Shalom,
Sudahkah kita bergantung pada kekuatan Allah? Firman Allah juga mengingatkan agar kita tidak bergantung pada hikmat manusia. Masalahnya, apakah kita mengenal Allah? Ketika kita mengenal seseorang yang mampu menolong kita, kita tentu tidak perlu takut. Apakah Paulus menulis surat Korintus memakai hikmat manusia atau hikmat Allah? Apa bedanya? Hikmat manusia hanya mengutarakan pengetahuan sementara hikmat Allah menimbulkan iman yang datang dari mendengarkan Firman (Rm. 10:17).
Perlu diketahui orang Yahudi menuntut tanda/mukjizat dan hikmat Allah yang menyelamatkan manusia berdosa dianggapnya suatu kebodohan (1 Kor. 1:18,22). Sesungguhnya Tuhan membuka diri terhadap siapa pun, buktinya Alkitab diterjemahkan dalam pelbagai macam bahasa: internasional, nasional, regional/daerah untuk mempermudah mereka yang hidup di daerah terpencil dengan beda budaya serta kebiasaan mengerti pesan dan makna dari Firman Tuhan. Contoh: Paulus memakai bahasa Yunani menghadapi orang Yunani dan menggunakan bahasa Ibrani dengan orang Yahudi. Namun dia menegaskan bahwa perkataan maupun pemberitaan disampaikannya dengan keyakinan akan kekuatan Roh (1 Kor. 2:4).
Apakah kita juga mengimani perkataan Paulus agar iman kita tidak tergantung pada hikmat manusia? Ternyata bentuk khotbah yang disampaikan ada yang berasal dari hikmat manusia (banyak sekali ragamnya) dan satunya dari Roh Kudus (hanya satu).
Sesungguhnya hikmat Allah telah berlangsung sejak awal penciptaan alam semesta di mana Allah Tritunggal (Allah-Firman-Roh Allah) bekerja sama di dalam penciptaan. Manusia pertama – Adam dan Hawa – menerima janji dan berkat luar biasa dari-Nya namun sayang mereka menolak perintah-Nya berakibat jatuh ke dalam dosa dan kita, keturunannya, juga berdosa. Kenyataannya, kita masih terpengaruh dan dipengaruhi oleh dunia yang rusak ini apalagi kalau relasi kita dengan Roh Kudus sudah mulai renggang, kita tidak bakal beroleh kekuatan.
Rasul Paulus menulis surat Korintus ini ± 55-56M. Dia mengetahui masalah yang ada pada jemaat Korintus terutama perpecahan karena adanya pengultusan pengkhotbah Paulus, Apolos, Kefas/Petrus, Kristus (1 Kor. 1:12).
Paulus mengambil keputusan untuk berbicara hanya mengenai Yesus Kristus dan kematian-Nya di kayu salib bukan tentang kebangkitan atau kenaikan-Nya ke Surga. Mengapa yang dibicarakan malah kelemahan Yesus – menderita hingga mati disalib – bukan kehebatan-Nya dalam kebangkitan?
Paulus sendiri datang kepada jemaat Korintus dalam kelemahan dan sangat takut serta gentar (ay. 3 ). Dia rela menderita dipenjara, didera di luar batas, terkatung-katung di tengah laut, bahaya banjir dan penyamun, tanpa pakaian, kelaparan dll. demi Kristus (2 Kor. 11:23-27). Bahkan dia bekerja untuk memelihara semua jemaat. (ay. 28).
Tahukah siapa Paulus ini? Awalnya bernama Saulus (= besar) sebelum bertobat. Dia sangat membenci pengikut Yesus dan termasuk pembunuh berdarah dingin (Kis. 7:58; 8:1-3). Setelah bertobat dia dipanggil Paulus (= kecil) dan memberitakan Injil salib Kristus dengan militan hingga dikejar-kejar hendak dibunuh.
Mengapa Paulus mengatakan “datang dengan keadaan lemah”? Dia bukan sekadar basa-basi untuk menarik simpati jemaat tetapi dia memang lemah dan sakit; hal ini dikatakan kepada jemaat Galatia (Gal. 4:13-14) yang cepat sekali memutarbalikkan Injil Kristus kemudian beralih kepada injil yang lain (Gal. 1:6-8). Dia datang sebagai pengkhotbah yang tidak ingin disanjung tetapi malah menderita demi Kristus.
Introspeksi: apa yang diberitakan oleh para pengkhotbah di mimbar? Apakah berita berkat kemakmuran, berkat jasmani berkelimpahan? Atau berita tentang salib Kristus? Dan beranikah pengkhotbah masuk dalam penderitaan seperti dialami oleh para rasul yang bahkan rela mati syahid?
Mengapa harus berita tentang salib? Tidak ada jalan lain untuk masuk ke Surga kecuali melalui Yesus (Yoh. 14:6) dan barangsiapa mau mengikut Dia harus mau memikul salib (Mat. 10:38; Luk. 14:27). Kita harus mau memikul salib kita sendiri bukan salib-Nya Yesus karena Ia tidak perlu ditolong oleh manusia. Paulus juga berani pikul salib penderitaan mati dibunuh di Yerusalem dalam menuntaskan tugas pelayanannya (Kis. 20:-24). Paulus memutuskan untuk hidup bagi Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya bagi dia (Gal. 2:20-21). Jadi tidak heran dia cuma mengetahui Yesus Kristus yang disalib (1 Kor. 2:2) dan bermegah di dalam salib-Nya (Gal. 6:11-14). Sungguh Paulus mempunyai kekuatan (Firman) Allah bahkan di dalam tubuhnya ada tanda-tanda milik Yesus (ay. 17)! Dia juga mengingatkan jemaat untuk tidak bermegah karena sunat tetapi pada salib Kristus. Bagaimana bermegah dalam salib Kristus? Dunia mati bagi kita dan kita mati bagi dunia, maksudnya kita tidak lagi bersahabat dengan dunia. Bila kita menerima salib, kita harus menolak dunia.
Kembali mengapa Paulus mengatakan, “Aku datang dalam kelemahan dan sangat takut dan gentar”? Dia diberi duri dalam daging supaya tidak meninggikan diri. Walau tiga kali berseru kepada Tuhan agar dibebaskan dari siksaan duri tersebut, Tuhan menegaskan kasih karunia-Nya sudah cukup baginya. Justru di dalam kelemahan, kuasa-Nya menjadi sempurna (2 Kor. 12:6-9). Tuhan selalu memberi dengan porsi yang tepat – tidak kebanyakan atau kurang. Itu sebabnya Paulus senang dan rela di dalam kelemahan oleh karena Kristus (ay. 10).
Introspeksi: sadarkah bila permohonan doa kita meminta pertolongan Tuhan tidak juga dijawab oleh-Nya walau kita memohon berkali-kali? Kita sering tidak menghargai kasih karunia Tuhan dan merasa tidak puas olehnya. Justru saat dalam kelemahan, kita boleh mengalami kuasa Kristus turun menaungi kita. Sebaliknya, kalau kita masih bermegah dengan kekuatan sendiri karena kekayaan, kedudukan tinggi, kepandaian dll. kuasa Tuhan tidak menaungi kita. Tuhan tidak pernah salah dalam bekerja dan semuanya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Kita mau bergantung kepada siapa? Kepada kekuatan Allah yang dianggap kebodohan bagi dunia? Atau kekuatan manusia yang tampak megah di luar? Marilah kita mengandalkan kekuatan Allah walau kita harus menderita kelemahan karena justru dalam kondisi semacam itu mukjizat kuasa-Nya dinyatakan dan kita beroleh kemenangan dari-Nya. Amin.