• ALLAH SEBAGAI PUSAT PUJIAN
  • MAZMUR 150
  • Johor
  • 2025-12-28
  • Pdp. Samuel Sirait
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
allah_sebagai_pusat_pujian

Shalom,  

Tak terasa kita telah berada di pengujung Mazmur 150 setelah mendengar penjelasan Kitab Mazmur selama ± 3½ tahun. Apakah kita merasa lega karena telah bosan mendengar pembahasan Kitab Mazmur ini? Namun pembelajaran terpenting yang kita peroleh darinya ialah dalam menghadapi tekanan dan pergumulan hidup apa pun, kita diingatkan untuk terus merenungkan Firman Tuhan.

Ketika berada di ruang tunggu di bandara, kita selalu mendengar pengumuman panggilan bagi penumpang yang harus boarding pesawat tetapi tidak semua orang memerhatikan kalau pengumuman ini tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Jauh berbeda dengan ayat pembuka Mazmur 150:1; ini bukan sekadar pemberitahuan seperti informasi yang ditempel di papan pengumuman tetapi sebuah ajakan/perintah yang melibatkan setiap orang untuk memuji Tuhan. Kata “Pujilah Tuhan, Pujilah Dia” tertulis sebanyak 13 kali di Mazmur 150; ini menunjukkan bahwa pemazmur sedang tidak melakukan sebuah pengamatan juga tidak mengundang kita menjadi penonton pasif tetapi sebagai peserta pujian yang mana kita terlibat aktif di dalamnya. Kita diperintah untuk fokus memuji Allah di tempat kudus-Nya dan dalam cakrawala-Nya yang kuat.

Introspeksi: apakah Allah menjadi pusat yang kita utamakan di dalam hidup ini? Apakah mata kita tertuju kepada-Nya bukan kepada perkara lain di luar Allah? 

Kita diajar untuk memuji Allah dengan sepenuh hati dan menyerap semua energi yang terbaik dari hidup kita untuk konsentrasi kepada Allah bukan tentang pengkhotbah yang hebat sekalipun. Dan kita memuji Tuhan di mana pun (tidak hanya di dalam gereja), kapan pun serta dalam kondisi apa pun. 

Siapa Allah yang menjadi pusat pujian kita? Ia perkasa dan kebesaran-Nya hebat (ay. 2). Kita sudah biasa memberikan pujian terhadap mereka yang telah menolong kita atau mereka yang berhasil dalam studi, pekerjaan dll. juga bukan karena suasana ibadah di gereja yang khidmat, suara pemimpin pujian dan permainan musik yang mengangkat tetapi yang terutama ialah pujian itu tentang Allah dan diperuntukkan bagi Dia dalam kondisi apa pun – sukacita maupun dalam penderitaan berat. Jangan memuji Dia karena keberhasilan dalam studi atau pekerjaan atau mood lagi baik tetapi pujilah Dia di setiap waktu walau doa kita belum dijawab oleh-Nya! Allah layak dipuji bukan karena tempatnya bagus nan megah tetapi karena kehadiran-Nya.

Pujian tanpa pengenalan sangatlah dangkal; jadi, semakin kita mengenal Allah dalam keperkasaan dan kebesaran-Nya, semakin dalam pula pujian kita namun ini tidak berkaitan dengan suara yang merdu. Conoh: penyanyi yang tidak mengenal Tuhan pun dapat melantunkan lagu-lagu rohani dengan baik tetapi dengan motivasi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sesungguhnya pujian dengan pengenalan akan Allah yang perkasa tidak berhenti di kata-kata tetapi berlanjut pada cara hidup kita (ay. 3-6)! Bukankah lagu rohani terbaik bermakkna dalam akan dinyanyikan ulang berulang tidak cukup hanya sekali seumur hidup? Demikian pula pujian kepada Allah harus berlangsung selama hidup.

Bagaimana menyanyikan pujian yang fokus tentang hidup bagi Allah? Dengan seluruh talenta yang dikaruniakan oleh Tuhan melalui musik (tiup, gesek, pukul, petik) dan tarian namun tidak masalah bila ada gereja yang masih dipengaruhi oleh pemahaman teologi kemudian memperbolehkan permainan beberapa macam musik saja tanpa tarian. Yang penting ialah semua yang bernapas (tanpa terkecuali) memuji Tuhan (ay. 6). Ini tidak lagi berbicara cara memuji Tuhan tetapi bagaimana memberikan seluruh hidup kita kepada Allah.

Pemazmur sedang mengingatkan kita untuk menyadari Allah (bukan yang lain) sebagai pusat pujian. Inilah tujuan hidup orang percaya yang sebenarnya. Apakah kita sudah terbiasa memuji Tuhan di mana pun dan kapan pun? Tentu kita boleh merancangkan agenda apa saja di tahun depan (2026) tetapi Kitab Mazmur (150) ditutup di penghujung tahun ini agar kita senantiasa memuliakan dan mengagungkan Nama Tuhan sepanjang masa.

Aplikasi: hendaknya kita memakai seluruh talenta yang Tuhan berikan (suara, tenaga, pikiran, ketrampilan) untuk memuji serta melayani Tuhan sepenuh hati dan seumur hidup tanpa ada motivasi tersembunyi di balik pelayanan. Seperti Tabernakel dibangun di padang gurun dalam perjalanan menuju Kanaan, Tabernakel ini mengalami bongkar-pasang di tengah panas teriknya matahari di siang hari atau dinginnya malam hari tetapi Tabernakel harus terus beroperasi. Ingat, pelayanan untuk Tuhan tidak akan vakum hanya gara-gara kita tidak melayani; pasti ada yang menggantikan kekosongan sebab ini adalah pekerjaan Tuhan. Hendaknya kita menjadi pemuji dan penyembah sejati tanpa harus menunggu talenta kita banyak dan hebat lebih dahulu. Ingat, Allah (bukan pegkhotbah, permainan musik, pelayan-pelayan yang bertugas) menjadi pusat pujian kita; juga bukan isu-isu berita meresahkan di medsos yang mengalihkan fokus pujian kepada Allah.

Marilah kita menata fokus kita bukan lagi kepada persoalan hidup kita tetapi fokus tentang Allah dan memuji Dia selama napas masih melekat di dalam dada. Tetaplah memuji Tuhan dan merespons Firman-Nya dengan sepenuh hati serta menyerahkan seluruh hidup kita untuk Dia yang menjadi pusat pujian kita. Amin. 

  • Video Youtube Ibadah: