• BERMEGAH DALAM SALIB KRISTUS
  • 1 Korintus 1:26-31
  • Lemah Putro
  • 2026-02-22
  • Pdp Arnold Sutandharu
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
bermegah-dalam-salib-kristus

Shalom,

Bicara mengenai salib yang kita kenal mungkin sejak kecil dari Sekolah Minggu adalah suatu kebodohan bagi dunia (1 Kor. 1:18). Mengapa? Mereka menganggap aneh bagaimana mungkin Allah dapat mati? Atau mengampuni seharusnya cukup diperkatakan tetapi mengapa Allah harus membunuh Anak-Nya sendiri? Atau Allah kok mempunyai anak dst.? Namun bagi kita yang diselamatkan, salib adalah kekuatan Allah. Kekuatan macam apa? Pada saat penyaliban, kekuatan Allah yang mahadahsyat dinyatakan dalam keadilan di mana dosa mendapat hukuman sekaligus kekuatan kasih-Nya yang mengampuni manusia untuk diselamatkan. Kurban Yesus disalib dan pemilihan orang-orang kudus membuktikan kekuatan hikmat Allah yang telah direncanakan-Nya bahkan sebelum dunia diciptakan (Ef. 1:4-8).

Hikmat tersembunyi yang tidak dipahami oleh penguasa-penguasa mana pun dinyatakan di salib. Namun salib tidak menarik sama sekali bagi manusia. Apa yang manusia cari? Tanda (mukjizat, perasaan, pengalaman, manifestasi rohani) dan hikmat berdasarkan logika, misal: bagaimana caranya Allah menjadi manusia; waktu mati, Yesus ke mana dst. Kekristenan masa kini masih mencari dua hal ini, buktinya: yang mencari “tanda” ikut gereja aliran Pantekosta karismatik sementara yang mencari “hikmat” untuk mengisi otak biasanya masuk aliran Calvinis/Reformed. Tentu ini tidak salah tetapi yang terpenting ialah memberitakan Kristus yang disalib sebab Kristus yang disalib bukanlah sekadar Guru agung atau figur bermoral tinggi yang harus diteladani. Sayang, salib menjadi sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani tetapi bagi mereka yang dipanggil, orang Yahudi maupun non-Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Heran, pola kerja atau modus operandi-Nya Allah tidaklah populer sebab dalam melakukan sesuatu Ia suka memakai hal-hal yang kelihatan bodoh, lemah dan tidak menjadi perhatian orang pada umumnya.

Bagaimana pola kerja atau modus operandi-Nya Allah bagi jemaat?

  • Mengingat (see = melihat) bagaimana keadaan kita ketika dipanggil oleh Tuhan (ay. 26a).

Lihat kondisi kita waktu dahulu dipanggil oleh Tuhan! Keadaan kita sebenarnya: tidak banyak yang bijak, tidak berpengaruh dan tidak terpandang (ay. 26b).

Bukti Allah memilih orang “bodoh” nan lemah ialah:

    • Bangsa Israel adalah bangsa kecil, mantan budak pula.
    • Daud muda yang mukanya kemerah-merahan dipilih Allah untuk menjadi raja padahal ayahnya sendiri melupakannya dan tidak berniat mengundang dia untuk menemui Samuel.
    • Gideon hidup saat Israel sedang ditindas oleh bangsa Midian yang jumlahnya sangat banyak bagaikan kawanan belalang. Keadaan Israel pada waktu penuh ketakutan, melarat tidak mempunyai makanan, uang dll. karena perbuatan bangsa Midian. Kemudian Tuhan mengutus Gideon untuk menyelamatkan Israel. Gideon menjawab bahwa dia dari kaum terkecil di antara suku Manasye dan orang paling muda dari kaum keluarganya (Hak. 6:15). Dengan kata lain, keadaan Gideon kecil, tidak ada apa-apanya.

Introspeksi: lihat siapa diri kita ini? Jujur, menurut ukuran manusia, tidak banyak dari kita yang bijak, yang berpengaruh/berkuasa juga tidak terpandang/keturunan bangsawan. Jelas, dalam membangun jemaat, Tuhan tidak memilih dan mengumpulkan orang-orang pintar, juara dan terkenal walau ada dari mereka yang bijak dan penguasa tetapi tidak banyak. Sungguh kita, orang kecil, ada di dalam kemurahan Tuhan semata bila Ia memilih kita untuk diselamatkan. Ketahuilah sehebat-hebatnya manusia, tetap ada sisi rusak dan salahnya. Seandainya manusia tidak ada kekurangan dan kesalahan, dia tidak akan membutuhkan Kristus. Jadi Allah memilih kita bukan karena kita hebat atau kita lemah tetapi karena Ia mau menerima kita.

  • Melihat maksud dan tujuan Tuhan (ay. 27-28).

Frasa “dipilih Allah untuk” diulang tiga kali menunjukkan Ia memiliki tujuan mengapa memilih kita. Untuk itu kita perlu mengetahui apa maksud dan tujuan Allah memilih kita yang kecil ini.

Jelas Allah memiliki misi dan tujuan khusus pada setiap pemilihan untuk membuktikan bahwa pekerjaan Tuhan adalah oleh Tuhan sendiri. Contoh: kisah Gideon yang diperintah Allah untuk maju menghadapi orang Midian yang jumlahnya banyak sekali. Dia mulai mengumpulkan orang Israel dan terkumpullah 32.000 orang yang ketakutan, kelaparan, dan tidak cocok untuk berperang. Kemudian Allah mengatakan kepada Gideon bahwa jumlah itu terlalu banyak karena dikhawatirkan kalau berhasil menang mereka akan memegahkan diri mengatakan kemenangan diraih oleh tangan mereka sendiri (Hak. 7:2). Allah tidak menghendaki hal ini terjadi. Ia mau memastikan bahwa kemenangan bukan hasil kekuatan dan kepintaran manusia tetapi karya perbuatan- Nya. Allah menyuruh Gideon memberitahu siapa dari mereka yang takut berperang untuk meninggalkan pegunungan Gilead dan tersisalah 10.000 orang. Jumlah ini masih dianggap kebanyakan oleh Tuhan. Mereka diseleksi melalui cara minum di sungai dan akhirnya tinggal 300 orang yang siap perang. Secara manusia, jumlah kecil ini tidak ada harapan menang melawan kumpulan musuh yang tidak terhitung banyaknya. Ajaib, justru musuh dikalahkan dan ini membuktikan kemenangan adalah pekerjaan Tuhan semata. Dengan demikian jangan ada seorang manusia pun memegahkan diri di hadapan Allah (1 Kor. 1:29).

Aplikasi: hendaknya kita sadar sepenuhnya bahwa kemenangan dan keselamatan adalah hasil pekerjaan Allah bukan karena kepintaran atau kekuatan manusia agar tidak ada seorang pun memegahkan diri di hadapan-Nya (Ef. 2:8-9). Kalaupun kita memiliki kemampuan dan pengalaman dalam pelayanan – menyanyi, main musik dll. – semua kebisaan in karena anugerah Allah juga. Jangan mengira tanpa kita, pekerjaan Tuhan akan mandeg tidak jalan! Singkatnya, pekerjaan Tuhan berhasil karena Ia yang kerja. Jangan pula minder merasa tidak mempunyai kemampuan apa-apa kemudian tidak melayani Tuhan! Pelayaan sekecil apa pun akan dibuat-Nya berhasil sehingga kita dapat mengakui bahwa keberhasilan itu adalah karya Allah.

Perhatikan, Allah memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat. Di mana kita memosisikan diri, sebagai orang kuat atau orang lemah? Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, kita akan dipermalukan nanti! Jangan pula meremehkan orang lain yang kita pikir lemah (dilihat dari penampilan dan kendaraan yang dimiliki). Penghakiman semacam ini sangat berbahaya.

  • Melihat siapa Kristus bagi kita (ay. 30).

Kristus Yesus menjadi hikmat bagi kita – Ia telah menjadi pembenaran, pengudusan dan Ia penebusan bagi kita.

Apa arti Kristus adalah hikmat bagi kita? Di dalam Kristus kita melihat dunia dari sudut pandang-Nya oleh sebab kita memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus (Flp 2:5). Karena Kristus berhikmat dan Ia adalah hikmat Allah, kita mampu melihat dunia bisnis, seseorang, gereja dari sudut pandang Kristus. Dampaknya, saat menghadapi problema kehidupan, kita melihat dengan cara pandang berbeda. Contoh: melihat seseorang (di luar Tuhan) dalam kesulitan nikah dan berencana berpisah karena perbedaan kebiasaan dan budaya sehingga menganggap perceraian tidaklah masalah dan ganti istri bagaikan ganti baju. Jauh berbeda bila dilihat dari sudut pandang Kristus, laki-laki dan perempuan meninggalkan orang tuanya menjadi satu daging dan tidak boleh bercerai hingga maut memisahkan. Kalau Kristus ada di dalam kita, cara kita melihat dunia akan berubah tidak lagi memandang dari sisi filosofi, budaya, kepraktisan yang berbeda dengan pikiran Kristus. Kristus yang menjadi hikmat memberikan kita pengertian bagaimana kita dapat kembali kepada Allah. Sungguh, tidak ada hikmat dunia mana pun yang dapat menunjukkan kepastian jalan kembali kepada Allah. Yesus sendiri menjamin Ia memberikan hidup kekal kepada domba-domba yang mengenal-Nya dan tidak ada seorang pun dapat merebut mereka dari tangan-Nya (Yoh. 10:28).

Selain menjadi hikmat bagi kita. Kristus adalah pembenaran kita – kita dibenarkan dalam iman kepada Kristus (Rm. 4:20-25). Kita dipandang benar di hadapan Tuhan bukan karena kita tidak ada kesalahan tetapi karena dosa kita dikenakan kepada Kristus (2 Kor. 5:21). Yesus yang sempurna dan tidak mengenal dosa telah dibuat menjadi dosa karena kita supaya di dalam Dia kita dibenarkan.

Kristus juga pengudusan bagi kita. Kudus artinya khusus, beda, disendirikan, terpisah. Di dalam Kristus, kita terpisah dari dunia dan khusus hanya bagi Allah (Ibr. 10:10-14). Selain dikuduskan, dipisahkan, disendirikan, Ia juga menyempurnakan kita yang dikuduskan. Inilah proses pengudusan yang sedang kita hidupi saat ini. Kita dari hari ke hari menjadi lebih kudus/suci dan hidup di dalam kehendak Allah sampai menjadi serupa dengan-Nya. Kalau pun berdosa, Allah yang setia dan adil akan mengampuni asal kita mengakui dosa kita dan minta ampun kepada-Nya.

Tak ketinggalan, Kristus adalah penebusan bagi kita. Menebus artinya membayar harga; Yesus telah membayar harga sangat mahal bukan dengan emas dan perak tetapi dengan darah-Nya (1 Ptr. 1:18-19). Memang keselamatan itu kita peroleh dengan gratis tetapi bernilai mahal bagi Yesus dan Allah yang rela menyerahkan Anak satu-satunya mati disalib. Ilustrasi: kita bagaikan bakteri yang kotor, menjijikkan, sumber penyakit yang harus dijauhi da dibuang namun Allah malah mendekat untuk mengangkat dan menebus kita dari kotornya dosa. Bila kita menyadari betapa hebat pengurbanan Kristus yang membuat keselamatan kita tidak ternilai mahalnya, kita tidak akan mudah meninggalkan Dia kemudian pindah agama hanya gara-gara tuntutan pekerjaan, jodoh, dijanjikan ini itu. Ingat, penyelamatan oleh Allah berlaku sempurna bagi tubuh, jiwa dan roh.

Bila kita sudah melihat siapa diri kita, mengetahui maksud dan tujuan Allah serta mengerti siapa Kristus bagi kita, tidak ada alasan lain selain merespons “barangsiapa bermegah, hendaknya ia bermegah di dalam Tuhan” (ay. 31). Juga tidak ada kata-kata lain selain ucapan syukur atas karya-Nya dalam hidup kita yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia siapa pun kecuali Allah di dalam Yesus Kristus. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: