- Jadilah Tempat Kediaman Allah
- Lemah Putro
- 2026-09-16
- Pdm. David Wellyanto
- Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
Shalom,
Bagi orang percaya, tubuh kita bukan hanya terdiri atas tubuh ragawi yang fana. Tubuh ini memiliki nilai rohani.
Dalam 1 Korintus 6:19–20, Paulus menjelaskan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kita. Kita bukan milik kita sendiri, sebab kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu, kita dipanggil untuk memuliakan Allah dengan tubuh kita.
Dari Firman ini kita belajar bagaimana kita seharusnya menjaga tubuh ini. Kita akan membahas tiga hal yang dapat kita lakukan: SADARI, JAGA, dan MULIAKAN (disingkat SAJAM untuk membantu kita mengingatnya).
- SAdari bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (ay. 19).
Jemaat Korintus yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa Roh Kudus tinggal di dalam mereka tetapi mereka tidak menghidupinya – kehidupan mereka tidak mencerminkan kesadaran itu.
“Bait” (naos = sanctuary) merupakan tempat khusus dari kompleks Bait Allah yang menjadi tempat Allah hadir. Paulus menggunakan kata naos bagi tubuh untuk menunjukkan tempat/bagian kudus di mana Allah hadir. Bila tubuh kita adalah tempat kehadiran Allah, tentu seluruh anggota tubuh kita berada di dalam kekuasaan dan pemerintahan-Nya. Jadi mata, mulut, kaki, tangan, pikiran, perasaan, tenaga, seksualitas dan bagian-bagian lain dari tubuh kita adalah milik Allah dan diserahkan kepada-Nya. Sesungguhnya tidak ada tempat yang lebih kudus bagi orang percaya kepada Yesus daripada tubuhnya sendiri, karena tubuh ini menjadi tempat Roh Kudus berdiam.
Ada dua demensi di mana Roh Kudus berdiam, yakni:
- Berdiam dalam gereja yang adalah umat-Nya (1 Kor. 3:16).
- Lebih khusus lagi berdiam dalam tubuh setiap orang percaya (1 Kor. 6:19). Allah menciptakan tubuh, Anak Allah menebus kita dan Roh Kudus berdiam di dalam kita.
Jadi, kehidupan kita tidak lagi menjadi urusan pribadi sebab apa yang kita lakukan dengan tubuh sekaligus menyentuh kehidupan rohani kita; menjadi kesaksian iman orang-orang Kristen, umat Allah, pada umumnya. Contoh: kalau ada orang Kristen berbuat sesuatu yang menyimpang dan tidak senonoh, langsung timbul celotehan, “Sangat disayangkan, ternyata pelakunya orang Kristen!” Tubuh orang percaya menjadi tempat Allah berkarya; oleh karena itu harus dihormati.
Karena tubuh tidak terpisah dari kehidupan rohani dan menjadi bagian bersama Tuhan, kita perlu memahami pentingnya gereja sebagai komunitas iman dan keluarga rohani.
Kalau Allah adalah Bapa, gereja harus menjadi ibu rohani umat/jemaat yang mengandung, melahirkan dan mengasuh anak-anak Allah. Gereja bukan sebatas tempat/wadah kita berkumpul untuk beribadah tetapi juga tempat orang percaya dilahirkan, dipelihara, dibimbing, diajar, ditegur, dikuatkan, dipulihkan dan dibawa menuju kedewasaan iman. Ilustrasi: seorang ibu akan merawat anaknya sejak bayi yang masih lemah untuk dirawat, dibimbing, dibekali, ditumbuhkan; demikian pula gereja digembalakan dalam persekutuan dan pelayanan oleh Firman Tuhan dalam upaya menolong anak-anak Tuhan untuk bertumbuh sehingga terjadi tugas pemuridan di dalam jemaat/gereja. Tidak mungkin kita dapat bertumbuh sendiri tanpa gereja. Kita membutuhkan persekutuan dengan umat Tuhan lainnya untuk bertumbuh dan dijaga kehidupan rohaninya. Juga kelompok-kelompok pelayanan harus berfungsi sebagai sarana pertumbuhan bayi-bayi rohani menuju kedewasaan.
Introspeksi: apakah kita cukup beres menjadi pengasuh anak-anak Bapa Surgawi? Jangan sampai kita mengajar orang lain untuk hidup kudus tetapi kehidupan kita sendiri menjadi batu sandungan! Jangan sampai kita menasihati keluarga lain tetapi keluarga kita sendiri tidak menjadi teladan iman. Apa gunanya kita dihormati sebagai aktivis pelayanan gereja tetapi di rumah kita tidak menjadi ayah/ibu yang pantas dihormati oleh anak-anak atau pasangan kita? Jangan sampai kita aktif di pelayanan gereja tetapi pribadi kita tidak mencerminkan kehadiran Roh Kudus di dalam tubuh kita.
Tuhan merindukan pertumbuhan rohani yang sehat di dalam jemaat yang adalah tubuh-Nya. Ingat, yang membuat tubuh kita kudus bukan karena kita dikenal baik, alim atau saleh tetapi karena tubuh kita menjadi tempat kediaman Roh Kudus. Maka dari itu sudah sepantasnya kita memperlakukan tubuh tidak menuruti keinginan sendiri tetapi harus menjaga kekudusan.
- JAga – jauhkan diri dari percabulan (ay. 18).
Kata “jauhkan” bukan sekadar “hati-hati menjaga jarak” atau “coba sedikit, yang penting dipantau” atau “selama belum terlalu jauh, tidak apa-apa kok”. Paulus mau menegaskan bahwa ada dosa yang harus dilawan tetapi ada pula dosa yang harus dijauhi, ditinggalkan. Ilustrasi: seseorang dapat jatuh ke dalam dosa bukan karena tidak mengetahui “sesuatu” itu salah tetapi karena dia terlalu dekat dengan “sesuatu” yang dia tahu itu salah. Dengan kata lain sudah tahu itu salah tetapi malah mendekat. Misal: “cuma lihat (gambar pornografi) sedikit kok!”; “cuma chat dan bercanda (dengan cewek/cowok lain padahal sudah beristri/bersuami) aja kok!” dst.
Dosa tidak selalu datang dengan wajah garang menampilkan sosok yang menakutkan tetapi sering terlihat menyenangkan bahkan terasa tidak berbahaya. Oleh sebab itu Paulus meminta kita untuk tidak bernegosiasi dengan dosa model ini tetapi segera menjauhinya. Mengapa? Karena setiap dosa lain yang dilakukan manusia terjadi di luar dirinya tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.
Memang dosa apa pun berakibat pada tubuh tetapi dosa seksual mempunyai karakteristik khusus yakni secara langsung melibatkan tubuh dan seluruh keberadaan seseorang. Artinya, tidak hanya tangan, kaki, wajah saja tetapi pikiran, perasaan, batin, emosional dan semua aspek di dalam tubuh terlibat di dalam masalah seksual. Itu sebabnya ketika orang percaya melakukan percabulan, dia tidak hanya melakukan pelanggaran moral di luar dirinya tetapi juga menggunakan tubuhnya sendiri melawan kekudusan Allah bahkan di tempat paling kudus itulah tempat hadirnya Allah. Jadi dosa terhadap tubuh sendiri berarti orang itu menggunakan tubuh yang Allah kuduskan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan Allah. Ilustrasi: cangkir yang khusus kita pakai untuk minum kopi dipakai orang untuk menyerok kotoran. Demikianlah ketika seseorang menyerahkan tubuhnya kepada percabulan, dia sedang menggunakan tempat kediaman Allah untuk sesuatu yang tidak dikehendaki oleh-Nya. Oleh sebab itu jangan sengaja berdiri di depan pintu pencobaan untuk mengetes seberapa kuat iman kita karena merasa sudah memiliki Firman pengajaran. Kadang kemenangan bukan ketika kita berhasil melawan godaan di depan mata namun ketika kita cukup bijaksana menjauhkan diri sebelum mata, pikiran dll. jatuh ke dalam dosa.
Kalau pun kita sudah terlanjur jatuh, jangan bersembunyi dari Tuhan, datanglah kepada-Nya sebab kekudusan bukan berarti kita tidak pernah jatuh tetapi kita tidak mau tetap tinggal di dalam dosa. Selanjutnya, kita mengambil sikap kembali kepada Kristus untuk mendapatkan pemulihan. Kekudusan bukan hanya berhenti tidak melakukan dosa melainkan menghormati kehadiran Allah yang tinggal di dalam (tubuh) kita.
- MUliakan Allah dengan tubuh kita (ay. 19-20).
Wajarnya, kita berhak dan bebas menentukan serta melakukan apa pun terhadap tubuh kita sendiri. Namun Firman Tuhan mengingatkan: kita bukan milik kita lagi sebab kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Kita dibeli bukan dengan uang atau barang fana tetapi oleh darah Anak Domba Allah, itulah pengurbanan Yesus Kristus yang mati disalib untuk menyelamatkan manusia berdosa. Keselamatan dari-Nya tidak hanya untuk pengampunan dosa tetapi juga menjadikan kita milik-Nya. Oleh karena itu kita patut memuliakan Allah dengan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya.
Bagaimana praktik mempersembahkan tubuh kepada Tuhan dalam keseharian hidup? Mata tidak boleh bebas melihat apa saja yang dapat mengotori pikiran kita; mulut tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang sembrono, tidak sopan dan menyakiti; tubuh kita tidak boleh diserahkan kepada hawa nafsu dan kehidupan seksual kita pun berada dalam otoritas Tuhan. Prinsipnya jelas, kita bukan pemilik terakhir dari tubuh kita tetapi Kristuslah pemiliknya. Jangan membawa tubuh ini kembali kepada perbudakan karena Kristus telah membebaskan dan membayar mahal untuk menebus kita!
Tubuh yang telah ditebus oleh Kristus tidak hanya menjauhi dosa tetapi dipakai untuk memuliakan Allah. Mata, mulut, kaki, tangan, pikiran dan seluruh aspek hidup di dalam tubuh ini menjadi kesaksian bagi Tuhan.
Tubuh yang hanya dijaga tetapi tidak dipakai bagi Tuhan tetap belum cukup memenuhi tujuan penebusan. Kristus menebus kita supaya tubuh ini dipakai menjadi alat kebenaran, alat kasih, alat pelayanan bagi kemuliaan Allah.
Surat 1 Korintus 6 tidak hanya berbicara tentang percabulan sebagai bentuk pelanggaran seksual dan moral tetapi juga menyingkap pelbagai bentuk dosa lain (ay. 9-10) seperti: pelanggaran hubungan sosial, pelanggaran rohani, pelanggaran kejahatan yang menghancurkan kehidupan manusia. Terhadap kelompok dosa pelanggaran manakah kita pernah jatuh? Walau kita mungkin pernah jatuh dalam keseluruhan pelanggaran tersebut, Firman Tuhan menyatakan bahwa kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar. Artinya, dosa-dosa masa lalu yang menjadi cap/label kita bahkan tuduhan-tuduhan dosa yang menghantui membuat kita putus asa tidak boleh lagi menjadi tuan atas kita. Kristus telah datang untuk menebus manusia yang diperbudak oleh dosa, mengampuni, memulihkan dan menguduskan kita untuk menjadi milik-Nya. Jadi ingatlah selalu akan SAJAM – sadari bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, jaga diri dengan menjauhi percabulan serta muliakan Allah dengan tubuh kita! Amin.
- Video Youtube Ibadah: