Masih teringat tahun-tahun silam yang mana ada masa bahagia tetapi ada pula masa yang mendukakan. Benarlah kata orang bahwa “hidup ini adalah pembelajaran”; kita tidak akan berhenti belajar hingga maut menyongsong kita.
Kita tahu bahwa Yusuf diberi jubah yang sangat indah saat ia berusia 17 tahun. Yusuf memang dikasihi Yakub lebih daripada semua anaknya yang lain. Selain jubah pemberian bapanya, Yusuf masih mendapat jubah-jubah yang lain. Jubah apa saja yang dipakai oleh Yusuf?
Jubah pertama diperoleh dari bapanya dalam keluarga.
Jubah pertama didapatkan di rumah di antara keluarganya. Jubah yang disebut “jubah yang sangat indah/mahaindah atau boleh dinamakan “jubah kasih sayang” dengan alasan ia mendapatkannya karena dia sangat dikasihi bapanya dan menjadi anak yang diistimewakan. Ia dibedakan dari saudara-saudaranya yang lain dan sangat didambakan ibunya setelah penantian lama. Semua tampak begitu istimewa bagi Yusuf seindah jubah yang diperoleh dari seseorang yang dikasihi bapa/orang tua. Bukan hanya itu, ternyata Tuhan juga mengasihinya terlihat dari mimpi-mimpinya yang terpilih menjadi seorang penguasa di mana saudara-saudara dan orang tuanya sujud kepadanya.
Kehidupan semacam ini ternyata tidak berumur lama. Orang yang sangat didambakan bukan berarti dia paling berbahagia. Yusuf kehilangan ibunya ketika melahirkan Benyamin, adiknya, dan menjadi anak emas bapanya juga menimbulkan masalah karena saudara-saudaranya iri hati dan membencinya serta menyebutnya si tukang mimpi alias pembual.
Ketika si ayah meminta Yusuf untuk melihat keadaan saudara-saudaranya yang sedang menggembala, dia diperlakukan dengan kejam oleh mereka. Mereka mem-bully dan ingin membunuhnya. Tidak ada seorang pun membelanya saat itu. Dalam keadaan tanpa pembela, Yusuf dilempar ke sebuah sumur kering dan ketika serombongan pedagang lewat dia dijual sebagai budak belian. Ruben, saudara tertua, masih berbelas kasihan dan berusaha melepaskan dia dari sumur itu tetapi kecewa ketika melihat sumur telah kosong dan Yusuf telah dijual sebagai budak.
Jubah pertama yang indah itu kemudian dilumuri darah binatang. Saudara-saudaranya melempar kesalahan mereka kepada binatang yang mereka sembelih untuk memberi kesan binatang itu telah memangsa Yusuf. Kemudian jubah indah itu dikembalikan kepada Yakub, membuatnya dukacita, sengsara dan menderita hampir di seluruh akhir hidupnya sebelum dia bertemu kembali dengan Yusuf.
Mengidolakan atau mengasihi seorang anak lebih dari yang lain sering berdampak timbulnya iri hati dan tekanan batin baik bagi si anak maupun bapa/ibu.
Jubah kedua diperoleh di tempat kerja
Yusuf dibeli oleh Potifar dan mendapatkan jubah kedua yang diterima dari majikannya. Yusuf rajin bekerja dan jujur. Dia melakukan semua tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab hingga menjadi orang kepercayaan majikannya. Dia menyandang “jubah kepercayaan” karena sikapnya yang baik juga dihargai oleh sesama pekerja di rumah Potifar. Yusuf memang tetap dicintai dan disertai Tuhan terbukti semua yang dikerjakannya berhasil. Namun ujian pencobaan tidak hanya berasal dari keluarga tetapi bisa datang dari mana saja buktinya Yusuf mendapat pencobaan di tempat kerja. Dia yang beranjak dewasa dan memiliki wajah sangat tampan diperhadapkan dengan dosa seks yang lazim membuat anak muda jatuh di area ini. Dirindukan, didambakan dan dikagumi oleh wanita cantik nan kaya yang menjanjikan kenikmatan hidup dan masa depan berlimpah harta namun disertai dosa perselingkuhan, ketidakjujuran, ketidaksetiaan dan pengkhianatan kepada atasan. Mana yang dia pilih? Karena tetap berpegang pada kesetiaan melakukan tugas dan kesucian hidup, Yusuf terpaksa melepaskan jubahnya demi menolak perbuatan dosa. Alhasil, jubah itu dipakai sebagai bahan fitnah dan bukti palsu kalau dia berusaha melakukan dosa yang tidak diperbuatnya. Akibatnya dia dijebloskan ke penjara dengan tuduhan memalukan yakni mencoba memperkosa istri majikan.
Di tempat kerja ternyata banyak pencobaan juga. Keberhasilan terkadang membuat kita tinggi hati, sombong, atau keinginan akan uang dan kedudukan lebih tinggi yang berisiko pada kejatuhan. Namun Yusuf ternyata tetap tulus dan lurus kepada majikannya juga setia pada tugasnya walau tanpa kehadiran tuannya. Ketika dengan tegas menolak perbuatan dosa, ia melepaskan jubahnya dan ini dapat diartikan melepaskan kepercayaan majikan dan pekerjaan berakhir dengan fitnah dan penjara.
Jubah narapidana (jubah pembelajaran)
Ada kemungkinan Yusuf memakai seragam narapidana agar mudah ketahuan kalau melarikan diri. Mungkin pula dia setengah telanjang saat melakukan pekerjaan sebagai orang hukuman. Yang pasti dia tidak berjubah indah dan tinggal di tempat yang sama sekali tidak nyaman.
Ketulusan Yusuf dalam bekerja dibalas dengan fitnah yang keji. Kini dia terkurung tanpa kebebasan dan tinggal di antara para penjahat yang dipenjara. Dia mengalami tahap dan masa pembelajaran dalam perjalanan hidupnya, yaitu:
Masa pertama, dia hanya merasakan kasih, perlindungan dan pemeliharaan namun masa ini tidak dapat dipertahankan. Dia meninggalkan masa ini untuk memasuki dunia luar dan hidup mandiri.
Masa kedua, hidup di luar rumah diperhadapkan dengan ujian dan pencobaan di tempat kerja. Pencobaan untuk jatuh dalam keinginan mata, keinginan daging dan kesombongan. Dia belajar memahami bahwa dunia ternyata penuh dengan tipu muslihat dan Iblis berupaya menjatuhkannya. Dia berhasil melaluinya karena Tuhan menyertainya.
Masa ketiga, dia benar-benar dikurung jauh dari dunia luar. Di penjara dia belajar menderita tanpa usaha membela diri tetapi sabar menantikan masa tahanannya selesai, ia belajar mengampuni dan tidak menyalahkan siapa pun juga tidak cepat berharap kepada seorang pun. Dia tetap bersama Tuhan di setiap masa dalam hidupnya dan yakin Tuhan menyertainya. Ternyata di penjara pun dia berhasil dan mendapat kepercayaan dari kepala penjara.
Yusuf mengenakan jubah Tuhan Yesus Kristus (Rm. 13:14) – belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran, kelemahlembutan dan kasih (Kol. 3:12,14). Tidak seorang pun dapat melucuti jubah itu darinya, karena jubah karakter Kristus telah melekat dan menyatu dengan dirinya!
Jubah penguasa yang berhikmat
Jubah penguasa Mesir. Siapa yang menganugerahkan jubah tersebut? Secara kasatmata memang Firaun yang menganugerahkan tetapi semua itu terjadi karena Tuhan. Bukankah Tuhan menganugerahkan hikmat mengartikan mimpi dan memecahkan solusi secara Ilahi kepadanya? Pengalaman dan penderitaan yang ditanggung di masa lalu saat memakai jubah-jubah sebelumnya merupakan proses pelatihan untuk membentuk diri hingga dia dilayakkan memakai jubah kemuliaan.
Rahasia keberhasilan Yusuf dalam bertumbuh dari masa ke masa ialah karena penyertaan Tuhan di setiap musim. Ketika masih kecil, dia dicintai dan dipelihara. Setelah tumbuh dewasa dan matang jasmani, rohani dan kepribadiannya, dia menunjukkan cinta kasihnya menjadi pemelihara banyak orang.
Kita pun mengalami masa-masa serupa. Ketika masih bayi, kita merindukan susu murni yang membuat kita tumbuh kembang menjadi dewasa. Susu murni tersebut adalah Firman Tuhan yang membuat kehidupan rohani kita bertumbuh. Menginjak dewasa, kita mengonsumsi “makanan keras” - kukuh dan kuat dalam penguasaan diri menghadapi dunia luar hingga kita memiliki karakter Kristus.
“Makanan keras” merupakan proses pembentukan seseorang menjadi dewasa untuk menjadi penguasa/pemimpin yang baik. Jika Anda merasa mengalami beratnya semua latihan tersebut, bersyukurlah dan sabarlah selalu dalam menghadapi kesulitan hidup dan kesengsaraan, Jalani dengan tekun, siapa tahu Anda adalah calon pemimpin berikutnya…. Bersiaplah untuk bertumbuh!