Shalom,
Tampaknya manusia mempunyai kecenderungan untuk bermegah dalam membanggakan sesuatu yang berhasil diraih atau dimilikinya. Misal: ketika mendapat berkat sebuah motor baru, kita keluar rumah dan mengendarainya di jalan dengan gas sedikit dikerasi biar tetangga melihat dan berkomentar tentang motor tersebut.
Sebenarnya tidak ada larangan bagi siapa pun untuk bermegah tetapi yang menjadi masalah ialah apa yang dimegahkan itu. Yang perlu diperhatikan apa / siapa yang dimegahkan dan kelebihan atau kehebatan apa yang dimegahkan. Ternyata ada dua golongan manusia, yakni: mereka yang akan binasa dan kita yang diselamatkan (ay. 18).
Perlu diketahui Korintus adalah kota metropolitan yang besar, maju dan ramai dengan perdagangan. Orang-orangnya intelektual, ternama dan sangat membanggakan dewa-dewanya seperti: Hercules yang tidak terkalahkan, Zeus – dewa langit dan petir, Aphrodite – dewi cinta dan kecantikan dll. Bagaimana dengan Yesus? Saat itu kekristenan merupakan sebuah agama yang baru bagi mereka dan dianggapnya suatu kebodohan. Mengapa? Mereka menganggap sebuah kebodohan bahwa sebuah agama mempunyai Tuhan yang mati, terlebih lagi matinya disalib. Itu merupakan suatu kehinaan karena terbukti bahwa Tuhannya pasti bersalah hingga dieksekusi. Hal itu juga menunjukkan Yesus lemah, tidak mampu membebaskan diri-Nya sendiri saat disiksa sampai mati di atas kayu salib. Beda dengan dewa-dewa mereka yang dianggap kuat tidak terkalahkan. Itu sebabnya berita Kristus disalib ditolak oleh mereka yang akan binasa. Sebaliknya, mereka yang menerima salib Kristus beroleh keselamatan. Mereka percaya dan mengerti makna salib Kristus serta bermegah di dalamnya; mereka berfokus kepada Kristus.
Apa yang dibanggakan oleh manusia pada umumnya? Orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, orang kuat bermegah karena kekuatannya, orang kaya bermegah karena kekayaannya (Yer. 9:23). Tentu tidak dilarang orang mengejar banyak ilmu untuk berhikmat, bekerja keras untuk menjadi kaya, melatih diri menjadi kuat perkasa tetapi ini menjadi masalah kalau kita membanggakan diri dan mengandalkan kepandaian, kelihaian, kekayaan, kekuatan sendiri melebihi memegahkan Tuhan. Bukankah manusia pertama mempunyai pikiran dan ambisi untuk memegahkan diri ingin menjadi seperti Allah? Jangan heran manusia zaman ini juga fokus kepada diri sendiri ingin tampil megah, hebat dan diakui. Adam-Hawa adalah raja atas dunia saat itu di mana semua binatang dan tumbuh-tumbuhan tunduk kepada mereka tetapi mereka masih tidak puas dan malah ingin menyamai Allah, Raja di atas segala raja. Sifat bermegah ini terus berkembang hingga di era keturunan Nuh, mereka berkumpul di Babel ingin mendirikan menara dan mencari nama untuk diri sendiri (make a name for ourselves). Mereka ingin dihormati, diakui dan dimegahkan.
Tahukah kemegahan diri sendiri yang berkelebihan justru berpotensi membuat manusia berubah? Buktinya?
- Karena merasa lebih hebat, lebih superior, lebih pintar, mereka menipu dan menindas sesama (Yer. 9:4-6).
- Sikap terhadap Tuhan juga berubah, mereka meninggalkan hukum Taurat, tidak mau mendengarkan suara Tuhan, mengikuti kekerasan hati, mencari dewa-dewa yang menurut mereka lebih baik daripada Tuhan (Yer. 9:13-14).
Dan apa akibatnya? Tuhan menghukum mereka yang bersunat, orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab, semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya (Yer. 9:25-26). Ironis, orang Israel, umat pilihan Tuhan, bersunat fisik tetapi hatinya tidak bersunat. Mereka memegahkan diri dan lupa memegahkan Allah yang sudah membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan Mesir. Waspada, kita, orang percaya, termasuk orang-orang yang diselamatkan. Jangan sampai karena berkat kelebihan-kelebihan yang kita peroleh dari Tuhan justru membuat kita berubah sikap dan pikiran!
Berkat apa saja yang Tuhan perlengkapi bagi umat-Nya? Kaya dalam segala macam perkataan dan pengetahuan sesuai dengan kesaksian tentang Kristus juga tidak kekurangan dalam karunia apa pun (1 Kor. 1:5-7). Tuhan tidak tanggung-tanggung bekerja, Ia tidak hanya menyelamatkan umat-Nya tetapi juga memperlengkapi mereka dengan segala sesuatu. Justru karena ini kita harus berhati-hati agar fokus pandangan kita tidak beralih dari Allah yang menyelamatkan, Sang Pemberi berkat, kepada berkat-berkat yang Ia berikan (1 Kor. 4:6-7).
Aplikasi: hendaknya kita menyadari apa pun yang kita miliki: hikmat, kekuatan, segudang prestasi, kekayaan dll. tetap ingat bahwa semua itu pemberian dari Tuhan yang kita terima sehingga kita tidak perlu memegahkan diri.
Dikatakan “apa yang bodoh bagi dunia dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang berhikmat”. Siapa yang dimaksud “dunia” ini? Bukan hanya non-kristen yang belum/tidak percaya Tuhan tetapi lebih kepada cara berpikir dan cara hidup duniawi yang memegahkan diri sendiri. Jangan kita yang sudah diselamatkan kembali memiliki pikiran duniawi! Semakin kita pintar, kaya, berhikmat, kuat, semakin kiita harus mawas diri dan rajin intropeksi apakah kita tetap memegahkan salib Kristus atau kembali ke pola duniawi.
Mengapa kita harus bermegah dalam salib Kristus? Apa kelebihan dari salib Kristus? Di dalam Kristus Yesus, Ia menjadi bagi kita hikmat dari Allah yaitu kebenaran, kekudusan dan penebusan kita (ay. 30).
- Kebenaran sering dipandang sebagai standar benar atau salah – suatu garis tegas yang dipakai untuk menghakimi orang lain.
Jujur, saat kita lebih banyak mengetahui tentang kebenaran, kita makin lebih banyak pula menghakimi orang lain, karena kita makin dapat melihat orang lain benar atau salah. Dalam kehidupan nikah, bukankah kita sering menyalahkan suami/istri ketika kita makin tahu akan kebenaran? Apalagi kalau sudah diberitahu berulang-ulang masih saja dilakukan, mulailah keluar penghakiman.
Demikian pula ketika kita lebih banyak mengetahui tentang Alkitab – banyak mengetahui benar salah, kita menjadi ahli Taurat yang merasa diri benar kemudian gampang menghakimi melihat kesalahan orang. Bagaimana dengan Allah? Allah bukan hanya mengetahui kebenaran tetapi Ia adalah kebenaran itu sendiri. Di dalam kebenaran yang sempurna, Allah dengan jeli melihat semua kesalahan manusia sebab tidak ada seorang pun yang benar (Rm. 3:10). Apakah Allah dengan kebenaran-Nya kemudian menghakimi manusia? Tidak! Allah tahu kita salah tetapi Ia melakukan pembenaran.
Kebenaran tidak dilihat hanya dari perbuatan benar/tidak benar tetapi juga dari status dan keberadaannya. Ingat, kita adalah keturunan Adam, orang berdosa. Ilustrasi: ada seekor anak harimau tidak mau meniru induknya yang kejam yang memangsa binatang lain. Dia kemudian mau berubah menjadi seekor kucing yang jinak dengan berperilaku seperti kucing. Apakah perubahan perilaku anak harimau menjadi kucing ini mengubah statusnya sebagai anak harimau? Tidak! Dengan perbuatan, kita tidak dapat berubah menjadi orang benar. Namun manusia sering berusaha menjadi benar melalui perbuatannya, misal: dengan banyak beramal, melakukan kebaikan-kebaikan padahal status kita tetap orang berdosa karena kita adalah keturunan Adam-Hawa.
Kalau begitu bagaimana manusia dapat memiliki status orang benar? Kita beroleh kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan (Flp. 3:9). Kenyataannya, manusia berusaha menaati hukum Taurat mati-matian tetapi tetap ada cacatnya sebab tidak ada orang yang mampu melakukan hukum Taurat dengan sempurna. Jadi, kebenaran adalah anugerah dari Allah karena percaya kepada Kristus yang tersalib. Inilah hikmat sejati, manusia hanya bisa benar di hadapan Allah kalau Allah yang membenarkan. Oleh sebab itu sudah sewajarnya bila kita bermegah di dalam Kristus yang tersalib. Perhatikan, tanpa salib, tidak akan ada status kebenaran dalam diri kita mengakibatkan kita menuju kebinasaan kekal. Jadi, status kebenaran terjadi karena anugerah Allah kepada kita.
- Kekudusan sering diartikan kesucian, kemurnian, bersih, dipisahkan untuk tujuan khusus bagi Allah.
Manusia berusaha menjadi kudus dengan bertapa, menyendiri, menjauhi orang-orang jahat tetapi kenyataannya tetap gagal sebab tidak ada seorang pun kudus kecuali dikuduskan di dalam Nama Yesus Kristus dan Roh Kudus (1 Kor. 6:11).
Bagaimanapun juga kekudusan tidak stagnan tetapi harus ada progres menunjukkan pertumbuhan. Status kudus/suci tidak otomatis membuat perbuatan-perbuatan kita kudus tanpa dosa. Ilustrasi: seorang narapidana divonis bebas dan kembali ke masyarakat. Walau memiliki status bebas, dia tidak otomatis bertobat dan berubah kelakuannya. Ia masih harus membuktikan dirinya tidak lagi bertabiat jelek dan berpikiran kotor untuk berbuat kejahatan lagi. Masih harus ada usaha yang harus dia lakukan
Apa yang harus kita upayakan untuk menjadi orang kudus? “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibr. 12:14) Tidak ada jalan lain kecuali mengalami penyucian demi penyucian dengan hidup menaati Firman Tuhan dan “mematikan kedagingan” dalam upaya hidup kudus sesuai dengan status yang Allah berikan.
- Penebusan berarti pemilik barang mengambil kembali barang miliknya dengan membayar harga tertentu. Yesus menebus manusia berdosa dengan membayar lunas (harga penuh) yakni pengurbanan-Nya di atas kayu salib. Ia tidak membayar dengan perak atau emas tetapi darah-Nya yang mahal (1 Ptr. 1:18-19).
Karena anugerah Allah semata kita dibenarkan dan dikuduskan oleh-Nya, apa respons kita terhadap-Nya? Jangan ada seorang pun memegahkan diri di hadapan Allah (1 Kor. 1:29). Hal ini ada dalam hati dan pikiran kita yang tidak dilihat orang lain, hanya diri kita dan Tuhan yang tahu. Apakah kita masih fokus memegahkan diri sendiri atau sudah beralih arah memegahkan salib Kristus? Masihkah kita suka menilai orang lain lebih rendah levelnya dan merasa kita lebih terhormat ketimbang dia?
Kenyataannya, manusia cenderung suka memegahkan diri karena keberhasilan (kepintaran, kekuatan, kekayaan dll.) yang diraihnya. Manusia tidak sadar bahwa semua kesuksesan bersifat fana itu adalah anugerah/pemberian dari Allah. Namun masih ada pemberian bersifat kekal dari Allah yang kita terima tanpa usaha dan pekerjaan baik kita, itulah keselamatan di dalam salib-Nya. Untuk itu sudah sepatutnya kita bermegah dalam salib Kristus sebagai respons pembenaran, pengudusan dan penebusan yang dikerjakan-Nya atas hidup kita sehingga kita terlepas dari ancaman hukuman maut beralih pada keselamatan kekal bersama-Nya. Amin.