• TEGUH SAMPAI AKHIR
  • 1 Korintus 1:7-9
  • Lemah Putro
  • 2026-02-01
  • Pdt. Jusak Pundiono
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
teguh-sampai-akhir

Shalom, 

Ternyata ada berbagai motif dalam mengikut Tuhan, yakni: disuruh orang tua, menaksir seseorang, banyak rekan bisnis di gereja, memiliki hobi sama sehingga gampang janjian dll. Namun dengan motif semacam ini mampukah untuk tetap setia menanti janji Tuhan serta teguh mengiring Dia sampai menutup mata? Bukankah ayat mengatakan banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14)? Apa pun motivasi kita beribadah, Tuhan melihat hati.

“Teguh Sampai Akhir” harus menjadi target tujuan hidup kita walau harus dilalui dengan perjuangan dan pergumulan. Kita teguh bersama Tuhan bukan bersama pandangan atau pengalaman atau siapa pun andalan kita.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengerti apa arti kata teguh di dalam 1 Korintus 1:8? “Ia juga akan meneguhkan (bhs. Yun. bebaioo = to confirm, to make sure) kamu sampai kepada kesudahannya sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.”

Kata sifat dari “meneguhkan” adalah “teguh”, bahasa Yunaninya “bebaios” mempunyai beberapa makna, antara lain: merasa aman; berlandasan kuat; sepenuhnya yakin. Jadi “teguh sampai akhir” berarti merasa aman, berlandasan kuat dan sepenuhnya yakin sampai akhir.

Bagaimana kita teguh sampai akhir menurut 1 Korintus 1:7-9)?

  • Merasa aman sampai akhir (ay. 7).

Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan (bhs. Yun. apekdekhomai = assiduously/persistently/diligently and patiently waiting for) penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.”

Kata “menantikan” mengandung makna ketekunan dan kesabaran. Jadi menanti dengan tekun (= sungguh-sungguh dan sibuk melakukan sesuatu yang digemari atau menjadi hobi) juga dengan “sabar” (= tenang hati terutama saat menghadapi pencobaan) karena kita tidak saja dikaruniai untuk percaya tetapi juga menderita bagi Dia (Flp. 1:29). Jelas ada penderitaan seiring dengan percaya dalam pengikutan kepada Yesus. Namun kita terkadang tidak menyadari saat menderita kita menggerutu dan bersungut-sungut padahal semua itu terjadi seizin Tuhan agar kita bukan hanya percaya tetapi juga menderita bagi Dia. Bukankah banyak saudara seiman menderita lebih parah berhadapan dengan orang-orang di luar Tuhan yang menganiaya dengan penuh kebencian?  

Sementara itu “penyataan Tuhan” merujuk pada kedatangan Kristus kedua kalinya. Jemaat Korintus dinyatakan tidak lagi ada kekurangan suatu karunia apa pun. Namun karunia di sini bukanlah karunia yang berkaitan dengan perkara duniawi seperti karunia menjalankan bisnis, sukses dalam studi dan karier, pintar melobi menghasilkan transaksi miliaran dll. Perhatikan, tujuan dari pelbagai karunia hanyalah satu yakni menjadi berkat dan berlimpah-limpah dalam kebajikan (2 Kor. 9:8). 

Namun semua perkara duniawi tidak akan memberikan rasa aman sampai akhir hidup kita atau akhir zaman menjelang kedatangan Kristus sebab:

  • Tidak menjamin apakah kita pasti akan sungguh-sungguh tekun dan fokus menantikan kedatangan Kristus kedua kalinya.
  • Tidak menjamin apakah kita pasti sabar dan tenang menghadapi pencobaan sementara menantikan kedatangan-Nya. Yang terjadi malah sebaliknya, kita tidak sabar menghadapi pencobaan dan berusaha menggunakan berkat jasmani (uang, kemampuan, koneksi orang penting dll.) untuk segera mengatasi pencobaan tanpa menantikan tuntunan Tuhan.  

Perlu diketahui pencobaan akan semakin berat menjelang kedatangan Tuhan untuk menguji iman apakah kita tetap teguh sampai akhir. Kalau begitu apa yang membuat kita merasa aman sampai akhir? Kata “demikianlah” menegaskan segala sesuatu yang sudah dibicarakan sebelumnya, yaitu: kaya di dalam segala hal – dalam segala macam perkataan dan pengetahuan (ay. 5-6). 

Karunia perkataan dan pengetahuan membuat kita aman hingga akhir hidup kita. Apa yang dimaksud dengan karunia perkataan dan pengetahuan?

    • Perkataan: pemberitaan Firman Allah dalam bentuk khotbah yang disampaikan dalam ibadah, sharing Firman di komsel-komsel.
    • Pengetahuan: doktrin-doktrin yang disampaikan melalui Pendalaman Alkitab. 

Paulus memberitakan Firman setiap hari Sabat untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan Yunani bahwa Yesus adalah Mesias (Kis.18:4-5,11) juga mengajar Firman Allah di tengah-tengah mereka (ay. 11). Di sana ada Akwila, Priskila juga Silas dan Timotius yang datang dari Makedonia. 

Apa kriteria dari karunia perkataan dan pengetahuan? Sesuai dengan kesaksian Kristus (1 Kor. 1:6), yakni kesaksian Kristus yang tercantum di dalam seluruh Alkitab – kitab Taurat Musa di Perjanjian Lama, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur (Luk. 24:44-45). Kesaksian tentang kelahiran, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga telah digenapi dan kita sedang menantikan penggenapan akan kedatangan-Nya kembali. Dan Roh Kudus memberikan pengertian akan Kitab suci kepada setiap orang percaya yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus (Ef. 1:13). Yang mutlak tidak dapat ditawar-tawar ialah seluruh Alkitab meninggikan Kristus seperti diakui oleh Yohanes Pembaptis bahwa dia bukan Mesias tetapi diutus untuk mendahului-Nya (Yoh. 3:28-30). 

Dalam pola pengajaran Tabernakel: 

Orang yang percaya akan Firman kebenaran (Injil keselamatan) dimeteraikan dengan Roh Kudus → Pintu Gerbang

Dipimpin dan hidup berjalan dalam Roh Kudus → Pintu Kemah

Aplikasi: bila kita mau merasa aman sampai akhir, hendaknya kita menggemari, menekuni, memenuhi hati dan pikiran dengan Firman Allah yang meninggikan Kristus bukan pengkotbahnya. Pengurapan Roh Kudus membuka pikiran kita untuk dapat mengerti Firman Tuhan yang didengar atau dibaca secara pribadi, sehingga kita dimampukan untuk sabar dalam menanti kedatangan-Nya, memiliki hati tenang dalam menghadapi pencobaan diekspresikan dalam perkataan dan perilaku yang menjadi kesaksian dalam meninggikan Yesus Kristus.

  • Berlandasan kuat sampai akhir (ay. 8).

“Ia (Allah Bapa) juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya (bhs. Yun. telos = the end of some act or state), sehingga kamu tak bercacat (bhs. Yun. anegketos = unaccused) pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” 

Allah Bapa akan terus menerus meneguhkan kita sampai akhir periode hidup kita masing-masing (bukan akhir zaman) sehingga kita tidak bercacat pada hari kedatangan Tuhan kita.

Siapa yang diteguhkan Allah sampai pada kesudahannya? Mereka yang ada di antara jemaat Korintus (ay. 6). Maka supaya tidak bercacat pada hari Tuhan Yesus Kristus, setiap pribadi harus menempatkan diri berada di antara jemaat bukan berada di luar jemaat, berarti berada di dalam penggembalaan sebuah jemaat. 

Introspeksi: sudahkah kita menempatkan diri berada di antara jemaat gereja di mana kita digembalakan? Marilah kita setia berada dalam penggembalaan dan melayani Tuhan sampai akhir masa hidup kita. Kalaupun mati, kita mati di dalam keteguhan iman kepada Yesus Kristus. Jangan menjadi Kristen keliling yang menggembara dari satu gereja ke gereja lain! Juga jangan menentukan pilihan sendiri sebab Tuhanlah yang memilih kita dan biarlah Gembala Agung memilihkan tempat pengembalaan yang tepat bagi kita. 

Kata “tidak bercacat” berarti tidak dapat dihadapkan untuk dituduh. Ini menjadi syarat bagi penilik jemaat, penatua, gembala sidang (Tit. 1:6-7) dan diaken (1 Tim. 3:10). Jadi, kualifikasi penetapan gembala sidang, penatua, diaken dll. kriteria utamanya bukan pada hal-hal lahiriah tetapi mereka tidak dapat dihadapkan untuk dituduh. Jangan asal menuduh tanpa pembuktian fakta karena ini sama dengan opini dan kebenaran palsu! Jika kualifikasi ini juga bagi jemaat, maka siapa pun dituntut “tidak bercacat” di hadapan Tuhan.

Jadi, siapa pun dan posisi apa pun yang kita miliki menjalani proses sama yakni menghadapi penuduh-penuduh yang siap melontarkan tuduhan, perkataan negatif dan gosip. Apakah ada orang menuduh masa lalu kita atau apa yang pernah kita perbuat? Atau hati nurani menuduh kita? Apa solusinya? Periksa diri, kalau memang benar, akui di hadapan Tuhan, minta ampun kepada-Nya dan perbaiki diri. Darah Yesus berkuasa menyucikan kita dari segala kejahatan sehingga hati menjadi bebas dari tuduhan apa pun (1 Yoh. 1:8-10). Selanjutnya, penuduh dan penggosip akan berurusan dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan perkataannya di hadapan-Nya. 

Aplikasi:  agar berlandasan kuat sampai akhir, kita harus berpegang pada janji bahwa Allah akan terus menerus meneguhkan sampai akhir hayat kita. Juga kita setia hidup dalam penggembalaan serta terus menerus dikuduskan hingga kita dipanggil Tuhan atau sampai kedatangan-Nya. Kita yang mati akan dibangkitkan tanpa cacat dan yang masih hidup diubahkan tanpa cela pula. 

  • Sepenuhnya yakin sampai akhir (ay. 9). 

“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 

Kita bersyukur memiliki Allah yang setia dan Ia tidak dapat menyangkali Diri-Nya (2 Tim. 2:11-13). Ia yang setia memanggil jemaat Korintus juga memanggil kita. Kesetiaan-Nya terkait dengan janji-Nya, protoevangelium (Kej 3:15), yang mana Ia berjanji memulihkan kembali manusia yang jatuh dalam dosa dan hilang kemuliaan Allah. 

Introspeksi: mampukah kita setia sampai akhir kepada Tuhan yang tetap setia kepada kita? Jujur, kita mudah mematahkan janji setia dalam hubungan suami-istri, relasi pertemanan dan hubungan bisnis dst. Janji setia perlu diperjuangkan dan dipertahankan terus menerus. Kita harus bersedia diproses terus menerus untuk akhirnya memiliki kembali kemuliaan Allah yang pernah hilang. 

Kesetiaan apa yang harus kita perjuangkan dan pertahankan?

    • Tetap percaya bahwa Yesus adalah Mesias (Kis. 18:5,8) juga benih perempuan telah meremukkan kepala ular.
    • Setia pada ajaran Yesus tersalib dan tidak mudah tergoda maupun tergiur dengan penampilan yesus lain – yesus tanpa salib, yesus yang hanya menjadi sumber berkat jasmani, yesus yang tidak ada hubungannya dengan Allah dan keselamatan. Kesetiaan kita bersifat pribadi, tidak gampang ikut-ikutan.
    • Setia berada pada jejak salib yang ditinggalkan Yesus seperti dialami Sostenes yang bersama Paulus menulis surat 1 Korintus (Kis. 18:17; 1 Kor. 1:1). Kita setia bersekutu dengan Yesus dalam kematian-Nya hingga semua janji Allah digenapi.

Mau tetap teguh hingga akhir hidup kita? Posisikan diri aman dengan tekun dan sabar dalam menanti kedatangan Kristus kedua kalinya, landasan kita harus kuat dengan hidup dalam penggembalaan dan terus menerus dikuduskan sampai tidak bercacat di hadapan Dia serta yakin sepenuhnya Allah yang setia pasti menggenapi janji-Nya. Amin. 

 

  • Video Youtube Ibadah: