• HIKMAT ALLAH MELAMPAUI HIKMAT MANUSIA
  • 1 Korintus 1:18-25
  • Lemah Putro
  • 2026-02-15
  • Pdp . Samuel Sirait
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
hikmat-allah-melampaui-manusia

Pernahkah Anda salah kirim pesan di WA alias “salah kamar”? Ketika menyadarinya, cepat-cepat pesannya dihapus tetapi perasaan malu sudah terlanjur tidak dapat dielakkan. Namun surat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus bukanlah suatu kekeliruan atau salah alamat yang pesannya ingin ditarik atau dihapus sesegera mungkin! Suratnya mengisahkan realita keadaan jemaat yang sudah terbelah menjadi empat kelompok. Memang mereka tidak menolak salib tetapi bahaya besar mengancam yaitu pusat perhatian mereka sudah bergeser. Mereka tidak hanya memilih selera terhadap pengkhotbah tetapi juga mengukur tingkat kerohanian berdasarkan: figur, kefasihan berbicara, kepiawaian, kecerdasan manusia bukan lagi menurut Kristus yang disalibkan.

Mengapa pergeseran menimbulkan risiko besar? Ketika pusat mulai bergeser, standar pun ikut berubah. Itu sebabnya Paulus membentangkan kontras yang sangat tajam antara hikmat Allah dan hikmat manusia agar fokus jemaat Korintus yang bergeser kembali kepada salib – mereka tidak lagi melihat salib secara kabur tetapi menjadikan salib sebagai pusat iman dan kehidupan mereka. 

Bagaimana jemaat Korintus (juga kita) mampu membedakan hikmat Allah melebihi hikmat manusia?

  • Melihat dengan cara pandang berbeda (ay. 18).

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”

Paulus tidak marah besar kemudian mengawali suratnya dengan bentakan tetapi ajakan penuh kasih untuk merangkul jemaat Korintus yang telah salah arah dan memanggil mereka  “saudara”.

Ironis, salib dan beritanya sama tetapi tanggapannya berbeda: yang satu menganggap salib adalah kebodohan sementara yang lain melihatnya sebagai kekuatan. Kesimpulan, masalah bukan terletak pada “salib” tetapi cara jemaat Korintus melihatnya. Dunia boleh mengatakan “kuat itu tanda menang; berhasil pasti terlihat hebat dan diberkati itu pasti hidupnya lancar” dan jujur cara kita melihat sesuatu sering dibentuk oleh lingkungan di sekitar kita. Bukankah lingkungan menjadi rumah kedua bagi setiap orang? Ilustrasi: reaksi pasien anak kecil ketika diberi obat oleh dokter jauh berbeda daripada pasien dewasa – anak kecil akan menolak dengan alasan obatnya pahit sementara orang dewasa mengerti obat yang pahit sekalipun berpotensi menyembuhkan. Dengan kata lain, obatnya sama tetapi dilihat dengan cara berbeda maka hasilnya juga beda. 

Paulus mengajak jemaat Korintus untuk segera mengganti “kacamata” mereka dalam melihat salib dari kacamata dunia menjadi kacamata iman walau masih belum terwujud dan berada di lembah pergumulan. Ingat, walau salib hidup terasa berat, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Masalahnya, kita sering  cepat-cepat menyimpulkan terlalu dini cara melihat salib yang berdampak menentukan cara kita menilai seluruh hidup ini. Contoh: saat hidup berat karena penderitaan dan kegagalan, kita cepat-cepat menyimpulkan habislah akhir hidup kita karena Tuhan tidak menolong masalah kita padahal kondisi kita masih baru “episode” 1 sedangkan masalah keseluruhan berakhir di “episode” 12. 

Aplikasi: marilah kita belajar melihat salib dengan kacamata iman sehingga kita tidak mudah panik saat dalam keadaan sulit atau sombong kalau berhasil. Kita tidak mudah hancur saat gagal sebab sering kali saat semua lancar iman kita kuat; sebaliknya, begitu masalah berat datang bertubi-tubi, kita mempertanyakan apakah Tuhan ada dan runtuhlah hidup kita. 

  • Hidup dengan standar Allah (ay. 22). 

Ada dua standar kekuatan yang besar di era itu yakni: orang Yahudi menghendaki tanda, orang Yunani mencari hikmat. Orang Yahudi sudah terbiasa dan dimanja oleh tanda-tanda, buktinya mereka tidak kepanasan atau kedinginan di padang gurun, tidak perlu belanja ke pasar untuk membeli bahan makanan, terbiasa melihat mukjizat seperti terbelahnya Laut Teberau, 10 tulah dll. Sementara standar Yunani menekankan hikmat, logika, filsafat, kecerdasan, retorika. Singkatnya, semua orang mempunyai ukuran dan standar di dalam menilai segala sesuatu. 

Introspeksi: standar dan ukuran siapa yang kita pakai? Apakah sesuai dengan Firman Tuhan? Atau sudah pelan-pelan bergeser ke standar dunia yang mengikuti banyaknya subscribers dan followers – kalau viral dan ramai, dianggap benar. Ilustrasi: saat jalan-jalan di dalam Mall, kita tidak menyadari apa yang terjadi di luar entah macet parah, hujan deras, banjir, puting beliung menerbangkan atap rumah dll. Kita yang di dalam Mall terasa nyaman dan aman. Kondisi semacam ini dialami oleh jemaat Korintus yang sudah merasa rohani, benar dan aman padahal tanpa sadar pusatnya sudah mengalami pergeseran – awalnya salib tetapi pelan-pelan bergeser kepada manusia. Apakah kondisi kita juga seperti Itu? Merasa semua baik-baik saja padahal hati sudah berubah tidak lagi berpusat kepada salib? 

Mengapa Allah tidak memakai standar dunia supaya lebih masuk akal dan dapat diterima? Mengapa harus melalui standar salib? Untuk meruntuhkan kesombongan. Kalau seandainya jalan Allah tidak melalui salib, manusia sombong akan memamerkan prestasi dan kekuatannya sendiri sehingga tidak membutuhkan Allah. Padahal keselamatan adalah anugerah dari Allah bukan hasil pencapaian seseorang. Yang selamat bukan si paling pintar, yang ditebus Tuhan bukan yang mempunyai IQ tinggi tetapi siapa saja yang percaya kepada salib dan Kristus yang disalibkan. 

Paulus tidak menghukum hikmat orang Korintus yang keliru tetapi ingin menunjukkan apa yang tidak dapat dicapai manusia dan apa yang Allah mampu capai. Dengan kata lain, kita harus mengakui batasan kita dan membuka diri bahwa hanya Allah yang sanggup menolong menyelesaikan masalah kita. Kita membutuhkan Allah dan berhenti mengandalkan hikmat dunia.  

Allah sengaja memilih cara yang bodoh, sederhana bahkan tidak spektakuler untuk mempermalukan hikmat dunia. Jadi Injil Kristus yang dianggap bodoh bagi dunia adalah kekuatan Allah bagi kita yang dipanggil oleh-Nya. Waspada, ketika salib dilucuti dan Kristus ditarik dari dalam gereja, gereja semacam ini tidak lagi beribadah kepada Tuhan sebab tanpa salib tidak ada keselamatan dan Injil tanpa salib bukanlah Injil sejati.  

  • Mengandalkan kuasa Allah (ay. 24-25). 

“tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.”

Mau menjadi manusia yang imannya tidak mudah terhancurkan? Tuhan tidak perlu menunggu kita harus pandai, kaya, mempunyai jabatan tinggi terlebih dahulu untuk percaya kepada-Nya; justru sebaliknya, yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia. Bahkan di dalam kelemahanlah kuasa-Nya sempurna (2 Kor. 12:9). Kelemahan bukanlah aib yang perlu disembunyikan dan ditutup rapat-rapat karena di dalam Kristus yang lemah justru lebih kuat. Di salib kita melihat tangan Yesus mengampuni orang yang berdosa, yang gagal, yang tertolak serta memulihkan hati yang hancur.   

Sungguh, kita tidak perlu mengerti semua karya Tuhan baru kemudian percaya kepada-Nya. Jangan percaya dengan menggunakan logika kita, ini bukanlah kekuatan Allah sebab iman bukan mengerti dahulu baru melangkah tetapi percaya walau belum mengerti. Tetaplah melaangkah maju saat menghadapi badai. Kita mengikut Tuhan bukan ketika semua masalah sudah terjawab tetapi karena kita tahu siapa yang memegang hidup kita. Kita juga tidak harus menjadi ahli teologi dahulu untuk diselamatkan. Tuhan menunggu kita datang kepada-Nya terlepas dari kondisi semrawut apa pun. Ilustrasi: pemenang dari pelari maraton bukanlah yang paling cepat tetapi yang mampu bertahan sampai garis finish. Banyak orang terlihat begitu semangat dan kuat rohani di awal-awal pengikutan karena dalam suasana keberkatan tetapi iman yang bertahan sampai akhir akan menjadi pemenang walau terseok-seok di tengah perjalanan. Ingat, kuasa Allah yang tak terbatas tidak kita temukan di tempat lain. Jangan memakai ukuran dunia tetapi terimalah jalan Tuhan meskipun asing, menanjak dan terjal untuk ditempuh! Kalau memang harus melalui salib, kita meminta kekuatan kepada Tuhan untuk dimampukan melaluinya. Bukankah di kayu kasar itu kita melihat Allah menyelamatkan dunia dan hidup kita dipulihkan?

Aplikasi: hendaknya kita percaya dan mengandalkan kuasa Allah sekalipun belum tampak hasilnya. Tetap setia walau belum mengerti dan tetap taat walau belum menang. Kenyataannya, Allah sering memakai proses amat panjang untuk menguji kesabaran kita. Kita harus bersedia memikul salib di dalam doa dan kelemahan kita. Ia menjawab doa kita seturut waktu-Nya dan mempunyai proses-Nya sendiri yang berbeda dari rencana kita. 

Mau tahu hikmat Allah melampaui hikmat manusia? Lihatlah dengan cara pandang beda, hiduplah dengan standar Allah dan andalkan kuasa-Nya! Letakkan semua beban pergumulan di salib Kristus, serahkan semua kepada-Nya karena di sanalah kita mendapatkan kekuatan baru dari-Nya. Amin.

 

 

  • Video Youtube Ibadah: