Shalom,
Apakah kita memiliki hikmat? Sering kali kita tidak sadar bahwa kita mempunyai hikmat. Hikmat adalah karunia, pemberian dari Tuhan di dalam kehidupan kita. Paling tidak kita memiliki hikmat manusia kalau belum mempunyai hikmat Allah. Hikmat manusia dapat diperoleh melalui pembelajaran, latihan, studi untuk meraih pengetahuan dan pengertian. Beda dengan hikmat Allah yang tidak dapat diupayakan dengan kekuatan manusia.
Apa itu hikmat Allah bagi kita? Hikmat Allah adalah karunia dan anugerah dari-Nya yang berkenaan dengan salib Kristus.
“…tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.” (1 Kor. 1:17b)
Paulus mengaku bahwa pemberita Injil memberitakan kebenaran Firman Tuhan bukan dari kepandaian manusia karena di dalamnya ada hikmat Allah yang hanya dapat dipahami oleh kuasa Roh Kudus yang memberikan pengertian di dalam hati dan pikiran kita. Hikmat Allah berkaitan dengan salib di mana Yesus menderita hinaan, pukulan dll. hingga mati disalib demi menyelamatkan manusia berdosa. Namun tidak semua orang dapat memahami perkara ini, buktinya yang mengadili dan menyalibkan Yesus justru bukan orang-orang bodoh menurut ukuran dunia sebab mereka adalah ahli Taurat, imam-imam kepala dll. Sungguh ironis, orang-orang pintar malah menyalibkan Kristus.
Perhatikan, salib Kristus hanya akan menjadi sebuah pengetahuan kalau diberitakan menurut hikmat manusia. Sebaliknya, jika diberitakan dengan hikmat Allah, setiap kita yang mendengar pemberitaan Firman Allah akan menerima kuasa dari salib itu.
“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (ay. 18)
Firman Allah tentang salib disampaikan untuk keselamatan dan jaminan masa depan kita. Memang pemberitaan salib adalah kebodohan bagi mereka yang binasa tetapi bagi yang diselamatkan pemberitaan ini adalah kekuatan Allah. Firman Allah yang diberitakan maupun dibaca bukan sekadar berita sejarah tetapi berkuasa menggerakkan hati dan menggetarkan jiwa kita yang menunjukkan Roh bekerja di dalam hidup kita karena iman. Jadi, iman mampu menangkap segala anugerah besar yang dinyatakan dalam kehidupan kita. Tanpa iman, tidak ada kuasa yang bekerja berdampak orang yang mendengar tetap tidak percaya dan tidak menerima kuasa salib.
Rasul Paulus menegaskan perkataan dalam memberitakan Injil merupakan suatu kekayaan melebihi permata apa pun yang diinginkan orang (Ams. 8:11). Jujur, kita sering tidak menyadari anugerah hikmat Allah yang membuka mata hati, pikiran, dan akal untuk dapat melihat keajaiban Tuhan yang dinyatakan dalam kehidupan ini. Bila kita menyadarinya, kita akan beroleh sukacita dan damai melihat kebesaran Allah di dalam hikmat-Nya. Perlu diketahui, hikmat itu tidak dapat dilihat kasatmata tetapi mengalami karya Tuhan yang nyata dalam kehidupan kita.
Sejak awal penciptaan alam semesta, Allah telah menunjukkan hikmat-Nya yang luar biasa dan seluruh Alkitab menyatakan kebenaran hikmat Allah. Contoh: Musa menulis Pentateukh atas pimpinan Roh Kudus, membelah Laut Teberau, memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di padang belantara, masuk Tanah Kanaan dst. oleh hikmat Allah.
Selanjutnya “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” (ay. 19)
Kata “hikmat” menurut KBBI artinya: kearifan, kebijakan, kesaktian (kekuatan gaib). Betapa orang mengejar-ngejar hikmat manusia dan mempertahankan kearifan, misal: sejak kecil kita dididik, belajar, mengejar ilmu setinggi langit padahal hikmat manusia ini terbatas bahkan akan dilenyapkan.
“Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.” (ay. 20-21)
Siapa ahli Taurat itu? Seorang yang ahli dalam hukum Taurat pemberian Tuhan kepada bangsa Israel. Ahli Taurat tiap hari belajar hukum Taurat dan kitab Talmud yang menyangkut segala aspek kehidupan manusia – dari remaja, kaum muda, nikah, tua sampai mati. Ini membuktikan bahwa pemberian Tuhan yang diterima tidak berhenti hanya saat ini tetapi terus berlanjut seperti Kitab Perjanjian Lama yang mencantumkan hukum Taurat berlanjut dengan Kitab Perjanjian Baru. Dan di Perjanjian Baru Tuhan menganugerahkan hikmat-Nya lebih besar menyangkut kematian dan kebangkitan Kristus. Sayang, hikmat Allah terkait penderitaan Yesus disalib ditolak oleh mereka yang tidak memercayainya. Ini sungguh suatu kebodohan! Namun bagi kita yang mengerti bahwa pengurbanan Yesus disalib merupakan wujud kasih-Nya bagi manusia berdosa, kita akan terkagum melihat pengurbanan yang ditanggung-Nya.
Sadarkah kita kalau menolak pemberian/anugerah Tuhan itu sama dengan menghina, melawan, tidak setuju dengan apa yang diperbuat oleh Tuhan terhadap kehidupan kita? Oleh sebab itu terimalah pemberian/anugerah-Nya walau kadang tidak “cocok” atau tidak menyukakan kita sebab Tuhan mempunyai maksud yang tidak kita pahami. Contoh: Raja Salomo yang memohon hikmat dari Allah tidak pernah membayangkan atau merencanakan akan mengadili dengan hikmat. Terbukti hikmat Allah kepada Salomo sangatlah hebat sebab tidak ada orang berhikmat sesudahnya.
Bagaimana dengan “bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?”
Ternyata apa yang diupayakan manusia menjadi kebodohan di hadapan Allah apabila manusia menolak hikmat yang dikaruniakan oleh Allah itulah salib Kristus karena di dalam salib-Nya ada kematian, kebangkitan, keselamatan, kemuliaan dan masa depan kita. Inilah tujuan hidup kita sebenarnya yakni menerima hikmat yang dianugerahkan Tuhan dalam hidup kita.
Bagaimana respons orang Yahudi dan orang Yunani terhadap hikmat Allah? “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” (ay. 22-23)
Orang Yahudi menghendaki tanda karena sudah merasa memiliki hikmat dari Taurat Tuhan tetapi permasalahannya adalah penggenapan dari hikmat Tuhan yang belum tuntas. Mereka belajar dan menangkap masih ada janji Tuhan yang belum tergenapi. Namun ternyata mereka menolak tidak dapat menerima penggenapan janji di dalam Kristus yang disalib. Buktinya? Mereka tersandung akan berita Kristus yang disalib. Mereka berharap beroleh pembelaan dari Tuhan tetapi kenyataannya Yesus malah mati sebagai kurban. Sesungguhnya hikmat juga tidak terlepas dari kurban di mana di era Musa, Allah memerintahkan adanya kurban sembelihan sebagai jalan keluar bagi pelanggaran mereka. Jadi hikmat bukan sekadar ucapan atau pengetahuan tetapi kenyataan hidup bersama Tuhan dan Roh Kudus.
Bagaimana dengan orang Yunani yang mencari hikmat? Jelas, orang Yunani mempunyai pengetahuan produk manusia tetapi tidak memiliki hukum Allah yang tersembunyi padahal siapa yang menerima hikmat Allah akan dijamin hidupnya.
Kita dahulu juga tidak memiliki hukum Allah tetapi kita dicangkokkan, dihisap menjadi umat Allah dan memiliki hikmat-Nya.
Baik orang Yahudi maupun orang Yunani tidak mengerti akan anugerah Allah di dalam hikmat-Nya, apakah ketidakpahaman ini kemudian dibiarkan dan dianggap sebagai hal yang wajar? Tidak! Hikmat membuat kita mengerti dan sadar bahwa kita hidup di dalam hikmat Allah. Hikmat dan kearifan Allah bukan sekadar kebiasaan baik dan budaya yang tidak menyentuh jiwa juga jaminan hidup kita hanya meliputi kehidupan sosial bermasyarakat yang terbatas lingkupnya.
“tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (ay. 24-25)
Jelas kuasa Allah bekerja di tengah-tengah kehidupan manusia, buktinya yang bodoh dan yang lemah dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia. Ternyata hikmat manusia bersumber dari segala upaya, usaha apa pun – yang baik maupun yang tidak baik – yang dikerjakan manusia. Waspada, hikmat manusia yang meniadakan hikmat Tuhan akan menyesatkan bahkan hikmat manusia yang baik sekalipun sifatnya (misal: upaya berbuat baik) tidak menjamin sepenuhnya.
Kalau begitu apa karakteristik orang berhikmat? Bagaikan membangun rumah kehidupan di atas batu karang teguh yang tetap kukuh ketika angin, badai maupun banjir menerpa. Kita membangun rumah tangga dan nikah kita dengan dasar (hikmat) Kristus. Oleh sebab itu kita patut bersyukur dan berbahagia sebab hikmat Allah yang tidak terlihat mata, tidak terdengar oleh telinga dinyatakan dan disediakan bagi orang yang mengasihi-Nya (1 Kor. 2:9-10) dan yang siap menerimanya.
Marilah kita memohon hikmat Allah dalam menghadapi keadaan dunia yang gelap penuh kepalsuan agar kita tetap berdiri kukuh saat dilanda badai pencobaan untuk keluar sebagai pemenang bersama-Nya. Amin.