Shalom,
Gereja menjadi sarana yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk mengalami proses pertumbuhan rohani dengan sehat berlandaskan Firman Tuhan. Sebagai jemaat, kita diperkenan menjadi mitra kerja Tuhan dan bersama orang-orang kudus lainnya menjadi kawan sekerja di dalam pekerjaan-Nya dan Roh Kudus menjaga jemaat dalam kesatuan agar tidak ada peluang roh-roh perpecahan menyusup dan tumbuh di dalamnya.
Kita telah mempelajari kondisi jemaat Korintus yang banyak bermasalah karena di dalamnya ada perpecahan, hidup dalam tatanan moral yang tidak senonoh juga kebingungan-kebingungan rohani dll. Namun aneh, Paulus memulai suratnya kepada jemaat Korintus bukan dengan teguran tetapi ucapan syukur. Dia memuji karya kemurahan Allah yang dinyatakan kepada mereka di mana mereka diperkaya dengan pelbagai karunia termasuk karunia perkataan maupun pengetahuan. Namun sangat disayangkan, jemaat Korintus yang penuh dengan kekayaan rohani ternyata tidak secara otomatis menunjukkan kedewasaan rohani.
Rasul Paulus dengan bijaksana membawa jemaat Korintus kepada pijakan yang benar, bahwa karunia-karunia bukanlah jaminan keteguhan, pengetahuan bukanlah jaminan kesetiaan; jaminan yang benar ialah Allah sendiri. Kemudian dia menegaskan adanya satu janji Surgawi yang kuat bahwa Allah tidak hanya memberi anugerah di awal perjalanan iman tetapi juga meneguhkan umat-Nya sampai kepada kesudahannya.
Mengapa harus teguh sampai akhir?
- Karena sumber keselamatan orang percaya ialah kesetiaan Allah.
“Ia (Allah) juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya...'’
Jelas Allah yang meneguhkan, memelihara dan memastikan bahwa umat-Nya akan tiba pada tujuan akhir. Di sini Paulus menegaskan sebuah kebenaran rohani yang penting bahwa keteguhan iman orang percaya itu bukan hasil ketekunan jemaat, bukan hasil usaha dari manusia tetapi buah dari kesetiaan Allah. Banyak orang Kristen hidup dengan beban rohani berat karena menyangka bahwa keselamatan mereka tergantung pada kekuatan pribadi. Dalam kondisi seperti itu, ketika orang itu gagal dan merasa lemah maka pengharapannya pun akan ambruk. Namun, Allah yang memanggil kita adalah Allah yang setia. Ia tidak hanya memulai karya keselamatan tetapi juga menyelesaikannya.
Keteguhan sampai akhir bukanlah proyek manusia yang lemah melainkan rencana dan karya Allah. Ia yang memulai pekerjaan ini akan meneruskan dan menyelesaikannya sampai akhir pada hari Kristus Yesus (Flp. 1:6). Ketika iman kita lemah dan kehidupan rohani kita tidak tertib, kita harus sadar untuk tidak melihat kepada diri sendiri tetapi mengarahkan pandangan kita kepada kesetiaan Allah.
Keteguhan yang Tuhan harapkan bukan karena kuatnya kita berpegang kepada Tuhan tetapi karena kuatnya Tuhan memegang kita. Kalau kita mampu bertahan ini bukan karena kita kuat tetapi Tuhan yang setia. Kristuslah Penjamin keberlanjutan/kelangsungan keselamatan kita. Ia bukan hanya Juru Selamat di masa lalu yang telah menyelesaikan karya-Nya dan berhenti di sana tetapi pelayanan-Nya berlanjut sampai sekarang sebagai Imam Besar yang menjadi Pengantara bagi umat-Nya. Ia menopang segala kelemahan kita (Ibr. 7:25).
- Karena hidup orang percaya bergerak menuju hari Tuhan (ay. 7).
Tujuan akhir dari pengetahuan akan Allah ialah hari Tuhan kita Yesus Kristus dan kita ditemukan tidak bercacat pada hari itu (ay. 8).
Hidup orang Kristen selalu bergerak menuju satu hari yang pasti yaitu kedatangan Tuhan. Ciri-ciri kehidupan Kristen yang benar diarahkan sebagai persiapan menyambut kedatangan Tuhan. Hidup orang percaya bukan sebagai lingkaran tanpa arah tetapi sebuah perjalanan menuju tujuan pasti yang arahnya jelas itulah hari Tuhan.
Apa yang dimaksud dengan hari Tuhan? Itulah hari pertanggungjawaban, hari penghakiman sekaligus hari penggenapan dari pengharapan kita. Pengharapan yang kita hidupi selama di dunia ini akan menjadi sempurna pada saat hari Tuhan ketika kita bertemu dengan Kristus Yesus, Mempelai Pria Surga untuk tinggal dan memerintah bersama Dia selamanya.
Kesadaran akan hari Tuhan memberikan makna penting pada keteguhan iman sebab orang yang tidak memiliki tujuan akhir akan mudah menyerah dan berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, orang percaya tahu ke mana melangkah, setiap perjuangan iman dalam ketaatan sedang bergerak menuju pada hari Tuhan ketika Kristus dimuliakan dan pada waktu itu juga umat-Nya dinyatakan bersama dengan-Nya.
Ilustrasi: para petani tradisional umumnya menanam padi di awal musim hujan. Setelah benih ditanam, petani rajin pergi ke sawah membersihkan tanaman-tanaman liar yang mungkin tumbuh sambil mengairi sawah dalam upaya tanamannya tidak mati karena kekeringan. Mereka bertahan melakukan kegiatan rutin semacam ini karena tahu satu hal yakni musim panen pasti datang. Mereka tidak bekerja berdasarkan perasaan sesaat tetapi keyakinan akan masa depan bahwa suatu hari nanti akan panen. Mereka tidak berhenti bekerja hanya karena ladangnya belum menunjukkan hasil. Demikian pula kita, orang percaya, diminta untuk hidup setia hari ini bukan karena keadaan kita sedang aman dan nyaman tetapi karena kita tahu hari Tuhan pasti akan datang. Keteguhan iman muncul dari keyakinan akan tujuan akhir yang Allah janjikan. Contoh: oleh karena iman, Musa meninggalkan Mesir dan bertahan seperti melihat apa yang tidak kelihatan (Ibr. 11:27). Musa berani meninggalkan kemegahan Mesir dan bertahan dalam penderitaan bersama umat Allah karena pandangannya tertuju kepada upah yang dijanjikan Tuhan. Musa teguh bukan karena situasi yang mendukung tetapi rela menderita bersama umat-Nya karena arah hidupnya jelas.
Introspeksi: sadarkah kita bahwa pengikutan kita kepada Kristus bisa berjalan tidak seperti yang kita harapkan? Seberapa berat penderitaan yang kita alami? Walau serasa kita tidak lagi mampu bertahan, Alkitab menyatakannya sebagai penderitaan yang ringan (2 Kor. 4:17) sebab Allah sedang mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segalanya. Oleh sebab itu jalani hidup bukan hanya untuk kenyamanan sesaat tetapi setialah kepada Tuhan untuk jangka waktu yang panjang. Saat kita menghadapi kelemahan, kekecewaan, ketidakadilan, ingat hidup kita sedang diarahkan menuju hari Tuhan. Orang yang tahu ke mana dia pergi tidak akan mudah berhenti di tengah jalan.
Perhatikan, Tuhan Yesus akan datang kembali sebagai Hakim yang adil dan Raja yang mulia. Keteguhan iman yang bersumber dari pengharapan akan Kristus – Hakim yang adil dan Raja yang mulia – akan menyempurnakan perjalanan pengikutan kita kepada-Nya.
- Karena panggilan Allah adalah panggilan persekutuan dengan Kristus (ay. 9).
“Allah yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita adalah setia”
Perlu diketahui panggilan Allah bukan sekadar panggilan untuk menerima berkat tetapi juga panggilan kepada persekutuan. Hidup Kristen tidak berhenti setelah mendapatkan status orang yang diselamatkan tetapi berlanjut pada relasi/hubungan atau persekutuan dengan Kristus.
Keteguhan iman lahir dan bertumbuh dalam persekutuan. Kalau kita mengaku orang beriman tetapi tidak memiliki persekutuan dengan Kristus, iman kita tidak akan bertumbuh. Selama seseorang hidup dekat dengan Kristus, keteguhan imannya tidak dipandangnya sebagai beban. Sebaliknya, keteguhan itu dijalani sebagai buah dari pengikutan dan buah dari pertumbuhan. Ketika persekutuan dengan Kristus diabaikan, iman kita adalah iman yang kosong dan keropos. Jelas sekarang, keteguhan sampai akhir terwujud bukan karena kesetiaan dan kerajinan kita ke gereja tetapi lebih kepada memelihara relasi yang intim dengan Kristus untuk bersekutu dengan-Nya (Yoh. 15:4-5).
Keteguhan iman dipelihara melalui doa, perenungan Firman Tuhan dan persekutuan yang nyata; bukan mengandalkan rutinitas ibadah tetapi tidak mengalami pembaruan hidup secara pribadi oleh Firman Tuhan. Waspada, persekutuan tanpa kehadiran Kristus tidak ada bedanya dengan kelompok orang yang sedang kumpul-kumpul. Persekutuan tanpa Kristus akan hampa dan tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Akibatnya, hanya mengaku beriman tetapi imannya mati tidak bertumbuh sama sekali. Jadi, keteguhan iman bukan soal bertahan sendirian tetapi harus tinggal di dalam Kristus. Kristus adalah pokok anggur yang hidup; Ia menjadi sumber kekuatan dan ketekunan orang percaya untuk dapat bertahan sampai akhir.
Teguh sampai akhir bukanlah slogan rohani yang menuntut manusia menjadi kuat dengan usahanya sendiri. Ini adalah undangan dari Firman Tuhan untuk bersandar kepada Allah yang setia supaya kita teguh sampai akhir. Paulus mengingatkan jemaat Korintus (juga kita) untuk berdiri di atas dasar yang kuat, yaitu kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. Karena Allah setia, kita diminta untuk hidup setia. Karena Allah meneguhkan, kita dimampukan untuk bertahan sampai akhir. Karena kita bergerak menuju hari Tuhan, hidup kita tidak sia-sia. Karena kita dipanggil pada persekutuan dengan Kristus, kita tidak akan merasa berjalan sendirian sebab Ia menopang kita.
Hidup Kristen adalah perjalanan panjang dan perlu dipahami bukan sebagai siapa yang paling kuat di awal tetapi siapa yang setia dan dapat bertahan sampai akhir! Ingat, kita berjalan tidak sendirian tetapi bersama Kristus yang telah menebus kita serta menopang kita. Ia pula yang akan menyambut kita pada hari kedatangan-Nya! Oleh sebab itu marilah kita melangkah dengan iman dan berdiri dengan pengharapan yang kuat! Jalani apa pun masalah dalam kehidupan ini dan jangan mudah menyerah!
Ingatlah kebenaran ini yakni Allah meneguhkan umat-Nya sampai akhir maka hiduplah dengan setia dan tetaplah teguh sampai kita berdiri di hadapan Tuhan kita Yesus Kristus. Hidupi panggilan kita sesuai dengan Firman bukan dengan kekuatan sendiri, bukan pula dengan ketakutan tetapi dengan keyakinan pada kesetiaan Allah. Mari kita melangkah, berjuang, dan berharap teguh sampai akhir demi kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.