• MENJAGA KEKUDUSAN DI TENGAH JEMAAT
  • 1 Korintus 5:12-13
  • Johor
  • 2026-07-26
  • Pdt. Setio Dharma Kusuma
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
menjaga_kekudusan_di_tengah_jemaat

Shalom,

Bagaimana reaksi Anda melihat para pekerja gereja Johor sibuk membersihkan rumah dan halaman tetangga sementara kondisi gereja sendiri tidak diurus – tanaman dibiarkan tinggi, lumut menebal di tembok yang lembap bahkan sampah berbau busuk tidak dibuang. Dalam lingkup lebih kecil, seorang ibu tak henti-hentinya mengomentari baju dan penampilan temannya yang dianggap tidak cocok tetapi tidak pernah memerhatikan baju suami dan baju anak-anaknya yang amburadul. Apa komentar Anda?

Hal ini juga terjadi pada jemaat Korintus yang penuh dengan karunia rohani. Mereka begitu bangga tidak kekurangan karunia Roh apa pun. Namun ternyata di dalamnya ada dosa begitu besar, yaitu seseorang tidur dengan istri ayahnya. Tampak hebat dan luar biasa tetapi di tengah-tengah membanggakan semuanya itu, ada dosa percabulan. Melihat kondisi ini Paulus menegur dengan lugas dan keras, “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.”  (ay. 12-13)

Perlu diketahui kota Korintus saat itu terkenal sebagai kota metropolitan, makmur, memiliki pelabuhan dan menjadi pusat perdagangan. Namun bicara tentang moral, kota ini sangat bobrok karena kuil-kuil di sana disertai dengan pelacuran. Bagaimana dengan kondisi jemaat di Korintus? Mereka kaya dalam segala macam perkataan dan pengetahuan, tidak kekurangan dalam karunia apa pun (1 Kor. 1:4-7) namun ada percabulan yang tidak terdapat di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah dan sombong (1 Kor. 5:1). Bukankah sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang (ay. 6)? Mereka termasuk bebal karena sudah mengetahui adanya dosa tetapi tetap  diam dan membiarkannya terjadi. Benarkah dosa semacam ini merupakan urusan pribadi pelaku dengan Tuhan tidak mencemari orang lain?

Kalau begitu bagaimana kita menjaga kekudusan di tengah jemaat? 

  • Dengan saling menjaga bukan saling menghakimi dengan sembarangan. 

Kata “menghakimi” = to select = menyeleksi, menilai dan memberikan tindakan disiplin dalam persekutuan. Menghakimi di sini bukan berarti menggosip atau mengkritik sembarangan karena merupakan tanggung jawab bersama. Beda dengan “menghakimi” dalam Matius 7:1 di mana Tuhan melarang menghakimi karena konteksnya menghakimi dengan kemunafikan dan kesombongan (ay. 3). Contoh: kasus yang melibatkan kejaksaan dan kepolisian. Kita sebagai warga Negara Indonesia menangis melihat polah tingkah para pemimpin kita yang korup. Kasus ini melibatkan orang-orang di luar jemaat dan ini bukan urusan kita sehingga kita tidak perlu memberikan keputusan/disiplin gerejawi karena bukan kewenangan kita. Kita hanya dapat mendengar dan mendoakan mereka. Jemaat bertanggung jawab terhadap kekudusan internal gereja. 

Perhatikan, disiplin gerejawi dilakukan dengan tujuan yang jelas yaitu untuk pemulihan bukan untuk menghancurkan bukan pula sekadar untuk menghukum. Ilustrasi: kita melarang anak kita yang main HP berjam-jam. Ketika si anak masih membandel, kita rampas HPnya kemudian memberikan batasan waktu untuk bermain. Dia pasti memberontak tetapi kita beri penjelasan dan nasihat tentang side effect orang yang kecanduan main HP. Pendisiplinan harus keluar dari niat hati yang mengasihi bukan untuk menindas atau menghancurkan masa depan anak. Demikian pula dengan pendisiplinan di dalam jemaat untuk dosa serius menyangkut dosa percabulan – melakukan hubungan seks dengan ibu tirinya sendiri.

  • Dengan memercayakan penghakiman sepenuhnya ada di tangan Allah.

Yakinlah bahwa mereka yang di luar jemaat (tidak percaya kepada Kristus) akan dihakimi Allah! Kita tidak dapat dan tidak perlu memperbaiki seluruh dunia karena kita tidak mampu melakukannya. Tugas kita ialah memberitakan Injil dan menjadi terang sementara penghakiman itu urusan Allah. Jadi menghadapi ketidakadilan dan korupsi yang melanda hebat di Indonesia, kita tidak perlu marah berlebihan. Yakinlah Ia akan menghakimi dengan adil! 

Kita tidak perlu menjadi bagian dari netizen yang berkomentar membicarakan kasus orang di luar Kristus. Sebaliknya, kita lebih baik memerhatikan dan peduli dengan kondisi jemaat intern yang membutuhkan bantuan, yang ada pergumulan, bahkan menghadapi tantangan dosa. 

Mengapa dosa pribadi mempunyai efek terhadap jemaat? Bukankah ini hanya urusan pribadi kita dengan Tuhan? Kembali kepada asal mula dosa, apa efek dari kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa? (1) Ular dikutuk dan terjadi permusuhan antara perempuan dan keturunannya dengan ular, keturunannya akan meremukkan kepala ular, (2) Hawa kesakitan saat akan melahirkan (3) Adam akan bersusah payah mencari rezeki  (4) tanah/alam semesta dikutuk. 

Yang makan buah terlarang ialah Adam dan Hawa tetapi yang kena getah semua keturunannya termasuk kita sebagai dampak dari dosa. Begitu pula dalam komunitas tubuh Kristus, kalau “tangan kiri” sakit kita tidak akan mendiamkannya apalagi diamputasi/dibuang padahal sakitnya ringan. Kita pasti berusaha apa pun agar tangan kita sembuh. Demikian juga kalau sesama anggota ada masalah, kita tidak langsung membuangnya tetapi memberikan pertolongan kepadanya. Jujur, tidak mudah menasihati atau menegur orang yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan; itu sebabnya sebelum menasihati kita perlu berdoa lebih dahulu. 

  • Dengan pendisplinan yang bertujuan pemulihan (ay. 13a).

Jujur kita harus berkaca dahulu sebelum mengusir pelaku kejahatan karena kita sendiri banyak dosanya. Memang saat itu terjadi pendisiplinan yang sekarang disebut ekskomunikasi, artinya: pengucilan orang dari keanggotaan jemaat. Ini berlaku bagi orang yang tidak mau dinasehati dan tidak mau bertobat. Namun perlu diketahui niat hati mengucilkan bukanlah untuk menghancurkan atau menghukum total tetapi bertujuan pemulihan sebab akhirnya pelaku ini bertobat (2 Kor. 2:6-8). 

Kenyataannya, ketika pendosa dikucilkan dari gereja, dia malah tersinggung dan marah kemudian pindah ke gereja lain. Sebenarnya sebelum hal ini terjadi, Tuhan sudah memberikan langkah-langkah pendisiplinan untuk diterapkan, yakni: menegur di bawah empat mata bukan digosipkan; jika tidak mau mendengarkan bawa dua atau tiga saksi tetapi masih dalam lingkungan tertutup; jika tetap keukeuh tidak mau mendengarkan, sampaikan permasalahannya kepada jemaat; jika tetap ngotot tidak mau mendengarkan jemaat, tidak ada jalan lain kecuali memandangnya sebagai orang yang tidak mengenal Allah (Mat. 18:15-17). Sungguh Tuhan dapat memberikan hikmat dan jalan kalau niat kita serius untuk menjaga kekudusan di tengah jemaat.

Aplikasi: untuk menerapkan langkah-langkah pendekatan sebelum mengekskomunikasi pelaku dosa, perlu diperhatikan bahwa para penasihat harus mempunyai hati tidak untuk menghancurkan atau memusuhi atau menasihati dengan kalimat menghakimi bernada kesombongan sebab penghakiman sebenarnya adalah haknya Tuhan tetapi berkerinduan agar sesama kita berbalik kepada Tuhan. 

Marilah kita menjaga kekudusan di tengah jemaat dengan saling menjaga bukan saling menghakimi dengan sembarangan, memercayakan bahwa penghakiman itu sepenuhnya ada di tangan Tuhan dan pendisiplinan bertujuan untuk memulihkan. Dengan demikian masing-masing kita sebagai anggota tubuh Kristus akan tumbuh sehat di dalam kekudusan hidup yang siap menyongsong Kepala gereja itulah Tuhan Yesus Kristus. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: