• SATU DALAM KRISTUS: PAULUS & SOSTENES
  • 1 Korintus 1:1-3
  • Johor
  • 2026-01-04
  • Pdt. Edi Sugianto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
satu_dalam_kristus

Shalom,

Memasuki tahun 2026 kita sudah menyelesaikan Kitab Mazmur dan kini kita mulai membahas Surat 1 Korintus yang sarat berkaitan dengan kesatuan anggota tubuh Kristus yang berbeda fungsi dan karunia masing-masing tetapi semuanya satu untuk melayani Tuhan. 

Surat 1 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus dan Sostenes di kota Efesus dalam perjalanan Paulus yang ketiga. Surat ini ditujukan kepada jemaat Korintus yang percaya kepada Kristus – orang Yahudi maupun non Yahudi – juga kepada semua orang di segala tempat (termasuk kita) yang berseru kepada nama Tuhan kita, Yesus Kristus.  

Surat 1 Korintus masih relevan bagi kehidupan kita sekarang yang menekankan kesatuan tubuh Kristus dan kekudusan hidup orang percaya. Surat Korintus mengupas masalah yang terjadi di dalam jemaat berkaitan dengan ketidaksatuan, perpecahan, masalah kehidupan nikah, perceraian, perselingkuhan, masalah di dalam gereja, ajaran sesat dll. Dari semua masalah tersebut, Paulus paling menyoroti tentang ketidaksatuan dan perpecahan antarjemaat di Korintus oleh sebab ego dan kepentingan diri sendiri (ay. 9-13). Terjadi pengelompokan-pengelompokan karena mereka mengagungkan seorang hamba Tuhan (bukan Kristus Tuhan) kemudian merendahkan hamba Tuhan yang lain. Perselisihan dan blok-blokan semacam ini menunjukkan ketidakdewasaan umat pilihan Tuhan dan masih manusia duniawi (1 Kor. 3:1-4). Paulus dan Apolos hanyalah hamba-hamba Allah yang melayani di jemaat Korintus yang adalah bangunan dan ladang Allah (ay. 6-9). Mereka seharusnya berfokus kepada Allah yang sudah menyelamatkan dan memberikan pertumbuhan kepada mereka. Pemimpin mereka hanyalah seorang pelayan dan mereka akan jatuh dalam penyembahan berhala bila mengultuskan pemimpin mereka (1 Kor. 3:21-23; 4:1-2, 6). 

Selanjutnya Paulus menegaskan tentang kesatuan karunia dalam pelayanan semua anggota demi pembentukan tubuh Kristus yang didasari kasih yang mengikat/menyatukan satu sama lain. Sungguh, surat 1 Korintus sarat dengan nasihat untuk hidup di dalam kesatuan – tidak terpisah pisah atau terbagi-bagi. Kenyataannya, perpecahan tidak hanya terjadi pada jemaat Korintus tetapi juga di tempat-tempat lainnya termasuk di Indonesia. Ada ratusan organisasi Sinode yang resmi terdaftar dan pada umumnya lahir dari perpecahan. Memang perpecahan harus ada supaya terlihat siapa yang mampu bertahan dan tahan uji (1 Kor. 11:18-19). Dan umumnya perpecahan dimulai dari masalah kedudukan, keuangan, perbedaan pendapat, tidak sehati sepikir, mementingkan diri sendiri, iri hati dll. Apa pun yang terjadi, janganlah kita yang membuat perpecahan tersebut! Kita mengambil hal positifnya bahwa melalui perpecahan tersebut kiranya pelayanan makin lebih luas dan memberikan warna tersendiri sebagai anggota tubuh dengan karunia masing-masing namun tetap bersatu di dalam pembangunan tubuh Kristus.

Introspeksi: apakah di antara kita (suami-istri, keluarga dan bergereja) sudah terjadi persatuan atau malah perselisihan karena merasa lebih hebat dari yang lain? Kita boleh melayani di bidang apa pun sesuai karunia masing-masing tetapi tetap menyatu dan bersatu di dalam Tuhan. Kelompok-kelompok sel yang ada bukan menunjukkan keterpisahan tetapi keberagaman di mana kita bertumbuh di dalamnya. Jujur, tidaklah mudah menyatukan hati dan pikiran tetapi Rasul Paulus dan Sostenes memberikan teladan untuk bersama-sama melayani Tuhan.

Ayat pertama dalam kitab 1 Korintus ini menunjukkan bahwa Paulus dan Sostenes menulis surat 1 Korintus secara bersama-sama. Sostenes nampaknya menjadi juru tulis atau sekretaris rasul Paulus dalam menulis surat ini, dan Paulus membubuhkan tanda tangannya dibagian akhir (1 Kor. 16:21). Namun demikian, mereka sehati dan sepikir menulis apa yang diwahyukan Tuhan kepada Paulus sehingga terbit surat 1 Korintus ini. Paulus dipanggil oleh Allah atas kehendak-Nya menjadi rasul sedangkan nama Sostenes terdengar asing namun mereka dapat bersatu. Siapa Sostenes ini dan apa hubungannya dengan Paulus serta jemaat Korintus? Nama Sostenes hanya muncul dua kali dalam Alkitab, yaitu di 1Korintus 1:1 yang disebut sebagai “saudara kita” dan di Kisah Para Rasul 18:17 yang diinformasikan sebagai “kepala rumah ibadat Yahudi” di Korintus. 

Paulus pertama kali ke Korintus (salah satu kota di provinsi Akhaya) ketika dalam perjalanan misinya yang kedua dan di sana ia bersinggungan dengan Sostenes. Setelah meninggalkan Atena, Paulus pergi ke Korintus untuk pertama kali memberitakan Injil dan juga bertemu dengan Priskila dan Akwila di sana (Kis. 18:1-11). Di mana pun Paulus berada, dia memberitakan Injil tentang Yesus Kristus sebagai Mesias di Sinagoge kepada orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi. Paulus berada di Korintus selama 18 bulan, dan bagaimanapun juga ada penolakan dan hujatan ditujukan kepada Paulus, tetapi Tuhan memberikan kekuatan dan meneguhkan dia untuk tetap berani memberitakan Injil. Alhasil, banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan melalui pelayanan Paulus dan tim. 

Seiring berjalannya waktu, Galio diangkat menjadi Gubernur di provinsi Akhaya dan orang-orang Yahudi makin hebat memusuhi Paulus dan membawanya ke pengadilan dengan dakwaan memberitakan ajaran yang bertentangan dengan hukum Taurat (Kis. 18:12-17). Karena Galio tidak mau mengadili kasus yang tidak berkaitan dengan pelanggaran atau kejahatan, maka Sostenes, kepala rumah ibadat diserbu dan dipukuli di depan pengadilan. Mengapa Sostenes menjadi sasaran? Karena ia adalah kepala rumah ibadat sekaligus pemimpin komunitas, yang dianggap gagal dalam memfasilitasi aspirasi orang-orang Yahudi yang memusihi Paulus untuk membawa ke pengadilan Provinsi. Mungkinkah Sostenes mulai percaya kepada jalan Tuhan sehingga dia ragu-ragu membawa perkara ini? Atau mungkin dia belum percaya kepada Tuhan dan usahanya memang gagal sehingga dihajar habis-habisan oleh orang-orang Yahudi? Artinya, perjumpaan Paulus dan Sostenes berawal dari pengadilan tersebut. Setelah peristiwa itu, Paulus masih tinggal beberapa hari, lalu melanjutkan perjalanan misinya ke kota Efesus bersama dengan Priskila dan Akwila (Kis. 18:18-19). Seperti biasa, di Efesus Paulus memberitakan Injil lalu ia meninggalkan Priskila dan Akwila di Efesus kemudian kembali ke Antiokhia. Sementara itu, datanglah Apolos ke Efesus dan ia lebih diajar tentang jalan Tuhan oleh Priskila & Akwila, lalu ia pergi ke Korintus untuk melayani jemaat di sana (Kis. 18:20-28).

Ketika Apolos melayani jemaat di Korintus, Paulus kembali melakukan perjalanan misinya yang ketiga dan tiba di kota Efesus lagi (Kis. 19:1). Di Efesus inilah Paulus kembali bertemu dengan Sostenes dan mendengar perkembangan jemaat Korintus serta menuliskan surat kepada mereka. Tampaknya sepeninggalan Paulus, Sostenes lebih percaya Yesus dan makin bertumbuh dewasa rohani. Hal ini menunjukkan bahwa telah ada kesatuan antara Sostenes & Paulus. Kesatuan ini adalah karya dari kurban Kristus, sebab di luar Kristus, kesatuan hanyalah semu bahkan sia-sia seperti peristiwa menara Babel. Latar belakang pengalaman yang terjadi Korintus antara Paulus dan Sostenes, sebenarnya dapat menjadi alasan bagi mereka untuk tidak menyatu. Paulus dapat berkata kepada Sostenes “kamu dahulu memusuhi dan menghujat, bahkan membawa saya ke pengadilan provinsi!”; sementara Sostenes dapat juga berkata “gara-gara kamu saya diserbu dan dipukuli oleh komunitas Yahudi saat itu!”. Namun mereka berdua telah mengalami kasih pengampunan Allah dan saling menerapkan pengampuan tersebut, sehingga mereka dapat menyatu dan melayani Allah bersama-sama. Hal tersebut menjadi teladan bagi jemaat Korintus yang sedang mengalami perpecahan.

Kesatuan sejati dapat terjadi ketika kita mengalami pengampunan Tuhan atas hidup kita dan menerapkannya kepada saudara kita. Paulus menyadari bahwa dirinya dahulu adalah orang yang paling berdosa tetapi beroleh rahmat pengampunan dari Tuhan (1 Tim. 1:13-14). Hal ini membuat Paulus dapat menerima Sostenes dan rekan-rekan lainnya. Demikian pula Sostenes yang juga telah mengalami kasih Allah, dapat menyatu dengan Paulus. Kesatuan di dalam Tuhan terjadi kalau masing-masing kita mau meneladani Kristus; artinya kita mau sehati dan sepikir seperti Kristus – tidak mengutamakan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga, serta mau merendahkan diri dengan tidak menganggap diri sendiri paling hebat. 

Introspeksi: apakah kita mau sehati dan sepikir seperti Kristus dengan tidak mementingkan diri sendiri atau merasa paling hebat sendiri? Ingat, hanya oleh kasih Kristus dan pengampunan-Nya, kita dimampukan untuk mengasihi sesama serta bertumbuh (rohani) untuk dapat sehati dan sepikir melayani pekerjaan Tuhan bersama-sama. Dengan kata lain, kesatuan sejati di antara orang-orang percaya hanya dapat dilakukan Allah melalui Yesus Kristus dengan pengurbanan-Nya. 

Kita yang telah beroleh kasih karunia pengampuan Yesus Kristus layak mengampuni sesama untuk bersatu (sehati sepikir) dan bertumbuh serta melayani Dia bersama-sama. Tanggalkan semua sifat manusia lama (perselisihan, iri hati, ego tinggi dll.) yang merusak persatuan ataupun berpotensi menimbulkan perpecahan! Dengan demikian kita memuliakan Tuhan melalui kesaksian hidup kita yang menyatu dan Nama Tuhan dipermuliakan. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: