Shalom,
Menjelang hari libur, bukankah kita sudah membuat rencana jauh sebelumnya agar dalam liburan tersebut, sebisa-bisanya tidak melewatkan tempat wisata yang menarik atau tempat kuliner yang ada di daerah tersebut, mumpung masih berada disana alias selagi kita ada disana. Itulah tema yang kita akan renungkan, selagi masih ada kesempatan, pemazmur tidak mau melewatkannya untuk tidak memuji Tuhan.
Heran, di akhir-akhir Kitab Mazmur (146-150) tampak ada ciri khas yakni selalu diawali dan diakhiri dengan kata “Haleluya”. Oleh karena itu lima Mazmur ini sering disebut “Mazmur Haleluya akhir” yang tentu berfokus puji-pujian kepada Tuhan.
Bagaimana pemazmur mengawali tulisannya?
“Haleluya! (Pujilah Tuhan hai kalian!). Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Ini merupakan kalimat perintah kepada orang lain sekaligus kepada diri sendiri untuk memuji Tuhan karena pemazmur sadar bahwa Tuhan itu begitu besar sehingga tidak cukup dipuji oleh diri sendiri tetapi harus dipuji oleh banyak orang. Pemazmur konsekuen tidak hanya memerintahkan orang lain tetapi juga memerintahkan diri sendiri. Contoh seorang ayah yang tidak konsekuen menyuruh anaknya untuk tidak terus-terusan main HP sementara dia sendiri tidak pernah lepas dari gadget.
Apa bukti pemazmur berkomitmen begitu tinggi untuk memuji Tuhan?”Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” (ay. 2)
Memuliakan dan memuji Tuhan bukanlah sekadar bernyanyi tetapi nyata terlihat di dalam sikap, pemikiran, tindakan, perkataan dan perbuatan kita di rumah, sekolah, tempat berkarier yang semuanya ditujukan untuk memuji serta memuliakan Tuhan. Sedangkan bermazmur/menyanyikan pujian merupakan ekspresi dari puji-pujian yang dinyanyikan tidak hanya di gereja atau pada saat-saat tertentu (diberkati) tetapi di mana pun dan dalam kondisi apa pun.
“selama aku hidup” senada dengan “selagi aku ada” yang bermakna: selama kita masih diberi kesempatan hidup di dunia ini. Memang dua frasa ini selaras tetapi tidak sepenuhnya sama namun saling melengkapi, masing-masing mempunyai pemahaman sendiri, yakni:
- “Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup” menunjukkan komitmen jangka panjang yang mana pemazmur bertekad memuji Tuhan sampai akhir hayat. Artinya, memuji Tuhan bukan dilakukan sesaat atau saat perasaan kita lagi senang tetapi komitmen seumur hidup.
- “Aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada” termasuk komitmen jangka pendek untuk memanfaatkan momen yang ada – menyatakan suatu kesempatan yang ada waktunya berakhir. Itu sebabnya “mumpung selagi ada kesempatan” janganlah disia-siakan. Kita harus memuji Tuhan sekarang juga jangan ditunda-tunda karena mungkin besok kita sudah tidak ada di bumi ini. Pemazmur menyadari bahwa waktu yang dia miliki sangatlah berharga dan sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan untuk memuji Tuhan. Bukankah kita juga sadar adanya kesempatan dan momen berharga yang tidak mau kita lewatkan? Contoh: mumpung masih kuat, kita mau berlibur ke tempat-tempat wisata yang bagus atau mumpung masih muda kita mengejar karier setinggi-tingginya dll. Semua itu baik tetapi masih fokus untuk kepentingan diri sendiri sementara pemazmur menggunakan kesempatan waktu tersisa untuk memuji dan memuliakan Tuhan.
Bagaimana pemazmur memiliki komitmen tinggi untuk memuji Tuhan? Apa tulisnya? “Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:” (ay. 3-5)
Tampak seperti topiknya berbeda yang mana awalnya pemazmur berkomitmen tinggi untuk memuji Tuhan (ay. 1-2) kemudian beralih topik untuk tidak percaya kepada manusia tapi berharap pada TUHAN (ay. 3-5). Ternyata ayat 3-5 sangatlah memengaruhi pemazmur dalam memuji Tuhan. Ada kemungkinan di masa lalu pemazmur dikecewakan oleh seseorang yang dia harap-harapkan atau tidak ada seorang pun dapat menolongnya. Para ahli memperkirakan Mazmur 146 ditulis sesudah bangsa Yehuda dibuang ke Babel dan kembali ke tanah Kanaan. Terlihat dari gaya penulisannya yang mirip dengan Ezra dan Nehemia. Mereka kecewa dengan raja-raja Israel juga raja-raja Yehuda yang diharapkan dapat menolong mereka tetapi justru raja-raja itulah yang membawa bangsanya menyembah berhala. Begitu pula saat dalam pembuangan, pemimpin-pemimpin mereka tidak berkutik melawan raja-raja di Babel dan raja-raja di Persia yang menawan mereka. Pemazmur mewakili bangsanya menyadari bahwa tidak ada seorang pun dapat menyelamatkan mereka kecuali Tuhan. Pemazmur menyadari manusia dapat mengecewakan namun Tuhan adalah pengharapan sejati. Kesadaran inilah yang membuat pemazmur berkomitmen untuk seumur hidup memuji Tuhan dan memuliakan Nama-Nya selagi masih ada.
Pemazmur menulis adanya tiga golongan manusia yang sering dipuji-puji dan diharapkan dapat memberi pertolongan, yaitu:
- Para bangsawan yang memiliki kuasa dan otoritas yang dianggap mampu menolong (ay. 3a).
Perhatikan, kita boleh percaya kepada seseorang tetapi jangan memercayakan diri atau mengandalkan/ bergantung kepada dia sepenuhnya. Namun jangan pula selalu menaruh curiga dan berpikiran negatif kepada orang yang kita kenal!
Siapa para bangsawan (princes, generous = pangeran, dermawan) itu? Itulah orang-orang yang memiliki pengaruh dan otoritas tinggi seperti seorang raja, pejabat, pangeran, orang terpandang, dermawan/murah hati.
Di masa Israel kuno, para bangsawan yang mempunyai kekuatan/kemampuan finansial dan kekuasaan tinggi sangat diharapkan oleh rakyat kecil untuk menolong mereka yang lemah, yang miskin, para janda dan yatim piatu. Apa yang terjadi di masyarakat kuno ternyata masih berlaku pada masyarakat modern sekarang. Contoh: mantan presiden Jokowi menyelesaikan masalah seorang ibu miskin yang terlilit utang saat kunjungan ke daerah. Memang orang-orang berkuasa seharusnya mengayomi dan menolong permasalahan hidup rakyat kecil.
Namun kenyataannya apa yang terjadi di Israel? Gembala-gembala Israel menggembalakan diri sendiri dan menginjak-injak domba dengan kekerasan serta kekejaman sambil menikmati susu dan bulu mereka (Yeh. 34:2-4). Ternyata para gembala (penguasa) tidak menolong tetapi malah memeras domba/rakyatnya yang lemah, sakit, tersesat dan terhilang. Tentu ada raja yang baik seperti Raja Daud. tetapi tetap ada keterbatasannya. Raja Daud meninggal pada usia 70 tahun kemudian diganti oleh Salomo yang pada masa tuanya juga menindas rakyat dan membawa mereka kepada penyembahan berhala.
Itu sebabnya pemazmur menghimbau agar kita mengandalkan Allah Yakub, Pencipta alam semesta, yang menegakkan keadilan bagi mereka yang diperas, membebaskan yang terkurung dan memberi makan mereka yang lapar (ay. 5-7). Allah yang berkuasa mengubah Yakub, seorang penipu, menjadi Israel, bapa sebuah bangsa yang besar! Bahkan Ia mampu menjamin keberlangsungan bangsa Israel dari pembebasan umat-Nya dari Mesir, dari Babel bahkan sampai sekarang masih ada eksistensi-Nya. Ia adalah Allah yang setia.
Introspeksi: pergumulan apa yang sedang kita hadapi saat ini? Persoalan ekonomi, masalah yang bersinggungan dengan hukum? Sangatlah wajar kalau kita mencari pertolongan kepada orang-orang penting dan berpengaruh besar yang diharapkan mampu menolong kita. Namun jangan bersandar penuh kepada mereka seolah-olah mereka adalah sumber pertolongan kita karena mereka mempunyai keterbatasan fisik, waktu, niat terselubung dll. Ingat, pengharapan sejati ada di dalam Allah.
- Sesama manusia yang diharapkan mempunyai kepedulian.
“Anak manusia (mortal, ben Adam = anak / keturunan Adam)” menggambarkan manusia yang fana, terbatas dan tidak mampu memberikan keselamatan. Kita semua adalah keturunan Adam yang seharusnya saling memiliki kepedulian. Di awal penciptaan, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya kemudian memerintahkan Adam dan Hawa untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden, berarti mereka harus saling tolong menolong. Namun yang terjadi Kain, anak Adam, malah membunuh Habel, adiknya. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan kalau pemazmur mengingatkan agar kita tidak percaya kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan dan pertolongan. Walau ada kepedulian, tetap manusia berdosa ada keterbatasan. Hanya ada satu Anak Manusia yang begitu peduli dan sanggup menyelamatkan kita itulah Yesus Kristus.
- Orang-orang bijak/berhikmat yang mempunyai kecerdasan (ay. 4).
“...pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya (TB2=rencana-rencananya).” Merujuk pada orang berhikmat yang berkemampuan tinggi dalam membuat perencanaan dan strategi yang dapat diandalkan menjadi tumpuan hidup orang lain namun ternyata segala rencana, agenda, pikiran dan proyek besar yang direncanakan lenyap tidak berbekas. Bukankah raja juga mempunyai penasihat yang berhikmat? Contoh: Ahitofel, penasihat raja Daud dan Absalom (2 Sam. 16:23) namun sehebat-hebatnya seorang berhikmat, suatu ketika dapat mengalami kegagalan juga (2 Sam. 17:14). Akibat nasihatnya ditolak oleh Absalom, Ahtofel mengakhiri hidup dengan bunuh diri (ay. 23).
Hari-hari ini begitu banyak penasihat, konsultan di bidang ekonomi, perbankan, hukum, perdagangan, mental health dll. bahkan di gereja pun ada konselor rohani di bidang pelayanan dan pernikahan. Semua bertujuan baik namun bagaimanapun juga hikmat manusia berasal dari Tuhan. Itu sebabnya jangan bergantung sepenuh kepada mereka; gantungkan harapan kita sepenuhnya kepada Tuhan, sumber hikmat, maka kita akan dipuaskan.
Sanggupkah kita memuji dan memuliakan Tuhan seumur hidup dan selagi masih ada? Sadarilah, hanya Tuhan satu-satunya sumber hikmat dan Penasihat ulung tempat sandaran yang mampu memberikan keselamatan dan pertolongan kepada kita. Jangan bersandar penuh kepada manusia yang mempunyai kuasa besar atau mereka yang mempunyai kepedulian atau mereka yang cerdas luar biasa sebab semuanya ditandai keterbatasan dalam usia, kesehatan, masa kerja dll.! Andalkan Tuhan sepenuhnya maka kita akan berbahagia dan selalu bermazmur bagi-Nya! Amin.