• SADARILAH KEKAYAAN DI DALAM KRISTUS
  • 1 Korintus 1: 4-7
  • Johor
  • 2026-01-25
  • Pdt. Jannen R. Pangaribuan
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
sadarilah_kekayaan_di_dalam_kristus

Shalom, 

Kenyataannya di dunia ini ada fenomena yang menunjukkan orang kaya bertambah kaya; sebaliknya orang miskin dan berkekurangan tetap hidup di dalam kemiskinannya. Dalam ilmu ekonomi fenomena semacam ini disebut vicious circle/lingkaran setan. Orang miskin tetap tinggal dalam kemiskinan karena mereka kekurangan sumber daya, modal maupun pengetahuan untuk mengelola karena tidak adanya bahan untuk dikelola. Akibatnya mereka berada di dalam lingkaran tidak putus-putus dari generasi ke generasi yang mewariskan kemiskinan. Sebaliknya, orang kaya terus bertambah kaya dan berada di lingkaran keberuntungan karena memiliki sumber daya, kemampuan, jaringan/koneksi rekan-rekan bisnis yang menopangnya. 

Bagaimana dengan kita yang hidup dalam lingkaran kasih karunia Tuhan? Percayakah kita kaya di dalam Yesus Kristus? Apa makna kita menyadari kekayaan di dalam Kristus menurut 1 Korintus 1:4-7? 

  • Karena anugerah Allah, Yesus Kristus menjadi miskin supaya kita menjadi kaya (2 Kor. 8:9).

“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allah karena kamu atas anugerah Allah yang diberikan kepada kamu di dalam Kristus Yesus.”  (ay. 4)

Di awal penciptaan, Allah menciptakan manusia di dalam kemuliaan, kehormatan, dan kekayaan Ilahi namun mereka jatuh di dalam dosa dan menyadari dirinya telanjang, miskin (Kej. 3;10, 16-19), dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Sungguh Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menghadapi masalah tetapi air mata dukacita, pertengkaran, percekcokan dalam hidup nikah, kekurangan, bekerja membanting tulang dll. adalah akibat dari dosa. Bahkan orang kaya secara jasmani pun belum tentu kaya di dalam Tuhan karena merasa tidak membutuhkan Dia sebab puas dengan kekayaannya seperti kondisi jemaat Laodekia padahal Tuhan menegaskan mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang (Why. 3:17). Bukankah kondisi jemaat Laodikia ini sama seperti keadaan manusia pertama ketika jatuh ke dalam dosa? Terbukti berkat dari Tuhan malah membuat mereka menjauh dari-Nya; mereka lebih bergantung pada berkat ketimbang si Pemberi berkat. Namun sebagai umat yang dikasihi-Nya, Tuhan menegur jemaat ini untuk membeli emas yang dimurnikan supaya menjadi kaya juga berpakaian putih agar tidak telanjang dan minyak pelumas mata supaya dapat melihat (ay. 18-19).

Kalau begitu bagaimana seharusnya kita menyadari kondisi kita di hadapan Tuhan? Kita mengaku bagaikan tanah liat tidak berharga, miskin, buta dan telanjang. Kesadaran semacam ini adalah anugerah Tuhan dan merupakan suatu kebahagiaan seperti tertulis di Matius 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Dengan kata lain, berbahagialah orang yang menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik di dalam dirinya sehingga ada ucapan syukur atas semua yang dimilikinya itu berasal dari Allah. Rasul Paulus menyadari bahwa semua yang ada padanya datang dari Allah sehingga dia senantiasa mengucap syukur (1 Kor. 1:4). Sungguh, Allah adalah sumber segala kebaikan serta kebajikan dan yang terutama Ia sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, bagi kita supaya kita yang miskin menjadi kaya di dalam Dia. 

Aplikasi: hendaknya kita menyadari bahwa Kristus datang supaya kita menjadi kaya di dalam Dia. Jangan miskin rohani – berkubang dalam kemiskinan dosa – yang membuat kita kehilangan kemuliaan Allah berakibat kita dimuntahkan dari hadapan-Nya. 

  • Oleh kekayaan Kristus, kita menjadi saksi-saksi Kristus (ay. 5-6).

“Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan sesuai dengan kesaksian tentang Kristus yang telah diteguhkan di antara kamu.”

Bagaimana kita mampu berbicara/bersaksi tentang Kristus kalau kita tidak mencerminkan kekayaan Kristus dan kemuliaan-Nya? Kehidupan kita dari tanah liat harus mengalami proses dibentuk oleh Tuhan untuk dapat menjadi saksi-Nya. 

Apa barometer kehidupan yang kaya secara rohani? Kaya dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan. Maksudnya, dari tutur kata kita akan kelihatan apakah kita miskin atau kaya rohani. Perkataan dan ucapan apa yang keluar dari mulut kita? Apakah penuh dengan berkat atau kutuk? 

Juga kaya dalam pengetahuan (bhs. Yun: gnosis berasal dari kata ginosko yang artinya pengetahuan lewat pengalaman pribadi). Perhatikan, pengalaman pribadi kita dengan Tuhan terlihat dari tutur kata kita, apakah pemberitaan yang keluar dari mulut mencerminkan saksi Kristus? Jadi ukuran kaya (rohani) di dalam Tuhan bukan teori yang diperoleh melalui sekolah teologi tetapi pengalaman dan relasi pribadi dengan Tuhan. 

Introspeksi: bagaimana kita membangun relasi secara pribadi dengan Tuhan? Apakah kita tekun menikmati kebenaran Firman Tuhan juga suka doa menyembah Dia? 

Tutur kata apa yang layak keluar dari mulut bibir kita?

    • Kata-kata berkat penuh kasih (Kol. 4:6).
    • Ucapan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan (1 Ptr. 4:11).
    • Perkataan yang membangun (Ef. 4:29). Marilah kita menggunakan perkataan baik untuk membangun, membangkitkan semangat dan menguatkan di saat yang tepat agar mereka juga beroleh kasih karunia.
  • Lebih lanjut, kekayaan karunia bagaikan perhiasan (mempelai) dalam menantikan penyataan Tuhan Yesus Kristus (ay. 7). 

Bukankah kita dipersiapkan menjadi mempelai perempuan Tuhan dan sedang menantikan kedatangan-Nya? Tentu Kristus datang menjemput kita tidak dalam kemiskinan, kekurangan, cacat cela tetapi di dalam kemuliaan-Nya penuh dengan karunia-karunia. 

Sayang, jemaat Korintus yang kaya dalam karunia tidak tahu untuk apa karunia tersebut. Itu sebabnya Rasul Paulus mengingatkan mereka sudah dipertunangkan dengan satu laki-laki itulah Kristus (2 Kor. 11:2). Sungguh kita tidak dapat menghadap Tuhan dengan tangan kosong tetapi membawa segala bukti karunia yang Tuhan percayakan untuk dimanfaatkan dengan baik dan digunakan demi kepentingan tubuh Kristus. 

Aplikasi: setiap dari kita beroleh karunia masing-masing bukan untuk ditanam/disimpan tetapi dikembangkan; kalau tidak diaktifkan untuk terlibat dalam pelayanan, jangan berharap kita akan menerima mahkota kemuliaan saat Tuhan datang. Berdoa dan periksa diri apa yang dapat kita kerjakan untuk pembangunan tubuh Kristus! 

Perlu diketahui setiap dari kita memiliki karunia (1 Kor. 12:1) yang datang dari Tuhan (ay. 4) untuk kepentingan bersama (ay. 7) dan satu kali kelak tampil sebagai mempelai perempuan Tuhan berpakaian putih dalam kemuliaan (Why. 19:6-7). Sudahkah kita siap sedia menyambut Dia dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan benar dari orang kudus (ay. 8)? Tidak mungkin kita dalam kondisi miskin dan telanjang menghadap Tuhan tetapi karunia-karunia Tuhan yang menghiasi hidup kita diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan baik yang memuliakan Tuhan dan menyenangkan sesama. 

Firman Tuhan telah mengingatkan melalui perumpamaan tentang orang undangan yang tidak mengenakan pakaian pesta di perjamuan kawin anak seorang raja berakhir dengan dicampakkannya ke dalam kegelapan paling gelap (Mat. 22:1-13). Demikian pula kita dipanggil pada perjamuan kawin Anak Domba, jangan “suam-suam kuku” tidak mencapai ukuran Tuhan! Sebaliknya, persiapkan diri dan manfaatkan karunia-karunia yang Tuhan berikan untuk aktif ambil bagian dalam pelayanan menjadi saksi-saksi-Nya hingga kita ditemukan berpakaian putih siap menyambut Mempelai Pria Surga.

Marilah kita menyadari kekayaan di dalam Kristus bahwa oleh anugerah-Nya kita yang miskin dijadikan kaya di dalam Kristus untuk menjadi saksi-Nya dengan karunia-karunia pemberian-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa agar mereka juga diselamatkan dan dipersiapkan menjadi mempelai perempuan yang siap menyambut mempelai Pria Surga, Tuhan kita, Yesus Kristus. Amin. 

 

 

  • Video Youtube Ibadah: