
Perbincangan mengenai penggunaan nama Allah hingga kini masih sering menimbulkan perbedaan pendapat. Sebagian orang beranggapan bahwa sebutan Allah hanya identik dengan agama Islam sehingga umat Kristen seharusnya tidak menggunakannya. Di sisi lain, banyak pula yang menjelaskan bahwa istilah Allah telah dikenal jauh sebelum lahirnya Islam dan telah digunakan oleh masyarakat yang menggunakan bahasa-bahasa Semit, termasuk oleh orang-orang Kristen berbahasa Arab. Perbedaan pemahaman ini sering kali menimbulkan kesalahpahaman bahkan memicu perdebatan yang berkepanjangan. Padahal jika ditelusuri melalui sejarah, kajian bahasa, dan bukti-bukti arkeologi, asal-usul serta penggunaan nama Allah dapat dipahami dengan lebih jelas dan objektif.
Jika ditelusuri dari sisi sejarah, istilah Allah bukanlah nama yang baru muncul pada abad ke-7 Masehi bersamaan dengan lahirnya agama Islam. Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa kata ini telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Arab jauh sebelumnya. Hal tersebut didukung oleh berbagai bukti sejarah seperti prasasti kuno, naskah-naskah kuno, dan hasil penelitian para ahli bahasa maupun sejarawan yang mengkaji perkembangan bahasa Arab serta Kekristenan di kawasan Timur Tengah. Salah satu bukti sejarah yang penting adalah Prasasti Zabad (Zabad Inscription). Prasasti ini ditemukan pada tahun 1881 di kota Zabad yang terletak di sebelah Tenggara Aleppo (Halab), Suriah. Berdasarkan penelitian para arkeolog, prasasti tersebut berasal dari sekitar tahun 512 Masehi, lebih dari seratus tahun sebelum kelahiran Muhammad. Penemuan ini menunjukkan bahwa komunitas Kristen berbahasa Arab pada masa itu telah menggunakan istilah Allah dalam kehidupan dan ibadah mereka. Fakta ini menjadi salah satu bukti bahwa penggunaan nama Allah telah dikenal di kalangan orang Arab sebelum munculnya Islam.
Hal yang menarik dari prasasti ini adalah kalimat pembukanya, yaitu Bism al-Ilāh, yang berarti "Dengan Nama Allah" atau dalam bentuk yang lebih singkat dikenal sebagai Bismillāh. Setelah kalimat pembuka tersebut, tertulis beberapa nama tokoh Kristen Arab yang berkaitan dengan prasasti itu. Isi prasasti yang telah direkonstruksi oleh para ahli berbunyi: "Dengan Nama Allah: Sergius putra Amad, Manaf dan Hani putra Mar al-Qais, Sergius putra Sa'ad, Sitr, dan Shauraih." Kalimat pembuka ini menunjukkan bahwa ungkapan Bismillāh sudah digunakan oleh komunitas Kristen Arab jauh sebelum munculnya Islam. Dengan kata lain, frasa tersebut bukanlah istilah yang pertama kali muncul pada masa Islam melainkan sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Arab sejak masa sebelumnya. Bukti sejarah lainnya ditemukan di Ummul Jimal, sebuah kawasan di Suriah bagian selatan yang dikenal memiliki banyak peninggalan dari masa sebelum Islam. Salah satu prasasti yang berasal dari pertengahan abad ke-6 Masehi menarik perhatian para peneliti karena diawali dengan kalimat Allāh ghufrān, yang berarti "Allah mengampuni." Ahli kaligrafi Islam, Yasin Hamid al-Safadi, menjelaskan bahwa prasasti tersebut menunjukkan penggunaan nama Allah sebagai sebutan bagi Tuhan di kalangan komunitas Kristen Arab pada masa itu.
Temuan ini semakin memperkuat bukti bahwa nama Allah telah digunakan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Arab jauh sebelum lahirnya Islam. Dengan demikian istilah Allah bukanlah kata yang muncul pada satu masa atau hanya dimiliki oleh satu kelompok tertentu melainkan telah menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa dan kehidupan religius masyarakat Arab selama berabad-abad.
Kesaksian sejarah lainnya disampaikan oleh sejarawan Spencer Trimingham dalam bukunya Christianity among the Arabs in the Pre-Islamic Times. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 431 Masehi ketika berlangsung Konsili Efesus, wilayah suku Arab Harits (Aretas) dipimpin oleh seorang uskup bernama 'Abd Allāh, yang berarti "Hamba Allah." Nama tersebut menjadi bukti bahwa sebutan Allah telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Kristen Arab jauh sebelum lahirnya Islam. Fakta ini memberikan gambaran yang jelas. Seseorang tentu tidak mungkin diberi nama 'Abd Allāh' apabila kata Allah belum dikenal oleh masyarakat pada zamannya. Karena itu penggunaan nama Allah bukanlah sesuatu yang baru melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan, bahasa, dan identitas orang-orang Arab Kristen sejak berabad-abad sebelum Islam muncul. Selain bukti-bukti arkeologi, kajian bahasa juga membantu kita memahami asal-usul nama Allah. Para ahli bahasa menjelaskan bahwa kata Allah berasal dari rumpun bahasa Semit, yaitu kelompok bahasa yang mencakup bahasa Ibrani, Aram, dan Arab. Meskipun bunyinya berbeda, ketiga bahasa ini memiliki hubungan yang sangat dekat dan berasal dari akar bahasa yang sama. Dalam Alkitab berbahasa Ibrani, Tuhan disebut dengan istilah El, Eloah, dan Elohim. Sementara itu dalam bahasa Aram bahasa yang digunakan oleh Yesus dan para murid-Nya dikenal sebutan Alāhā atau Elāhā. Adapun dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Allāh.
Karena itulah ketika Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, baik oleh orang-orang Kristen di Timur Tengah maupun oleh lembaga-lembaga penerjemahan Alkitab pada masa kini, kata yang digunakan untuk menerjemahkan Elohim dalam Perjanjian Lama dan Theos dalam Perjanjian Baru adalah kata Allah. Pilihan ini bukanlah sesuatu yang baru melainkan mengikuti penggunaan bahasa Arab yang telah berlangsung selama berabad-abad. Hingga saat ini jutaan orang Kristen yang tinggal di Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania, Palestina, dan berbagai negara di Timur Tengah tetap menyebut Allah dalam doa-doa mereka. Mereka membaca Alkitab berbahasa Arab yang menggunakan nama Allah serta memuji dan menyembah Allah dalam setiap ibadah. Bagi mereka, penggunaan nama Allah tidak berarti bahwa mereka menyembah tuhan yang berbeda melainkan menggunakan sebutan yang telah lama dikenal dalam bahasa Arab untuk menyatakan iman kepada Tuhan yang mereka sembah.
Di Indonesia, penggunaan nama Allah dalam Alkitab juga memiliki sejarah yang panjang. Istilah ini bukanlah sesuatu yang baru melainkan telah digunakan sejak Alkitab mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-17. Para penerjemah memilih kata Allah sebagai padanan untuk menyebut Tuhan karena istilah tersebut sudah dikenal luas oleh masyarakat Melayu sebagai sebutan bagi Tuhan Yang Mahakuasa. Dengan demikian, penggunaan nama Allah dalam Alkitab berbahasa Indonesia bukan muncul karena pengaruh agama tertentu tetapi merupakan bagian dari sejarah penerjemahan Alkitab yang telah berlangsung selama berabad-abad. Pilihan itu didasarkan pada penggunaan bahasa yang dipahami oleh masyarakat pada masanya sehingga Firman Tuhan dapat dibaca dan dimengerti dengan lebih mudah oleh para pembacanya. Berdasarkan berbagai bukti yang telah dipaparkan, pembahasan mengenai penggunaan nama Allah oleh umat Kristen sebaiknya tidak lagi didasarkan pada anggapan bahwa istilah tersebut hanya dimiliki oleh satu agama. Berbagai temuan sejarah, bukti arkeologi, kajian bahasa, dan dokumen-dokumen kuno menunjukkan bahwa nama Allah telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Arab termasuk komunitas Kristen jauh sebelum lahirnya Islam. Sebagai orang percaya, kita diajak untuk menghargai fakta sejarah sekaligus tetap teguh dalam iman kepada Tuhan. Memahami asal-usul penggunaan nama Allah bukanlah untuk memperdebatkan siapa yang paling berhak memakai nama tersebut melainkan agar kita makin mengerti bagaimana nama itu telah digunakan dalam perjalanan sejarah dan perkembangan bahasa selama berabad-abad. Ketika kita memahami sejarah dengan benar, kita tidak akan mudah terpengaruh oleh berbagai anggapan yang keliru. Sebaliknya, kita akan lebih siap membangun percakapan yang baik dengan orang lain, saling menghargai meskipun memiliki perbedaan, dan mampu memberikan jawaban atas iman yang kita miliki dengan sikap yang rendah hati, penuh kasih, dan tetap berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan.
*******