Shalom,
Saat ini kita hidup di era di mana kemasan lebih dihargai daripada isi hingga ada slogan di iklan TV yang cukup terkenal mengatakan “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”. Terbayang tentu ada orang-orang yang kecewa dengan tawaran janji-janji iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Dalam dunia keagamaan juga ditemukan adanya orang-orang yang tampil hebat di forum-forum keagamaan di mimbar-mimbar ‘terhormat’. Namun ketika diperhatikan lebih dalam, terdapat kesenjangan antara apa yang diucapkan dengan perilaku hidupnya, sebab apa yang dikatakan itu jauh dari kehadiran Tuhan sehingga kita terkecoh dengan kata-kata indah yang terdengar rohani
Pertanyaan: apakah gereja hari ini juga terjebak dengan kefasihan mengutip ayat-ayat Alkitab, kesibukan program-program di gereja, kehebatan melayani tetapi kuasa yang mampu mengubah hidup justru absen dari kehidupannya? Apakah gereja menunjukkan kuasa Kristus? Rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang merasa hebat dan angkuh/sombong karena kefasihan mereka. Dia mematahkan kesombongan mereka dengan pernyataan “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa” (ay. 20). Paulus menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak dibangun dari kesan atau penampilan, tetapi dengan kuasa Allah yang terbukti bekerja di dalam kehidupan umat Tuhan.
Bagaimana kita memiliki pelayanan yang penuh dengan kuasa Allah?
- Melayani dengan kerendahan hati dan penuh ketundukan kepada Tuhan (ay. 18).
Masalah pertama yang menjadi penghalang atau merusak kuasa pelayanan adalah kesombongan. Orang Korintus menjadi sombong (to puff, blow up = menggelembung, mengembang) karena merasa aman saat Paulus tidak berada diantara mereka. Mereka mempertanyakan otoritas dan kerasulan Paulus, meremehkan serta menuduh Paulus hanya berani keras di surat tetapi tidak berani menghadapi mereka secara langsung. Pikiran seperti ini membuat mereka makin sombong dan menjadi besar dalam pandangannya sendiri. Mereka mempunyai konsep diri berlebihan dan merasa lebih penting dari yang sebenarnya.
Waspada, kesombongan membuat seseorang terlihat besar di matanya sendiri padahal sebenarnya kecil di hadapan Tuhan. Kesombongan rohani juga bisa terjadi dalam jemaat Tuhan tetapi kadang sulit dikenali, karena mereka bukan jemaat yang meninggalkan gereja, tetap beribadah, berbicara tentang hal-hal rohani bahkan merasa rohani. Namun Paulus melihat ada ragi dosa yang sedang bekerja di dalam mereka. Kesombongan melahirkan kerohanian/spiritualitas palsu. Mereka banyak berbicara tetapi tidak ada demonstrasi kuasa Allah dalam kehidupan mereka. Ini bahaya besar di dalam pelayanan ketika seseorang aktif melayani tetapi apa yang dikerjakan sebenarnya hanya mempertunjukkan kemampuan, kekuatan dan ‘kuasa’ diri sendiri. Tampaknya dia berbicara tentang Tuhan tetapi sesungguhnya dia sedang sibuk membangun kerajaannya sendiri daripada memuliakan Kristus. Ragi kesombongan menghasilkan kerohanian yang cacat; oleh sebab itu Allah sangat menentang kesombongan karena menggeser pusat perhatian dari Kristus kepada diri sendiri. Kesombongan membuat seseorang bergantung pada diri sendiri, merasa cukup dengan kemampuan, pengalaman, jabatan, pengaruh, pengetahuan yang ada pada dirinya padahal semua yang kita miliki kita terima dari Allah. Perhatikan, kuasa pelayanan tidak datang dari kehebatan seorang manusia; Yesus menegaskan, “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh. 15:5)
Jemaat Laodikia pernah terjebak dalam kesombongan karena kekayaan (Why. 3:17) dan berkelimpahan dalam sumber daya – materi, finansial, intelektual, kekuasaan juga dalam perkara rohani seperti kaya dalam kebajikan dan karunia.
Kesombongan menyatakan wujudnya dalam sikap lebih percaya kepada kekayaan, reputasi dan keadaan lahiriah lainnya: kebanggaan diri, status, potensi, dan kapasitas yang dimiliki; kemudian mengabaikan kebutuhan akan pertobatan, kerendahan hati dan relasi dengan Kristus. Kesombongan sering menjadi alat yang ditawarkan Iblis untuk tempat persembunyian kebusukan kita. Oleh sebab itu Allah menuntut jemaat Laodekia bersikap rendah hati untuk dapat menerima teguran dan pemulihan seperti menerima minyak untuk mengolesi mata supaya bisa melihat dan menyadari kekurangan-kekurangannya, dan selanjutnya mengalami pemulihkan agar hidup dalam kasih anugerah-Nya.
Paulus kemudian mengungkapkan rencana kedatangannya, katanya, “Tetapi aku akan segera datang kepadamu kalau Tuhan menghendakinya.” (ay. 19) Terlihat ada perbedaan mendasar : orang Korintus penuh kesombongan, sementara Paulus menunjukkan sikap ketundukan kepada Tuhan (padahal dia mendirikan banyak jemaat serta memiliki otoritas yang luar biasa). Jelas sikap pelayan yang hidup dalam kuasa Tuhan tidak akan mengatakan “karena aku mampu”, “karena aku pengalaman”, “karena aku sudah lama melayani Tuhan”, tetapi “jika Tuhan menghendaki”.
Kuasa pelayanan terjadi pada orang-orang dengan hati yang tunduk, hati yang menyerahkan diri kepada pemerintahan Kristus. Jika ingin pelayanan dipenuhi kuasa, kita mesti rela menanggalkan balon-balon kesombongan dan kembali pada posisi sebagai pelayan/hamba. Ini menunjukkan kebergantungan kita kepada Tuhan.
Introspeksi: apakah kita bergantung kepada Tuhan dan mencari kehendak-Nya dalam pelayanan-pelayanan kita kepada-Nya? Sudahkah kita bersikap rendah hati untuk rela diajar dan dibentuk oleh Tuhan?
- Melayani dengan kehidupan yang mencerminkan kuasa Firman Tuhan (ay. 19b).
Paulus tidak tertarik pada kepandaian jemaat dalam berkata-kata, berdebat, dan menyombongkan kehebatan mereka. Sebaliknya, Paulus ingin hidup mereka berubah (mempraktikkan apa yang diucapkannya. Inilah ujian pelayanan yang sesungguhnya! Banyak orang dapat meniru bahasa-bahasa rohani, memakai istilah-istilah Kristen, pintar mengutip ayat-ayat, tetapi tidak seorang pun dapat memalsukan kehidupan yang benar-benar diubah oleh kuasa Firman.
Paulus tidak menulis hanya untuk jemaat Korintus tetapi juga mengingatkan Timotius akan adanya orang-orang yang mempunyai bentuk kesalehan tetapi menyangkal kuasanya (2 Tim. 3:5) – mereka tampak rohani dari luar tetapi tidak memiliki Allah di dalam hidupnya. Juga kepada Titus, Paulus menulis, “Mereka mengaku mengenal Allah tetapi dengan perbuatannya mereka, mereka menyangkal Dia.” (Tit. 1:10)
Kerajaan Allah adalah realitas yang mampu mengubah kehidupan (1 Kor. 4:20). Banyak orang memiliki perkataan tetapi tidak semua memiliki kuasa. Contoh: banyak orang berbicara tentang kasih tetapi belum tentu mengasihi; berbicara tentang pengampunan tetapi menyimpan dendam dst. Pelayanan yang berkuasa harus menghasilkan kehidupan yang berubah. Kuasa Firman terlihat dari kehidupan yang bertobat – dari keras hati menjadi lembut, orang yang hidup dalam dosa berbalik mengejar kekudusan.
Kuasa Firman tidak berhenti pada kemampuan seseorang dipakai Tuhan dalam melakukan mukjizat tetapi yang terutama ialah mengubah/membentuk karakter dan pola pikirnya sehingga makin hari makin serupa dengan Kristus. Kuasa yang mengampuni orang berdosa, menghancurkan belenggu dosa, memanggil pendosa dari kegelapan menuju terang Kristus dll. Faktanya, mengubah hati manusia jauh lebih sulit daripada menenangkan badai, namun justru hal sulit itulah yang dilakukan oleh kuasa Firman Tuhan setiap saat.
Introspeksi: ketika orang melihat hidup kita, apa yang mereka lihat? Apakah mereka hanya mendengarkan fasihnya kita merangkai kata-kata rohani? Atau mereka melihat ada kuasa Kristus sedang bekerja dalam kehidupan kita? Apakah keluarga, teman dan rekan sepelayanan melihat perubahan karakter kita? Yesus menjadi teladan sempurna dalam perkataan dan perbuatan dan kita sebagai pengikut-Nya didorong dan dipanggil untuk memiliki kehidupan yang juga mencerminkan kuasa Firman yang sama.
- Melayani dengan kasih yang berani menegakkan kebenaran (ay. 21).
Jemaat Korintus diberi pilihan yakni: jika mereka bertobat atas sikapnya, Paulus akan datang dengan kasih dan kelemahlembutan. Sebaliknya, jika mereka tetap keras hati, dia menggunakan otoritas kerasulannya akan datang dengan tongkat pendisiplinan. Contoh otoritas kerasulan dapat dilihat pada peristiwa Petrus saat mendisplin Ananias-Safira yang mencobai Roh Tuhan (Kis. 51-1). Jelas kasih yang benar tidak pernah mengabaikan dosa. Ironisnya, banyak orang menginginkan kasih Tuhan tetapi menolak pendisiplinan dari-Nya padahal Alkitab mengajarkan bahwa disiplin justru membuktikan bahwa Allah mengasihi dan memerhatikan kita. Tuhan mendidik orang-orang yang dikasih-Nya supaya mereka mengambil bagian dalam kekudusan. Perhatikan, kuasa Allah tidak selalu dinyatakan dalam bentuk kenyamanan tetapi juga teguran, bukan hanya melalui pujian dan sanjungan atas apa yang kita capai tetapi juga melalui koreksi atas kesalahan yang kita perbuat. Kuasa Allah bekerja bukan untuk memanjakan kita tetapi membentuk kepribadian kita. Sayangnya, banyak orang menganggap bahwa kasih selalu bersifat lemah-lembut dan permisif padahal kasih yang benar tidak pernah membiarkan dosa terus bertumbuh. Paulus sebagai bapa rohani menegur dan mengajar/mendisplin anak-anaknya yang memberontak (Ibr. 12:6). Ingat, kasih yang tidak berani menegur bukanlah kasih yang Alkitabiah sebab membiarkan dosa terus berkembang sesungguhnya sedang menghancurkan pendosa tersebut. Ilustrasi: seorang dokter yang mengasihi pasiennya tidak akan menyembunyikan penyakit yang mengancam nyawanya. Demikian pula orang yang hidup dalam kuasa Allah tidak hanya menerima berkat tetapi juga didikan dari Tuhan – memilih ketaatan daripada kesombongan, pertobatan daripada pembenaran diri, kekudusan daripada kenyamanan yang membinasakan.
Di dalam gereja juga ada pemimpin-pemimpin rohani yang perlu menegakkan kebenaran dengan kasih dalam pelayanan. Pelayanan yang tetap menyampaikan kebenaran namun dengan kasih. Yesus melayani dengan penuh kasih kepada perempuan berzina tetapi mengingatkan untuk tidak berbuat dosa lagi (Yoh. 8:11); mengasihi Petrus namun juga menegurnya. Ia mengasihi jemaat karena itu juga mendisiplin mereka. Kasih Kristus selalu berjalan beriringan dengan kebenaran.
Pelayanan yang berkuasa bukanlah pelayanan yang selalu menyenangkan semua orang tetapi:
-
- Melayani dengan kerendahan hati.
- Melayani dengan kehidupan yang mencerminkan kuasa Firman Tuhan sebagai bukti keubahan hidup hasil pekerjaan Firman.
- Melayani dengan kasih yang berani menegakkan kebenaran.
Hendaknya pelayanan kita tidak mendahulukan kefasihan bicara tetapi yang terutama disertai kuasa Kristus yang bekerja terlebih dahulu dalam kehidupan kita sehingga kita mampu melayani dengan kasih tanpa mengabaikan kebenaran sebab satu hari nanti Tuhan akan menguji bukan kefasihan kita tetapi kehidupan kita yang sudah diubahkan oleh kuasa Firman. Amin.