Shalom,
Seorang filsuf bernama Anais Nin pernah menulis, “Kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya, kita melihat dunia sebagaimana diri kita adanya.” Artinya, hidup ini sangat tergantung pada kacamata yang kita pakai. Jika kacamata kita hitam, semua akan tampak gelap. Jika merah, semua akan tampak merah. Ini termasuk teori mindset. Herannya, jauh sebelum teori mindset ini ditemukan oleh para psikolog, Alkitab sudah menulisnya, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.....” (Ams. 23:7a)
Dunia hari ini menawarkan banyak cara untuk menjadi pintar seperti diadakannya seminar motivasi, seminar strategi bisnis, seminar Artificial Intelligence dll. Namun, mengapa dunia yang semakin pintar ini justru malah penuh dengan perpecahan, kecemasan dan kekosongan jiwa? Juga begitu banyak orang berpendidikan sangat tinggi, sukses secara materi bahkan sangat rajin beribadah justru gagal melihat keindahan di balik karya Tuhan?
Rasul Paulus tidak sedang membicarakan tingkat IQ ataupun gelar pendidikan tetapi sistem operasi yang menggerakkan hidup kita – apakah kita digerakkan oleh logika duniawi atau hikmat Allah/Surgawi. Pola pikir kita perlu didobrak untuk mengerti bagaimana memiliki pikiran seperti Kristus sebab dunia tidak mengerti dan menganggapnya tidak masuk akal tentang pengurbanan Yesus, kerendahan hati dan kasih di atas salib bahkan memandangnya sebuah kebodohan yang mengganggu kenyamanan hidup mereka. Ternyata ada tembok besar bernama logika manusiawi yang menghalangi manusia untuk mengerti isi hati Allah.
Apa penyebab manusia terjebak dalam penjaranya sendiri sehingga menganggap salib adalah sebuah kebodohan?
”Tetapi manusia duniawi (bhs. Yun. psuchikos = natural) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” (ay. 14)
Manusia duniawi merujuk kepada manusia yang hidupnya digerakkan oleh jiwa alami yaitu intelek, emosi dan kehendak tanpa Roh Kudus. Manusia semacam ini tidak selalu termasuk orang jahat. Mungkin saja dia sangat baik, sopan bahkan “religius” tetapi pusat kendali hidupnya adalah dirinya sendiri. Dia menggunakan agama hanya untuk memperkuat egonya, berbuat baik supaya tenang, dihormati bahkan supaya masuk Surga tetapi pusat kendalinya tetap pada “aku”.
Logika duniawi mengatakan siapa kuat, dia yang menang; siapa yang mempunyai segalanya, dia yang berkuasa. Jauh berbeda dengan logika Paskah yang mengatakan Tuhan yang mahakuasa justru membiarkan diri-Nya menanggung malu ditelanjangi, menderita dipaku bahkan mati di kayu salib. Dunia mengatakan itu konyol, mana ada pemenang yang mati namun Paskah membuktikan bahwa di balik “kebodohan” salib ada kekuatan Allah yang menghancurkan kuasa maut. Jadi, hati-hati jika Anda merasa mengalah demi kedamaian adalah suatu kelemahan atau melayani orang kecil hanyalah membuang waktu; ini menunjukkan tanda logika duniawi masih dominan di dalam kepala Anda. Manusia duniawi tidak mengerti hal-hal rohani karena dia tidak memiliki “antena” untuk menangkap sinyal dari Tuhan.
Bagaimana mungkin orang percaya memandang salib itu penuh kuasa? Bukan karena kita lebih pintar secara intelektual tetapi karena kita memiliki sinyal berbeda yang bekerja di dalam batin kita. Ada garis pemisah yang menunjukkan adanya jenis manusia lain yaitu manusia rohani (bhs. Yunani: pneumatikos = spiritual) yang memiliki akses langsung ke frekuensi Surga melalui sebuah penerjemah Ilahi.
“Tetapi manusia rohani menilai (bhs. Yun.: anakrino = examine, investigate) segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” (ay. 15)
“Menilai” tidak sekadar melihat sepintas tetapi memeriksa secara teliti, menyelidiki atau membedakan. Menurut konsep dunia, ini berbicara tentang materi berkaitan dengan untung rugi dan ego sendiri namun dalam bahasa Roh ini berkaitan dengan kekekalan dan kasih. Tanpa Roh Kudus, seseorang bagaikan turis yang berada di negeri asing dan tidak mengerti bahasa lokal. Dia melihat salib tetapi yang tampak hanyalah kematian yang konyol. Namun Roh Kudus yang dimiliki manusia rohani menerjemahkan peristiwa itu sebagai penebusan yang mulia. Ini adalah kemampuan dalam menilai apa yang ada di balik peristiwa fisik itu.
“Manusia rohani menilai segala sesuatu”, maksudnya dapat menilai dari sudut pandang lain. Misal: saat kondisi ekonomi terpuruk, kita menilainya bahwa ini adalah kesempatan bagi kita untuk melihat mukjizat Tuhan; dalam konflik kita tidak membalas dendam tetapi berusaha mengampuni karena kita sudah diampuni. Ini terjadi karena pikiran Kristus memberikan kita wawasan yang tidak dimiliki oleh orang duniawi, kita mengerti rencana Allah.
“Ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain”, maksudnya manusia duniawi yang tidak mempunyai Roh Allah tidak dapat memahami bagaimana orang Kristen tetap tenang di tengah badai masalah atau memberi dengan sukacita walau diri sendiri dalam keadaan sulit. Analogi: ketika mendengarkan musik yang indah melalui earphone kemudian menari karena terbawa oleh musik yang bagus tersebut, orang lain yang tidak mendengarkan musik itu akan mengganggap kita aneh atau gila. Demikian pula manusia duniawi bingung melihat kita tetap tegar dalam situasi apa pun dan menganggapnya aneh karena mereka tidak mendengarkan suara Roh Kudus yang membimbing pikiran kita.
Ada perbedaan tajam dan mendasar antara manusia duniawi dan manusia rohani. Perhatikan, menjadi manusia rohani bukan berarti kita berubah menjadi mistis atau aneh tetapi menerima Roh Allah yang berbeda dengan roh dunia. Ilustrasi: ada dua buah radio. Radio I hanya dapat menangkap gelombang FM, gelombang dari dunia sementara radio II memakai satelit antena Ilahi itulah Roh kudus yang dapat menangkap suara dari Surga. Radio I hanya memperdengarkan suara dunia sedangkan radio II menyiarkan instruksi yang jelas dari Surga oleh Roh Kudus. Tanpa Roh Allah, Alkitab hanyalah buku sejarah kuno tetapi dengan Roh Allah, Alkitab menjadi surat cinta yang hidup.
Bagaimana kondisi manusia rohani?
- Kita memiliki sumber informasi berbeda. Kita tidak tidak lagi bertanya apa berita (dunia) hari ini tetapi apa kata Tuhan. Kita tidak lagi mencari konformasi dari dunia tetapi pencerahan dari Surga.
- Kita berganti lensa, tidak lagi terpaku pada pandangan dunia tetapi beralih kepada perspektif kekekalan.
- Fokus kita tidak lagi tertuju pada apa yang tampak di permukaan melainkan pada apa yang Tuhan mau nyatakan di balik peristiwa itu.
- Kita tidak lagi menjadikan opini publik sebagai kompas tetapi Firman Tuhan menjadi petunjuk jalan.
- Kita tidak lagi disetir oleh suara mayoritas tetapi dituntun oleh suara Gembala Agung.
Bagaimana cara kita pindah frekuensi dari manusia duniawi menjadi manusia rohani? Bagaimana pola pikir kita berubah bukan sekadar mengetahui teori rohani tetapi masih hidup duniawi? Perpindahan “frekuensi” ini tidak terjadi melalui meditasi atau kursus berpikiran positif. Perubahan ini hanya dapat terjadi melalui peristiwa radikal yaitu transformasi melalui salib. Sama seperti Kristus mengosongkan diri-Nya (Flp. 2:5-8) maka pikiran kita harus mati dari ego sendiri supaya pikiran Kristus dapat mengalir dalam pikiran kita. Kita mengosongkan diri di kaki salib. Berpikiran duniawi bagaikan balon, jika terus ditiup akan makin besar, tinggi, ingin dihormati; sebaliknya, berpikiran Kristus justru mengosongkan diri seperti Yesus adalah Tuhan tetapi rela menjadi hamba dan manusia yang taat hingga mati di kayu salib.
Bukankah kemenangan Paskah terjadi setelah ada kematian di Jumat Agung? Demikian pula transformasi berpikir terjadi ketika kita mematikan ego kita di kaki salib. Harga diri kita mati dan Kristus hidup di dalam kita. Berpikiran Kristus bukan sekadar berpikiran positif tetapi melihat jalan menuju kemuliaan melalui pengurbanan dan kerendahan hati.
Bila kita sudah menyalibkan/mematikan ego kita dan pola pikir kita dirombak, Tuhan memberikan kunci untuk dapat menatap isi hati-Nya. Ia tidak membiarkan kita menebak-nebak jalan hidup sendiri tetapi memberikan pikiran-Nya agar kita memiliki kemampuan menilai segala sesuatu dengan benar.
Apa hikmat rohani dalam menilai kehidupan? “siapa yang mengetahui pikiran Tuhan sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” (ay. 16)
- Secara manusia kita tidak mungkin menasihati Tuhan (Yes. 40:13) tetapi oleh anugerah Allah kita memiliki pikiran Kristus. Memiliki pikiran Kristus bukan kemampuan psikologi sehingga kita dapat membaca pikiran orang lain atau meramal masa depan tetapi kemampuan untuk menilai yakni memiliki ketajaman rohani untuk dapat membedakan mana yang penting, yang fana, tidak tertipu oleh harta atau jabatan yang tampak berkilau namun kosong di mata Tuhan. Dan yang terutama ialah melekat pada Firman sebab Roh Kudus tidak pernah lepas dari Firman Tuhan. Jangan mudah terjebak dengan situasi atau keadaan seolah-olah penuh dengan “roh” tetapi tidak jelas dasarnya. Misal: jika ada bisikan yang menyuruh kita membenci atau menjauhi persekutuan, ini pasti bukan dari Kristus.
- Pikiran Kristus benar-benar meresap dalam kita untuk hidup selaras dengan Firman Tuhan dibuktikan dengan adanya perubahan hidup: tidak lagi mudah tersulut emosi atau suka memecah belah atau suka menghakimi dll. seperti terjadi pada jemaat Korintus yang sok rohani tetapi terpecah-belah karena ternyata masih manusia duniawi yang tidak dewasa rohani.
- Pikiran Kristus memberikan kita kemampuan untuk menjadi agen perdamaian dan solusi bagi setiap perpecahan yang terjadi dalam keluarga maupun bergereja. Mata hati kita terang (Ef. 1:17-19) untuk memakai pikiran Kristus sehingga mampu mengatasi perpecahan oleh sebab perbedaan pendapat, iri hati, perebutan posisi dsb. Pikiran Kristus membuat kita sadar bahwa kesatuan tubuh Kristus lebih berharga daripada menuruti ego kita. Kita tetap tenang di tengah ketidaksepakatan karena jangkar kita ialah kehendak Tuhan.
Kini kita mengerti bahwa menjadi Kristen bukan sekadar mengubah label agama tetapi soal revolusi pikiran dan salib telah meruntuhkan tembok kesombongan kita. Paskah membuktikan bahwa cara Allah meskipun terlihat lemah selalu berakhir pada kemenangan. Roh Kudus diberikan agar kita dapat menangkap frekuensi perintah dari Surga. Oleh sebab itu jangan biarkan dunia menyetir cara kita memandang masa depan atau cara kita mengambil keputusan tetapi hiduplah sebagai manusia rohani yang merdeka dan mampu menilai segala sesuatu dari sudut pandang kekekalan. Amin.