• BAHAYA GENERASI INSTAN
  • Samuel Dimas Suryono

Apa kaitannya “generasi instan” dengan “mental health” juga “yuk menderita”?

Rasul Paulus menasihati anak muda Timotius yang sudah menjadi pengikut Kristus sejak lahir hasil didikan dari ibu juga neneknya. Timotius selalu ikut (digembalakan) Rasul Paulus berjuang dalam penginjilan. Timotius muda menjadi contoh bagaimana kita membawa berita keselamatan kepada orang-orang di sekitar. Bagaikan Timotius, kita juga adalah suratan Kristus. Yang berarti, kehidupan kita yang telah diubahkan Tuhan dapat dibaca oleh teman-teman semua.

Namun pertanyaannya, siapa yang bersedia menerima panggilan untuk menderita? Penderitaan di sini tidak seperti yang dibayangkan. Apa arti dari menderita? Menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan. Apa yang tidak menyenangkan? (1) yang tidak segera dan (2) yang tidak sesuai.

Hal ini berkebalikan dengan apa yang dialami oleh generasi instan. Generasi instan suka sesuatu yang segera/instan apalagi kalau sesuai dengan selera. Pada dasarnya mereka menyukai sesuatu yang menyenangkan dan ini merupakan tipu daya dunia. Faktanya, anak muda tidak siap dan tidak suka menderita sementara dunia “menjanjikan” hal-hal yang menyenangkan.

Contoh: Ingin makan sesuatu? Kita bisa langsung cari aplikasi online, dan nanti aplikasi ojek online akan mengirimkan seorang driver untuk mengantarnya. Ingin membeli sesuatu? Bisa dengan mudah melihat review online dan membeli barang dengan telunjuk kita. Ingin nonton film favorit? Gampang! Tinggal klik aplikasi-aplikasi platform streaming online yang mudah.

Semua dapat segera didapat sambil santai di rumah. Anak zaman now dikendalikan oleh aplikasi. Beda dengan zaman dahulu, harus ada usaha untuk mendapatkan sesuatu, misal: pergi ke depot atau restaurant untuk membeli makanan, ke bioskop kalau mau nonton film dan sebagainya.

Generazi Z (1997-2010) sudah terbiasa dan suka hal-hal yang instan karena semua sudah ada programnya dan gadget sangatlah powerful. Mereka sangat terpengaruh dengan attention span yakni fokus perhatiannya hanya bertahan ± 8 detik lalu merasa bosan dan beralih ke hal lain.

Ternyata sikap dan perilaku seperti ini sudah diprediksi di Alkitab di mana pada hari-hari akhir akan tampil orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya (2 Ptr. 3:3). Hawa nafsu di sini tidak hanya berkaitan dengan makanan atau seks tetapi “ingin yang segera dan yang sesuai”. Bukankah kita selalu ingin yang serba segera/ instan dan sesuai dengan selera/kehendak kita? Misal: kita ingin doa kita segera dikabulkan oleh Tuhan. Kalau sudah dipenuhi, tidak puas tetapi meminta lagi. Inilah efek dari generasi instan, manusia jatuh dalam keinginannya.

Mengapa anak muda tidak dapat lepas dari HP? Karena pandemi dopamine yakni otak di bawah sadar mengalami kecanduan terhadap stimulasi digital seperti media sosial, game dan konten online lainnya. Akibatnya, kalau dopamine tidak terpenuhi mereka gampang marah. Contoh: karena sudah lama main Hp, ibu datang mengambil HP dan menyuruh belajar, si anak akan marah besar.

Selain gampang marah juga suka main kekerasan. Contoh: siswi SD di Lamongan meninggal gara-gara di-bully teman sekolah (4 Mei 2024); anak SD di Indramayu ditelanjangi saat jam istirahat oleh teman-temannya (7 Maret 2024), bocah SD membunuh temannya (kepalanya pecah) gara-gara kalah main game (9 September 2020), siswa SD di Pekalongan tewas bunuh diri karena HPnya disita ibunya yang dianggap tidak mencintainya lagi (24 Nov 2023) dst.

Sungguh kedatangan Yesus sudah dekat, orang-orang lebih menuruti keinginan hawa nafsunya. Oleh sebab itu marilah kita belajar menderita/menahan (ketidak-nyamanan) dengan cara tidak menuruti keinginan daging yang menyebabkan kelaliman dan jatuh ke dalam dosa (Rm. 6:12-14).

Perhatikan, menderita itu adalah proses yang tidak terjadi secara instan sebab manusia selalu merencanakan yang enak tetapi Tuhan memiliki rancangan-Nya sendiri yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Semua ada aturan dan prosesnya, diperlukan kerja keras untuk memperolehnya (2 Tim. 2:4-5). Selain itu kita harus berlatih ibadah supaya mental kita kuat (1 Tim. 4:7-9).

Mungkin kita belum/tidak mengerti pemaparan Firman Tuhan tetapi tetap dengarkan dan biarkan Roh Kudus berperan memberikan pengertian agar kita beriman. Jangan mudah menyerah kemudian pindah gereja hanya karena tidak mau berproses (menderita) tetapi ingin segera mengerti Firman secara instan. Tuhan akan memberikan kita pengertian dalam segala sesuatu (2 Tim. 2:7).

Kalau kita tidak melatih diri dengan hal-hal yang kecil, kita tidak akan berhasil saat menderita untuk Nama Tuhan. Rasul Paulus memberikan teladan bagaimana dia rela menderita demi pemberitaan Injil Kristus. Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan-Nya (2 Tim. 2:8-13).