Introduksi
Mengasuh anak sejatinya adalah sebuah seni. Memang ada teorinya, misal: anak sebaiknya diajarkan kemandirian sejak dini juga membangun relasi dengan anak sejak kecil. Namun praktiknya bagaikan seni. Seiring dengan berjalannya waktu, orang tua akan semakin terlatih dan nantinya akan belajar memahami apa yang terbaik untuk anaknya (learning by doing).
Orang tua dengan anak lebih dari seorang akan lebih tahu bahwa antara satu anak dengan anak lain (walau lahir dari rahim yang sama) membutuhkan pola pengasuhan yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak.
Panggilan Sebagai Orang tua
Menjadi orang tua adalah sebuah panggilan yang mulia. Semua orang tua tentu memiliki idealisme tentang pola pengasuhan anak mereka. Namun menjadi orang tua yang ideal tidaklah mudah karena tidak ada “sekolah” untuk menjadi orang tua. Biasanya pola asuh yang diterapkan oleh orang tua merupakan “warisan” dari pola asuh generasi sebelumnya. Namun saat ini terbuka banyak akses keseempatan untuk orang tua mempelajari pola asuh melalui berbagai bacaan, platform media social, dan sebagainya. Orang tua yang bertanggung jawab akan terus belajar untuk menerapkan pola asuh sesuai kebutuhan anak di masa kini. Namun tetap ada prinsip kebenaran Alkitab yang merupakan fondasi utama dalam pengasuhan anak.
Alkitab menyatakan bahwa tugas utama dalam mendidik anak ada pada orang tua seperti: pemberian nutrisi, pemeliharaan, pendidikan, dan keteladanan bagi perkembangan anak – perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional maupun spiritual. Amsal 22:6 menasihati, “Didiklah (bhs. Ibr. Khanok = train = latih) orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Kata “Latih” membutuhkan suatu proses. Dengan demikian, orang tua berperan sebagai pelatih bagi anak dalam tumbuh-kembangnya, membimbingnya dalam segala aspek hidup termasuk mengizinkan anak berproses melewati tantangan hidup dan berbagai kesulitan, melatih anak menjadi pribadi yang resilient/memiliki ketahanan dan ketangguhan.
Prinsip Alkitabiah tentang Parenting
Empat prinsip “Bible Centered Parenting” menurut Ulangan 6:4-9, yaitu:
1. Focus on God: Mengarahkan hidup anak untuk berfokus kepada Tuhan (ay. 4-6).
2. Share Your Life: Berbagi hidup dengan anak-anak (ay. 7).
3. Be an Excellent Example: menjadi teladan terbaik bagi anak-anak (ay. 8).
4. Create a Positive Environment: Menciptakan lingkungan yang positif bagi anak (ay. 9).
Keempat prinsip tersebut di atas merupakan acuan bagi orang tua Kristen yang mana orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk menjadikan Tuhan Yesus sebagai sentralitas hidupnya, memiliki kedekatan dengan anak melalui komunikasi, mendidik anak melalui berbagi hidup sekaligus menjadi sosok teladan bagi mereka, serta menjadikan keluarga sebagai lingkungan yang kondusif dan suportif bagi anak-anak dengan memiliki komitmen, iman yang terus bertumbuh di dalam Yesus Kristus dengan menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam Alkitab, anak-anak dipandang sebagai karunia dari Tuhan. Anak-anak harus dikasihi, dihargai, dan dihormati sebagai individu (Mzm. 127:3, Mat. 18:1-6,10). Seiring bertambahnya usia anak dan terbatasnya kemampuan orang tua dalam berbagai aspek pengetahuan serta kesibukan karena tuntutan kehidupan, sebagian orang tua mengabaikan perannya sebagai pendidik utama bagi anak – perintah untuk mendidik anak dan janji bahwa pendidikan yang dilakukan sejak dini akan terus tertanam hingga ia dewasa.
Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya memiliki karakter yang baik mulai dari kecil hingga dewasa. Mendidik anak sesuai harapan orang tua bukanlah hal yang mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi oleh orang tua sebagai pendidik dan pembimbing anak. Tantangan itu dapat berasal dari diri orang tua sendiri maupun dari lingkungan dan media sosial saat ini.
Efesus 6:4 menjelaskan peran ayah dalam mendidik anak-anaknya. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah (bhs. Yun. ektrepho: nurture = nourish up to maturity = pelihara, latih, dewasakan) mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”.
Orang tua hendaknya konsisten dengan apa yang mereka katakan untuk menegakkan aturan dan norma kebenaran di dalam rumah; jangan ada dualisme (aturan ganda) yang membingungkan anak. Bila orang tua tidak konsisten, anak akan berpikir bahwa setiap aturan yang diterapkan dalam rumah tidak kuat dan dapat dilanggar.
Orang tua sebagai Role Model bagi Anak
Dalam mendidik anak seharusnya orang tua lebih banyak memberi teladan kepada anak bukan sekadar berbicara. Jadi, orang tua yang hendak mengajarkan Firman Tuhan kepada anak harus terlebih dahulu mempraktikkan dan meneladankan kepada anak.
Perbuatan orang tua “berbicara” lebih banyak daripada apa yang dikatakan; hal ini senada dengan pernyatan James Baldwin “Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.”
Di atas semua keteladanan dan didikan kepada anak, sangat penting untuk diperhatikan ialah meletakkan dasar kasih. Didiklah anak dengan kasih, nasihati mereka dengan kasih, beri teladan kepada mereka tentang hubungan penuh kasih dengan menunjukkan cinta kasih orang tua. Bila kita gagal membangun hubungan yang penuh cinta kasih ini, dapat dipastikan anak-anak akan tumbuh dengan hati luka dan kepahitan.
Orang tua juga perlu menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya – memperlakukan anak cukup istimewa untuk menerima perhatian penuh sehingga anak dapat mengungkapkan atau menceritakan apa yang telah terjadi atau yang mereka rasakan. Biarkan mereka membangun kebiasaan berkata jujur dan terbuka tanpa rasa takut sejak dari kecil. Hal ini akan sangat berpengaruh ketika mereka menginjak remaja dengan pergaulan dan pengaruh dunia luar yang kompleks.
Penutup
Pengetahuan tentang parenting bukan hanya mengenai hal-hal yang diturunkan secara tradisional. Sama seperti pengetahuan lainnya, pengetahuan tentang pengasuhan selalu berkembang mengikuti zaman. Semakin mudahnya akses informasi, membuat orang tua dapat memperbaiki style parenting mereka tanpa menghilangkan esensi pola asuh sebagai orang tua Kristen. Parenting dan pendidikan anak selalu memusatkan anak sebagai subjek bukan objek. Oleh karena itu orang tua perlu mengetahui kondisi perkembangan anak sehingga dapat menyesuaikan gaya parentingnya. Namun lebih dari itu, orang tua membutuhkan hikmat Tuhan untuk mendidik anak sesuai dengan kehendak Tuhan, membawa anak kepada pengenalan akan Tuhan dan bertumbuh dalam relasi yang intim dengan Tuhan. Orang tua juga perlu memahami tantangan anak di masa kini sehingga dapat melakukan berbagai upaya preventif namun tetap menjadi sahabat buat anak dalam proses tumbuh-kembangnya.