Shalom,
Kemerdekaan itu membersihkan bagaikan membasuh, menyingkirkan segala tanda perbudakan penjajahan, rasa malu, hina, nista sekaligus membuat bangsa Indonesia betul-betul mandiri. Penjajah disingkirkan kembali ke negaranya yang tinggal hanyalah bangunan dan senjata. Terlebih lagi kemerdekaan negara Indonesia benar-benar sah dan legal secara hukum dunia internasional.
Bagaimana dengan jemaat Tuhan, sudahkah kita merdeka dari perbudakan dosa karena pengalaman “disucikan, dikuduskan dan dibenarkan” seperti tertulis dalam 1 Korintus 6:11, “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Tindakan “disucikan, dikuduskan, dibenarkan” terjadi sekaligus tidak bertahap. Namun ada kata sambung ‘dan’ berarti terkait dengan ayat sebelumnya (ay. 9-10) yang membeberkan kebobrokan moral dan karakter di masa lalu sebelum mengenal Yesus. Semua rentetan perbuatan dosa ini sudah harus diselesaikan melalui disucikan, dikuduskan dan dibenarkan yang sekaligus terjadi di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah.
Tiga aktivitas apa saja yang memerdekakan kita dari perbudakan dosa?
- Disucikan (bhs. Yun. apolouo – medial = wash off = dibasuh/dimandikan seluruh tubuh). Peristiwa dimandikan ini sungguh-sungguh telah terjadi di masa lampau ketika bertobat dan percaya kepada Yesus. Pembasuhan ini berdampak bagi dirinya sendiri, karena hubungan tindakan dan pelakunya dalam tata bahasa Yunani adalah medial, pelaku tindakan mengalami akibat tindakannya.
Frasa “kamu telah memberi dirimu disucikan” berarti kita yang berinisiatif dan berkehendak untuk membasuh diri karena diinsafkan oleh Tuhan Yesus dan Roh Allah. Tindakan membasuh diri (louo) hanya terjadi sekali seumur hidup di masa lalu yang tidak berulang lagi tetapi berdampak luar biasa. Dan ini dialami oleh Saulus (nama Ibrani – Kis. 7:58) atau Paulus (nama Yunani – Kis. 13:9) saat membasuh diri berdampak dosa masa lalunya diampuni (Kis. 22:16), yakni Paulus memberi diri dibaptis dalam air.
Maka kata kerja “louo” artinya pembasuhan seluruh tubuh dengan diguyur air, praktiknya ialah Baptisan Air (bhs. Yun. baptizo) → pembasuhan seluruh tubuh dengan diselamkan ke dalam air.
Kata “baptizo” diungkapkan oleh seorang pujangga sekaligus tabib/dokter Yunani, Nicander (± 200 M) untuk membedakannya dengan kata Yunani “bapto” dengan resep pembuatan acar, yakni: sayuran dicelupkan (di-bapto) ke dalam air masak untuk dibersihkan (tidak ada perubahan apa-apa). Sesudah itu sayuran tersebut dicelupkan (baptizo) dalam larutan cuka, terjadi perubahan permanen menjadi acar. Itu sebabnya Petrus menegaskan kepada orang-orang yang bertobat untuk dibaptis (baptizo) di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus (Kis.2:37-38). Dampaknya, dosa masa lalu yang diakui diampuni dan dibasuh oleh darah Yesus kemudian menerima karunia-karunia Roh Kudus dan hidupnya diubahkan (Tit. 3:3-7) untuk melayani Tuhan.
Introspeksi: apakah kita dibaptis sekadar memenuhi upacara agamawi tanpa terjadi adanya perubahan hidup yang berdampak menyenangkan dan dapat dinikmati oleh orang lain? Sudahkah song leader, backing vocal, pemain musik, multimedia, soundman, paduan suara dll. yang sudah dibaptis sebelum pelayanan berdampak menyegarkan, menularkan semangat, sukacita dan menumbuhkan iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan sukacita dari Roh Kudus? Mereka yang mengalami perubahan hidup pasti meninggalkan segala perbuatan, perilaku dan pikiran amoral yang menjijikkan. Harus diakui perubahan ini tidak terjadi dalam waktu singkat tetapi berprogres ke arah yang lebih baik. Perhatikan, jangan hanya dibapto (dibersihkan) bukan dibaptiszo (dibasuh menyeluruh)! Jangan pula sesat, karena sudah dibaptis dan mendapatkan surat baptisan kemudian merasa semua aman! Periksa apakah masih terlibat dalam percabulan, pornografi, penyembahan berhala, pornoaksi dll. yang menghalangi masuk dalam Kerajaan Allah!
- Dikuduskan. Bila “disucikan/dibasuh” merupakan inisiatif kita untuk melakukannya (atas pertolongan Roh Allah), “dikuduskan” menurut tata bahasa Yunaninya merupakan tindakan pasif di mana kekudusan diperoleh bukan atas usaha kita sendiri tetapi Tuhan Yesus Kristus dan Roh Allah yang aktif mengerjakannya. Ini merupakan dampak langsung ketika kita membasuh diri dalam Baptisan Air karena percaya Yesus dan bertobat.
Perlu diketahui Rasul Paulus memberi salam kepada jemaat Korintus yaitu mereka (bukan semua jemaat) yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (1 Kor. 1:1-3). Mereka menjadi kudus secara status (yang legal/sah di hadapan Allah) bukan atas usaha mereka sendiri tetapi karya Allah semata yang dikerjakan dalam Yesus Kristus dan dan Roh Allah. Peristiwa “dikuduskan” serentak terjadi setelah dibasuh dan dibenarkan. Dikuduskan berarti dipisahkan dari segala yang tidak kudus di hadapan Allah.
Introspeksi: apakah kita termasuk jemaat yang dipanggil menjadi orang kudus terpisah dari perbuatan-perbuatan dosa amoral? Sungguhkah kita dibasuh/di-baptizo karena percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan bertobat? Jika masih melakukan perbuatan dosa semacam itu padahal sudah dibaptis, insaf dan bertobatlah, minta ampun kepada Tuhan dan sesama! Jadilah orang Kristen bukan orang beragama Kristen yang tidak beda dengan agama-agama lain yang ada di dunia ini! Ingat, status dikuduskan hanya datang dari percaya akan salib Kristus yang dianggap bodoh oleh agama-agama dunia dan non-kristen (1 Kor. 1:20-21, 30) yang berupaya sendiri mencapai kekudusan tetapi mereka semua gagal.
Keistimewaan orang Kristen ialah selain koreksi dari Firman Allah juga hati nurani yang dibersihkan akan peka bila mau berbuat dosa. Roh Allah memampukan kita untuk diproses dalam pengudusan berkelanjutan hingga tak bercacat cela sebagai pengantin perempuan Anak Domba. Kenyataannya, status kita dahulu ialah tidak mampu unuk tidak berbuat dosa sebab sejak kecil kecenderungan hati selalu membuahkan kejahatan semata (Kej. 8:21). Namun ketika darah Yesus menyucikan hati nurani kita, status kita berubah menjadi orang yang mampu tidak berbuat dosa mengarah kepada kesempurnaan hingga kita tidak dapat berbuat dosa lagi.
Perhatikan, jangan bermegah dengan berkat harta kekayaan, status sosial, jabatan, tingkat pendidikan, kepandaian dst. yang diberikan di dalam hikmat Allah karena kita percaya kepada pemberitaan salib Kristus. Berkat kita terpisah dari berkat-berkat yang diterima orang dunia walau kita berpartner bisnis dengan mereka karena kita orang kudus-Nya. Kita memang berstatus kudus (de jure) tetapi dimampukan oleh Roh Allah untuk diproses terus menerus dalam kekudusan untuk berperilaku kudus (de facto) hingga tidak bercacat cela alias sempurna menjadi pengantin perempuan Kristus.
- Dibenarkan menurut tata bahasa Yunaninya juga tindakan pasif di mana tidak ada usaha dari diri sendiri untuk menjadi orang benar. Secara hukum Kerajaan Surga, status kita sebagai orang benar sah karena Roh Allah dan Nama Tuhan Yesus Kristus disematkan pada kita. Kita menjadi warga kerajaan-Nya.
Jadi status orang benar datang dari takhta tertinggi Kerajaan Allah, bukan dibuat oleh manusia dengan hikmat dan pengetahuan dunia. Faktanya pengadilan dunia dapat “masuk angin” sehingga orang benar dapat divonis salah sedangkan orang salah dibenarkan. Sungguh kebenaran dan kekudusan dunia merupakan suatu kebodohan karena bukan kebenaran dan kekudusan yang diberikan oleh Allah.
Agama-agama di dunia menganggap pemberitaan salib adalah suatu kebodohan. Ada banyak ragam standar moral dan kebenaran dari pelbagai etnis, suku bangsa di dunia yang bersifat relatif. Kepastian hanya datang dari takhta yang maha tinggi, Kerajaan Allah sendiri dan kebenaran harus transkultural, artinya semua bangsa, etnis, budaya mengakui kebenarannya yang tidak berubah dari zaman Adam sampai kedatangan Kristus kedua kali, bersifat mutlak tidak dapat diganggu gugat. Alkitab seutuhnya adalah kebenaran hakiki.
Aplikasi: hendaknya kita yang sudah dibaptis gemar dan tekun membaca Alkitab seutuhnya sebagai sumber kebenaran hakiki yang membuat kita peka terhadap hal-hal yang tidak benar sehingga kita tidak lagi gampang melakukan dosa kenajisan dan kejahatan yang menjijikkan itu. Hidup kita diperbarui dari hari ke hari tidak lagi sama seperti kehidupan lama. Orang yang dibenarkan makin menyadari betapa bobrok dan menjijikkan hidup dalam perbuatan dosa yang dibenci Tuhan.
Maukah kita hidup baru meningalkan hidup lama yang ditandai banyak dosa? Berikan diri dibasuh dalam Baptisan Air untuk bertobat mengalami kelepasan dari Tuhan, disucikan oleh Firman-Nya dan dibenarkan menjadi warga kerajaan-Nya dan berpakaian lenan halus putih bersih itulah perbuatan-perbuatan benar orang kudus untuk kelak bersanding dengan Mempelai Pria Surgawi kita di Yerusalem baru selamanya. Amin.