• BERMAZMUR SELAGI AKU ADA
  • Mazmur 146
  • Johor
  • 2025-11-23
  • Pdm. David Wellyanto
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
bermazmur_selagi_aku_ada

Shalom,

Mari kita merenungkan sebuah tema yang tampak sederhana dalam kata tetapi sangat dalam makna: “Bermazmur selagi aku ada” dari Mazmur 146 yang termasuk dalam rangkaian 5 Mazmur terakhir (146-150) yang disebut Mazmur haleluya karena dimulai dan diakhiri dengan kata “haleluya”. Mazmur 146 – 150 ini merupakan seruan kemenangan yang biasa dipakai dalam ibadah di sinagoge sebagai nyanyian harian. Umat Tuhan sejak dahulu kala telah diajar untuk memulai dan mengakhiri hari dengan pujian. Pemazmur sedang menyampaikan sebuah pesan penting yaitu sebelum hidup ini berakhir marilah kita memuji Tuhan, bermazmur selagi kita ada. 

Seluruh kitab Mazmur dapat diibaratkan seperti sebuah perjalanan rohani manusia yang penuh dengan ratapan, pergumulan, keraguan, kemenangan, kejatuhan, pemulihan. Dan lima mazmur terakhir merupakan puncak dari semua pergumulan sepanjang kehidupan manusia yang berubah menjadi sebuah pujian. Ada pula yang menyebut kitab Mazmur seperti gunung berlembah gelap, jalan terjal, pemandangan yang terkesan menakutkan tetapi puncaknya ialah penampilan kemuliaan Tuhan. Mazmur 146 menjadi bagian dari puncak itu.

Pemazmur memulai dengan seruan dari ke dalaman hatinya “Pujilah Tuhan hai jiwaku” (ay. 1) kemudian membuat komitmen pribadi “aku hendak memuji Tuhan selama aku hidup dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada” (ay. 2). Dua ayat ini mengandung unsur penting antara lain: (1) Panggilan untuk memuji Tuhan (2) Komitmen/tekad/kesediaan secara pribadi untuk memuji dan (3) Ajakan untuk meninggalkan ketergantungan pada manusia.

Pemazmur berkhotbah pada dirinya sendiri “Pujilah Tuhan hai jiwaku” menunjukkan bahwa perintah untuk memuji Tuhan  perlu diarahkan kepada diri sendiri. Pujian yang murni dimulai ketika seseorang mengizinkan Firman Tuhan memimpin perasaannya dan mengendalikan emosinya bukan ketika perasaan senang baru memuji Tuhan atau ketika perasaan sedang susah kita terdorong untuk memuji Tuhan. 

Ternyata hidup ini bukan hanya untuk dijalani tetapi juga kesempatan untuk memuji Tuhan selagi masih ada napas, waktu, kesehatan, kesadaran dan kesempatan. Namun bagaimana kita dapat bermazmur selagi masih ada? 

  • Dengan mengakui keterbatasan kita sebagai manusia dan tidak menaruh harapan pada hal yang sia-sia (ay. 3-4).
    Pemazmur memberikan peringatan keras agar tidak percaya kepada para bangsawan, pembesar, raja, pemuka, pemimpin yang tidak dapat memberikan pertolongan keselamatan. Kata “bangsawan” atau pembesar bukan hanya raja tetapi setiap orang (pejabat, kenalan penting bahkan diri sendiri) yang dipandang mampu memberikan pertolongan karena merasa pintar, kuat, sehat, cantik, tampan. Sejarah juga membuktikan bangsa Israel pascapembuangan sangat tergoda mengandalkan pemimpin politik. Pemimpin waktu itu orang Persia dan dia mengandalkan para bangsawan. Namun Mazmur ini mengingatkan bahwa para pembesar/bangsawan yang mengajukan, memprakarsai bahkan memiliki rencana besar sekalipun akan terkubur bersama rancangan yang dicanangkannya ketika mati.

Ayat 3-4 menjadi kritik terhadap pemberhalaan zaman modern yang ada di sekitar kita. Kepercayaan terhadap sistem dunia (sistem pemerintahan, politik, persenjataan, ekonomi, kepercayaan) atau pengandalan kepada figur rohani, teknologi, juga diri sendiri. Kita sering menjadi lebih percaya diri ketika hal-hal tersebut “menjamin” kita. Kondisi yang demikian tanpa disadari telah menggeser perhatian kita kepada Allah. Posisi Tuhan yang seharusnya menjadi fokus perhatian telah kita abaikan, kita berpaling dari Pribadi yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita.

Waspada, hati kita dapat goyah karena bersandar/bergantung pada yang goyah nan rapuh. Hanya Tuhan satu-satunya yang kuat dan kukuh menopang kita. 

Pemazmur memberi peringatan keras untuk tidak mengandalkan bangsawan sebab musuh terbesar dari pujian adalah hati yang bergantung kepada manusia. Firman Tuhan menegaskan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatan sendiri dan hati yang menjauh dari Tuhan (Yer. 17:5). Manusia hanya dapat memberi janji tetapi tidak dapat menjamin; hanya dapat berencana tetapi tidak dapat memastikan apa yang terjadi besok; tampak kuat hari ini tetapi dalam sekejap bisa rapuh seperti tertulis “Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.” (ay. 4) 

Kata nyawa (bhs. Ibr. ruwach: breath, wind, spirit = roh, jiwa, semangat, napas). Ketika rohnya melayang, nyawanya putus maka matilah pikiran, rencana, rancangan, cita-cita dan segala kemuliaan hidupnya. Satu embusan napas terakhir cukup menjatuhkan orang yang paling kuat sekalipun. Itu sebabnya tidak mungkin kita mengharapkan kekekalan jika bersandar pada yang fana. Kita tidak dapat bermazmur jika hati sibuk mengharapkan manusia; kita akan berhenti memuji Tuhan saat dikecewakan orang; kita akan kehilangan damai saat tokoh idola yang kita andalkan gagal.

Aplikasi: dengan bermazmur bagi Tuhan, hati kita dibebaskan dari ilah/berhala fana apa pun yang kita andalkan. Perhatikan, jika selama hidup kita terikat pada harapan palsu, pujian kita akan macet. Sebaliknya, ketika kita melepaskan semuanya dan bersandar penuh kepada Tuhan, pujian akan mengalir naik kepada-Nya. Akui kelemahan kita dan jangan berharap pada hal yang sia-sia. 

  • Dengan menaruh seluruh pengharapan hanya kepada Tuhan (ay. 5).
    Selanjutnya pemazmur menunjukkan jalan yang benar yakni kebahagiaan bagi orang yang memperoleh pertolongan dari Allah Yakub. Kata 'berbahagia' berarti berada di jalan yang diberkati, diperkenan, aman, stabil dan kukuh. Mengapa berbahagia? Karena manusia yang terbatas (keadaan dapat berubah dan kekuatan menyusut) tetapi Tuhan tetap sama selama-lamanya 

Musa mengajarkan umat Israel untuk memiliki pengakuan iman (kredo) yang benar tentang TUHAN, Allah Israel, dan penyembahan. Syahadat mereka ialah “TUHAN Allahmu adalah satu-satunya Allah” tempat mereka menaruh pengharapan. Mereka begitu memuliakan Nama TUHAN di seluruh bumi dan keagungan-Nya yang mengatasi langit dinyanyikan (Mzm. 8:2). Nama-Nya adalah menara yang kuat dan ke sanalah orang benar berlari untik beroleh keselamatan (Ams. 18:10). Dalam Perjanjian Baru, Nama Yesus adalah perwujudan dari Nama Tuhan yang kepada-Nya semua kuasa/otoritas dan pengakuan harus diarahkan dan disandarkan kepada Nama yang membawa keselamatan (Kis. 4:12). Allah sendiri sangat meninggikan Yesus dan mengaruniakan nama di atas segala nama kepada-Nya agar semua lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan (Flp. 2:9-11).

Aplikasi: hendaknya kita mengajarkan Nama Tuhan kepada anak-anak kita betapa berkuasa Nama yang memberikan perlindungan dan keselamatan. Sudah sepatutnya kita memuliakan dan mengagungkan Nama Tuhan dan menjadi sandaran hidup kita. Biarlah apa pun yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan, kita melakukan semuanya dalam Nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur kepada Allah, Bapa kita (Kol. 3:17). 

Heran, gelar yang dipakai untuk Tuhan ialah Allah Yakub bukan Allah Israel. Apa artinya? Bukan Allah dari bangsa Israel yang berhasil tetapi Allah dari Yakub yang lemah, licik, penuh cela tetapi dikasihi. Jelas Tuhan bukan hanya Penolong bagi orang yang kuat tetapi juga bagi orang yang gagal, lemah dan rapuh. Tuhan hadir secara personal/pribadi sebab Ia mengenal masing-masing dari kita.

Kalau begiu bagaimana kita menaruh pengharapan kepada Tuhan? Belajar membiasakan diri untuk berdoa terlebih dahulu sebelum memulai segala sesuatu bukan setelah mengalami jalan buntu! Biarkan Firman Tuhan bekerja lebih kuat daripada menuruti perasaan serta mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita kepada-Nya. Serahkan semua keputusan kepada Tuhan bahkan hari esok kita juga sebab masa depan kita ada di dalam tangan-Nya. Keyakinan ini membuat hati kita bermazmur meskipun faktanya kita sedang menghadapi persoalan rumit, keadaan tidak kunjung berubah, penyakit tidak segera sembuh, ekonomi kita masih keteteran. Ingat, pengharapan kita tidak bergantung pada keadaan tetapi kepada  Siapa yang memegang/mengendalikan keadaan. Ilustrasi: seorang anak menyeberang jembatan kecil bersama ayahnya. Kata si anak kecil, “Pa, biar aku yang memegang tangan Papa.” Papanya senyum-senyum, “Tidak nak, biar Papa yang pegang tanganmu. Kalau kamu yang pegang, tangan kamu bisa terlepas tetapi kalau Papa yang pegang, Papa tidak akan melepaskan kamu.” Demikian pula bila tangan Tuhan memegang kita, pengharapan kita menjadi aman sebab yang menguatkan kita bukanlah keaktifan kita tetapi tangan Tuhan yang kuat dan Ia tidak menginginkan kita jatuh. Kalaupun ada kejatuhan, ini disebabkan karena pilihan kita sendiri. Kita meronta ingin lepas dari tangan-Nya yang kuat, karena Ia tidak suka berbantah-bantah, kita akhirnya yang jatuh. 

  • Dengan mengenal dan menghidupi karakter Tuhan setiap hari (ay. 6-10). 
    Ayat 6-10 menjadi pusat dari Mazmur 146 bahwa pujian sejati lahir ketika kita melihat siapa Tuhan itu. Pemazmur menggambarkan TUHAN dalam tujuh karya-Nya yang besar: (1) Pencipta langit dan bumi yang berkuasa atas segala sesuatu (2) setia untuk selamanya – janji- Nya tidak berubah (3) membela orang tertindas (4) memberi makan kepada yang lapar (5) membebaskan orang-orang yang terkurung (6) membuka mata orang buta (7) menegakkan orang yang tertunduk dan masih ditambahkan lagi mengasihi orang benar, menjaga orang asing, menopang anak yatim dan janda, membelokkan jalan orang fasik. Ringkasnya, karya Tuhan mencakup seluruh persoalan hidup manusia dari yang paling kuat hingga orang yang tersisihkan. Dan Tuhan bukan hanya berkuasa di masa lalu untuk memelihara tetapi dengan setia turun tangan menjangkau kita yang dalam penderitaan, pergumulan dan kelemahan. Tahukah tindakan Tuhan berlangsung terus-menerus bukan cuma sekali dua kali? Semua pekerjaan yang dilakukan-Nya berlangsung di masa lampau – sekarang – selamanya. Ia bukan hanya Pencipta hebat tetapi juga Gembala yang turun ke lembah penderitaan umat-Nya. 

Aplikasi: mari kita belajar mengenal karakter Tuhan kemudian mencerminkannya dalam hidup kita. Kita juga peduli terhadap yang tertindas, menjadi penghibur bagi mereka yang susah dan lemah, memberi makan kepada yang lapar, mengasihi orang asing, yatim, dan janda. Hendaknya pelayanan kita menjangkau dan dirasakan oleh semua tanpa pilih-pilih status sosial. Ilustrasi: seorang pelukis berkata kepada muridnya yang sedang mengamat-amati lukisannya. Gurunya berkata, “Jika kamu hanya melihat lukisan, kamu melihat karyaku tetapi jika kamu memerhatikan setiap goresan kuasnya, kamu melihat hatiku.” Demikian pula jika kita hanya melihat berkat-berkat Tuhan, kita hanya melihat karya-Nya tetapi jika kita melihat proses Tuhan berkarya dalam hidup kita, kita dapat memahami karakter-Nya, melihat hati-Nya dan berusaha memahami kehendak-Nya. Sikap hati seperti ini pasti akan bermazmur memuji Tuhan karena melihat proses indah yang dikerjakan-Nya dalam hidup kita.

Mazmur 146 bukan hanya memanggil kita untuk memuji Tuhan tetapi menunjukkan kepada kita siapa yang harus kita puji itulah Yesus. Ia harus menjadi sentral/fokus pujian kita sebagai wujud nyata dari tindakan dan karya Allah. Bukankah di akhir dari segala yang tertulis dalam kitab Wahyu menyatakan bahwa pujian tetap dipanjatkkan kepada Tuhan melalui Kristus Yesus. Mazmur ini menjadi seruan lembut sekaligus perintah tegas dari Roh Kudus agar kita memuji Tuhan selagi masih hidup. Lagu pujian yang kita nyanyikan bukan sekadar memenuhi liturgi ibadah di gereja tetapi menjadi panggilan hidup bagaimana kita bermazmur bagi-Nya selagi kita ada. Untuk itu lepaskan harapan dari manusia yang rapuh, jangan bergantung pada hal fana yang dapat mematikan pujian kita. Sebaliknya, peganglah erat pengharapan kepada Tuhan yang mengendalikan hidup kita juga generasi anak cucu kita. Kita berkewajiban mengajari anak-cucu kita untuk mengenal siapa Tuhan, apa saja karakter-Nya dan menghidupinya agar dunia melihat Tuhan melalui hidup kita. Dan pada akhirnya kita memuji-Nya,  “TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, haleluya!” Amin.

  • Video Youtube Ibadah: