• SADARILAH KEKAYAAN DI DALAM KRISTUS
  • 1 Korintus 1:4-7
  • Lemah Putro
  • 2026-01-25
  • Pdt. Setio Dharma Kusuma
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
sadarilah-kekayaan-di-dalam-kristus

Shalom,

Waktu berjalan begitu cepat, serasa baru saja kita merayakan kebaktian Natal dan Tutup Buka Tahun namun kini telah berada di minggu ke-4 bulan Januari 2026. Ada satu pemikiran di benak Gen Z bagaimana kalau kita dapat kembali ke masa lalu seperti film “Back to the Future” di mana orang dapat kembali ke masa lalu juga ke masa depan.

Apa yang terjadi seandainya kita dapat kembali ke masa lalu? Kita akan membayangkan sesuatu yang jauh berbeda dari kenyataaan yang ada sekarang, misal: tidak jadian dengan suami/istri sekarang, memilih karier yang berbeda dari pekerjaan saat ini dst. Sungguh kalau dapat kembali ke masa lalu maka ini akan bertentangan dengan Alkitab. Misal: seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh ke dalam dosa, Yesus tidak akan datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Faktanya, Alkitab menyatakan manusia ditetapkan untuk mati satu kali. Jadi, pemikiran kembali ke masa lalu adalah fiksi/khayalan.

Munculnya pemikiran “kembali ke masa lalu” bagi orang Kristen menandakan tidak adanya ucapan syukur alias tidak menghargai apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Pernahkah kita bersyukur dengan kehidupan nikah dan rumah tangga – apa pun kondisinya – yang telah diteguhkan di hadapan Tuhan dan jemaat dengan janji nikah hingga maut memisahkan kita?

Lazimnya kita bersyukur atas diri sendiri namun Rasul Paulus mengajarkan agar kita bersyukur terhadap orang lain seperti dilakukannya kepada jemaat Korintus. Rasa syukur ini dipanjatkan bukan karena beroleh jalan keluar dari penderitaan atau solusi terhadap tantangan hidup tetapi mengingatkan jemaat Korintus agar bersyukur dan menyadari akan kekayaan di dalam Kristus.

Perlu diketahui Korintus termasuk kota metropolitan yang dikenal dengan kemakmuran dan kebijaksanaan filsafat tetapi juga terkenal rusak moralnya. Paulus sangat mengetahui masalah yang ada di jemaat tetapi dia memulainya dengan penguatan positif. Dia menjalankan prinsip pastoral atau penggembalaan dengan menegur dan mengingatkan siapa jemaat Korintus sebenarnya dan kondisi yang terjadi di dalamnya yakni perpecahan (ay. 11-12) oleh sebab kesombongan rohani (1 Kor. 4:6-8) dan penyalahgunaan karunia (1 Kor. 12 – 14). 

Meskipun kota Korintus kaya secara geografis maupun ekonomi, kota ini miskin dalam kesatuan karena adanya perselisihan di dalamnya di mana masing-masing merasa diri paling penting dan harus diperhatikan. Tahukah ketika tidak ada kesatuan, ini berarti tidak ada kerendahan hati dan kasih sebab yang dapat mempersatukan hanyalah kasih.

Sebelum melangkah lebih jauh, yang dimaksud kekayaan tidaklah selalu berkonotasi “duit” sebab untuk menjadi pengikut Kristus, diperlukan penyangkalan diri dan memikul salib (Mat. 16:24). Menyangkal diri artinya kita tidak menuruti kesukaan kita tetapi menuruti apa yang Tuhan inginkan. Contoh: orang muda kaya lulus melakukan hukum Taurat kecuali satu yaitu cinta duit. Dia gagal menyangkal diri dan memikul salib karena hartanya banyak (Mat. 19:16-22). 

Apa dasar untuk menyadari kekayaan di dalam Kristus menurut 1 Korintus 1:4-7?

  • Sumber kekayaan itu inisiatif pemberian dari Allah (ay. 4).

“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas anugerah Allah yang diberikan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.” (TB2)

Anugerah Allah yang terbesar di masa lampau dan memiliki dampak berkelanjutan ialah keselamatan. Anugerah adalah pemberian cuma-cuma yang diberikan kepada kita yang sesungguhnya tidak layak menerimanya. Allah memberi tanpa syarat, beda dengan sistem dunia yang memberi namun mengharapkan adanya timbal balik. Heran, Allah atas inisiatif-Nya sendiri memberikan anugerah keselamatan bukan atas hasil usaha pekerjaan kita (Ef. 2:8-9). Jelas, kita beroleh keselamatan bukan hasil kekayaan, kepintaran, kedermawanan dan pelayanan kita tetapi karena anugerah/pemberian dari Allah semata. Oleh sebab itu kita tidak perlu memegahkan diri alias sombong sebab posisi kita hanyalah penerima anugerah dan kita dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus (ay. 2).

Aplikasi: sebagai penerima anugerah, hendaknya kita memosisikan diri dengan benar. Walau ke gereja kelihatan seperti rutinitas, ini merupakan panggilan Tuhan atas hidup kita. Sadarilah kekayaan di dalam Kristus bersumber dari inisiatif Allah (bukan dari pribadi siapa pun) untuk direspons dengan baik. 

  • Kekayaan dalam Kristus diwujudkan dalam bentuk pemberian karunia (ay. 5-6).

“Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan (bhs. Yun. logos = utterance) dan segala macam pengetahuan (bhs. Yun. gnosis = knowledge) sesuai dengan kesaksian tentang Kristus yang telah diteguhkan di antara kamu.” 

Kita harus dapat membedakan apa itu kasih karunia/anugerah (bhs. Yun. charis = grace); kasih (bhs. Yun. agape = love) dan karunia (bhs. Yun. charisma = gifts). 

Ada banyak karunia di dalam jemaat Korintus seperti: berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, iman, menyembuhkan, mengadakan mukjizat, bernubuat, dll. (1 Kor. 12:8-10) namun semuanya itu untuk kepentingan bersama (ay. 7). Bukankah orang-orang di Korintus pintar-pintar dan berfilsafat tinggi? Jelas, karunia kita dapat beda satu sama lain tetapi semua bertujuan untuk kepentingan bersama bukan untuk menonjolkan diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan. 

Introspeksi: apakah karunia-karunia pemberian dari Tuhan makin menyaksikan tentang Kristus bukan diri sendiri? Sudahkah karunia yang kita lakukan dalam pelayanan mencerminkan karakter Kristus? Perhatikan, kita adalah surat Kristus (2 Kor. 3:3) yang dapat dibaca oleh semua orang. Marilah kita menggunakan karunia-karunia pemberian Tuhan untuk meninggikan Kristus bukan mengidolakan karunia yang spektakuler.

  • Kekayaan dalam Kristus berorientasi eskatologis menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus (ay. 7).

“Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.

Marilah setiap pelayanan dengan karunia-karunia pemberian dari-Nya terhubung dengan kedatangan Tuhan. Dan salah satu ciri terhubung dengan kedatangan Tuhan ialah kita dapat menerima sesama rekan pelayanan apa pun latar belakangnya. Contoh: Sostenes bersedia menjadi satu tim pelayanan dengan Paulus yang sebelumnya merupakan psikopat dan pembunuh berdarah dingin (Kis. 22:19-20). Namun ketika bertemu dengan Pemberi anugrah, hidup Paulus berubah total bahkan dia rela mati sebagai martir untuk Kristus. 

Aplikasi: hendaknya kita mau mengakui pemakaian Tuhan atas seseorang dengan karunianya masing-masing bahkan mendoakan agar Tuhan memperkaya karunia kepadanya. Jangan malah iri hati lalu menebarkan kata-kata negatif bersifat merendahkan dia! Bukankah kita sama-sama hanya penerima anugerah? 

Jelas sekarang kita tidak perlu membicarakan apa yang kita miliki atau lakukan tetapi lebih kepada siapa kita ini di dalam Kristus yakni: kita diperkaya di dalam Kristus oleh anugerah, dilengkapi dengan karunia dan dipanggil untuk hidup dalam penantian yang aktif akan Kristus. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: