• BERPESTA DENGAN KEMURNIAN DAN KEBENARAN
  • 1 Korintus 5:6-8
  • Johor
  • 2026-07-12
  • Pdt. Edi Sugianto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
berpesta_dengan_kemurnian_dan_kebenaran

Shalom,

Bagaimana reaksi kita saat diajak ke pesta bersuasana sukacita untuk merayakan sesuatu yang penting di dalam kehidupan kita? Terlebih lagi undangan pesta dengan kemurnian dan kebenaran, namun apa yang perlu diperhatikan?

  • Harus didasarkan pada kurban Paskah itulah Kristus (ay. 7b-8a).

“...Sebab Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta,...” (1Kor 5:7b-8a).

Kita berpesta berdasarkan domba Paskah yang tersembelih itulah Kristus yang sudah menyelamatkan dan menebus kehidupan umat-Nya. Firman Tuhan mendorong kita untuk senantiasa merayakan Paskah bukan sebatas setahun sekali, namun setiap hari, yaitu hidup bersuasana pesta dengan selalu mengagungkan kurban-Nya. 

Paskah bagi orang Yahudi merupakan perayaan tahun baru – hari kemerdekaan bagi mereka karena keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Domba Paskah yang disembelih menggantikan kematian anak-anak sulung orang Israel juga bangsa-bangsa lain yang percaya kepada Tuhan. Mereka kemudian merayakannya dengan sukacita setiap tahun sebagai peringatan kelepasan dari perbudakan orang Mesir. 

Aplikasi: kita, orang-orang yang percaya kepada Tuhan, juga telah dibebaskan dari kematian hukum dosa di mana Kristus menggantikan posisi kita dengan kematian-Nya disalib. Semua utang dosa kita sudah dibayar lunas oleh-Nya dan kita akan makin bersyukur kepada-Nya bila menyadari kita tidak sanggup membayar utang dosa tanpa-Nya. Itu sebabnya kita patut bersuasanakan pesta penuh sukacita setiap hari karena masalah utama (penebusan dosa) telah diselesaikan oleh Tuhan. Walau masih menghadapi masalah yang ada, jangan pernah meninggalkan-Nya karena Ia akan menyelesaikan dengan cara dan waktu-Nya sendiri. 

  • Dimulai dengan membuang roti beragi itulah kehidupan lama (ay. 7a). 

Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.  Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan & kejahatan…(1Kor 5:7-8b).

Roti beragi menggambarkan kehidupan manusia lama yang diperhamba oleh dosa dan ini harus dibuang dari kehidupan kita untuk dapat berpesta dengan kemurnian dan kebenaran. Ragi lama yang dimaksud oleh Rasul Paulus di sini ialah ragi keburukan dan kejahatan (ay. 8). Yesus juga mengingatkan untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Herodes (Mrk. 8:15) itulah ajaran yang bertentangan dengan kehendak Allah.  

Kehidupan lama harus ditinggalkan, jangan mencontoh bangsa Israel yang ingin kembali kepada kehidupan lama (Mesir) begitu menghadapi permasalahan (1 Kor. 10:1-11). Mereka belum dapat move on dengan kondisi di Mesir padahal mereka diperbudak dan ditindas di sana dan sudah mengalami Paskah – pertolongan Tuhan yang melepaskan mereka menjadi umat baru di bawah pimpinan-Nya. Tuhan sudah mewanti-wanti mereka untuk tidak mengikuti kebiasaan orang Mesir maupun orang Kanaan (Im. 18:1) tetapi melakukan peraturan-Nya (ay. 4). Mereka harus memiliki standar hidup baru yang ditetapkan oleh Tuhan namun mereka malah memberontak kepada-Nya, melakukan perzinaan, percabulan bahkan pemberhalaan sehingga Tuhan membinasakan mereka dan hanya dua orang, Yosua dan Kaleb, bersama generasi baru yang lahir di padang gurun yang masuk ke Tanah Kanaan.  

Permasalahan jemaat di Korintus ialah (ragi) dosa percabulan (ay. 1) seperti dilakukan oleh orang Israel yang melanggar perintah Tuhan (Im. 18:6-8) dengan sanksi dilenyapkan dari tengah bangsanya (ay. 28-30). Rasul Paulus dengan tegas mengingatkan pelaku percabulan yang tidak bertobat harus diserahkan kepada Iblis agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. Roh percabulan bagaikan penyakit kanker yang mana sel-sel kankernya harus dibuang agar tidak menyebar ke mana-mana merusak anggota tubuh yang sehat. Lebih parah lagi, sudah melakukan dosa percabulan, mereka masih sombong tidak berdukacita (tidak merasa bersalah).  

Aplikasi: kita sudah diselamatkan oleh Tuhan dan harus membuang ragi dosa termasuk dosa percabulan. Oleh sebab itu kita harus menjaga kekudusan hidup agar tidak melanggar hukum nikah dan hukum kekudusan. Jangan ada orang ketiga di antara suami-istri atau kita menjadi orang ketiga di antara pasangan suami-istri yang sah! Percabulan di sini tidak hanya sebatas jasmani tetapi juga percabulan rohani karena kita adalah calon mempelai Tuhan. Siapa melakukan dosa semacam ini harus bersedia ditegur di bawah empat mata (Mat. 18:15) agar bertobat. Kalau tetap keras hati tidak mau dengar-dengaran, disampaikan di lingkup komunitas yang ada. Jika tetap tidak mau berubah, tindakan terakhir ialah menganggapnya sebagai orang tidak percaya kemudian diiusir/dibuang dari tengah-tengah jemaat karena dapat mencemari jemaat yang sehat. 

Ragi lama yang Rasul Paulus tidak hanya pada dosa percabulan secara fisik, tetapi juga percabulan rohani, yaitu orang mengaku percaya namun hidupnya cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu (1Kor. 5:9-13). Jemaat Korintus harus membuang ragi semacam itu sebab sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan (1Kor. 5:6b). Dan ternyata tidak hanya kepada jemaat Korintus, Rasul Paulus juga menegur jemaat Galatia untuk berdiri teguh tidak lagi mengenakan kuk perhambaan (Gal. 5:1) sebab “sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” (ay. 9) Ragi apa yang dimaksud di sini? Ajaran yang bertentangan dengan ajaran iman keselamatan di dalam Kristus. Jemaat Galatia sudah dipanggil untuk merdeka; jadi jangan lagi hidup dalam dosa (ay. 13) tetapi hidup oleh Roh. Dengan demikian mereka tidak akan menuruti keinginan daging (ay. 16-21). Dengan kata lain, ragi manusia lama hidup menuruti keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan Roh. Waspada mereka yang melakukan perbuatan daging seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, iri hati dst. tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1Kor.6:9-11). 

  • Menikmati adonan roti tidak beragi itulah kehidupan baru (ay. 7-8). 

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan & kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian & kebenaran…(1Kor 5:7-8).

Menikmati adonan roti tidak beragi menggambarkan kehidupan baru yang berpesta dengan kemurnian dan kebenaran oleh kurban Kristus. 

Roti tidak beragi sering disebut roti penderitaan karena keras kalau dikunyah dan dimakan dengan terburu-buru beserta daging panggang dan sayur pahit, itulah Paskah bagi Tuhan (Kel. 12:8,11). Manusia baru yang sudah dimerdekakan oleh darah Kristus harus menikmati roti penderitaan yang mana keinginan daging dan hawa nafsu harus disalibkan/dimatikan (Gal. 5:16-26). Walau menikmati roti penderitaan (Ul. 16:1-3) untuk merayakan Paskah, bangsa Israel harus bersukaria di hadapan Tuhan (ay. 11). Di era Hizkia, raja Yehuda, raja bersama seluruh rakyat Yehuda juga orang Israel, Efraim, Manasye, Isakhar merayakan Paskah dengan sukaria setelah sekian lama tidak merayakannya (2 Taw. 30). Ucapan syukur atas Paskah yang memerdekakan dan kasih kepada Allah akan tetap membuat suasana pesta (sukacita dan sukaria) di dalam menuruti pimpinan Roh Kudus dalam kebenaran walau harus menyalibkan keinginan daging (Gal. 5:1,13, 24-25; 1Yoh. 5:1-5).

Aplikasi: kita juga dapat berpesta dengan kemurnian dan kebenaran bila kita siap menikmati adonan roti tidak beragi yakni bersedia menyalibkan keinginan daging untuk menderita karena kebenaran dan menuruti kehendak Tuhan. Jujur, tidaklah mudah untuk menyalibkan keinginan daging tetapi kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita dimampukan untuk melakukan perintah-Nya. 

Marilah kita berpesta dengan kemurnian dan kebenaran dengan senantiasa mengingat kurban Paskah yang sudah menyelamatkan dan menjadikan kita ciptaan baru. Untuk itu kita harus membuang ragi keburukan dan kejahatan juga menyalibkan/mematikan segala keinginan daging supaya kita menjadi “adonan” baru yang dilandasi oleh kasih Tuhan sehingga hidup kita diperkenan oleh-Nya. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: