Shalom,
Betapa pedihnya hati Paulus melihat jemaat Korinus yang percaya Yesus, bertobat kemudian dibaptis dan menerima Roh kudus tetapi terjadi perpecahan. Ironis, ada Roh Kudus yang adalah Allah sendiri tetapi terjadi perpecahan. Kenyataannya, banyak gereja pecah akhir-akhir ini. Bukankah perpecahan menandakan kita ikut-ikutan roh dunia? Ada Roh Kudus tetapi sering kali diabaikan. Roh kudus hanya satu dan dari Surga sementara roh dunia banyak sekali.
Sebelum Yesus naik ke Surga Ia berjanji memberikan Penolong itulah Roh Kudus yang akan menyertai murid-muird-Nya selama-lamanya (Yoh. 14:13-16). Dunia tidak menerima Roh kebenaran ini karena tidak mengenal-Nya tetapi Roh Kudus mengenal, menyertai dan diam di dalam murid-murid dan mereka yang memercayai-Nya (ay. 17).
Untuk apa Roh Kudus berdiam dan menyertai kita? Ia akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:12-16), maksudnya Ia memberikan pencerahan agar kita mengerti Firman yang didengar khususnya memahami salib Kristus dan berjalan dalam kebenaran.
Rasul Paulus sendiri dipanggil Tuhan untuk memberitakan Injil salib Kristus (1 Kor. 1:17) yang mengandung keselamatan. Apa kata Yesus di atas kayu salib, “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34). Ia bahkan mencegah ibu-ibu yang menangisi-Nya; sebaliknya menangisi diri sendiri juga anak-anak mereka (Luk. 23:28) agar tidak hilang keselamatan kalau tidak mempunyai Injil keselamatan. Allah yang adil telah menyediakan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan yang timbul dalam hati kepada mereka yang mengasihi-Nya (1 Kor. 2:9).
Introspeksi: sudahkah kita mengenal Allah dan mengasihi-Nya untuk beroleh berkat dari Surga?
Setelah bertobat, Paulus menulis pengalaman hidupnya. Dia hanya memberitakan Kristus yang tersalib sebab dia pernah menyia-nyiakannya sebelum mengenal Yesus. Dia bahkan begitu getol hendak membunuh murid-murid Tuhan (Kis. 9:1) tetapi setelah melihat cahaya memancar dari langit mengelilinginya dan mendengar suara yang tidak penah didengarnya (ay. 3), dia berubah total. Dia yang tadinya membenci Yesus kini sangat mengasihi-Nya.
Setelah dicelikkan matanya oleh Ananias atas perinah Tuhan, Paulus beroleh kemurahan menjadi alat pilihan-Nya untuk memberitakan Nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain (ay. 10-15) bahkan banyak menderita karena Nama-Nya (ay. 16). Saulus yang melihat cahaya, mendengar suara Tuhan kemudian menyediakan hatinya untuk diisi oleh Firman.
Kalau dahulu Tuhan berbicara dan suara-Nya didengar langsung oleh Saulus dan Ananias, sekarang kita mendengar suara-Nya melalui Firman dan Roh Kudus.
Aplikasi: sudahkah kita mempunyai pengalaman dengan Roh Kudus? Atau kita malah menyakiti-Nya karena emosi kita yang gampang meledak-ledak? Sadarkah siapa kita, orang kafir? Apakah kita lebih hebat dari Saulus, orang Farisi yang sombong karena hafal hukum Taurat?
Tuhan berjanji memberikan Roh Kudus kepada semua orang yang percaya dan dibaptis dalam Nama Tuhan Yesus Kristus.
Rasul Paulus menegaskan kepada Jemaat Galatia bawa Injil yang diberitakannya bukan dari manusia tetapi dari Yesus Kristus, Sang Firman sendiri (Gal. 1:12). Setelah mengenal Yesus, dia mengaku, “Firman-Mu itulah Pribadi-Mu”.
Paulus yang sangat memahami salib Kristus oleh terang Roh Kudus mulai bersaksi dan menginjil ke:
- Rumah-rumah ibadat di Damsyik memberitakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, Ia adalah Mesias (Kis. 9:20-30).
- Bangsanya sendiri memakai bahasa Ibrani (Kis. 22:2-21). Dia menyaksikan bahwa Allah telah menetapkannya untuk mengetahui kehendak-Nya, melihat Yang Benar, dan mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya (ay. 14).
Mengetahui kehendak-Nya itulah Firman Allah dalam hati → Meja Roti Sajian
Melihat Yang Benar → Kandil Emas
Mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya → Mezbah Pembakaran Ukupan
Paulus menanggung risiko di dalam mengabarkan salib Kristus kepada orang-orang Yahudi. Awalnya disenangi tetapi lama kelamaan mereka marah dan mengancam akan membunuhnya karena terus menerus memberitakan Firman penyucian.
- Bersaksi di hadapan Agripa (orang kafir) di pengadilan saat mau dimasukkan penjara oleh orang-orang Yahudi yang membencinya (Kis. 26). Ternyata pemberitaan Injil sampai kepada telinga pemimpin bangsa kafir.
Aplikasi: kita berkewajiban memberitakan Injil keluar gereja sebab Firman Tuhan bukan untuk dinikmati diri sendiri. Tidak masalah kalau mereka menolak Injil sebab Allah tetap Allah, Ia adalah Allah Tritunggal dan Esa!
Lebih lanjut, Paulus bersaksi bahwa dia diutus untuk membuka mata bangsa kafir supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah supaya oleh iman mereka memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan (ay. 19).
Paulus juga pernah mengalami diangkat ke langit ketiga (2 Kor. 12:2). Oleh sebab itu dia menegaskan kepada raja Agripa bahwa dia senantiasa taat kepada penglihatan dari Surga (Kis. 26:19).
Sementara Paulus mengemukakan semua di hadapan Agripa untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, Festus menganggapnya gila karena kebanyakan ilmu (ay. 20). Dengan tegas Paulus menjawab dia tidak gila tetapi mengatakan kebenaran dengan pikiran sehat (ay.25). Bahkan dengan berani dia mengatakan raja juga tahu dan mendengar semua perkaranya karena peristiwa ini tidak terjadi di tempat terpencil (ay. 26). Terbukti kesaksian Paulus hampir meyakinkan Agripa menjadi orang Kristen (ay. 28). Paulus lebih lanjut mengatakan dia berdoa supaya tidak hanya Raja Agripa tetapi juga semua orang yang hadir juga bertobat seperti dia kecuali belenggu (ay. 29). Paulus rela dibelenggu demi Injil salib Kristus hingga akhirnya dia dipenjara di Roma (Kis. 28).
Introspeksi: beranikah kita menyuarakan kebenaran Firman Tuhan kepada siapa pun dan di mana pun (keluarga, sekolah, pekerjaan, pergaulan) termasuk pemimpin-pemimpin dalam pemerintahan? Mereka pasti tahu tentang Alkitab hanya saja mereka memiliki iman yang mereka yakini sedangkan kita beriman kepada Kristus Yesus. Jangan kita hanya lantang dan berani “main di kandang sendiri” dalam menyuarakan kebenaran. Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Kita juga harus bersedia “dibelenggu” untuk memberitakan salib Kristus.
Oleh kuasa Roh Kudus, kita dimampukan untuk memahami salib Kristus yang banyak ditolak bahkan dianggap suatu kebodohan bagi dunia padahal salib Kristus adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan kita dari hukuman kematian kekal. Dan bersama Roh Kudus kita memuliakan Allah melalui kesaksian tentang salib Kristus yang berkuasa menyelamatkan keluarga, meluas ke masyarakat dan bangsa Amin.