyata hidup di dalam kita.
Kalau begitu apa karakteristik kekristenan yang sejati? Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17).
Aplikasi: marilah kita, jemaat, bersedia dikoreksi dan disucikan Tuhan oleh Firman-Nya juga dapat melalui disiplin gereja sebagai salah satu bentuk kasih Tuhan untuk menyelamatkan dan menguduskan kita, jemaat, yang sudah ditunangkan dengan Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi mempelai perempuan-Nya.
Marilah kita mengejar pergaulan yang sehat karena ini adalah kehendak Tuhan, untuk menjadi garam dan terang bagi orang-orang di sekitar serta menunjukkan ketegasan menolak orang Kristen palsu. Oleh sebab itu jauhi pergaulan dengan mereka yang mengaku orang Kristen tetapi hidup dalam pencemaran dosa. Sebaliknya, lakukan perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan dan diperkenan oleh-Nya. Amin.