Shalom.
Mengawali tahun yang baru, kita bersyukur karena Tuhan kembali memberikan lembaran hidup yang baru. Awal tahun sering diisi dengan resolusi dan rencana: memperbaiki diri, menjadi lebih sehat, lebih maju, dan berharap kegagalan tahun lalu tidak terulang kembali. Hal-hal ini tidaklah keliru. Namun tanpa disadari, pusat dari semua itu sering kali adalah satu kata: aku.
Firman Tuhan pada awal tahun ini mengajak kita menggeser fokus tersebut. Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk memperbaiki diri secara pribadi, tetapi untuk berjalan bersama sebagai umat-Nya. Sejak awal penciptaan, Allah tidak pernah merancang manusia untuk hidup sendirian. Ia memanggil kita untuk hidup dalam relasi—dengan Dia dan dengan sesama.
Pesan ini tergambar dengan kuat melalui pembukaan surat Paulus kepada jemaat di Korintus, khususnya melalui dua nama yang disebutkan: Paulus dan Sostenes (1Kor 1:1).
Untuk memahami makna pesannya, kita perlu melihat latar belakang kota Korintus. Pada abad pertama, Korintus adalah kota metropolitan yang sangat strategis. Kota ini memiliki dua pelabuhan utama: Lekhaeum di sebelah barat yang menghadap Italia dan Roma, serta Kengkrea di sebelah timur yang menghadap Asia Kecil. Letak ini menjadikan Korintus pusat perdagangan internasional. Barang-barang dari Timur dan Barat bertemu di kota ini, menjadikannya seperti “jalan tol dunia” pada zamannya.
Dari sisi budaya, Korintus sangat maju. Kota ini memiliki teater besar yang mampu menampung ± 18.000 orang dengan tata suara yang bagus, karena tanpa bantuan alat pengeras suara penonton di bagian paling belakang dapat mendengar suara dari panggung.
Korintus punya banyak pemikir, filsuf, seniman, dan orang-orang kaya. Namun di balik semua kemegahan itu, kota ini juga terkenal dengan kerusakan moral yang parah. Bahkan, muncul istilah korinthiazesthai—hidup seperti orang Korintus—yang berarti hidup dalam percabulan dan kebobrokan moral.
Di tengah kota tersebut berdiri mimbar pengadilan bernama Bema (Kis. 18). Di tempat inilah Rasul Paulus pernah diseret dan diadili oleh orang-orang Yahudi yang menuduhnya melanggar hukum. Namun Gubernur Galio menolak mengadili perkara itu karena dianggap sebagai persoalan internal agama Yahudi. Akibatnya, massa yang marah dan frustrasi melampiaskan kemarahannya kepada kepala rumah ibadat Yahudi, yaitu Sostenes. Ia diserbu dan dipukuli di depan umum.
Anugerah Allah yang memulihkan
Ironisnya, beberapa tahun kemudian, Paulus menulis surat kepada jemaat Korintus dan menyebut Sostenes sebagai “saudara kita”. Orang yang dahulu berada di pihak penentang Injil kini berdampingan dengan Paulus sebagai rekan seiman. Musuh telah menjadi saudara. Inilah karya transformasi Injil.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa gereja mula-mula bukanlah komunitas yang steril dan tanpa masalah. Jemaat Korintus, meskipun baru berdiri ± 35 tahun, sudah terjebak dalam perpecahan, persoalan moral, dan konflik hukum. Namun Paulus tetap menyapa mereka sebagai orang-orang yang “dikuduskan di dalam Kristus Yesus”—bukan karena kelakuan mereka sudah sempurna, tetapi karena mereka telah ditetapkan menjadi milik Allah.
Di sinilah kita melihat paradoks Injil: secara moral mereka bermasalah, tetapi secara status mereka adalah umat kepunyaan Tuhan. Hal yang sama terjadi pada Sostenes. Jabatan, kekuasaan, dan sistem yang selama ini ia andalkan runtuh dalam satu hari. Dalam kondisi terendah, ketika ia tidak berdaya, anugerah Allah menjamah hidupnya.
Refleksi ini mengajak kita bertanya: bagaimana kondisi hati kita di awal tahun ini? Apakah kita masih membawa luka masa lalu, kegagalan yang belum selesai, relasi yang retak, penyakit yang melemahkan, atau ketakutan akan mengulang kesalahan yang sama? Mungkin ada keraguan dalam hati: apakah Tuhan masih mau memakai saya?
Firman Tuhan menegaskan bahwa anugerah-Nya sanggup memulihkan yang rusak. Jika Tuhan dapat mengubah Sostenes, bahkan Saulus yang ganas menjadi Paulus, Ia juga sanggup bekerja dalam hidup kita. Anugerah Tuhan melampaui sejarah kelam kita. Karena itu, kita tidak boleh bersikap pesimis terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Kristus sanggup menguduskan apa yang selama ini kita anggap kotor. Dosa yang merah seperti kirmizi pun dapat menjadi putih seperti salju ketika kita bertobat dan datang kepada-Nya.
Melawan Bahaya Ego Rohani dan Budaya “Golongan”
Anugerah Allah tidak hanya bekerja secara pribadi. Anugerah itu juga nyata dalam relasi dengan sesama. Masalah besar jemaat Korintus bukanlah kurangnya karunia, melainkan ego rohani. Mereka membagi diri menjadi kelompok-kelompok: golongan Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus. Tanpa sadar, gereja berubah menjadi “klub penggemar” rohani, bukan tubuh Kristus yang utuh.
Bahaya yang sama dapat terjadi pada gereja masa kini. Kita bisa terjebak dalam sikap memilih berdasarkan selera, tokoh, atau kepentingan pribadi. Kita berkata, “Saya mau ikut kalau dia yang memimpin,” atau “kalau bukan saya yang memimpin, saya mundur.” Dengan kata lain, kita siap melayani Tuhan asalkan Tuhan mengikuti aturan kita.
Paulus mematahkan pola pikir ini dengan satu tindakan sederhana: ia tidak melayani sendirian. Ia menyertakan Sostenes. Bagi Paulus, pelayanan bukan soal panggung. Bagi Sostenes, pelayanan berarti kerendahan hati—turun dari status sosial tinggi menjadi rekan sepelayanan.
Banyak konflik dalam keluarga, pekerjaan, dan gereja bukan karena kurangnya kemampuan melainkan karena keengganan untuk berjalan bersama. Semua ingin memimpin, tetapi sedikit yang mau mendukung. Semua ingin didengar, tetapi jarang mau mendengar. Karena itu, makna pesan Firman Tuhan bagian ini mengingatkan kita: jangan melangkah sendirian. Carilah “Sostenes” di sekitar kita untuk melayani bersama.
“Sostenes” itu bisa jadi bukan orang yang paling kita sukai. Bisa jadi pasangan hidup kita yang karakternya berbeda, atau rekan sepelayanan yang gaya bicaranya tidak sesuai dengan kita. Namun sering kali, justru melalui merekalah Tuhan membentuk kerendahan hati dan kedewasaan rohani kita. Bukankah anggota tubuh yang paling lemah justru paling dibutuhkan?
Kristus Adalah Tuhan - Pemilik Hidup kita
Semua kebersamaan ini hanya mungkin jika Kristus sungguh menjadi pusat hidup kita. Paulus menegaskan Yesus sebagai Tuhan (Kyrios)—Pemilik mutlak hidup orang percaya, (1Kor 1:2). Kristus bukan hanya Penyelamat dari hukuman dosa, tetapi juga Pemilik hidup kita. Ia telah membeli kita dengan harga yang lunas di kayu salib. Karena itu, kita dipanggil masuk dalam persekutuan dengan Dia (1Kor 1:9).
Jika Kristus adalah Pemilik hidup kita, maka seluruh aspek hidup kita berada di bawah kehendak-Nya: rencana masa depan, penggunaan keuangan, pengelolaan waktu, kesaksian hidup, dan pelayanan. Kita hidup bukan untuk mengatur Tuhan melainkan berjalan dalam pimpinan-Nya. Sebab baik hidup maupun mati, kita adalah milik Tuhan (Rm. 14:8).
Akhirnya, Firman Tuhan mengingatkan bahwa kebersamaan akan pudar jika tidak disertai penundukan kepada Kristus. Sebaliknya, jika motivasi kita diarahkan kepada Kristus, perbedaan akan menjadi kekuatan yang membangun harmoni. Kita tidak diciptakan untuk berjalan sendiri. Tuhan menyediakan orang-orang di sekitar kita untuk melangkah bersama dalam pelayanan dan kehidupan.
Mari kita melangkah di tahun ini bukan dengan semangat “menang-menangan”, melainkan dengan kerendahan hati. Bersama, di dalam Kristus, untuk kemuliaan Nama-Nya.
Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua. Amin.