• MENJAGA PERGAULAN YANG SEHAT
  • 1 Korintus 5:9-11
  • Lemah Putro
  • 2026-07-19
  • Pdp. Arnold Sutandharu
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
menjaga-pergaulan-yang-sehat

Shalom,

Berbicara mengenai pergaulan yang sehat, seperti apa bentuk pergaulan yang sehat itu? Apakah jika setiap anggotanya diterima dengan baik tidak dimusuhi? Atau bila anggota-anggotanya berkontribusi, memberi atau  membawa sesuatu dan saling melayani? Atau antar anggota (kaya, miskin, tua, muda, dst.) tidak membeda-bedakan tetapi semua guyup? Atau pergaulan positif yang membuat semua anggota merasa sejahtera dan diperhatikan?

Namun apa yang dimaksud oleh Rasul Paulus dengan pergaulan sehat di dalam gereja?

Sangat gamblang ditegaskan bahwa kita tidak boleh bergaul apalagi makan bersama dengan orang yang menyebut dirinya saudara (beriman, orang Kristen) tetapi dia cabul, tamak, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu (ay. 11).  

Jadi pergaulan yang sehat bukan diukur dari seberapa kompak, seberapa dekat, seberapa kolaboratif, seberapa kreatif, seberapa saling menerima dll. tetapi dinilai dari bagaimana dosa diperlakukan di dalam pergaulan itu. 

Seberapa tegas kita bertindak terhadap mereka yang melakukan pelanggaran tersebut? Jika seorang terbukti atau tertangkap basah melakukan dosa pelanggaran, rekan-rekan sepergaulan yang rohani tidak diharapkan untuk menerima orang ini apa adanya tetapi berkewajiban memimpin (to restore = memulihkan) orang itu untuk kembali ke jalan yang benar (Gal. 6:1). Harus diakui tidaklah mudah untuk merestorasi teman, saudara, istri/suami, anak, orang tua untuk kembali kepada jalan yang benar. 

Apa tujuan dilakukan pendisiplinan dalam merestorasi pergaulan yang tidak sehat? Kalau seorang percaya tetap tidak mau melepaskan dosanya, jangan bergaul dengannya supaya ia menjadi malu. Namun jangan menganggapnya sebagai musuh tetapi tegurlah sebagai saudara sebab Tuhan, sumber sejahtera, yang terus menerus mengaruniakan damai sejahtera dan menyertai kita (2 Tes. 3:14-15). Bila kita melibatkan Tuhan dalam masalah ini, kita dapat meminimalkan timbulnya konflik karena Ia mengaruniakan damai sejahtera-Nya.

Tampak kontradiksi – jangan bergaul dengannya tetapi jangan lupa dia adalah saudara kita. Ini prinsip di dalam menegur saudara seiman. Kita tidak boleh menerima dosanya tetapi berkewajiban memimpin/merestorasi dia ke jalan yang benar dengan roh lemah lembut dan kewaspadaan supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. 

Sebenarnya gereja mana pun kesulitan menegur anggota jemaat yang melakukan kesalahan semacam ini. Coba bayangkan pelaku percabulan sedang duduk di antara kumpulan jemaat Korintus kemudian mendengar teguran keras dari surat Rasul Paulus (ay. 1). Apa reaksinya? Dia mungkin akan berpikir: “Rasul Paulus, kamu memang pendiri jemaat tetapi urusanku dengan istri ayahku adalah urusanku bukan urusanmu! Mengapa mau ikut campur, apa kurang kerjaankah? Aku tidak merasa itu dosa dan kalaupun itu dosa, itu urusanku dengan Tuhan! 

Bukankah reaksi seperti ini sering kita lakukan ketika pendeta/gembala menyampaikan Firman bernada teguran yang mengena kepada kita? Sesungguhnya saat Firman Tuhan atau sesama jemaat membongkar dosa kita, kita harus rela untuk mau ditegur.  

Mengapa orang harus berani menegur dan orang yang ditegur rela menerimanya?

  • Karena dosa mencemari Tubuh Kristus (ay. 6).

Ternyata dosa sifatnya seperti ragi walaupun sedikit/kecil dan orang tidak tahu, dosa tersebut mencemari jemaat. Contoh: dosa Akhan tampak kecil tidak ada artinya dibandingkan prestasi bangsa Israel yang besar dapat meruntuhkan tembok Yerikho. Akhan cuma mengambil jubah, perak dan sebatang emas tetapi dosa yang “kecil’ ini membuat seluruh bangsa Israel kalah telak menghadapi kota kecil Ai (Yos. 7).

Jelas dosa sekecil apa pun tidak boleh dianggap ringan sebab mencemari Tubuh Kristus. Ragi tidak mempunyai tempat di meja makan untuk bersanding dengan kurban Kristus, domba Paskah tersembelih. Ia sudah membayar dengan harga yang sangat mahal supaya kita masuk dalam suasana Paskah. Pantaskah kita dengan sengaja membawa ragi dosa bersanding dengan Domba Paskah? 

Aplikasi: hendaknya kita berhenti bersikap egois kalau ditegur oleh saudara seiman atau teman sepergaulan yang selevel, bukan atasan kita. Waspada, dosa tidak akan pernah berhenti tetapi berkembang mencemari orang-orang di sekitar kita. Jangan pernah menganggap dosa selingkuh hanya urusan pribadi tidak kena mengena dengan jemaat! Jangan menyepelekan dosa yang tampak kecil seperti kecanduan merokok, judi dan masih banyak lagi karena cepat atau lambat akan merusak seluruh jemaat Tuhan di mana kita bergaul. 

  • Mengkhianati identitas dan pengakuan sebagai orang Kristen (ay. 9). 

Jangan mengaku sebagai orang Kristen tetapi berkelakuan buruk seperti: tukang mabuk, tukang selingkuh, tukang tipu, tukang suap/sogok, malas dan hidup tidak teratur dst.! Sebaliknya, pernahkah kita berpikir dan sadar bahwa kita mengaku orang Kristen tetapi masih memelihara dosa yang kita senangi? Dosa mengkhianati identitas kekristenan kita, misal: saya seorang pendeta (Kristen) tetapi saya suka main mata melihat wanita cantik dll. 

Tidak bergaul dengan semua orang cabul, orang kikir, penipu atau penyembah berhala (ay. 10) bukan berarti kita “hidup dalam gelembung” – hidup di dunia sendiri tidak bertemu orang sama sekali. Kita tetap bergaul dengan mereka di luar tetapi harus hati-hati terhadap orang yang mengaku Kristen tetapi berperilaku pendosa. 

Tahukah siapa yang menjadikan kita saudara (seiman)? Ingat, status kita sebagai saudara bukan karena inisiatif kita sendiri tetapi Kristus Yesus yang menjadikan kita keluarga Allah (Ef. 2:19). Dari sinilah awal kita mempunyai  identitas “saudara” yang harganya sangat mahal itulah darah Kristus yang mana Allah menjadi manusia, mati di kayu salib dan membeli/menebus kita dengan darah-Nya sehingga kita sekarang boleh disebut saudara di dalam Tuhan. 

Perhatikan, dosa mengkhianati identitas yang Kristus berikan. Misal: kita mengaku orang percaya tetapi terus-menerus melakukan dosa; perilaku semacam ini menyangkal dan mengkhianati pengakuan kita sebagai orang percaya. Ilustrasi: seorang istri memakai cincin kawin sebagai janji setia kepada suami hingga maut memisahkan tetapi tinggal bersama lelaki lain dari hari ke hari. Memang dia masih beridentitas seorang istri dengan tanda memakai cincin kawin tetapi perilakunya menyangkal eksistensinya sebagai seorang istri. Demikian pula kondisi jemaat Korintus yang mengaku masih keluarga Allah tetapi hidup dalam keberdosaan. Itu sebabnya Paulus menegur dengan tegas untuk menjauhkannya dari pergaulan bukan dengan maksud agar dia mati tetapi supaya jiwanya selamat. 

Aplikasi: karena bersaudara, jangan marah saat Firman Tuhan atau sesama jemaat menegur dosa kita. Makin keras tegurannya, ini bukti kasih Allah yang mengingatkan bahwa kita suka memelihara dosa dan sedang berjalan menuju kemurtadan.  

  • Dosa merusak meja persekutuan keluarga Allah (ay. 11).

Rasul Paulus menegur keras, “Janganlah kamu sekali-kali makan bersama orang yang semacam itu (orang yang mengaku Kristen tetapi hidup di dalam dosa).”

Kalau sebelumnya jemaat dapat makan bersama (menandakan suatu penerimaan dan kekeluargaan), saat Paulus memerintahkan untuk tidak makan bersama lagi sebagai bentuk pendisiplinan gereja maka timbullah keretakan yang tidak dapat dihindari. 

Harus diakui bentuk pendisiplinan yang dilakukan gereja merupakan proses yang rumit, sulit dan membutuhkan kebijaksanaan serta damai sejahtera dari Tuhan. Waspada, dosa menimbulkan keretakan, kerusakan pada meja persukutuan keluarga Allah. Apa pun yang terjadi, dosa tidak boleh dibiarkan tetapi harus dienyahkan dari antara jemaat.  

Kini kita mengerti dosa merusak gereja secara keseluruhan. Apa reaksi kita saat ditegur untuk didisiplinkan karena kita bukan sekadar berbuat kesalahan tetapi memelihara dosa? Jangan menganggap kita “dibuang” ketika dijauhkan dari persukutuan gereja akibat kita tetap mempertahankan dosa! Karena kita masih berstatus anak Tuhan/orang percaya, teguran keras dan menyakitkan adalah cara Tuhan mengundang kita kembali kepada-Nya untuk masuk dalam pergaulan yang sehat. Semua ini dilakukan sebagai bukti Tuhan masih peduli dan mengasihi agar kita tidak terbuang selamanya. Jangan terkecoh dengan kerasnya disiplin seakan-akan kita sudah tidak diinginkan dan dibuang, tetapi mari kita mengingat apa yang melandasi disiplin tersebut yakni kasih Allah melalui jemaat yang merindukan kita lepas dari dosa dan berbalik kepada Tuhan. Harus diakui kita masih berdosa, tetapi jangan kita hidup di dalam dosa! Kita harus memiliki kerelaan untuk melepaskan dosa itu dengan mengakuinya di hadapan Tuhan. Ia pasti dengan senang hati membebaskan kita dari belenggu dosa sebab ini yang selalu diinginkan-Nya. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: